Dokter Raya

Dokter Raya
POV pak Asep


__ADS_3

Ya Allah... Apa rencanaMu hingga aku harus menjalani hidup seperti ini? Tak pernah terfikir dalam angan akan hidup sesulit ini,apalagi aku harus merasakan hidup dalam bui. Kasihan anak dan istriku. Beban batin yang mereka rasakan pasti berat. Belum lagi mereka pasti di cemooh oleh tetangga. Apalagi istriku sedang hamil. Ya Allah tunjukan bahwa kebenaran dan keadilan itu ada ya Rabb. Batin pak Asep saat dalam perjalanan ke kantor polisi. Pikirannya melayang tak tau kemana. Wajahnya pucat dan badannya terasa lemas. Ya Allah..semoga kebenaran Engkau tunjukan di hadapan mereka,doa pak Asep.


Proses Pak Asep tidaklah mudah. Sampai di kantor polisi pak Asep di interogasi oleh pihak kepolisian. Pak Asep menjelaskan permasalahan bahwa dia tidak tahu apa-apa. Dia menceritakan bagaimana awal dia bisa sampai ke TKP karena di ajak oleh pak kardi. Bukan pak Kardi yang mau menjelaskan namun Ki reksa angkat bicara. Ki Reksa kekeh menuduh adiknya melakukan perbuatan itu karena di sana hanya ada pak Asep dan pak Karto yang tengah terluka. Sepersekian jam interogasi telah berjalan. Ki Reksa dan Lurah Hardjo di izinkan pulang sebagai saksi. Dan sidang yang akan di jalankan masih menunggu keputusan dari olah TKP.


"Pak lurah..tolong saya..saya benar-benar tidak tahu siapa yang melakukan ini. Saya di jebak pak.. Tolonglah pak.." pinta pak Asep.


"Maafkan saya pak.. Jalani proses dan prosedurnya.. Salah atau tidak saya serahkan ke pihak berwenang."ujar pak lurah Hardjo.


"Sudah..!! Ngapain kamu minta bebas. Jelas-jelas kamu yang memb*nuh Karto. Makanya jangan mainan sama nyawa orang. Tanggung sendiri akibatnya." kata Ki Reksa ketus.


"Tapi saya tidak tau apa-apa kang reksa. Kenapa kang Reksa terus menuduh saya?


Kang Kardi.. Saya minta tolong. Bantu saya kang. Saya tidak melakukan itu. Kang Kardi sendiri yang menjemput saya kesana. Tolonglah kang..." kata pak Asep dan Pak Kardi hanya diam.

__ADS_1


Diam dan menunduk, pak Asep meneteskan airmata. Memohon pun percuma,semua menuduhku membunuh Karto. Kuatkan aku ya Allah,batin pak Asep.


Saat hendak di masukan ke sel tahanan,Ki Reksa berbisik kepada pak Asep "Akui saja kalo itu perbuatanmu,pasti hukumanmu tidak akan lama jika kau mengakuinya." ucap Ki Reksa tersenyum sombong.


Ingin rasanya ku tampar mulut kakakku itu. Dari dulu dia tak pernah menganggap ku sebagai adik. Padahal kami saudara sekandung. Apa dia dendam karena aku menolak agar dia membeli sawahku? Bagaimana mungkin aku bisa memberikan sawah itu jika dia sendiri menawarkan dengan harga paling murah? sedangkan sawah itu tempat bergantung kehidupan ekonomi keluarga kecilku.


Meski dalam keadaan payah seperti ini pak Asep tidak pernah meninggalkan kewajibannya sebagai umat Islam. Sholat 5 waktu ia kerjakan dengan khusyuk dan selalu berdoa dengan berlinangnya airmata. Ya Allah.. Tuntun aku dalam bimbingan mu. Berat sekali ujian ini ya Rabb. Tak mampu ku bayangkan istri dan anakku hidup tanpa aku.


5 hari sudah pak Asep di tahan. Dan akhirnya Bu Ida datang membesuk. Saat pak Asep di pertemukan diruang besuk Bu Ida terasa pilu dan sesak. Kondisi pak Asep pucat dan tak terurus. Rambutnya acak-acakan dan sedikit bau. Seperti bukan pak Asep yang bu Ida kenal saat di rumah. Senyum sayu pak Asep menunjukan kepedihannya di dalam tahanan. Sambil menangis memeluk pak Asep Bu Ida berkata "bagaimana kabar bapak?maafin ibu pak,ibu baru bisa kesini. Airin sempat demam dan sering bertanya kapan bapak pulang." tangis Bu Ida. "bapak Ndak papa Bu,cuma kurang istirahat aja. Disini banyak nyamuk dan dingin. Mungkin karena bapak belum terbiasa saja." ucap pak Asep parau.


"kenapa Airin tidak di ajak Bu?bapak kangen sekali dengannya. apa Airin sudah sembuh Bu?" tanya pak Asep.


"Ibu masih belum siap membawa Airin ke sini pak. Lagipula Airin masih pemulihan. Bapak terlihat kurus sekali, makan ya pak nih ibu bawain makanan." kata Bu Ida tersenyum. Bu Ida berusaha agar kesedihannya tidak berlarut-larut. Dia ingin suaminya semangat dalam hal ini. "Ibu percaya bapak ga salah. Pasti sebentar lagi bapak bakalan pulang." kata Bu Ida sambil membukakan rantang makanan yang dia bawa dari rumah.

__ADS_1


"Terima kasih Bu. Nanti saja bapak makannya. Nanti kalo ibuk kesini lagi tolong ajak Airin ya Bu. Dan ibu jaga kesehatan ya. Kan sebentar lagi mau lahiran" kata pak Asep berkaca-kaca dengan mengelus-elus perut Bu Ida.


"Pasti pak.. Ibu pengen semuanya sehat. Bukan hanya ibu dan anak-anak. Tapi bapak juga harus sehat." lanjut Bu Ida.


"Jam besuk telah habis. untuk tahanan segera kembali ke tempatnya." Kata salah satu petugas mengingatkan.


"Suami saya tidak bersalah pak. Tolong bebaskan dia." pinta Bu Ida memohon.


"yang menentukan hakim Bu, dan bisa di tentukan saat di pengadilan nanti." lanjut petugas itu.


"Bu..jaga diri baik-baik. Bapak insya Allah segera pulang. Doakan saja ya Bu."kata pak Asep sambil tersenyum.


"Ibu pulang ya pak. Jaga diri bapak." tak terasa airmata Bu Ida menetes. Sedih yang tak bisa di ungkapkan. Apalagi pak Asep, hatinya berkecamuk lebih sakit dari badannya. Adilkah ini ya Rabb? Kata pak Asep dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2