
Di tengah kebingungan Bu Ida karena kedatangan pihak kepolisian, datanglah sebuah mobil yang berhenti tepat di depan rumah Bu Ida juga. Siapa lagi ini? Batin Bu Ida kalut. Pikirannya kacau tak menentu,bertanya pun tak menemukan jawabannya. Kemudian turunlah beberapa orang dari dalam mobil itu. Dilihatnya ada pak Lurah,Ki reksa,pak Kardi dan 2 orang anak buah pak lurah. Yang lebih mengejutkan bagi Bu Ida ternyata di susul pak Asep yang tengah di ikat tangannya dan berjalan beriringan dengan anak buah pak lurah.
"Pak...ada apa ini??? Kenapa baru pulang sekarang??bapak ga kenapa-kenapa kan? cerita sama ibu pak.." tutur Bu Ida sambil menangis. Perasaan campur aduk menyelimuti hati dan pikirannya. Bagaimana mungkin suamiku berurusan dengan polisi, sedangkan dia keluar semalam hanya untuk ke sawah,batin Bu Ida. Pak Asep hanya diam dan tersenyum. Tampak dari raut wajahnya menyimpan berjuta kekecewaan dan perasaan sedih yang dalam.
"Bu..coba tolong panggilkan Airin. Ada yang mau bapak sampaikan." kata pak Asep. Airin yang sejak tadi bersembunyi d belakang tirai kamar karena ketakutan akhirnya dia keluar setelah mendengar suara bapaknya
"bapak dari mana??kog sama pak lurah?terus tangannya di ikat?? bapak kenapa?"tanya Airin dengan polosnya.
__ADS_1
"Airin..dengarkan bapak ya!Bapak mau kerja jauh. Mungkin waktunya lama. Airin ga boleh nakal ya..Airin kan anak baik harus nurut apa kata ibu. ngerti kan sayang?" kata pak Asep dan Airin pun mengangguk. Lalu pak Asep berkata pada Bu Ida "Bu..bapak di fitnah. Bukan bapak pelakunya. Doakan bapak ya Bu semoga cepat selesai urusannya,dan bapak titip anak-anak ya Bu." kata pak Asep sendu sambil mengelus perut istrinya yang hamil tua. Memang sebelum di bawa ke kantor polisi pak Asep meminta izin kepada pak lurah untuk dipertemukan dengan istri dan anaknya terlebih dahulu. Suasana di desa saat itu jadi ramai. Kasak-kusuk tetangga berhamburan. Di tengah pengurusan jenazah pak Karto banyak juga orang yang mengutuk perbuatan pak Asep. Entah siapa dalang di balik semua ini.
Pak Asep pun di bawa polisi dengan mobil jemputan. Bu Ida hanya bisa menangis memeluk putri kecilnya. Sambil mengelus perutnya yang membesar dia berucap "Nak,doakan bapakmu ya. Semoga bapak bisa secepatnya keluar dari masalah ini."
Pilu dan sesak yang di rasakan Bu Ida tak cukup sampai disini. Bu Ida mengalami perundungan yang luar biasa dari masyarakat. Bukan hanya di rumah,bahkan kemanapun Bu Ida pergi banyak orang yang memanggilnya dengan "Istri pemb*nuh".
Keesokan harinya...
__ADS_1
"Bu... Aku hendak menengok kang Asep. Aku titip Airin ya Bu?." kata Bu Ida.
"Kau sedang hamil tua nduk., nantilah jika kau sudah melahirkan." bujuk nenek sari.
"Bu.. Suamiku di fitnah. Sekarang dia sudah makan atau belum aku tak tau. Aku ingin melihat keadaannya Bu." ujar Bu Ida sambil menitikkan air mata. Sendu jika melihat kondisi seperti ini. Apalagi dunia terasa memusuhinya.
"Nak.,ibu tak melarang mu untuk menengok suamimu.,tapi pikirkan bayi dalam kandunganmu. Dia tak hanya butuh ayahnya tapi dia juga butuh kamu sehat." kata nenek sari menenangkan.
__ADS_1
"Aku ingin tahu cerita sebenarnya Bu.. Aku yakin kang Asep ga seperti itu. Mereka saja yang menjadikan kang Asep kambing hitam." kata Bu Ida sambil menangis. Stres yang dia rasakan semakin membuat fisiknya lemah. Bu Ida sudah 2hari tak makan nasi. Nafsu makannya berkurang drastis karena masalah ini. Ya Allah... Kuatkah anakku Engkau beri cobaan seperti ini?batin nenek sari memeluk Bu Ida sambil meneteskan airmata.