
Gengs Bab Naura Scroll ya ini cerita terbaruku yang tampil di U.ngu. (D-R-E-ame) Info 088222277840
Judulnya MY ARROGANT EX HUSBAND
Bab 1 : Talak Lewat pesan
Julius menarik selimut, kemudian ia menyelimuti tubuhnya dan tubuh Erika, setelah ia itu ia berbaring di sebelah istri keduanya.
“Apa ada yang kau pikirkan, hmm?” tanya Julius saat Erika tampak melamun. “Apa kau masih ingin mengulangi hal barusan?” sambung Julius lagi sambil terkekeh.
Erika tampak berpikir, kemudian ia menatap Julis Lamat-lamat. “Sayang, aku ingin kau menceraikan Sahila. Aku bosan terus hidup seperti ini!” pinta Erika tiba-tiba, membuat Julius menatap kaget pada Erika.
“Kenapa kau terkejut, apa kau keberatan menceraikannya?” tanya Erika lagi saat melihat ekpresi Julius, ia berbicara dengan ketus pada suaminya.
Julius tersadar, kemudian ia mengerjap. “Ti-tidak, bukan itu maksudku!” balas Julius. “Kenapa tiba-tiba sekali. Tak biasanya kau seperti ini?” Julius malah balik bertanya pada Erika.
“Aku bosan hidup seperti ini, aku bosan selalu di sembunyikan. Aku mau kau menceraikannya, dan aku mau kau mengusirnya karena aku ingin tinggal di rumah utama.”
Helaan nafas terlihat dari wajah tampan Julius saat mendengar ucapan Erika, nyatanya menceraikan Sahila tidak semudah itu.
“Ta-tapi bagaimana dengan ayahku?” ucap Julius, membuat Erika berdecak kesal.
“Kau bisa pikirkan caranya bukan, atau jangan-jangan kau yang tak ingin berpisah dengannya. oh, baiklah kalau begitu. Jika kau tak ingin menceraikannya, biar aku yang mundur!” dengan sedikit emosi, Erika pun bangkit dari berbaringnya. Namun, tak lama Erika menarik sudut bibirnya dan tersenyum saat Julius menarik lagi tangannya.
Julius menarik tangan Erika, hingga Erika kembali berbaring di sebelahnya. “Baiklah … Baiklah, aku akan memikirkannya nanti!” balas Julis, lagi-lagi Erika berdecak kesal.
“Kau pasti berbohong!" Kata Erika lagi. “Aku malas padamu, jadi biar aku saja yang pergi” Erika kembali lagi akan bangkit dari tidurnya, dan Seperti tadi, Julius pun langsung menahan tubuh Erika.
“Baiklah, aku akan membuktikannya sekarang!” kata Julius, membuat mata Erika berbinar. Terlihat jelas bahwa ia begitu kegirangan saat mendengar ucapan Jullius. Julius sedikit memutar tubuhnya, ia meraih ponsel, lalu mengutak-ngatik mencari nomer ponsel Sahila.
[Sahila, lewat pesen ini, aku mentalakmu dan detik ini juga kau bukan istriku lagi] Tulis Julius dalam pesannya
Erika menutup mulut saat melihat pesan yang dikirimkan oleh Julius pada Sahila, ia tak percaya dengan apa yang di lihatnya. Akhirnya, Julius menceraikan Sahila dan ia tidak mempunyai saingan lagi.
“Bagaimana, apa kau puas, hmm?” tanya Julius, setelah ia mengirim pesan pada Sahila. ia mencubit dagu Erika seraya tersenyum.
Erika mengangguk, kemudian ia menghadiahi kecupan di bibir Julius. Tentu saja, Julius tidak akan menyia-nyiakan kesempatan. Ia langsung menarik tangan Erika, dan mereka pun Kembali mengulang apa yang barusan mereka lakukan.
••••
Sahila berjalan, kesana kemari, ia melihat jam di dinding, waktu menunjukkan pukul sebelas malam. Tapi Julius sang suaminya belum juga pulang.
Keringat dingin sudah membasahi seluruh tubuhnya, wajahnya sudah memucat. Detik demi detik yang dilalui Sahila begitu menakutkan dan Ia seperti hidup di neraka.
Bagaimana tidak ... Julius, lelaki yang sudah menikahinya selama 8 tahun, tiba-tiba mengucapkan talak lewat pesan singkat, tidak ada angin tidak ada api. Tapi, Julius malah menjatuhkan talak padanya.
“Ya Tuhan, aku harus bagaimana jika Julius menceraikanku!” lirih Sahila dengan suara pelan dan hati yang beredar pedih. Bahkan, sekarang rasanya ia ingin menangis sekencang-kencangnya.
Sebenarnya ia tahu, cepat atau lambat suaminya pasti akan mengambil keputusan ini. Tapi ia tidak menyangka, hari ini akan tiba hari dimana dia menerima talak dari suaminya.
Sahila dan Julius menikah selama 8 tahun silam. Tapi sayangnya, pernikahan mereka tidak dilandasi oleh cinta, mereka terlibat skandal hingga terpaksa harus menikah dengan usia yang sama-sama muda.
Pernikahan keduanya tidak disetujui oleh orang ibu Julius, karena Sahila berasal dari keluarga yang miskin. Selama 8 tahun pula, Sahila, harus merasakan bagaimana rasanya
hidup di dalam sangkar emas. Ia dan putrinya tidak kekurangan sedikitpun, hidup mereka terjamin. Tapi dibalik itu, Sahila harus merasakan kegetiran hidup yang luar biasa.
Ia kerap kali, mendapat ucapan pedas dari mertuanya, belum lagi ia juga harus mendapat perlakuan yang tak menyenangkan dari ipar-iparnya. Bukan hanya itu, ia dan Julius jarang sekali bertegur sapa.
Sekalinya ia berbicara, Julius selalu bersikap kasar padanya, tidak pernah ada kehangatan dalam rumah tangga mereka, Sahila bertahan hanya semata-mata demi Calista, putri semata wayang mereka.
Bukan hanya Sahila saja yang sebenarnya menderita, putrinya pun juga sama menderitanya. Calista tidak pernah diakui oleh ibu mertuanya sebagai cucu, bukan hanya itu, Julius juga tidak pernah menganggap Calista ada.
Gadis kecil berusia tujuh tahun itu begitu kesepian, ia tidak pernah merasakan bagaimana dekapan seorang ayah, ia tidak pernah merasakan bagaimana hangatnya perhatian seorang ayah.
Bentakan, teriakan sudah biasa di dapatkan oleh Calista, ketika ia meminta waktu sang ayah dan sekarang karena sikap Julius pada putrinya, Calista tumbuh menjadi anak yang pendiam, Calista tidak pernah mau berbicara dengan siapapun kecuali sang ibu. Bahkan ia kerap di jahili oleh anak-anak dari kaka Julius.
Tapi walaupun begitu, Calista tetap diam, ia tidak melawan. Sebab, jika ia melawan, Ibu Julius akan langsung mencubit Calista. Bahkan, akan melakukan hal yang lebih parah. Itu sebabnya, Calisa benar-benar tidak bisa bergaul dengan siapapun kecuali sang Ibu.
Padahal umur Calista baru saja menginjak 7 tahun. Tapi trauma yang dialaminya begitu mendalam. Awalnya Calista tidak terlalu terpengaruh. Namun, Saat usianya menginjak 6 tahun, tepat setahun lalu Calista mulai berubah, ia mulai sering mengurung diri di kamar.
Mungkin banyak orang yang bertanya kenapa Sahila mau bertahan dengan pernikahan dan keluarga yang menyakitkan. Sebenarnya, jika bisa, Sahila pun ingin pergi.
Sahila tidak mau terjebak dengan pernikahan seperti ini. Tapi, ia bukan dari keluarga kaya, ia sudah tidak mempunyai siapa-siapa. Lalu, jika ia berpisah dari Julius, bagaimana kehidupannya ke depan.
Ia juga tidak yakin, jika ia berpisah dari Julius, Julius akan membiayai ia dan putrinya. Hingga akhirnya, ia hanya bisa bertahan. Tapi, hari ini ... Ia benar-benar dibuat terkejut saat Julius mengucapkan talak padanya.
Harusnya ia senang, karena terbebas dari pernikahan yang sangat menyakitkan. Tapi, ia justru takut Julius tidak mau membiayai putrinya lagi. Uang tabungannya pun tidak banyak, karena selama ini, Julius tidak pernah memberikan lebih padanya.
Kehidupannya memang terjamin, ia tidak perlu kekurangan soal apapun. Tapi dibalik itu, Julius tidak pernah memberikannya uang lebih, Julius selalu mengaturnya sendiri. Dari mulai uang bulanan, gaji pekerja, kebutuhan sehari-hari termasuk uang jajan dan uang sekolah Calista.
Sedangkan untuk Sahila, Julius hanya memberikannya uang sedikit dan ketika Sahila membutuhkan sesuatu, Sahila akan memintanya pada Julius, tentu saja Julius tidak memberikan Sahila semudah itu.
Terkadang, Sahila harus menerima umpatan atau makian dari suaminya. padahal Julius adalah pemimpin rumah sakit, tapi karena rasa bencinya pada Sahila yang memperlakukan Sahila begitu buruk.
Julius membenci Sahila, karena di masa lalu Julius menyangka bahwa Sahila menjebaknya hingga Ia tidur dengan Sahila. Saat itu, mereka baru saja masuk kuliah. Namun, ada kejadian yang seharusnya tidak terjadi dan Julius meyakini bahwa Sahila menjebaknya.
Julius menyangka tujuan Sahila menjebaknya, karena Sahila ingin menikah dengan pria kaya sepertinya, hingga saat ini ia benar-benar membenci Sahila.
Karena tuntutan sang ayah, ia harus bertanggung jawab dan menjalani pernikahan yang tidak inginkan, ia harus melihat anak yang tidak ia sukai dan tidak ia harapkan.
Itu sebabnya, saat ini Julius benar-benar memperlakukan Sahila dengan buruk, Julius mengikat Sahila dalam pernikahan untuk memberikan hukuman pada Sahila dan pelajaran pada Sahila, karena telah bermain-main dengannya, dan itu juga alasan Julius tidak menceraikan Sahila sedari dulu, karena ia ingin Sahila menderita.
tapi setelah 8 tahun berlalu entah, apa yang meracuni atau entah apa yang menggugah hati Julius untuk menceraikan Sahila dan mentalak Sahila. Padahal selama 8 tahun ini ia menahan Sahila untuk menyiksanya. Tapi kali ini, ia malah melepaskan Sahila begitu saja. Tentu saja itu membuat Sahila bingung.
detik demi detik terus berlalu, kecemasan Sahila terus bertambah. Seandainya ia tahu di mana suaminya, tentu saja ia akan menyusul Julius.
Seketika Sahila teringat sesuatu, Ia pun langsung berjalan ke arah brankas, kemudian ia langsung membuka brankas kecil miliknya. Ia menghela nafas gusar saat melihat isi brankas tersebut, karena di brankas itu hanya tersisa sedikit uang.
***
Keesokan harinya.
Sahila menyiapkan makanan dengan lemas, karena ia sama sekali tidak tidur semalaman, ia terus memikirkan Julius. Beberapa kali ia mencoba menghubungi suaminya. Tapi suaminya tidak mengangkat panggilannya.
Tak lama, ia melihat jam di dinding, ternyata waktu menunjukkan pukul 07.00 pagi. Ia pun berbalik kemudian naik ke atas untuk membangunkan Calista karena Calista harus pergi sekolah.
“Calista!” Sahila membuka pintu kamar putrinya, ia mengerutkan keningnya saat putrinya masih terbaring di ranjang. Padahal, biasanya Calista sudah bersiap seorang diri, dan biasanya pukul 07.00 Calista sudah turun ke bawah untuk pergi ke sekolah. Tapi kali ini, Calista masih terbaring di ranjang.
Sahila pun maju ke arah putrinya, kemudian ia langsung menundukkan diri di sebelah putrinya.
“ Calista ... Calista!” ia mengusap punggung Calista, membangunkan putrinya. Namun tak lama, matanya membulat saat ia tanpa sengaja menyentuh kulit putrinya dan ternyata, tubuh Calista tubuh begitu panas.
BERSAMBUNG.
Bab 2 : Terusir
“Calista ... Calista!” Sahila terus memanggil nama sang putri. Dengan panik, ia terus menepuk-nepuk pipi Calista. Kepanikannya semakin menjadi-jadi, kala Calista hanya membuka sedikit matanya. Secepat kilat, Sahila pun bangkit dari duduknya, kemudian ia mengambil ikat rambut milik putrinya lalu setelah itu menguncir rambut Calista.
Dan setelah itu, Sahila pun membopong tubuh putrinya lalu keluar dari kamar dan turun ke bawah. “Pak Imam ... Pak iman!” teriak Sahila, ia memanggil supir yang selama ini mengantarnya ke mana pun.
“Ya, Bu!” Pak imam yang mendengar teriakan Sahila langsung bergegas masuk ke dalam rumah.
“Pak anterin saya ke rumah sakit, Calista demam!” kata Sahila. Seperti biasa, ia selalu panik jika bersangkutan dengan sang putri.
Supir itupun mengangguk, kemudian langsung berlari ke arah luar diikuti Sahila di belakangnya.
“Bagaimanakah keadaan putri saya dok?” tanya Sahila, ia langsung bertanya ketika dokter selesai memeriksa putrinya.
“Kami belum tahu, Bu. Kami akan memberitahukan kondisi putri ibu setelah hasil tes darah keluar,” jawab dokter tersebut membuat Sahila memejamkan matanya, kemudian mengangguk.
“Terima kasih, Dok!” kata Sahila, dokter pun mengangguk, lalu setelah itu dokter pergi dari ruangan meninggalkan Sahila dan Calista di ruangan tersebut.
Sahila mendudukan dirinya di kursi sebelah brankar, kemudian menggenggam tangan Calista. Hatinya benar-benar pedih saat melihat sang putri terbaring.
“Ayah ....” Gadis kecil itu mengigau, memanggil sang ayah membuat Sahila terperanjat kaget. Ia pun langsung bangkit dari duduknya, kemudian ia langsung melihat ke arah Calista.
“Calista!” panggil Sahila, ia mengusap lembut pipi putrinya. “Ayah ....” hanya itu yang Calista ucapkan, matanya terpejam. Namun, terlihat gelisah membuat hati Sahila berdesir pedih. Entah kenapa Tuhan memberikan cobaan yang bertubi-tubi.
Ia ditalak dan putrinya masuk rumah sakit, tentu saja itu pukulan terberat bagi Sahila. Sahila melepaskan genggaman tangannya, kemudian ia langsung merogoh tasnya. Lalu mengambil ponsel dan menelepon Julius, suaminya.
“Julius kumohon angkat!” ucap Sahila, ia benar-benar berharap Julius mengangkat panggilannya. Setidaknya untuk satu kali ini saja, ia berharap, Julius mau menemui putrinya, walaupun ia tau, itu adalah hal yang mustahil, tapi setidaknya dia sudah mencoba.
Namun, setelah beberapa menit berlalu. Julius tidak mengangkat panggilannya, membuat Sahila benar-benar putus asa. Sejenak, Sahila menurunkan ponsel dari telinganya.
Kemudian, mencoba menghirup napas sedalam-dalamnya lalu setelah itu ia pun kembali menelpon suaminya dan tak lama, terdengar suara berisik dari seberang sana, membuat Sahila menjauhkan ponselnya. Lalu melihat layar ponselnya, ternyata Julius mengangkat panggilannya.
“Julius ... Julius!” panggil Sahila, ia bahkan terpekik senang ketika Julius mau mengangkat panggilannya
“Hmm,” jawab Julius dari seberang sana, ia hanya menjawab ucapan Sahila dengan deheman.
“Julius, bisakah kau datang ke rumah sakit, Calista dirawat, dia terus memanggilmu,” kata Sahila dengan penuh harap.
“Bukan urusanku dan aku tidak ada urusan dengan kalian. Kau dan putrimu harus segera meninggalkan rumah itu.” Setelah mengatakan itu, Julius pun menutup panggilannya, membuat tubuh Sahila terdiam mematung.
Napas Sahila tercekat, hingga rasanya ia kesulitan untuk bernapas. Apalagi mendengar tentang ucapan Julius yang mengusirnya. Bagaimana mungkin dia harus pergi dari rumah, sedangkan Calista tengah dirawat di rumah sakit.
Calista mengusap dadanya yang terasa pedih, bibirnya bergetar, matanya membasah. Ia ingin sekali menangis sekencang-kencangnya, kemudian ia menoleh ke belakang di mana Calista sedang terbaring di brankar.
Tidak, ia tidak boleh lemah walaupun ia terusir dari rumah yang selama 8 tahun ini ia tempati ia tidak boleh menyerah begitu saja, ia harus terus berusaha. Setidaknya, ia mempunyai ayah mertua yang masih berpihak padanya dan pasti mau menolongnya.
•••
Julius mematikan panggilannya, kemudian melempar ponselnya ke belakang. Lalu setelah itu, ia mengajak Erika kembali untuk berbaring. “Untuk apa dia menelponmu?” tanya Erika, istri keduanya
“Dia hanya mengatakan bahwa Calista sakit,” jawab Julius dengan malas. Terlihat jelas, ia begitu enggan menyebutkan nama putrinya, membuat Erika mengangguk-nganggukkan kepalanya.
“Lalu dia memintamu datang?” tanya Erika.
“Hmmm, tapi aku tidak menggubrisnya. Biarkan saja!” kata Julius. Pria itu menopang kepalanya dengan tangan, kemudian ia menatap Erika lalu mengelus pipi istri keduanya.
Ya, karena faktanya tanpa pengetahuan Sahila dan tanpa sepengetahuan ayahnya, Julius menikahi Erika sehari setelah menikahi Sahila, karena Erika lah wanita yang ia cintai, Erika juga adalah kekasihnya jauh sebelum ia menikah dengan Sahila.
Ibu dan kakaknya pun sudah mengetahui pernikahan Julius dan mereka lebih menyayangi Erika apalagi Erika dari kalangan terpandang, dan yang terpenting Erika lah pemenang hati Julius, lelaki yang terkenal sangat arogan.
Selama 8 tahun ini, Julius terpaksa harus menyembunyikan Erika dari sang ayah, karena sang ayah tidak menyukai Erika. Walaupun Julius dikenal sangat arogan. Tapi, jika ditanya siapa orang yang paling Julius takuti, yaitu Aiman Haidar, yang tak lain adalah ayahnya.
Bahkan karena desakan sang ayah, ia harus menikahi Sahila. Ayahnya mengancam, jika ia tidak menikahi Sahila dan tidak mau bertanggung jawab, ia akan mencabut semua fasilitas sang putra.
Itu sebabnya, selama ini, ia menyembunyikan pernikahannya bersama Erika. Tapi setelah 8 tahun berlalu, Erika mendesaknya ia tidak ingin terus menjadi istri siri. Ia ingin menjadi istri Julius yang resmi.
Itu sebabnya, Julius harus memutar otak bagaimana caranya menceraikan Sahila, tapi posisinya tetap aman dan sang ayah tidak akan murka kepadanya. Hingga pada akhirnya, setelah berpikir dan setelah berunding bersama ibu kakaknya dan juga Erika, Julius menemukan satu cara agar bisa terbebas dari pernikahan ini.
Walaupun memang pada awalnya selain karena desakan sang ayah untuk menikahi Sahila, dan pada akhirnya Julius bertanggung jawab, tapi seorang Julius tidak akan pernah membiarkan Sahila yang sudah menjebaknya hidup dengan tentram.
Itu sebabnya, Julius pun menggunakan pernikahan ini untuk menyiksa Sahila. Tapi karena Erika sudah tidak ingin lagi disembunyikan sebagai istri siri, akhirnya Julius pun juga harus mematuhi Erika untuk mengusir Sahila dari rumah yang selama ini ditempati oleh Sahila dan putrinya.
Dan ketika barusan Sahila menelepon, ia langsung menyuruh istri dan putrinya untuk pergi dari rumah itu, tanpa ada belas kasih sedikitpun.
“Setelah aku bercerai dengannya, kau berjanji kau harus mau mengandung!” kata Julius, karena memang selama ini Erika memakai pengaman. Ia tidak ingin mengandung anak Julius sebelum pernikahannya resmi.
Sahila mencium bibir Julius sekilas. “Tentu, aku akan mengandung anakmu. Bahkan, aku ingin melakukan program bayi tabung agar anak kita bisa kembar,” jawab Erika. Julius merebahkan kepalanya, di bantal. Lalu, setelah itu ia menarik selimut dan menyelimuti tubuhnya dan Erika.
BERSAMBUNG.
Bab 3 : Memalsukan Hasil
“Jadi, maksudmu Calista bukan anakmu?” tanya Aiman pada Julius, ia menatap sang putra. Matanya menatap Julius, dengan penuh waspada, mencari kesungguhan dari mata putranya.
“Ya, Pah. Aku sudah melakukan tes DNA pada Calista dan tidak ada kecocokan dengan aku maupun Sahila, jadi bisa dipastikan Calista bukan putriku!” kata Julius yang berusaha tenang menghadapi sang ayah, ia harus berakting senatural mungkin agar sang ayah percaya padanya.
Aiman menatap lekat-lekat wajah sang putra, ia mencari kebenaran dari mata putranya. Ia harus benar-benar meneliti apakah yang diucapkan Julius benar atau tidak, walau bagaimanapun ia harus tetap adil dan harus melihat dari kedua sisi.
“Kapan kau melakukan tes DNA ini?” tanya Aiman, Julius mengangkat kepalanya kemudian ia mengeluarkan sesuatu.
“Jika papah tidak percaya, papah bisa mengetes ini. Ini sikat gigi milik Calista dan aku mengetesnya dari sana.” Aiman mengangguk-anggukkan kepalanya, kemudian ia langsung mengambil plastik klip yang berisi sikat gigi milik Calista.
“Siapa petugas medis yang menangani ini?” tanya Aiman. Julius pun memberitahukan dokter dan petugas medis yang melakukan tes DNA padanya dan pada Calista. Setelah mengetahui siapa petugas medis yang menangani tes DNA antara Julius dan Calista, Aiman pun langsung mengambil ponsel kemudian menelepon rumah sakit miliknya yang dikelola oleh Julius.
“Baik terima kasih,” kata Aiman saat mendengar jawaban dari seberang sana.
“Apa sekarang papa percaya padaku?” tanya Julius. Aiman menghela napas sebanyak-banyaknya kemudian menghembuskannya. Rupanya, ia percaya pada sang putra.
“Biar papah yang urus!” kata Aiman, Julius pun mengangguk.
“Kalau begitu, aku pergi, Pah!” Julius pun bangkit dari duduknya kemudian ia keluar dari ruang kerja sang ayah. Saat berada di depan ruangan kerja sang ayah, Julius tersenyum, rencananya berjalan mulus dari mata ayah sang ayah menatapnya, ia yakin sang ayah percaya padanya.
Sekarang, dia hanya perlu membereskan Sahila dan putrinya, Putri yang tidak pernah ia anggap dan tak pernah ia inginkan sebelumnya. Julius pun kembali melanjutkan langkahnya, kemudian keluar dari kediaman orang tuanya.
Lalu setelah itu, berjalan ke mobil dan menyalakan mobilnya lalu memajukannya menuju ke rumah yang selama ini ditempati oleh istri dan anaknya, atau yang sekarang lebih tepatnya mantan istri dan anaknya.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang, senyum tak henti-hentinya menghiasi wajah Julius membayangkan ia akan meresmikan pernikahannya dan mengenalkan Erika sebagai istrinya sahnya.
Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Julius sampai di kediaman Sahila dan Calista. Julius turun dari mobil, kemudian ia langsung masuk ke dalam.
"Pak, Julius,” sapa asisten rumah tangga yang bekerja di kediaman yang ditempati Sahila.
“Bereskan semua barang milik Sahila dan Calista, bereskan saja pakaian mereka jangan ada yang dibawa selain pakaian milik mereka!” kata Julius membuat Bi Ina mengerutkan keningnya, ia menatap Julius dengan bingung.
“Apa ini untuk di rumah sakit, Pak?” tanya Bi Ina, wanita paruh baya itu berusaha bertanya selembut mungkin pada Julius, karena takut memancing emosi tuannya.
“Mereka akan pergi dari sini. Jadi cepat bereskan saja pakaian mereka dan jangan ada yang terbawa selain pakaian!” kata Julius membuat Bi Ina terdiam.
“Cepat!” Julius menekankan ucapannya, hingga Bi Ina tersadar, secepat kilat, ia pun langsung pergi ke atas untuk pergi ke kamar Sahila.
Setelah berada di kamar sahila, Bi Ina terdiam sejenak. Ia benar-benar bingung dengan apa yang terjadi. Namun tak lama, ia terpikirkan sesuatu. Ia pun langsung mengeluarkan ponsel dari sakunya lalu menelepon Sahila.
“Hallo, Bu. Bapak Julius datang meminta saya untuk mengemasi pakaian ibu dan Calista. Lalu, apa yang harus saya lakukan?” tanya Bi Ina.
“Baik ... Baik, bu Saya akan menunggu ibu.” Bi Ina langsung menutup panggilannya, ketika mendengar jawaban Sahila.
***
Napas Sahila terasa tercekat di tenggorokan, dadanya bergemuruh saat mendengar apa yang diucapkan oleh Bi Ina. Bagaimana mungkin Julius tega mengusirnya, sedangkan Calista baru saja akan pulang dari rumah sakit. Ia pikir, ucapan Julius yang saat itu mengusirnya hanya gertakan. Tapi, ternyata Julius benar-benar mengusirnya.
Ya, hari ini Calista diperbolehkan untuk pulang dan barusan ketika ia dan Calista akan keluar dari ruang rawat, Bi Ina meneleponnya, dan mengatakan tentang apa yang Julius katakan, dan tentu saja itu membuat lutut Sahila melemas.
“Bu … ibu kenapa?” panggil Calista dari arah belakang, gadis kecil itu heran dan bertanya karena sang ibu tampak terdiam.
Sahila menghapus sudut matanya, kemudian menoleh. Ia memeluk putrinya. “Tidak apa-apa, ibu tidak apa-apa, ayo kita pulang!” Sahila masih berusaha meredam semuanya.
Setelah ia sampai rumah, ia akan memohon belas kasih Julius. Setidaknya, Julius memberikan tempat untuknya tinggal. Setelah itu, mereka pun keluar dari ruang rawat yang selama ini ditempati oleh Calista.
Taxi yang ditumpangi Sahila dan Calista akhirnya sampai di depan rumah, mereka pun langsung turun dan langsung masuk ke dalam rumah.
“Julius!” panggil Sahila, Julius yang sedang duduk di sofa menoleh.
Tatapannya langsung bertemu dengan Calista. Wajah Calista berbinar saat melihat sang ayah. Namun ketika melihat tatapan mata ayahnya yang begitu tajam, Calista langsung bersembunyi di belakang tubuh sang ibu.
“Kalian sudah pulang rupanya!” Julius bangkit dari duduknya, kemudian menghampiri Sahila dan Calista yang sedang berdiri. “Aku rasa Bi Ina sudah menelponmu dan kau sudah tahu bukan apa yang akan terjadi dan karena sekarang kau sudah di sini, cepat bereskan barang-barangmu. Jangan membawa apapun selain pakaian kalian berdua!” kata Julius, membuat tubuh Sahila bergetar.
“Calista kau tunggu di kamarmu dulu oke. Ibu akan berbicara dengan ayah!” titah Sahila, ia tidak ingin Calista mendengar hal yang menyakitkan.
“Julius, kenapa kau begitu tega pada kami. Bagaimana mungkin kau mengusirku dan Calista. Aku menerima jika kau menceraikanku. Tapi, tolong berikan aku rumah untuk berteduh,” kata Sahila membuat Julius tertawa, seketika Julius maju ke arah Sahila, kemudian ia mendorong bahu Sahila.
“Kau masih berani meminta itu setelah kau menipuku bertahun-tahun,” ucap Julius, seketika Sahila mengangkat kepalanya, kemudian ia langsung menatap Julius dengan tatapan bingung.
“A-apa maksudmu?” tanya Sahila.
“Calista bukan putriku dan berani sekali kau menjebakku selama 8 tahun ini,” ucap Julius, ia berbicara seserius mungkin agar Sahila percaya.
Wajah Sahila sudah memucat, dadanya berdegup kencang. Bagaimana mungkin Julius mengatakan itu. “Apa maksudmu, Julius. Bagaimana mungkin ....” wajah Sahila sudah panik. Bahkan, tanpa sengaja ia berteriak di hadapan wajah Julius. Antara emosi, kesal dan takut bercampur menjadi satu.
“Aku sudah melakukan tes DNA dan Calista bukan putriku!” bentak Julius, kali ini Julius membentak Sahila membuat tubuh Sahila terperanjat kaget. Bahkan ia hampir saja terhuyung ke belakang.
”Sebelum aku muak kepada kalian dan sebelum aku melaporkanmu, sebaiknya kau pergi dari rumah ini dan jangan pernah lagi menunjukkan dirimu di hadapanku. Tidak ada pembagian harta gono gini, Kau tidak boleh membawa apapun dari sini dan aku akan berhenti membiayai anak sial itu.” Julius berbicara dengan menekankan kata-katanya, membuat Sahila terdiam. Ia bahkan tidak menyangka, ucapan itu akan keluar dari mulut Julius, sungguh lelaki ini benar-benar Arogan.
BERSAMBUNG.
Bab 4 : Pergi Dengan Sejuta Luka
Calista terduduk lemas di lantai, bentakan ayah pada ibunya membuat matanya mulai berkaca-kaca. Walaupun ia masih kecil.Tapi, ia mengerti apa yang diucapkan oleh Julius. Apalagi, barusan Julius menyebutnya anak sialan.
“Tutup mulutmu Julius, dia putrimu!” teriak Sahila.
Calista menoleh ke arah sang ibu, ternyata sang ibu baru saja menampar Julius dan berteriak di hadapan wajah sang ayah. Ia yang tadinya ingin menunggu ibunya untuk pergi ke kamar, akan tetapi ia membatalkan niatnya kala mendengar pertengkaran yang terjadi di antara kedua orang tuanya.
“Berani sekali kau menamparku,” ucap Julius. Rupanya, Sahila marah karena Julius menghina Calista dan menyebut Calista sebagai anak sial. Sahila akan tahan ketika Julius hanya menghinanya. Tapi ia tidak akan tahan, jika Julius menghina putrinya.
Namun, setelah menampar Julius, Sahila tersadar. Ia tak seharusnya melakukan itu pada Julius, karena walau bagaimanapun ia masih butuh belas kasihan dari Julius. Bukan untuknya tapi untuk putrinya, ia tidak ingin Calista hidup kekurangan dan jika Julius mengusirnya ia bingung harus berteduh di mana, sedangkan ia tidak mempunyai siapapun.
“Ju-Julius ... maafkan aku,” ucap Sahila.
Julius maju ke arah Sahila kemudian ia mencengkram pipi Sahila. “Berani sekali kau menamparku. Apa kau ingin, aku membalasmu berkali-kali lipat!” bentak Julis dan itu sungguh menakutkan di mata Sahila. Ia benar-benar menyesal telah menampar Julius.
“Sekarang, dengarkan ini. Cepat, kemasi barang-barangmu. Kau hanya boleh mengemasi baju-bajumu dan baju anak sialan itu, kemudian pergi dari rumah ini dan jangan pernah menampakan lagi dirimu di hadapanku!” kata Julius, setelah itu, ia menghempaskan wajah Sahila dengan kasar.
“Aku memberimu waktu satu jam, cepat bereskan pakaianmu, jika tidak kalian akan pergi tanpa apapun!” bentak Julius. Saat Sahila masih terdiam di tempat. Dengan kaki yang gemetar, Sahila pun mulai berjalan, kemudian ke arah kamar.
Saat masuk ke dalam kamar, ia terkesiap ketika melihat ada Calista di kamarnya dan sedang menangis dipelukan Bi Ina. Ia pikir, Calista pergi ke kamarnya sendiri. Tapi ternyata, ia salah, Calista malah di kamarnya.
“Bi Ina ....” panggil Sahila, ia menatap Bi Ina dengan tatapan yang benar-benar hancur.
Seketika Sahila pun berlari ke arah Bi Ina, kemudian memeluk wanita paruh baya itu. Walaupun hanya sebagai pekerja. Tapi, Sahila sudah menganggap Bi Ina sebagai ibunya.
“Bi Ina ....” Sahila hanya mampu memanggil Bi Ina dengan berderai air mata. Setelah puas menumpahkan tangisannya, Sahila melihat ke arah Calista yang tampak berdiri dengan tatapan kosong. Gadis kecil itu, setidaknya mengerti bahwa ia dan ibunya diusir oleh sang ayah.
__ADS_1
Perlahan, Sahila berjalan ke arah Calista kemudian ia menekuk kakinya lalu menyetarakan diri dengan sang putri. “Calista, kau jangan khawatir. Kita bisa meminta pertolongan pada kakek,” ucapnya. Sekarang, satu-satunya tumpuan adalah ayah mertuanya, satu-satunya orang yang peduli padanya.
Calista tidak menjawab, ia hanya menatap wajah sang ibu dalam-dalam, kemudian tangan kecilnya tergerak mengelus air mata ibunya, membuat pelupuk mata Sahila kembali berlinang. Hingga Ia pun langsung memeluk sang Putri.
“Tuhan apakah kau akan memberikan rasa sakit yang lebih dari ini?” batin Sahila menjerit perih, entah bagaimana ia bisa menghadapi hari-hari ke depannya.
“Ibu, ayo pergi.” Tiba-tiba gadis kecil itu berbicara dengan suara yang lirih, membuat Sahila melepaskan pelukannya dari Calista, kemudian menatap dalam-dalam wajah putrinya.
“Ibu akan membereskan baju ibu dulu. Kau membereskan pakaianmu bersama Bi Ina ya," kata Sahila
“Bi, tolong bibi ajak Calista untuk ke kamarnya!” kata Sahila, Bi Ina pun mengangguk.
Setelah Calista pergi, tubuh Sahila ambruk di lantai kemudian ia menangis sejadi-jadinya seraya memukul dadanya yang terasa sesak
***
Calista berjalan di belakang tubuh sang ibu, di tangannya sudah memeluk satu boneka kesayangannya. Sedangkan Sahila berjalan ke arah Julius yang menunggunya di depan pintu. Ia berjalan, sambil menyeret dua koper besar di mana koper itu berisi pakaiannya dan pakaian putrinya.
“Baguslah jika kalian sudah selesai, cepat pergi dari sini!” kata Julius.
Sahila berusaha menegarkan hatinya, ia tahu akan percuma, jika ia terus mengemis di hadapan Julius. Ia menatap Julius, kemudian menatap ke arah Calista.
“Calista ayo cium tangan ayah ....” kata Sahila. Walau bagaimanapun ia tidak ingin mengajarkan Calista membenci Julius.
“Tidak perlu, pergi sana!” kata Julius dengan sadis, Sahila menggigit bibirnya, ia mati-matian untuk tidak menangis. Kemudian, ia menoleh ke arah belakang.
“Ayo Calista.” Sahila pun melewati tubuh Julius begitu saja, disusul oleh Calista.
“Tunggu!” kata Julius tiba-tiba, hingga Sahila dan Calista kembali menoleh. “Lepaskan boneka itu!” kata Julius, membuat Calista langsung menatap sang ibu. Mata gadis kecil itu langsung membasah, ketika Julius meminta boneka yang ia sedang peluk.
Boneka itu adalah hadiah dari Aiman untuk Calista dan itu boneka kesayangannya. Tapi Julius dengan tega tidak memperbolehkan Calista membawa boneka tersebut.
Saat ini, Julius benar-benar ingin puas melihat luka di mata Sahila dan Calista. Ia ingin melihat Sahila menderita untuk yang terakhir kalinya. Sahila menghirup udara sebanyak-banyaknya, kemudian menatap Calista.
“Calista, ayo berikan boneka itu pada ayah!” pinta Sahila, ia ingin sekali menangis sekencang-kencangnya ketika melihat ekspresi wajah Calista, namun ia tahan.
Mendengar ucapan sang ibu, kedua mata Calista mulai berlinang, ia memeluk boneka yang ia pegang semakin erat, pertanda ia tidak mau memberikan boneka itu pada ayahnya. Boneka itu satu-satunya pemberian dari kakeknya yang tidak diambil kakak sepupunya dan yang terpenting itu adalah pemberian dari Aiman, orang yang satu-satunya peduli padanya dan kini sang ayah malah mengambilnya.
“Calista ayo, berikan pada ayah, Nak!” kata Sahila mengulangi, ia berusaha membujuk sang putri agar Calista mau memberikan boneka itu pada Sahila. Sahila menggeleng.
“Tidak ibu, ini punyaku!” Calista memepetkan tubuhnya pada tubuh Sahila, membuat Julius menggeram kesal. “Aku mohon, Bu. jangan biarkan boneka ini diambil ayah.” Calista berbicara pelan, tangannya memegang celana Sahila dengan erat. ia benar-benar takut sang ayah mengambil boneka kesayangannya.
Melihat reaksi Calista, Julius menggeram, anak kecil di depannya ini benar-benar membuatnya kesal. Seketika Julius pun maju,kemudian ia mengambil paksa boneka itu dari tangan Sahila.
“Kemarikan!” bentak Julius hingga boneka itu terlepas dari tangannya dan seketika itu juga Calista menelusupkan wajahnya pada punggung sang ibu, lalu menangis sejadi-jadinya.
Rasanya begitu menyakitkan ketika Julius mengambil bonekanya dan setelah itu, tangis Sahila pun mulai berlinang. “Julius demi apapun, aku tidak akan memaafkan Apa yang kau lakukan pada pada kami. Selama 8 tahun ini aku diam. Tapi, sekarang aku berdoa semoga karma berat akan segera menghampirimu!” Sahila menatap Julius dengan tegar, kemudian ia menoleh ke arah Calista.
“Ayo kita pergi, Calista!” Sahila sedikit menarik tangan Calista dengan keras, hingga mereka pun langsung keluar dari kediaman Julius.
BERSAMBUNG.
Bab 5 : Tak boleh menyerah
“Ibu ... Ibu ....” Calista hanya mampu memanggil nama sang ibu, ia menangis sesegukan di pelukan Sahila. Sedangkan Sahila terus mengelus punggung Calista, membiarkan putrinya tenang dalam pelukannya.
Namun, bukannya tenang, tangis Calista malah semakin menjadi-jadi, begitupun Ia yang juga ingin sekali menangis. Namun, ia berusaha meredam tangisnya, apalagi ia sedang berada di taksi dan rasanya sungguh malu jika ia harus menangis di hadapan orang lain.
“Kau harus sabar, oke. Ibu akan memberikan boneka lagi untukmu,” jawab Sahila, ia berusaha mengobati sang putri. Namun, Calista menggeleng.
“Boneka itu dari kakek, Bu,” jawabnya lagi, tangisnya semakin mengencang dari sebelumnya. Ketika mengingat ia sudah tidak bisa bersama bonekanya lagi. Entah setan apa yang merasuki hati sang ayah, hingga sang ayah benar-benar tega melakukan ini padanya.
Setelah melewati perjalanan yang cukup jauh, akhirnya taksi yang dikendarai Sahila dan Calista sampai di kediaman Aiman, mantan mertuanya, atau yang tak lain orang tua Julius.
“Pak, tunggu sebentar ya. Saya menenangkan anak saya dulu,” kata Sahila. pada sopir taksi, karena Calista belum mau berhenti menangis. sopir taksi itupun mengangguk.
“Calista ayo berhenti, Nak. Kita masuk ke rumah kakek,” sambung Sahila lagi, berusaha membujuk putrinya. Calista menegangkan tubuhnya, kemudian menghapus air matanya. Lalu setelah itu menoleh ke arah sang ibu.
“Ibu janji, Cal. Ibu akan memberikan boneka lagi untukmu.” Sahila masih berusaha membujuk putrinya, hingga Calista pun mengangguk lesu.
Setelah itu, Sahila pun turun dan membantu Calista untuk turun, kemudian membuka bagasi lalu mengeluarkan koper yang tadi ia bawa dari rumah Julius.
“Pak, tolong buka pagarnya. Saya ingin masuk!” kata Sahila pada penjaga gerbang.
“Maaf, Bu. Kata pak Aiman, anda tidak diperbolehkan masuk,” jawab satpam tersebut membuat Sahila mengerutkan keningnya.
Biasanya tidak seperti ini, ia bebas memasuki kediaman kedua mertuanya walaupun selama ini ibu mertuanya kerap sikap sinis padanya.
Sahila pun merogoh tasnya, kemudian ia mengambil ponsel. Lalu setelah itu, ia menelpon ayah mertuanya. “Ayah bolehkah aku masuk?” tanya Sahila dengan suara yang putus asa, ia takut ayah mertuanya berubah padanya.
Aiman tidak menjawab. Ia malah mematikan panggilan sepihak. Rupanya, Aiman langsung menelpon pos satpam dan memerintahkan satpam untuk membuka gerbang, setidaknya, Aiman berbaik hati untuk memberi kesempatan Sahila untuk berbicara.
Setelah dipersilahkan masuk oleh Aiman dan pintu gerbang sudah terbuka, Sahila dan Calista pun masuk ke dalam area rumah. Dari kejauhan, ia melihat ayah mertuanya sedang berdiri di depan rumah. “A-ayah!” panggil Sahila, ia mengulurkan tangannya untuk mencium punggung tangan ayah mertuanya. Tapi, Aiman malah memalingkan tatapannya ke arah lain dan tidak menatap Sahila, membuat Sahila menggigit bibirnya.
“Kakek!” panggil Calista dari arah belakang, Aiman hanya menoleh sekilas kemudian ia menatap Sahila dengan malas. “Untuk apa kalian kemari ?” tanya Aiman, membuat Sahila tertegun.
“A-ayah kenapa seperti ini pada kami. Apa kami mempunyai salah?” tanya Sahila.
“Ya, kau telah berbohong pada keluarga kami. Selama delapan tahun aku sudah tertipu dengan wajah polosmu. Kau mengatakan bahwa kau mengandung anak Julius, nyatanya Julius bukan ayah biologis dari Calista!” kata Aiman, membuat lutut Sahila melemas.
“Tidak ayah, itu tidak benar!” Wajah Sahila sudah panik, ia berusaha untuk meraih tangan ayah mertuanya dan meyakinkan ayah mertuanya tapi seketika itu juga Aiman mundur satu langkah.
“Pergi dari sini, sebelum aku memberikan pelajaran padamu. Kali ini aku melepaskanmu tapi jangan muncul lagi di sini dan jangan pernah lagi mengatakan bahwa anak itu adalah anak Julius!” Setelah mengatakan itu, Aiman pun langsung berbalik kemudian masuk ke dalam rumah.
Lelaki paruh baya itu nyatanya kecewa pada Sahila, ia yang percaya Sahila selama bertahun-tahun merasa terkhianati. Itu sebabnya, ia bersikap demikian.
Setelah pintu tertutup, Sahila hanya mampu terdiam di tempat. Napasnya terasa tercekat ia bahkan tidak mampu untuk mencerna ucapan ayah mertuanya. “Bagaimana mungkin ayah percaya dengan perkataan bohong Julius yang tidak benar sama sekali?” ucap Sahila dengan bibir bergetar.
Sedangkan Calista sedari tadi menunduk, ia juga harus mendapat ucapan yang menyakitkan dari kakek dan ayahnya. Entah bagaimana lagi gadis kecil itu menghadapi kesedihannya, ia hanya bisa menangis, menangis dan menangis.
Tiba- tiba, tubuh Sahila terasa lemas, ia memegang pilar yang ada di depannya agar tubuhnya tidak ambruk. Calista mengangkat kepalanya, lalu menoleh ke arah sang ibu.
“Ibu!" panggil Calista, nada gadis kecil itu terdengar sangat rapuh. Seketika Sahila langsung melihat ke arah Calista.
“Ibu, ayo pergi dari sini!” kata Calista. Sahila menekuk lututnya, kemudian ia menyetarakan diri dengan Calista.
“Maafin ibu ya Calista, untuk sementara kita harus tinggal di rumah kecil. Sekarang kita harus mencari tempat untuk berteduh,” ucap Sahila.
Seberapa pun luka yang ia tanggung karena Julius, ia tidak boleh lemah dan ia tidak boleh menyerah. Walaupun memang sekarang semuanya sudah berakhir, dan dia harus memulai ke titik nol.
Saat ia akan berbalik, tiba-tiba pintu kembali terbuka, membuat Sahila dan Calista kembali menoleh, ternyata ibu mertuanya yang keluar dari dalam rumah.
Naurin, sang ibu mertua, wanita paruh baya yang masih tetap terlihat cantik di usia yang tak lagi muda itu keluar dari rumah. Lalu, bersedekap dan berjalan ke arah Sahila dan Calista. Matanya menatap sinis pada mantan menantu dan cucunya.
Ia terkekeh senang saat melihat Sahila dan Calista tidak lagi dianggap oleh suaminya. Jika bukan karena Aiman, ia tidak akan pernah mau menerima Sahila dan Calista sebagai menantu dan cucunya.
“Ibu!” panggil Sahila.
“Akhirnya kau berpisah juga dengan putraku,” ucap Naurin, ia menatap Sahila dengan tatapan mencemooh.
“Ayo kita pergi, Calista!” Sahila lebih memilih untuk pergi daripada meladeni ucapan ibu mertuanya, ia tidak ingin Calista lebih banyak mendengar hal yang menyakitkan.
”Kurang ajar sekali kau!” hardik Naurin, ketika Sahila berbalik dan meninggalkannya yang sedang berbicara.
“Jangan lagi menoleh ke belakang Calista,” ucap Sahila ketika mereka sudah berjalan, Ia menyeret dua koper, sedangkan Calista berjalan di sampingnya.
***
“Kau benar kan, sayang? Kau ingin mengadakan resepsi yang mewah untukku?” tanya Erika dengan girang saat Julius mengatakan bahwa Julius akan mengadakan pesta resepsi yang sangat besar untuk meresmikan pernikahan mereka.
Bukan hanya itu saja yang membuat Erika senang, ada hal lain lagi yang membuat Erika tampak melayang. Yaitu, kepergian Sahila dan Calista dari rumah utama.
Pada akhirnya, ia bisa menempati rumah itu karena ia merasa bosan dengan rumahnya. Sebenarnya, rumah yang diberikan oleh Julius sama besarnya dengan rumah yang selama ini ditempati oleh Sahila dari Calista. Tapi, walaupun begitu, tentu saja rasanya berbeda. Ia ingin tetap berada di rumah utama sebagai istri satu-satunya.
bab 6
Setelah keluar dari kediaman ayah mertuanya atau yang lebih tepatnya mantan ayah mertuanya, Sahila dan Calista terdiam di sisi jalan. Mereka menunggu taksi yang melewat di hadapan mereka. Ia tidak mungkin mencari taksi di tempat lain, karena mereka membawa dua koper yang besar.
Sahila menoleh ke arah Calista, di mana putrinya tampak melamun. Sahila menggerakkan tangannya, kemudian ia mengelus rambut Calista membuat Calista menoleh. “Ibu, setelah ini kita akan ke mana?” tanya Calista, Sahila tampak terdiam. Ia menoleh ke arah depan, ia juga bingung saat ini harus ke mana, sedangkan waktu sudah sangat sore, dan ia tidak punya siapapun dan ia tidak tau harus ke mana.
“Calista apa kau lapar?” tanya Sahila yang tiba-tiba teringat bahwa putrinya belum makan. Calista menoleh kemudian memegang perutnya lalu menggangguk.
“Aku lapar," jawabnya. Sahila berusaha menegarkan hatinya. Untuk pertama kalinya, ia harus melihat putrinya dengan wajah memelas, wajah putrinya terlihat penuh luka.
Sahila dan Calista sudah lama menunggu, tapi taksi tidak ada yang lewat, apalagi rumah mertuanya masuk dalam perumahan yang cukup besar dan jarang ada taksi yang melintas.
“Ayo kita berjalan ke gerbang saja, Calista!" ajak Sahila. “Biar ibu yang membawa koper!” Calista pun menggangguk, Kemudian mereka pun mulai berjalan ke arah gerbang, berharap ada taksi yang melintas.
“Ibu tunggu, aku lelah!” kata Calista. Setelah 15 menit berjalan, Sahila kemudian menghentikan langkahnya. Lalu, ia mendekat ke arah Calista.
“Ayo kita duduk disana.” Calista menunjuk trotoar, dan mereka pun berjalan ke arah trotoar tersebut lalu mendudukkan diri trotoar itu. Saat duduk, kedua ibu dan anak itu saling melamun, Calista dengan rasa lapar dan lelahnya, sedangkan Sahila dengan rasa bingungnya.
Tak lama, Sahila melihat ke arah atas, di mana awan tampak mendung dan sepertinya sebentar lagi akan hujan.
Calista menggeleng. “Tidak Ibu, aku jalan saja!” beruntung gadis kecil itu begitu pengertian dan tidak mau menyusahkan sang ibu, hingga Mereka pun langsung bangkit dari duduknya lalu berjalan untuk ke gerbang utama
Dua puluh menit kemudian, akhirnya Sahila dan Calista tiba di gerbang utama. Nafas mereka sudah terengah- engah, karena mereka berjalan dengan jarak yang cukup jauh, dan tidak berhenti sedikitpun, mereka takut hujan akan turun.
“Ibu ayo kita beli minum!” ajak Calista, membuat Sahila tersadar. Sahila pun mengangguk dan mereka pun berjalan ke arah supermarket yang tak jauh dari tempat mereka berdiri. Setelah sampai di supermarket, Sahila menyimpan kopernya kemudian menoleh ke arah putrinya.
“Call, biar ibu yang masuk. Kau tunggu di sini, jaga koper Ini!” kata Sahila, Calista menggangguk, kemudian Ia pun pergi ke dalam supermarket.
••••
Julius masuk ke dalam kamar, kemudian ia tersenyum saat melihat Erika sudah siap dengan tampilannya. Seperti biasa, tampilan Erika begitu cantik dan memukau. Julius pun maju ke arah istrinya, kemudian ia memeluk Erika dari belakang.
“ Julius kamu membuatku terkejut!” pekik Erika, kemudian ia membalikkan tubuhnya hingga kini ia berhadap-hadapan dengan suaminya.
“Apa ada di yang kau pikirkan? kenapa Kau tampak gugup?” tanya Julius.
Erika mengalungkan tangannya pada leher Julius. “Julius, apa harus sekarang kita bertemu ayahmu?” tanya Erika, jujur saja ia belum siap untuk bertemu Aiman, karena walau bagaimanapun aiman terlihat sangat tidak menyukainya.
“Aku rasa tidak ada alasan lagi untuk kita menundanya. Aku ingin segera meresmikan pernikahan kita di hadapan hukum,”Jawab Julius Erika tampak terdiam. “Kau tidak perlu takut. “Ada aku disisimu. Lagian ayahku tidak sejahat yang kau kira. Dia pasti akan mendukung pernikahan kita!” Julius menenangkan Erika, agar istrinya mau bertemu ayahnya.
Setelah tadi mengusir Sahila, Julius tidak ingin memperlambat waktu. Ia langsung pergi untuk menjemput Erika di rumah keduanya, dan mengajak wanita itu untuk pergi menghadap ayahnya. Walau, bagaimanapun ia ingin statusnya pernikahannya jelas di mata hukum.
“ Tapi sebelum pergi ke rumah ayahmu. Aku ingin melihat rumah utama dan setelah itu kita pergi ke rumah orang tuamu!” ajak Erika, Julius tampak berpikir kemudian mengangguk.
“Baiklah ayo!” Julius menarik tangan Erika lalu mereka pun keluar dari kamar.
•••
Mobil yang dikendarai Julius sampai di kediaman rumah utama, rumah yang dulu ditempati oleh Sahila dan putrinya. Saat masuk ke dalam pekarangan rumah, Erika menatap takjub pada sekelilingnya.
Rumahnya yang diberikan oleh Julius memang mewah, tapi rumah yang ditempati oleh Sahila dan Calista jauh lebih mewah, itu sebabnya ia begitu takjub saat melihat rumah tersebut.
“Ayo sayang!” kata Julius yang mengajak Erika untuk turun, Erika pun mengangguk, Julius turun dari mobil kemudian membukakan pintu untuk istrinya, lalu ia mengulurkan tangannya dan mereka pun masuk.
Saat Julius membuka pintu, lagi-lagi mata Erika terpanah saat melihat furniture yang ada di rumah itu, ternyata semua isi rumah itu lebih mewah daripada rumah yang ditempati olehnya. Erika tersenyum senang, tidak sia-sia ia menyuruh Julius untuk menceraikan Sahila dan akhirnya ia bisa pindah ke rumah utama yang sebenarnya bukan milik Julius, tapi milik Ayman, ayah Julius.
“Aku ingin berkeliling, maukah kau mengantarku?” tanya Erika saat masuk ke dalam rumah, Julius pun menggangguk.
“Ayo kita berkeliling. Sebentar lagi ini juga akan menjadi rumahmu,” jawab Julius membuat Erika semakin terbang.
••••
“Apakah kita tidak bisa menginap saja di sini dan ke rumah ayahmu besok?” tanya Erika saat mereka akan keluar dari rumah.
“Tidak, aku ingin pergi sekarang. Bukankah kau sudah berjanji,” balas Julius.
Sepertinya kali ini suara Julius tidak bisa dibantah, membuat Erika menggigit bibirnya. Jika Julius sudah seperti ini, maka tidak ada alasannya untuk menolak lagi. Erika menghela nafas kemudian menghembuskannya. Lalu ia mengangguk.
“Baiklah kita pergi sekarang!” ,
Julius tersenyum saat melihat Erika yang mengangguk. Ia dan istrinya, keluar dari rumah dan menuju mobil.
Saat berada di perjalanan, Erika terus melihat ke jendela, rasa gugup, tidak bisa ia sembunyikan. Bahkan, Julius tahu istrinya sedang gugup. Julius menoleh ke arah Erika, kemudian menggenggam tangan istrinya, membuat Erika menoleh.
“Tidak apa-apa, ayahku pasti tidak akan melakukan apapun padamu,” ucap Julius. Erika pun mengangguk, dan berusaha untuk menepis kerisauannya.
“Tunggu sebentar!” kata Erika, saat
mobil yang dikendarai Julius akan berbelok dan masuk ke perumahan.
Julius menghentikan mobilnya di sisi lalu menoleh. “Kenapa, apa ada sesuatu?” tanya Julius.
“Julius bukankah itu Sahila dan Calista?” ucap Erika, membuat Julius menoleh. Julius menarik sudut bibirnya dan tersenyum sinis saat melihat Sahila dan Calista sedang duduk di depan supermarket, terlihat jelas bahwa mereka seperti orang yang baru diusir.
Tiba-tiba Erika terpikirkan sesuatu, dan ia ....
BERSAMBUNG
Bab 7
Sahila keluar dari supermarket, kemudian ia langsung berjalan ke arah Calista yang sedang menunggunya. “Ayo, Cal. Kita duduk di sana!” kata Sahila yang menunjuk tangga yang ada di samping pintu supermarket tersebut.
Sepertinya, mereka harus beristirahat sejenak sebelum mereka menemukan tempat tinggal. Sahila tidak punya pilihan lain. Setelah istirahat, ia harus mencari tempat tinggal untuknya dan untuk Calista, sebelum hari mulai gelap.
Sahila dan Calista mendudukan dirinya di tangga, kemudian Sahila membuka kresek dan mengambil minuman serta roti yang ia beli untuk mengganjal perut Calista.
“Ibu, apa ibu tidak mau?” tanya Calista yang melihat hanya ada satu roti.
“Tidak, ibu makan nanti saja, kau saja makan duluan!” Calista pun mengangguk, kemudian Sahila membantu membukakan roti untuk putrinya.
•••
Erika menyeringai saat melihat Sahila dan Calista tanpa menyedihkan. ”Julius kau tunggu di sini!” kata Erika, Julius tidak melarang Erika untuk turun. Sepertinya, ia mengerti apa yang akan dilakukan istrinya, dan ia pun sama sekali tidak keberatan Erika akan melakukan apapun pada Sahila dan Calista, toh Ia pun sampai detik ini masih membenci anak dan mantan istrinya.
Erika turun dari mobil dengan anggun, kemudian ia berjalan untuk ke arah supermarket. Di tangannya, ada sebuah Tumblr, berisi minuman yang tadi ia bawa dari rumah utama.
Saat menaiki tangga, Erika menghentikan langkahnya Di sisi tubuh Calista .
“Aaaaa!” Calista terpekik kaget, saat ada percikan air mengenai pakaiannya, membuat Sahila menoleh.
“Ups, maaf. Aku tidak sengaja!” kata Erika, ternyata Erika menjatuhkan tumbler yang ia bawa, hingga isi tumbler itu mengenai pakaian Calista, dan mengenai tubuh gadis kecil itu yang sedang memakan makanannya.
Sahila bangkit dari duduknya, kemudian ia langsung menetap Erika dengan tatapan kesal. “Apa kau tidak punya sopan santun?” tanya Sahila, ia langsung melotot galak pada Erika. karena wanita di depannya ini sugguh tidak sopan, apalagi Calista sedang memakan makanannya.
Erika hanya membuka kacamatanya, kemudian ia melemparkan tatapan mengejek pada Sahila.
“Sayang kau sudah selesai?” tiba-tiba terdengar suara Julius membuat Sahila langsung menoleh ke arah depan.
Mata Sahila membulat, jantungnya serasa berdetak dua kali lebih cepat saat mendengar Julius memanggil Sayang pada wanita yang tadi menjatuhkan Tumblr dan mengenai tubuh Calista. Mata Sahila berkaca-kaca, saat melihat Julius. Tak perlu di jelaskan lagi, Sahila mengerti yang terjadi
Melihat sang ayah, Calista langsung memepetkan tubuhnya pada Sahila, sedangkan Sahila mengepalkan tangannya mati-matian, berusaha agar tidak menangis.
“Ayo Calista kita pergi!” Sahila memutuskan untuk pergi dari hadapan Erika dan Julius, ia tidak ingin lebih lama melihat hal yang menyakitkan. Sebenarnya selama 8 tahun ini, ia tidak tahu apapun yang dilakukan suaminya. Tapi mendengar Julius memanggil sayang pada wanita yang ada di depannya ini. Sahila rasa, Sahila mengerti apa yang terjadi.
Sebagai seorang istri yang diabaikan, tentu saja Sahila merasakan sakit bukan main, ketika mendengar Julius berbicara sayang pada wanita lain dan memperlakukan wanita lain dengan baik, berbeda padanya dan pada Calista.
Calista menggenggam tangan Sahila, ia menyembunyikan wajahnya di tangan sang Ibu. Masih teringat jelas, bengisnya wajah sang ayah saat mereka diusir. Sahila pun Menarik kedua koper miliknya, kemudian Ia pun pergi meninggalkan Julius dan Erika.
“Tunggu!” kata Erika membuat Sahila yang sudah turun dari tangga langsung menoleh. Erika merogoh tasnya, kemudian mengeluarkan beberapa lembar uang.
“Apa kau butuh ini?” tanya Erika dari anak tangga. Sahila menghela nafas sebanyak-banyaknya, kemudian kembali berbalik. ini benar-benar suatu penghinaan untuknya.
Saat berbalik, bulir bening langsung terjatuh dari pelupuk mata Sahila, ia benar-benar seperti manusia yang sangat menyedihkan, semua rasa sakit seolah tidak usai menerpanya.
“Ibu, kita akan kemana?” tanya Calista, saat hari kian mendung dan awan sudah lebih gelap dari sebelumnya, dan mungkin sebentar lagi akan turun hujan.
Sahila terdiam sejenak, kemudian ia langsung merogoh saku sweaternya, mengutak-atik ponselnya dan mencari kosan yang tak jauh dari tempatnya berdiri.
“ Calista ada tempat yang dekat di sini, ayo kita ke sana!” ajak Sahila, beruntung ada kosan yang hanya berjarak beberapa meter dari tempatnya berdiri, kosan yang sudah tersedia fasilitas kasur dan lemari, setidaknya itu bisa menjadi penyelamat dikala saat ini, saat ia pergi dari rumah dan tidak membawa apapun.
15 menit kemudian, akhirnya Sahila sampai di titik tempat kosan itu, ia melihat kesana kemari dan setelah melihat plang berisi tulisan kosan yang ia tuju, akhirnya Sahila pun mengajak Calista untuk menyeberang dan langsung masuk ke dalam.
•••
Sahila membuka pintu kamar tersebut, ia tersenyum seraya menghela nafas lega, karena ia sudah mempunyai tempat untuk berteduh. Di kamar itu, hanya ada satu kasur dan lemari tidak ada apapun lagi. Tapi bagi Sahila, Ini sudah lebih dari cukup, harga sewanya pun tidak terlalu tinggi setidaknya saat ini dan sampai seterusnya ia aman, karena ada tempat berteduh
Sekarang, ia hanya tinggal memikirkan bagaimana caranya Ia mendapat pekerjaan agar bisa menyambung hidupnya kedepan, dan menghidupi Calista dan dirinya sendiri.
Sahila membereskan kopernya, sedangkan Calista tidur di kasur yang tidak memakai dipan, kasur Itu ditaruh di lantai membuat Calista langsung meringis, karena kasur yang ia tempati tidak seperti kasurnya saat berada di rumah sang ayah.
“Ibu, kenapa kasur ini begitu keras?” tanya Calista, Sahila yang sedang membereskan kopernya menoleh. Sepertinya ia harus memberi penjelasan pada Calista.
“Calista!” panggil Sahila, ia mendudukkan diri di sebelah kasur, sedangkan Calista langsung bangkit dari berbaringnya
“Calista tahu kan apa yang kita alami tadi?” tanya Sahila, Calista menunduk kemudian mengangguk.
“Ayah sudah mengusir kita, jadi kita tidak bisa hidup seperti dulu. Ibu berjanji, ibu akan bekerja lebih giat agar kau bisa sekolah dan kau bisa hidup dengan nyaman!” ucap Sahila, walaupun sebenarnya ia ragu. Bagaimana mungkin ia bisa mencari kerja sedangkan ia tidak memiliki pengalaman apapun.
Calista tersenyum kemudian menggenggam tangan sang ibu, gadis kecil itu seolah sedang menguatkan Sahila. “Tidak apa-apa Ibu, aku tidak masalah hidup di sini,” jawab Calista. Bukannya tenang, Sahila malah ingin menangis sejadi-jadinya saat mendengar ucapan putrinya. Calista yang biasanya hidup kenyamanan harus merasakan hal pahit seperti ini.
•••
“Ayo, Sayang!” kata Julius saat mobil miliknya sudah terparkir di depan rumah sang ayah.
“ Julius aku takut,” jawab Erika, Jujur saja saat dalam perjalanan, jantungnya benar-benar seperti akan keluar dari rongga dadanya, membayangkan bagaimana tanggapan Ayman padanya.
Sedari mereka kuliah saja Ayman tidak pernah menyukainya, bahkan saat dulu ia dan Julius berpacaran, Ayman selalu menatapnya dengan tatapan tak suka. Lalu bagaimana dengan sekarang, begitulah pikir Erika.
Ia benar-benar takut dan was-was bagaimana jika Ayman menolaknya, dan bagaimana jika Ayman menyuruh Julius untuk menceraikannya.
Bab 8
__ADS_1
Ayo!” Julius menyadarkan Erika yang terus melamun di dalam mobil dan tidak mau turun. Sedangkan Erika langsung menoleh ke arah Julius. Dengan ragu, Ia pun mengangguk.
Julius turun dari mobil, kemudian memutari mobil lalu membukakan pintu untuk Erika. Ia mengulurkan tangannya, lalu mereka pun berjalan masuk ke dalam rumah.
Nafas Erika tercekat, jantungnya seperti akan keluar dari rongga dadanya. Bahkan, saat akan memasuki rumah. Erika hampir saja mundur dan bersembunyi di belakang tubuh Julius, karena papa mertuanya benar-benar menakutkan di mata wanita itu.
“Ayo masuk!” ajak Julius, Ia pun mengajak sang istri untuk masuk ke dalam.“Tolong panggilkan papah! katakan pada papah, aku datang!” titah Julius pada asisten rumah tangga yang membukakan pintu untuk mereka.
Asisten rumah tangga itu pun mengangguk, Kemudian Julius dan Sahila berjalan ke arah sofa, mereka mendudukkan duduk di sofa.
Erika melihat ke sana kemari, mencari ibu mertuanya yang tidak ada di manapun. Seandainya ada ibu mertuanya, Mungkin ia tidak terlalu gugup, karena Ibu mertuanya sangat mendukungnya.
“ Julius Mamah mana?” tanya Erika pada Julius. Julius tampak melihat jam di pergelangan tangannya.
“Mungkin Mamah sedang pergi ke arisan!” balas Julius, Erika menggangguk dan ber-oh ria. Tak lama, terdengar suara derap langkah, membuat Erika dan Julius menoleh. Sosok Ayman yang gagah, berjalan ke arah mereka membuat Julius dan Erika langsung bangkit dari duduknya.
Erika langsung menggenggam tangan Julius, Dia memegang tangan suaminya begitu erat, telapak tangannya berkeringat dan Julius bisa merasakan itu.
“Hallo, Pah!” ucap Julius. Ayman mengangguk, kemudian ia langsung mendudukkan dirinya di sopa tunggal di seberang Julius dan Erika. Hingga kini, mereka sudah duduk saling berseberangan. Jari-jari Erika saling bertautan, karena ia menunduk dan tidak sanggup menatap Ayman.
“Untuk apa kalian kemari?” tanya Ayman dengan sadis, dingin dan datar.
Kali ini bukan hanya Erika saja yang takut pada Ayman. Julius pun juga sama takutnya, apalagi melihat wajah sang ayah yang dingin.“ Pah, aku ingin memperkenalkan Erika kepadamu,” ucap Julius. Ayman menatap Erika dari atas sampai bawah, kemudian lelaki paruh baya yang masih tampan di usianya tetap muda itu, berdecak sinis.
” Apa kau tidak mempunyai mulut, kenapa kau tidak memperkenalkan dirimu sendiri?” Tiba-tiba suara Ayman menyadarkan Erika. Hingga Erika langsung mengangkat kepalanya. Lalu menatap Ayman dengan takut. Bahkan, rasanya seluruh tubuh Erika terasa lemas.
”Ha-haloo, Pah. Aku Erika, istri Julius,” ucap Erika. Julius menyipitkan matanya, saat melihat tidak ada keterkejutan dalam mata sang ayah. Entah sang ayah sudah tahu, atau tidak tentang pernikahannya dengan Erika.
“Pah, aku ke sini untuk mengenalkan Erika kepadamu, dia istriku. Sebenarnya kami sudah menikah 8 tahun lalu,”ucap Julius. Setelah itu, ia menunduk karena tidak berani melihat reaksi sang ayah.
Mendengar ucapan Julius, Erika langsung melotot kaget ke arah suaminya. Ia pikir, Julius tidak akan mengatakan tentang pernikahan mereka di masa lalu. Tapi ternyata, Julius malah mengatakannya dan ia takut Ayman semakin membencinya.
Tanpa membalas ucapan Erika dan Julius. Ayman bangkit dari duduknya.
“Kalian boleh pergi, papa harus istirahat!” kata Aiman, Ia tidak menggubris ucapan Julius dan Erika, hingga langsung meninggalkan anak dan menantunya begitu saja.
Saat Ayman pergi, Erika menghela nafas lega, sekaligus merasakan ketakutan. Sedangkan Julius menatap bingung pada Ayman dengan yang sedang berjalan. Apakah ayahnya merestuinya, begitulah pikirnya.
Sebab jika sang ayah tidak merestuinya, ayahnya tidak akan mungkin pergi begitu saja. Ayman pasti akan berbicara dan menentangnya. Tapi yang terjadi, Ayman malah pergi begitu saja.
“Sayang jangan khawatir. Papa sudah merestui kita!” ucap Julius saat melihat Erika sedang melamun.
“Julius, bagaimana dia merestui kita. Sedangkan papamu saja tidak membalas apa yang kau katakan,” balas Erika dengan gusar.
“Begitulah papaku. Jika ia tidak setuju, ia langsung berbicara. Jika ia setuju, ia akan pergi begitu saja!” mata Erika berbinar saat mendengar ucapan Julius, setidaknya ia tidak perlu menakutkan apapun lagi.
•••
keesokan harinya
“Calista ... Calista!” panggil Sahila yang membangunkan putrinya
Calista mengerjap, ia membuka matanya, kemudian bangkit dari berbaringnya. “Kenapa ibu membangunkanku!” protes anak kecil itu, karena ia baru bisa tertidur pukul 4 pagi. Semalaman, Calista tidak bisa tertidur. Karena merasa panas, ia biasa tidur memakai Ac. Namun, ketika di kosan, ia tidak bisa tidur karena hawanya terasa sangat panas.
“Calista, ibu harus pergi mencari pekerjaan. Kau tidak apa-apa kan di sini?” tanya Sahila pada Calista.
wajah gadis kecil itu begitu sendu. “Ibu akan mencari kerja ke mana?” tanya Calista. Rasanya begitu asing saat gadis kecil itu mendengar bahwa ibunya akan bekerja. Padahal, selama ini ibunya selalu bersamanya selama 24 jam.
“Ibu akan menghampiri teman ibu untuk mencari pekerjaan,” jawab Sahila.
Calista mengangguk. “Tapi, Ibu jangan pulang malam. Aku takut," jawabnya lagi. Melihat ekspresi Calista, hati Sahila benar-benar terasa nyeri, terlihat jelas wajah putrinya begitu tertekan.
“Ibu tidak akan pulang malam, ibu sudah membeli dua bungkus nasi uduk dari luar, satu untuk sarapan dan satu untuk makan siang. Ibu usahakan sore Ibu akan segera pulang,” balas Sahila, Calista terdiam kemudian mengangguk.
“Ibu aku mandi bagaimana, kamar mandinya tidak sama seperti di rumah ayah?” tanya Calista. Calista sungguh bingung, bagaimana mandi di kosan yang ia tempati. Sebab di rumah sang ayah kamar mandinya begitu mewah, berbeda dengan sekarang.
Sahila mencoba untuk tegar dan tidak menampilkan kesedihan di wajahnya. Ia pun bangkit dari duduknya kemudian ia langsung menarik tangan Calista.
“Ayo, biar Ibu membantumu!” Sahila dan Calista berjalan ke arah kamar mandi yang ada di kamar mereka. Beruntung fasilitas kamar mandi ada di kamar di masing-masing kamar, hingga Calista dan Sahila tidak perlu keluar dari kosan untuk pergi ke kamar mandi.
.•••
Hari begitu terik, Sahila terdiam di depan rumah yang cukup besar. Sedari tadi, ia terus menelepon temannya. Tapi temannya tidak mau menjawabnya, itu sebabnya ia langsung menghampiri Eliana, teman saat sekolahnya dulu yang sudah menikah dengan pria kaya. Ia berharap, Eliana mau memberikannya pekerjaan padanya.
Saat ini, Sahila tidak peduli ia bekerja sebagai apa. Yang terpenting, ia harus mempunyai pekerjaan dan bisa mendapatkan gaji setiap bulan untuk kelangsungan hidupnya dan hidup Calista.
Tak lama pintu gerbang terbuka, membuat Sahila yang sedang menyandar pada tembok langsung menegakkan tubuhnya, berharap yang keluar adalah mobil Eliana.
Mata Sahila berbinar saat ternyata mobil Elia keluar dari rumah tersebut, baru saja ia akan memanggil Elia. Ia menghentikan niatnya saat melihat seseorang yang ada di mobil Elia yang ternyata ....
Bab 9
Sahila diam mematung saat melihat siapa yang ada di mobil Elia. Wanita dengan rambut sebahu dan wajah yang cantik, siapa lagi kalau bukan mantan madunya, yaitu Erika.
Entah kenapa Erika bisa bersama Elia, dan ia tidak tahu mulai kapan Elia dan Erika berteman. Karena selama ini, walaupun ia dan Elia berteman sedari sekolah menengah dan sama-sama dinikahi pria kaya, Sahila jarang sekali bertemu dengan Elia dan hanya Elia lah teman yang ia tahu. Namun sayang, dulu mau pun sekarang hubungan mereka tidak terlalu dekat.
Sebenarnya banyak sekali teman-teman Sahila saat sekolah. Hanya saja karena mereka sekolah di desa, tentu saja Sahila tidak pernah bertemu lagi dengan teman-temannya selain Elia, karena elialah yang dipersunting oleh pengusaha yang ada di kota sama seperti dirinya.
Dan kini, saat ia akan meminta pekerjaan pada Elia, ia harus mengetahui hal yang menyakitkan di mana Elia mengenal Erika, wanita yang memanggil sayang pada Julius dan Sahila yakin, itu adalah kekasih Julius. Padahal ia sudah berharap banyak pada Elia dan berharap Elia mau memberikannya pekerjaan. Tapi sepertinya, harapannya terlalu tinggi.
Dan jika sudah begini, Sahila yakin, tidak mungkin Elia mau memberikannya pekerjaan padanya. Ia juga tidak tahu apakah Elia mengetahui tentang Erika dan Julius atau tidak. Yang pasti, satu yang Sahila sadari, ia tidak bisa lagi minta tolong pada Elia. Sebab Ia sudah bisa membayangkan, apa yang terjadi kedepannya.
Sahila mengurut dadanya dan berusaha menabahkan dirinya sendiri, kemudian menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. “Tidak apa-apa, Sahila. Kau pasti akan mendapat pekerjaan di tempat lain.” Ia berusaha untuk mengobati dirinya sendiri, agar tidak terlalu kecewa. Setelah itu, Sahila pun berbalik. Ia berencana untuk menawarkan jasanya dari satu tempat ke tempat lainnya.
•••
“ Erika apa kau sudah bertemu ayah mertuamu?” tanya Elia ketika ia mengemudi.
Erika mengangguk. “Hmmm, Ayah mertuaku sudah merestuiku. Julius juga sudah meresmikan pernikahan kami,” jawab Erika wajahnya begitu berbinar ketika menceritakan pada Elia.
Elia memang berteman dengan Sahila saat sekolah. Tapi setelah mereka menikah, mereka tidak seakrab dan tidak sedekat yang seperti orang pikirkan, karena memang sedari mereka sekolah pun mereka hanya saling mengenal sekilas.
Berbeda dengan Elia pada Erika, di mana Julius dan suami Elia berteman, hingga Erika dan Elia pun masuk ke dalam grup sosialita yang sama, itu sebabnya Elia dan Erika begitu dekat.
Elia tau, Erika adalah madu Sahila. Hanya saja, ia tidak ingin terlalu banyak ikut campur, toh itu bukan urusannya, begitulah pikir Elia. Terlebih lagi, Elia juga jarang sekali bertemu dengan Sahila dan tidak pernah berbincang-bincang dan sekalinya bertemu mereka hanya saling menyapa seadanya sama seperti dulu.
“Lalu apa yang terjadi pada Sahila?” tanya Elia lagi.
“Julius sudah mengusir istri dan anaknya dan sekarang aku menempati rumah utama!” balas Erika membuat Elia terperanjat saat mendengar ucapan Erika.
“Benarkah Sahila sudah meninggalkan rumah itu?” tanya Elia, ia menatap Erika dengan terkejut.
“Hmm, dia sudah meninggalkan rumah itu bersama putrinya dan Julius mengusirnya tanpa uang sepeserpun!” kata Erika dengan tertawa, sedangkan Elia hanya terdiam. Ia tidak menanggapi ucapan Erika lagi, karena menurut Elia itu tidak ada sangkut pautnya dengannya.
•••
waktu menunjukkan pukul 05.00 sore, Sahila mendudukkan diri sejenak di kursi yang ada di trotoar. Selama seharian ini, ia menebalkan wajahnya dan datang dari satu tempat ke tempat lainnya untuk meminta pekerjaan. Tapi sayang, tidak ada yang mau menerimanya, tentu saja karena Sahila terlihat seperti orang yang tidak meyakinkan, belum lagi ia tidak mempunyai pengalaman apapun.
Sahila berusaha menegarkan hatinya, mungkin uang yang Sahila miliki masih cukup untuk bertahan selama beberapa bulan ke depan. Tapi, ia tidak bisa berleha-leha begitu saja. Keperluan akan semakin banyak, belum lagi ia harus menyekolahkan Calista
Tidak mungkin Calista tidak bersekolah, ia tidak ingin, hanya karena kondisinya saat ini Calista mengabaikan pendidikannya.
10 menit berlalu, akhirnya Sahila kembali bangkit dari duduknya. Ia pun memutuskan untuk pulang apalagi hari sudah sangat sore, ia ingat pesan Calista untuk tidak pulang terlalu sore itu sebabnya Ia memutuskan untuk mencari pekerjaan keesokan harinya
•••••
Sahila membuka gerbang kosan, kemudian ia masuk ke dalam. Ia mengerutkan keningnya saat melihat pintu kamarnya sedikit terbuka. Ia mengintip, ingin mengetahui sedang apa putrinya. Ternyata putrinya sedang melamun.
Sahila mengerti apa yang dirasakan oleh Calista. Putrinya hidup sempurna dan mempunyai kehidupan nyaman walaupun tanpa perhatian sang ayah. Tapi sekarang, putrinya harus merasakan kegetiran dimana tidak ada lagi kehidupan yang nyaman, dan harus berganti dengan kepahitan. Sahila menghapus sudut matanya yang berair, kemudian membuka pintu. Lalu setelah itu ia masuk ke dalam membuat Calista tersadar.
“Ibu!” panggilnya dengan nada girang, terlihat jelas wajah senang sang ibu saat melihat sang ibu datang.
“Kau sedang apa hmmm?" tanya Sahila. Ia langsung melepaskan jaketnya kemudian menyimpan tasnya. Lalu mendudukkan diri di sebelah Calista. Saat ia akan kembali berbicara, Sahila menoleh ke arah bungkusan nasi yang tadi ia beli untuk Calista makan siang.
“Kenapa kau tidak mau memakan -makan siangmu?” tanya Sahila
“Ibu, nasinya tidak enak. Aku tidak bisa memakan nasi yang keras,” ucap Calista membuat dada Sahila berdesir pedih. Demi apapun, ia begitu lemah jika berkaitan dengan putrinya.
“Bagaimana jika Ibu menghangatkannya dulu?” kata Sahila.
“ Apakah nasinya akan tetap keras jika dihangatkan lagi?”
Sahila menggeleng. “Tidak, tunggu di sini sebentar, ibu akan menghangatkannya!” Calista pun mengangguk.
Sahila mengambil bungkusan nasi tersebut kemudian ia membawanya ke dapur umum, dapur yang disediakan oleh pemilik kos dan bisa di pakai untuk memasak bersama.
Lima belas menit berlalu, akhirnya Sahila kembali datang. Ia membawa nasi uduk yang ia beli tadi ke dalam kamar kosannya. Lalu menghidangkan di hadapan Calista.
“Nasinya sudah tidak keras lagi,” ucap Sahila saat Calista terlihat ragu-ragu memakan nasi itu. Calista memegang nasi itu, walaupun sudah tidak keras lagi. Tapi karena tidak ada lauk-pauk yang biasa ia makan, rasanya gadis kecil itu begitu malas dan tentu saja Sahila mengerti apa yang ada di pikiran putrinya.
“ Calista, Ibu berjanji. Jika Ibu sudah mendapat pekerjaan, jika hidup kita sudah lebih baik, ibu akan memberikan apapun makanan yang kau mau!” Sahila berusaha tersenyum tegar membuat Calista mengangguk dengan lesu, ia pun mengambil piring itu lalu mulai menyuapkan makanan ke dalam mulutnya, tanpa berbicara sepatah kata pun.
Sebenarnya ia sudah menahan lapar dari siang. Hanya saja, karena nasi itu keras, Calista tidak jadi memakannya dan menunggu sang ibu.
Bab 10
Erika dan Elia turun dari mobil, kemudian mereka memasuki sebuah restoran yang sudah dipesan oleh teman-temannya sosialita mereka. Kepercayaan diri Erika semakin meningkat, apalagi sekarang ia sudah resmi menjadi istri satu -satunya dari seorang Julius Haidar.
Semua teman - teman sosialita tahu, bahwa Erika adalah istri kedua dari Julius. Hingga, beberapa orang memandang remeh pada Erika. Namun sekarang, di hadapan semua orang, Erika mampu mengangkat kepalanya dan mengatakan bahwa dia adah satu-satunya istri Julius.
Erika dan Elia masuk ke dalam restoran dan langsung masuk ke dalam ruangan yang sudah dipesan oleh teman-teman sosialitanya. Seperti biasa, mereka berencana untuk melakukan arisan, acara yang selalu dilaksanakan setiap bulan.
Pintu terbuka, semua wanita-wanita yang datang menoleh ke arah Erika. Ada beberapa orang yang berdecak kesal saat melihat Erika. Namun, ada beberapa orang yang juga biasa saja. Tapi Erika tidak memperdulikan itu, ia melangkah dengan kepercayaan diri yang tinggi.
Ia pun langsung masuk, lalu menarik kursi dan mendudukkan dirinya. ”Maaf jika kami telat datang!” kata Erika, seraya tersenyum. Ia menatap dengan tatapan meremeh pada orang-orang yang tidak suka padanya
“Tidak masalah!" ucap salah satu wanita yang tak suka pada Erika.
“Ayo kita mulai saja!” Elia lebih baik menengahi perdebatan karena biasanya sebelum memulai pasti akan ada yang saling sindir satu sama lain.
•••
Setelah acara hampir selesai, Erika bangkit dari duduknya, kemudian ia menghentakkan kakinya lalu berjalan ke arah kamar mandi. Ia pikir, ia bisa membungkam orang-orang yang selalu melihatnya sebelah mata. Tapi ternyata, ia salah.
Setelah arisan selesai, dan mereka tinggal menikmati makan siang. Erika malah menjadi bulan-bulanan wanita yang tidak menyukainya hanya karena status Erika sebagai istri kedua dan sekarang Erika lebih memilih untuk mendinginkan kepalanya di kamar mandi.
Erika masuk ke dalam kamar mandi, kemudian ia bercermin lalu menatap dirinya dan melihat tampilannya. Ia begitu sempurna, cantik dan seksi sehingga Julius tergila-gila padanya. Bahkan bisa dibilang hidup Erika sempurna. Tapi entah kenapa, mendengar sindiran dari teman-teman sosialitanya, Erika masih merasa tidak terima.
Tak lama, terdengar suara derap langkah, dan seseorang masuk ke dalam kamar mandi. Dia berjalan dan bercermin di sebelah Erika, membuat Erika mengepalkan tangannya, karena orang yang masuk itu adalah Naysila, salah satu sosialita yang juga gencar menyindirnya.
Saat Naysila masuk, Erika langsung merapikan tampilannya, kemudian mencuci tangannya dan berniat keluar dari kamar mandi, karena ia malas berdebat dengan Naysila.
“Apakah semenyenangkan itu menjadi istri pertama?” tanya Naysila tiba-tiba membuat Erika menoleh. Erika berusaha tenang, agar tidak terpancing, lalu berbalik.
“Hmm, sangat menyenangkan. Bahkan lebih menyenangkan daripada wanita yang ditinggal menikah selama beberapa kali!” jawab Erika dengan puas. Diantara semua wanita-wanita sosialita lainnya, Naysilalah yang paling Erika benci, karena Naysila yang sering menyindirnya dan menohoknya.
Mendengar jawaban Erika, Naysila bersidekap, kemudian Naysila menatap Erika dari bawah ke atas. “Aku lebih baik tidak menikah dengan orang yang salah. Setidaknya nasibku lebih baik, dan tentunya aku lebih terhormat, dari pada kau, yang menjadi istri kedua dan merebut suami orang lain,” jawab Naysila, membuat wajah Erika memerah.
Berbeda dengan Erika, Naysila tetap tenang walaupun barusan Erika menyindirnya. Naysila tidak pernah memperlihatkan emosinya dan bersikap santai. Entah kenapa ia begitu membenci Erika apalagi Ia mempunyai kenangan buruk tentang sebuah perselingkuhan.
“Sebenarnya apa masalahmu denganku,
kenapa kau selalu menggangguku? kenapa kau selalu mengusik hidupku!” pada akhirnya, Erika menguapkan emosinya, karena mereka sedang berdua dan ia rasa ini saatnya untuk berbicara pada Naysila
“Simpel saja. Aku paling benci perusak hubungan orang lain, dan walaupun kau tidak ada hubungannya denganku. Tapi karena kelakuanmu, aku membencimu sampai ke dasar. Jika kau hancur, akulah yang akan pertama kali bertepuk tangan atas kehancuranmu!” Setelah mengatakan itu, Naysila pun keluar.
Saat melewati tubuh Erika, Naysila menubruk bahu Erika, hingga Erika hampir terjatuh. Membuat Erika menggeram kesal. Seandainya kakak Naysila tidak kaya dan bukan orang terpandang, tentu saja Erika akan meminta Julius untuk membalas Naysila.
Tapi sayangnya ia tak bisa, karena ia tahu Julius tidak akan pernah menggubris keinginannya, apalagi Attar yang tak lain kakak Naysila bukan orang sembarangan.
•••
Taksi yang di tumpangi Erika, sampai di depan perusahaan Julius. Setelah acara selesai, Erika memutuskan untuk keluar dari restoran tersebut, meninggalkan teman-teman sosialitanya. Rasanya, ia tidak mau lagi mendengar sindiran-sindiran halus dari para wanita yang julid kepadanya. Itu sebabnya, Ia memutuskan untuk pergi ke kantor Julius
Erika menatap gedung di depannya dengan tatapan berbinar. Selama menikah dengan Julius, ia tidak pernah menginjakkan kakinya di kantor suaminya. Tapi hari ini ia diizinkan datang oleh Julius dan tentu saja itu merupakan sebuah kebanggaan yang luar biasa hebat bagi Erika, di mana saat ini ia menjadi satu-satunya istri dari Julius Haidar yang bebas menikmati apapun tanpa harus bersembunyi lagi di hadapan orang lain.
Setelah cukup lama merenung, akhirnya Erika pun kembali melanjutkan langkahnya. Saat akan masuk, Erika dijemput sekretaris Julius membuat Erika serasa terbang ke atas awan, ia merasakan benar-benar diistimewakan oleh suaminya.
“Sayang ada apa dengan wajahmu, kenapa kau tampak murung?” tanya Julius, ketika Erika masuk ke dalam ruangannya dengan
memasang wajah cemberut.
Erika menghampiri Julius, lalu mendudukkan dirinya di pangkuan Julius. Hingga Julius menyandarkan tubuhnya ke belakang.
“Julius, Aku ingin pesta pernikahan yang megah!” kata Erika tiba-tiba, membuat Julius mengerutkan keningnya.
“Pesta pernikahan? kenapa kau ingin pesta pernikahan dan kenapa tiba-tiba sekali?” tanya Julius.
“Kau tahu, wanita-wanita itu masih terus menyindirku dan rasanya aku ingin menyumpal mereka dengan resepsi yang mewah,” ucap Erika dengan menggebu-gebu, membuat Julius terkekeh.
“Oh ayolah, Erika. Aku baru bercerai dengan Sahila, mana mungkin aku bisa memberikan pesta untukmu. Setahun lagi oke. Aku juga tidak mau membuat namamu jelek dihadapan orang lain,” ucap Julius, membuat Erika mencebikan bibirnya.
“Aku benar-benar ingin membungkam mulut mereka!” ucap Erika dengan kekeh.
“Setahun lagi oke,” ucap Julius, Erika memutar otaknya sepertinya Julius tidak bisa lagi dibantah. Tiba-tiba, ia terpikirkan sesuatu.
“Julius bisakah kamu menambah limit kreditku?”tanya Erika tiba-tiba.
Julius mengerutkan keningnya “Bukankah aku sudah memberikan kartu kredit yang berlimit sangat besar padamu. Apakah semua itu habis. Bukankah baru seminggu lalu aku memberikannya?”
Bab 11
“Kenapa kau menghabiskan limitmu itu dalam waktu singkat?” tanya Julius yang mencecar Erika.
Sebenarnya Julius tidak masalah dengan hal itu, ia mencintai Erika dan apa pun yang ia punya adalah milik istrinya. Tapi rasanya, ini begitu aneh bagi Julius, karena wanita yang sekarang menjadi istri sahnya ini menghabiskan limit kredit yang sangat besar hanya dalam waktu satu minggu dan ia pun tidak tahu Erika memakai uang itu untuk apa.
“ Julius Aku sedang memesan tiga tas dan kau tahu bukan harga tas itu sangat fantastis dan hanya tersedia 5 buah di dunia. Jadi, Aku menggunakan semua kartu kreditmu untuk membeli tas itu!” jawab Erika berusaha mengelak, membuat Julius tampak berpikir. Lalu mengangguk-anggukan kepalanya.
“Baiklah aku percaya. Aku akan memberikan limit yang sangat yang besar lagi untukmu. Tapi gunakan itu dengan bijak!" balas Julius.
Erika pun mengangguk dengan semangat. Seperti biasa, ia begitu mudah meyakinkan Julius, lelaki di depannya ini begitu naif. Saat Erika akan bangkit, Julius menahan tangan Erika, membuat Erika menatap Julius dengan bingung. “Ada apa?” tanya Erika.
“Bukankah kau mempunyai janji padaku?" tanya Julius lagi membuat Erika menatap Julius dengan tatapan tanda tanya.
“janji apa?”
“Kita sudah menikah, bukankah kau janji kita bisa memiliki anak!” Tiba-tiba, nafas Erika tercekat, saat mendengar ucapan Julius. Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat. Namun, sebisa mungkin ia menetralkan ekspresinya.
Erika mengelus leher Julius, kemudian memberi kecupan di bibir suaminya. “Of course!” setelah itu, Erika pun membuka dasi Julius lalu membuka kemeja suaminya dan mereka pun melakukan hal yang harusnya mereka lakukan.
Beberapa hari kemudian
Sahila berdiri di depan rumah yang besar. Setelah mencari-cari informasi pekerjaan lewat ponselnya, akhirnya Sahila menemukan rumah yang membutuhkan jasanya sebagai jasa sebagai pembantu rumah tangga.
Setelah cukup lama terdiam, akhirnya Sahila pun melanjutkan langkahnya, kemudian Ia pun masuk ke dalam. Saat berada di depan pintu, Sahila memencet bel. Hingga tak lama, keluarlah sosok Ibu paruh baya .
“Maaf kamu siapa?" tanya ibu paruh baya tersebut.
“Ibu maaf sebelumnya. Saya Sahila yang melamar menjadi pembantu rumah tangga ibu, dan yang kemarin mengirimi ibu pesan,” balas Sahila dengan gugup. Walau bagaimanapun Ini pertama kalinya ia bekerja dan ia takut mengecewakan orang yang memberinya pekerjaan.
Isma pun mengangguk-anggukkan kepalanya, sekarang ia tahu siapa yang ada depannya. “Ayo masuk!” kata Isma, membuat Sahila tertegun. Wanita paruh baya itu tidak bertanya apapun tentangnya, bahkan tidak menginterogasinya dan malah memerintahkannya untuk masuk.
Bukankah seharusnya Isma curiga kepadanya karena dia datang tidak membawa berkas-berkas apapun dan dia pun hanya orang asing.
“Silahkan duduk!” kata Isma pada Sahila. Sahila melihat ke sana kemari. Ia bingung harus duduk di dimana. Tidak mungkin ia duduk di sofa yang begitu mewah.
“Kenapa kau duduk di lantai?” tanya Isma saat Sahila duduk di lantai. Gaya berbicara wanita paruh baya itu begitu tegas. Namun tetap terdengar lembut, terlihat jelas wanita itu begitu penyayang. Hingga membuat Sahila begitu sungkan.
“Ma-maaf, Ibu. Saya harus duduk di mana?” tanya Sahila terbata-bata
“Duduk di sofa!” balas Isma. Dengan cepat, Sahila pun bangkit dari lantai. Kemudian ia mendudukkan dirinya di sofa walaupun dengan ragu-ragu.
“Jadi kamu ingin bekerja di sini sebagai pembantu?” tanya Isma. Sahila mengangguk.
“Ia Ibu, saya akan bekerja giat dan saya akan memastikan rumah Ibu rapi dan saya akan bekerja sebaik mungkin,” jawab Sahila dengan yakin .
Isma mengangguk-nganggukan kepalanya. “Ayo ikut saya!” kata Isma tanpa basa-basi, ia langsung menunjukan tugas apa saja Yang harus di lakukan Sahila. Sahila pun mengikuti Isma yang sepertinya akan mengajaknya untuk berkeliling sebelum Sahila resmi bekerja.
Waktu menunjukkan pukul 04.00 sore. Sahila tersenyum saat melihat paper bag di tangannya. paper bag itu adalah pemberian dari Isma yang berisi cemilan untuk Calista, karena Sahila memberi tau bahwa ia mempunyai seorang putri.
Ya, barusan setelah ditunjukkan tugas apa saja yang harus Sahila lakukan, Sahila langsung memulai bekerja. Sebenarnya Isma sudah menyarankan Sahila mulai bekerja besok. Tapi seperti biasa, Sahila pantang menyerah. Hingga setelah ia mengerti tentang tugasnya, Sahila pun mulai bekerja.
Walaupun pada menit-menit awal, dia sempat kesusahan karena tidak biasa melakukan pekerjaan rumah. Tapi pada akhirnya, ia berhasil melakukan semuanya, apalagi Isma sang tuan rumah mengarahkan Sahila, beruntung Sahila mendapatkan bos sebaik Isma. Bahkan, Sahila di perintahkan untuk tinggal di rumah Isma, apalagi wanita parubaya itu hanya tinggal seorang diri.
••
Sahila terdiam di depan sebuah kedai makanan di mana kedai itu menjual sushi dan makanan Jepang lainnya. Ia merogoh sakunya lalu mengambil satu lembar uang. Tadi, saat pulang ternyata Isma memberikannya uang 100.000 rupiah untuk Sahila.
Awalnya Sahila sudah menolak. Tapi ternyata Isma memaksa Sahila untuk menerima uang itu, hingga mau tak mau Sahila pun menerima uang tersebut. Walaupun awalnya ia merasa tidak enak. Dan sekarang, ia memutuskan untuk membeli makanan Jepang untuk Calista.
20 menit kemudian, ia keluar dari kedai tersebut, ia membawa satu paper bag yang berisi makanan Jepang yang telah ia beli, rasanya ia sudah tidak sabar untuk sampai di rumah dan memberikan makanan itu untuk Calista.
Saat ia akan menyebrang, ia melihat seorang wanita sedang menelpon dan dari arah berlawanan, ia melihat mobil melaju kencang. Seketika itu juga Sahila langsung berlari, kemudian ia langsung mendorong tubuh wanita itu, begitupun Ia juga yang menghindar dari mobil tersebut, hingga akhirnya Sahila dan wanita itu selamat.
Setelah menyelamatkan wanita, itu Sahila melihat ke arah tanah di mana paper bag yang ia pegang jatuh ke tanah dan isinya berceceran, dan tidak bisa ada yang di selamatkan. Ia menggigit bibirnya saat makanan Jepang yang ia akan berikan pada Calista sudah tidak bisa tertolong lagi.
Naysila terpekik kaget,saat ada seorang wanita yang mendorongnya. Baru saja ia akan memarahi wanita itu, tapi ia menyadari sesuatu saat melihat mobil yang tadi melaju cukup kencang yang masih terlihat olehnya.
Ternyata wanita yang mendorongnya adalah wanita yang menyelamatkannya. Seketika Naysila melihat ke arah Sahila, melihat siapa orang yang menolongnya.
“Terima kasih!” ucap Naysila pada Sahila, hingga Sahila tersadar, kemudian menoleh membuat Naysila tertegun. kenapa wanita di depannya ini seperti ingin menangis, begitulah pikir Naysila.
Sahila tersenyum kemudian mengangguk. “Sama-sama! kalau begitu aku permisi," pamit Sahila, Naysila mengerutkan keningnya ia menatap Sahila dengan bingung. Namun tak lama, ia melihat paper bag yang berada di tanah.
Seketika Naysila mengerti apa yang terjadi, Ia pun langsung berbalik untuk mengganti makanan yang sudah tercecer tersebut. Namun ketika ia akan berbalik, Sahila sudah tidak terlihat di manapun.
__ADS_1