DUNIA CINTA BERKATA

DUNIA CINTA BERKATA
EPISODE 1: PULANG


__ADS_3

Di kampus terbesar di kota jogja


seorang perempuan cantik sedang fokus melihat penjelasan dosen tampan di kelasnya perempuan ini bernama Afika Wulandari Fitriyani biasa dipanggil Afika. Afika kuliah jurusan psikologi di kampus terbaik di kota jogja.


(kelas selesai)


kali ini Afika harus pulang dan melanjutkan kerja sambilannya di kafe dekat kosannya.


"cape juga terkadang harus begini, tapi tak apalah Afika semangat!!" ucap Afika dalam hati menyemangati diri


Afika sedang menunggu angkot di pinggiran kampus, tak lama dia mendapat telponn dari Abangnya.


(angkat)


"ASSALAMUALAIKUM AFIKA!" ucap abang Afika dengan nada panik


"walaikumsalam kenapa bang?"


"kamu cepat pulang ayah sekarat!"


(telpon dimatikan)


"inalillahi, aku harus cepat!"


mendengar itu Afika langsung berlari dan memesan ojek untuk ke tukang tiket.


Afika yang panik langsung memesan tiket yang paling cepat menuju kotanya.


Syukurnya ada satu tiket yang tersisa yang akan melakukan perjalanan sore ini tapi dengan harga yang mahal. Afika langsung mengeluarkan semua tabungannya yang dimana uang tersebut seharusnya dipakai untuk keperluan kuliahnya kini harus dia pakai untuk pulang demi keluarga Afika rela melakukannya.


Afika membeli tiket tersebut dan segera pulang ke kosannya tapi sebelum itu dia harus meminta izin kepada dosennya kalau dia harus cuti sementara begitu juga dia harus izin dengan bos di perkerjaannya.


karna sadar waktu sudah menunjukkan pukul 2 sore dan Afika teringat dia belum shalat zuhur dia pun singgah dulu ke masjid dan langsung pulang karna penerbangan nya akan dimulai pukul setengah 4 sore.


Afika langsung mengemasi barang barangnya dan dia hanya ada beberapa sisa uang lagi untuk ongkos ke bandara dan pada akhirnya Afika pergi tanpa membawa uang sepeser pun.


(sesampainya di bandara)


Afika sampai dibandara sekitaran jam 3 sore lewat 10 menit dia memutuskan untuk shalat Ashar dulu, setelah itu dia langsung chekin dan menunggu antrian.


Selesai shalat Afika menunggu di lobi karna merasa lapar dia mengambil roti yang dia pernah beli tadi pagi, tak lama dia melihat ada seorang anak yang lapar melihat dia. tanpa berpikir panjang Afika memberikan roti tersebut dengan anak kecil itu dia terpaksa meminum air untuk memenuhi perutnya yang sendari dari tadi berbunyi kelaparan.


jam 4 lewat 7 menit Afika sudah berada di dalam pesawat untuk siap berangkat.


Singkat waktu... perjalanan yang dilakukan Afika untung selamat dan aman sampai tujuan dia sampai di kotanya sekitar pukul setengah 7 malam karna dia harus menaiki pesawat 2 kali untuk sampai ke kotanya


(sesampainya di bandara kotanya)


dia menelpon abangnya untuk menjemputnya, setelah menelpon dia memutuskan untuk shalat magrib terlebih dahulu.


setelah shalat magrib Afika menunggu di pinggiran jalan di bandara supaya abangnya tak perlu masuk bandara untuk menjemputnya.


sekitaran setengah jam Afika menunggu abangnya dengan perasaan khwatir, panik perasaan campur aduk akhirnya sampai abangnya menggunakan mobil putih mobil pribadi abangnya.


(sesampainya dirumah)


"bang, kenapa kerumah? dan kenapa banyak orang jangan bilang!!"


Afika segera berlari masuk kerumahnya karna takut ada sesuatu yang tak ia harapkan terjadi dan dia melihat ayahnya terbaring lemah tak berdaya, Afika menangis melihat hal tersebut karna dia tak punya lagi orang tuanya bila ayahnya sudah tiada karna ibunda Afika sudah pergi duluaan saat Afika masih duduk dibangku kelas 8 SMP.


"ayah, Afika pulang" ucap afika menahan tangis


Afika lemah tak berdaya melihat ayahnya yang sudah di infus.


Afika menunggu satu jam dan ayahnya pun sadar langsung memegang tangan Afika dengan lembut.


"Ayah, afika sudah disini" ucap Afika dengan lembut


ayahnya menyuruh Afika mengambil selembar kertas dan pulpen, dan ayah Afika menuliskan sesuatu dikertas tersebut.


yang bertuliskan:


"Anak ku sayang, menikahlah dengan Azmi putra Abdullah teman ayah"


"Afika tidak mau ayah!" tegas Afika


ayahnya segera menuliskan lagi


"ayah ingin sekali melihat kau menikah, karna tak tahu kapan ajal ayah akan menjemput"


mendengar itu Afika terdiam..


"Jika itu yang ayah mau, Afika akan melakukannya Ayah" ucap Afika dengan pasrah


ayah Afika tersenyum mendengar perkataan putrinya. Afika yang mengetahui hal tersebut ikut tersenyum namun seketika hatinya hancur saat mengetahui dia harus menikah.


Afika keluar kamar dia melihat ada satu keluarga yang asing baginya sedang berbincang dengan abangnya.


"Afika kemari" ajak abangnya


Afika duduk di sebelah abangnya


"Afika, ayah meminta untuk menikahimu dengan Azmi putra Abdullah teman ayah."


"tapi bang.."


"abang tau mungkin berat bagimu, tapi ini demi ayah kau mau kan?"


Afika menatap keluarga itu sekali lagi dan dia langsung menunduk


"Afika, tante tau mungkin berat bagimu. apalagi kau masih kuliah tapi Azmi putra Tante pasti akan bisa membahagiakan Afika lagian tak masalah bukan kamu menikah saat sedang kuliah" ucap ibunda Azmi dengan lembut kepada Afika


"Afika akan pikirkan lagi tante.." ucap Afika


"iya tak apa, tante akan terima apapun itu keputusanmu tapi ingat tante hanya akan memberi waktu selama seminggu"


"baik Tante.."


Afika masuk ke kamarnya dan melakukan shalat isya dia menangis dalam sujudnya kepada Allah agar dia tak jadi menikah dengan laki laki yang baru ia kenal.


sekitaran jam 9 Afika keluar kamar dan menemui abangnya


"bang.."


"Afika, menikahlah dengan azmi"


"KENAPA?!"


"Abang tau mungkin berat bagimu tapi Azmi bukanlah laki laki jahat! azmi pilihan ayah Afika! apakah kau tak kasian dengan ayah?!"


"Aku kasian abang! tapi apakah kalian tak sedih melihat aku? yang harus menikah tanpa cinta! dunia pernikahan itu menyeramkan!"


"abang tau! tapi pernikahan tak seburuk yang kau kira!"


"abang, Afika mohon berikan waktu untuk Afika berdoa kepada Allah agar Afika tak salah jalan abang!"


"baik, seperti ucapan tante tadi akan diberi waktu seminggu untukmu apapun yang terjadi kau akan tetap menikah!"


Abang Afika langsung masuk kamar dengan keadaan kesal.


Afika terduduk di kursi dirumah nya merenungi nasibnya


"ya Allah kenapa jadi begini.. padahal Afika tak mau menikah dengan laki laki asing. ya Allah berikanlah hamba jalan ya Allah jika laki laki ini benar benar terbaik maka jodohkanlah kami jika tidak maka jauhkan lah dan gagalkan lah pernikahan ini" ucap afika berdoa dalam hati.


Seminggu berlalu, Afika masih belum bisa menentukan keputusan haruskan dia menikah atau tidak. Tapi saat melihat kondisi ayah afika yang semakin hari melemah membuat Afika lemah dan hanya bisa menerima takdirnya karna Afika yakin apapun itu takdirnya inilah yang sudah Allah tuliskan untuknya.


di siang hari setelah shalat zuhur saat Afika sedang menyetrika ada tamu yang datang mungkin dia adalah keluarga Azmi yang ingin tau keputusan Afika. Afika mematikan setriakaannya dan keluar


Afika segera membuka pintu ternyata itu adalah Azmi tapi dia hanya sendirian.

__ADS_1


"assalamualaikum afika" ucap Azmi dengan lembut


"walaikumsalam"


"ada yang mau aku bicarakan dengan dirimu"


"tentu saja ayo masuk"


Azmi masuk dan duduk


"mau aku buatkan minuman?"


"tak usa aku hanya sebentar"


"baiklah apa yang ingin kau katakan?"


"tentang pernikahan. jika kau tak mau maka tolaklah aku tak memaksamu"


"aku sudah memikirkanya"


"apapun jawabanmu nanti datanglah makan malam dirumahku bersama abangmu keluargaku akan menunggu. tapi jangan paksakan hatimu jika dirimu memang tak mau pernikahan bukanlah hal yang bisa dipaksakan"


"baiklah"


"baiklah aku mau pulang assalamualaikum"


"walaikumsalam"


Afika mengantar Azmi keluar rumah sebelum pergi Azmi diam dan berkata tanpa memandang ke arah afika


"jika kau berpikir pernikahan ini tanpa cinta, kau salah. mungkin kau yang tak mempunyai cinta itu tapi tidak denganku"


"maksudnya?"


Azmi langsung pergi tanpa memberikan penjelasan sedikitpun kepada Afika.


saat Afika ingin masuk kerumah, dia di datangi kumpulan anak anak ntah darimana


"assalamualaikum kakak cantik" sapa anak gadis mungil itu


"walaikumsalam, anak siapa ini? cantik banget"


ada 3 anak tersebut 1 laki laki 2 perempuan.


"kami salah satu anak panti asuhan disana" tunjuk anak tersebut


"oh iyakah, wah kakak ga tau ada panti asuhan ternyata. ngomong ngomong kalian kenapa kesini?"


"ga ada kami liat ada abang azmi jadi kami kesini"


"kalian kenal orang itu?"


"tentu saja dia sering ke panti asuhan untuk menemui kami. dia juga sering melihat ke arah rumah kakak kami kadang kasian dan bertanya tanya siapa pemilik rumah ini tapi sayangnya biasanya cuman ada tante tante dan kakek tua"


"iyakah?"


"iya tapi saat kami belanja tadi, tak sengaja kami melihat bang azmi tersenyum dan kami liat ternyata ada kakak cantik disini. mungkin ini kakak cantik yang sering di ceritakan abang azmi"


"kaka cantik?"


"iya, bang azmi sering bercerita katanya dia ada menyukai seorang wanita dia cantik dan baik tapi sayangnya kakak cantik itu sudah lama tak terlihat. dan abang azmi bercerita lagi jika perempuan itu datang dia akan segera menikahinya" ucap anak laki laki itu


"mungkin kaka cantiknya bukan kakak"


"engga kami yakin itu kaka, karna bang Azmi tak pernah tersenyum kalau cuman berbicara dengan perempuan"


"benarkah?"


"kaka ayo ke panti kita anak anak pasti ingin ketemu sama kaka"


"wah maaf ya adek besok besok ya kaka ke panti soalnya ayah kakak lagi sakit" ucap Afika


"yahh, iya deh. kita pulang ya kak assalamualaikum"


Melihat kepergian mereka Afika menjadi sedih padahal Afika sudah beruntung mempunyai keluarga yang lengkap tapi terkadang dia sering mengeluh sedangkan anak anak itu terus tersenyum.


"aku seharusnya banyak belajar dari mereka" ucap Afika


Afika melihat jam di jam tangannya tak terasa sudah menujukkan pukul 3.


"astaghfirullah harus masak nih buat ayah" ucap Afika dengan terburu buru


Afika langsung berlari kedapur dan menumis sayur kangkung yang sudah dibeli kakak iparnya tadi pagi.


tak lama ada yang menelponnya yah itu dari sahabat Afika bernama lauren


(angkat)


"assalamualaikum afika!!" ucap Lauren panik


"walaikumsalam ada apa ren?"


"kamu ada apa?? aku dengar kamu cuti ya kamu ada masalah apa??" tanya Lauren khawatir dengan sahabatnya itu


"ayahku sakit lagi ren"


"inalillahi, benarkah?? jadi gimana itu??"


"yah Alhamdulillah sih udah agak baikkan. tapi aku yang tidak baik"


"kamu kenapa??"


"aku dijodohkan ren"


"dijodohkan? sama siapa?"


"sama seorang santri namanya Azmi dia putranya temen ayahku"


"yahh bukannya kamu suka sama reza kan?"


"iya tapi takdir berkata lain" ucap Afika pasrah


"yasudah ka, mungkin Allah tau yang mana yang terbaik untukmu. mungkin menurut Allah kau lebih baik bersama Azmi bukan reza"


"Mungkin"


"yaudah deh titip salam sama keluarga mu ya, aku akan ada kalau kamu membutuhkan ku"


"iya ren makasih ya"


"iya assalamualaikum"


"walaikumsalam"


(telpon dimatikan)


mendengar perkataan Lauren tadi membuat hati Afika sedikit lega mungkin benar Allah maha mengetahui kita hanyalah hambanya yang tidak tau apa apa.


Tak lama ada bunyi lonceng menandakan ayah Afika memanggil Afika


"iya sebentar ayah" teriak Afika dari dapur


Afika segera mengambil makanan untuk ayahnya serta minuman dan membawanya ke kamar.


Afika mengusap kening ayahnya menggunakan lap, dan menyuapi ayahnya makanan.


"ayah, liatlah sekarang. dulu ayah mengajariku cara makan sekarang aku yang menyuapi ayah, dulu ayah menyuapiku makan sekarang giliran aku yang menyuapi ayah makan"


ayahnya hanya tersenyum, ayah Afika senang mempunyai putri seperti Afika.

__ADS_1


Ayah Afika menuliskan lagi dibuku bertuliskan


"terimakasih anak yang paling cantik"


Afika melihat kertas tersebut langsung tersipu malu


"terimakasih ayah"


(singkat waktu)


Setelah shalat Ashar, Abang Afika berkunjung lagi bersama anak dan istrinya.


"assalamualaikum adikk iparr kuu" ucap Kak ratna istri abangnya Afika


"walaikumsalam kaka ipar. eh ini ada keponakan Tante lucu ih"


"iya dong cantik kaya bundanya kan"


"haha iya"


"ayah mana fik?"


"ada dikamar bang lagi shalat"


"ooh oke"


"bang, tadi Azmi kerumah katanya kita diajak makan malam disana. tapi kayanya Afika ga pergi ya bang"


"loh kenapa? kamu itu tamu pentingnya"


"kalo Afika pergi ayah sama siapa?"


"nah karna itu Abang ajak istri abang ya kan sayang"


"iya afika, kamu santai aja biasanya kamu ga ada kakak yang jaga ayah"


"beneran kak?"


"iya adekku yang cantikk kalian pergi saja nanti"


"hm yaudah deh"


"oh ya gimana keputusanmu fik?"


"nanti abang liat aja"


"yasudah abang harap kau benar benar memikirkannya kau bukan anak kecil lagi bukan"


"iya bang"


Afika bersiap siap untuk mandi. tapi sebelum itu Afika harus mengambil air di sumur belakang rumahnya untuk dipakai mandi, setelah itu Afika membantu ayahnya mandi yah mandi hanya lap lap doang.


setelah itu sekitaran jam 5 sore Afika mandi dan bersiap shalat magrib.


(adzan)


mereka shalat magrib berjamaah, setelah itu..


"fika, buruan bersiap kita akan kerumah Azmi"


"hm iya"


Afika sengaja memakai pakaian sederhana tanpa polesan sedikit pun agar keluarga Azmi menolak dia tapi sayang hal itu di sadari kaka iparnya.


"kok gini pakaiannya dek, sini kaka dandanin"


"ah kakak jangan ih ini udah bagus, lagian fika ga ada baju yang bagus"


"nah udah kaka duga nih kaka bawa baju kakak, pakai ya. terus afika bermake up dikit walau afika udah cantik tanpa polesan tapi kan mau ketemu camernya harus cantik dong"


*camer: calon mertua


(10 menit kemudian)


"bang sudah"


"Masya Allah cantik nya adik ku ini, yasudah ayo. sayang kami pergi ya"


"iya hati hati ya kalian"


"iya, dadah silvii" ucap Afika kepada keponakannya


Abang Afika dan Afika pergi menaikki mobil


"ah.."


"sudah dek jangan tegang. keluarga mereka ramah semua kok"


"iya bang. hanya Afika merasa Afika tak cocok dengan Azmi dia pasti ilmu agamanya luas sedangkan afika apa"


"kan dia yang memilihmu"


"apa maksudnya?"


"engga ga ada, udah hampir sampai"


sekitaran 20 menit kemudian


sampailah mereka di rumah azmi yang besar dan bersih.


"bang.."


"udah jangan gugup"


mereka memencet bel dan pintu terbuka. mereka langsung disambut pembantu keluarga Azmi


"oh ada neng fika, masuk neng"


"iyaa assalamualaikum"


"walaikumsalam"


terlihat mereka masuk sudah ada satu keluarga menunggu menjemput mereka ada azmi juga memakai baju koko hitam wajahnya sangat tampan sekali menunggu calon kekasihnya.


mereka langsung ke dapur untuk makan bersama, Afika langsung melayani mereka semua


"afika kamu jangan repot dong" ucap ibunda Azmi


"tidak repot tante, Afika sudah terbiasa begini kok"


bunda azmi tersenyum


"iyaa sayang"


mereka pun makan tanpa berbicara sedikitpun, setelah itu mereka berdiskusi kembali tentang pernikahan mereka.


"bagaimana nak Afika? bagaimana jawabanmu?"


"tante, apakah sebelumnya Afika boleh bertanya?"


"silahkan nak"


"Apakah Azmi juga ingin menikah dengan Afika?"


Tiba tiba satu keluarga tersenyum mendengar pertanyaan Afika tersebut.


"setuju sayang" ucap ibunda Azmi


"hmm"

__ADS_1


"Bagaimana keputusanmu?"


"aku...."


__ADS_2