Dunia Kedua

Dunia Kedua
Petilasan Cibulan


__ADS_3

pagi ini...


          matahari bersinar tidak seperti biasanya. aku,labib,alfan,zulfiqar,dan dani hari ini mendapat tugas dari guru ilmu kalam,ilmu hadits, dan juga sejarah untuk meneliti petilasan cibulan yang konon katanya adalah itu adalah singgasana dari prabu siliwangi dan kedua anaknya,yaitu  prabu kian santang dan prabu walang sungsang dan juga tentang mitos Ikan Kancra Bodas (Labeobarbus Dournesis) atau oleh masyakat setempat disebut ikan dewa yang dapat menghilang pada bulan purnama dan juga tentang tubuh ikan itu akan bengkok bila waktu kecilnya tidak di bedong ( mungkin kaya bayi ya, yang baru lahir ya).


          pukul 14.15 WIB, kami berangkat dari pondok pesantren kami menuju tempat yang di tugaskan yang dimana petilasan itu berada di dalamnya. jarak antara pesantren kami ke cibulan tidak terlalu jauh,hanya membutuhkan waktu  5 menit saja. suasana di luar petilasan sangatlah sepi, tak seperti biasanya, mungkin karena sang penunggu prabu siliwangi telah mengetahui apa yang akan kami lakukan di tempat petilasannya. disekitar gerbang objek wisata cibulan kami mendengar suara raungan macan dari dalam. tampaknya macan itu tidak suka dengan kedatangan kami ketempat ini.


                 "Zul, prabu siliwang ada di dalem kali ya ? itu ko ada suara macan gtu.." ucap Alfan


                 "Ya, mungkin aja kali, gua ga tau fan.." jawab zulfiqar


semuapun saling menatap dan berjalan masuk ke gerbang. sekejap suasana di dalam menjadi gelap, kami tak mengerti kenap, karena sewaktu di luar suasana di dalam masih sangat terang, apa mungkin kami masuk ke wilayah kekuasaan kerajaan jin, suasana itu seketika membuat rasa takut kami menjadi muncul, tapi kami terus berjalan hingga menemukan tulisan disebuah gapura yang bertuliskan "7 SUMUR KERAMAT"  sesaat kami terdiam di depan gapura itu. didalamnya tanpa lampu dan sangat gelap...


                 "Gila nih tempat serem amat yaa, mana gelap banget kaya rumah hantu.." Ucap Labib


                 "Emang rumah hantu kali inii, inikan bekas petilasan prabu siliwangi"Ucap aku..


kamipun masuk dengan dipimpin zulfiqar sebagai ketua kelompok. didalam suasana sangatlah aneh, bahkan patung manusia harimau yang ada disisi kami matanya bergerak,bagaikan hidup dan mengawasi setiap gerak gerik kami didalam tempat itu. tak hanya itu ikan dewa yang ada di kolampun tiba-tiba menghilang entah kemana, dan suara aneh mulai muncul dari setiap penjuru tempat ini.


               suasana semakin mencekam, air di 7 sumur keramat berubah menjadi bayangan sesosok harimau putih dengan tubuh yang sangat besar. aku,zulfiqar,alfan,labib,dan dani mulai ketakutan, hal yang belum pernah kami saksikan sebelumnya, kali ini terjadi didepan kami benar-benar nyata.saat itu pula nyawa kami seakan terbang jauh meninggalkan jasad ini..


saat ini kami telah berada di sumur ketujuh di objek wisata cibulan,saat ini aku benar-benar tak percaya dihadapan kami terdapat delapan ekor harimau yang siap menerkam kami apabila kami bergerak sejengkal saja,dan didepan pojok kanan kami pun tampak sesosok manusia denagan pakaian kerajaan padjajaran menatap kami dengan sangat bengis.dalam keadaan antara hidup dan mati kami hanya dapat berdoa,semoga allah akan menyelamatkan kami semua dari apa yang kami alami sekarang. mumgkin ini semua adalah sebuah pelajaran bagi kami bahwa mahluk astral/mahluk gaib itu benar-benar ada dan nyata, kita sebagai manusia harus selalu menyadarinya...


              "Adrian,alfan,labib.... Dani mana ? " teriak zulfiqar tiba-tiba


              "Zul, udah deh jangan bercanda, bukan waktunya ini" ucapku


              "Gua ga bercanda, dani emang beneran ga ada..."ucapnya


              "Terus kemana Dani kalau ga ada ? orang tadi dia ada di belakang lu.."ujar alfan


              "Ok, udaaahh, jangan pada berantem napa, sekarang kita pikirin dulu bagaimana cara keluar dari sumur keramat ini ? baru besok kita cari Dani, mungkin penjaga sini yau dimana dani berada.."


        semuapun setuju untuk mencari jalan terlebih dahulu, dan baru besok pagi mencari Dani, teman kami yang hilang..,,


 Malam semakin larut, udara disekitarpun tak lagi mendukung. kami mulai berlarian mencari pintu keluar agar kami dapat beristirahat sejenak. Suara gemericik air semakin lama semakin terdengar, angin berhembus semakin kencang, bahkan suara raungan yang sedari tadi terdengar samar kini begitu jelas. langkah kaki kami semakin cepat mengarungi 7 sumur kramat petilasan ini. tidak lama setelah itu kami menemukan sebuah gapura tempat kami masuk awal, akan tetapi di gapura tersebut ada satu sosok yang sangat mengerikan dan sangat besar dengan pakaian seperti para panglima perang kerajaan.


         


           " Gimana sekarang ? lu liat tuh di depan.." Ucap Alfan


           " Lanjut aja nekat uadh. Bodo amat mati-mati dah kita " ujar Zulfiqar


dengan ketegangan dengan apapun yang kami rasakan pada malam itu kami semua berlari dengan sekuat tenaga kami tak peduli penghalang jalan kami tak peduli apapun itu


 Malam semakin larut, udara disekitarpun tak lagi mendukung. kami mulai berlarian mencari pintu keluar agar kami dapat beristirahat sejenak. Suara gemericik air semakin lama semakin terdengar, angin berhembus semakin kencang, bahkan suara raungan yang sedari tadi terdengar samar kini begitu jelas. langkah kaki kami semakin cepat mengarungi 7 sumur kramat petilasan ini. tidak lama setelah itu kami menemukan sebuah gapura tempat kami masuk awal, akan tetapi di gapura tersebut ada satu sosok yang sangat mengerikan dan sangat besar dengan pakaian seperti para panglima perang kerajaan.


         


           " Gimana sekarang ? lu liat tuh di depan.." Ucap Alfan


           " Lanjut aja nekat uadh. Bodo amat mati-mati dah kita " ujar Zulfiqar

__ADS_1


dengan ketegangan dengan apapun yang kami rasakan pada malam itu kami semua berlari dengan sekuat tenaga kami tak peduli penghalang jalan kami tak peduli apapun itu. Yang tersirat di benak kami adalah kami harus keluar terlebih dahulu dari sini. Dan akan kembali besok untuk mencari Dani.


Kami terus berlari tanpa mempedulikan apapun. Suara raungan harimau makin terasa jelas sekali, seakan terus mengejar dan tak membiarkan kami untuk pergi meninggalkan petilasan ini.


    " Mana jalan keluarnya ? Gw yakin banget tadi tuh ada di sini pintunya." Ucap Alfan


   " kl ada disini pasti ada fan. Ini lu liat cuma ada tembok. Sama sekali gk ada tanda-tanda pintu disini." Ucapku yang mulai lelah berlari


  " coba ayo dah kita cari dulu. Jangan pada berantem knp.. suasana lg gk enak nih.." kata zulfikar


Kami berusaha mencari dan terus mencari. Hawa dingin semakin menyerebak menusuk tulang belulang. Suasana mencekam semakin lama semakin terasa. Seakan menunjukan ketidaksukaan atas kehadiran kamu disini. Lama kami mencari dan tak ada tanda-tanda keberadaan pintu disekitar sini. Kamipun memutuskan untuk bermalam dengan suasana yang busa dibilang sangatlah tuidak mendukung. Suara demi suara menyeramkan semakin terdengar sangat jelas. Deru airpun yang seakan saling menghantam menambah semakin mencekamnya suasana disini. Kami tak punya pilihan lain selain bertahan disini. Langkah kaki kami tampak sudah tak sanggup tuk melanjutkan. Rasa takut, cemas, bahkan khawatir ketika tiba-tiba pasukan sang prabu menerkam kami saat kami beristirahat dekat petilasan ini. Tapi kami tak punya pilihan selain menyerahkan semua pada sang maha pencipta.


Pagi hari...


kami terbangun oleh suara seseorang yang membangunkan kami. Dengan sedikitmasih mengantuk ku lihat orang itu. Ternyata penjaga objek wisata ini. Kami terbangun. Ku lihat tatapan mata penjaga petilasan ini tampak tajam seakan ingin mengintrogasi kami tentang keberadaan kami disini..


 " sedang apa kalian disini ? Mengapa kalian bisa tertidur disini ?" Tanya sang penjaga


" maaf semalam kami sedang meneliti petilasan ini. Dan kami kehilangan teman kami di sumur kramat yang ke 7. Apa anda bisa membantu ?" Ucap Zulfikar menjelaskan dan berharap agar orang tersebut dapat membantu


Seketika itu tatapan sang penjaga terlihat begitu takut. Kami tak mengerti apa yang sedang ia pikirkan. Lalu ia berkata


" Sang prabu siliwangi telah marah terhadap kalian. Teman kalian tidak akan selamaaatt. Teman kaliaann akan matiii" ucap sang penjaga tiba-tiba


"Kecuali dengan satu syarat.. teman kalian akan selamat." Tambahnya


" apa syaratnya ? Akan kami lakukan asalkan tidak melanggar agama." Ucap alfan


Kami terdiam tak ada kata-kata bahkan penjaga petilasan itupun tampak mengeluarkan senyum pertanda menang karena kami mengikuti apa yang ia perintahkan.


“ syaaaattnyaaaa adaaalaaahh kalian harus bersemedi di petilasan prabu Siliwangi” uacap orang itu


“ Apaa ? woooii gua bukan orang musrik, gua punya tuhan gak kaya lu sesat semua..” ucapku kesal.


Zulfikar berusaha menenangkanku dan mencoba berbicara kepada sang penjaga tersebut untuk meminta solusi lain agar teman kami bisa selamat. Tapi tampaknya sia-sia saja. Dari taut wajah penjaga tersebut telah menunjukan wajah yang sangat puas karena tampaknya ia merasa menang dengan apa yang ia katakanya. Akhirnya Zulfikar kembali ke kami, dan menjelaskan bahwa kata penjaga itu tidak ada cara lain untuk menyelamatkan Dani teman kami yang hilang itu.


Aku sudah menduga kalau hasilnya akan seperti ini, percuma saja buang-buang waktu buat diskusi dengan penjaga itu kalau akhirnya kita harus menyembah sebangsa jin yang musyrik itu. Alah apa itu menghormati. Yang ada di pikiranu hanya lah takut kepada allah bukan mahluk gaib yang hina itu.


“ Budi tahan emosi lu, kita lakuin ini buat nyelametin Dani, gak ada cara lain buat ini..” ucap Zulfikar menjelaskan.


“ Oke, kalau ini bukan demi Dani gua ogah ngelakuin ini apalagi yang berhubungan dengan musrik kaya gini.” Ucapku


Kamipun menghampiri penjaga tersebut. Tampak raut wajahnya menunjukan kebengisan yang sangat tidak suka terhadap kami. Seakan penjaga itu marah dan tidak akan pernah memaafkan kami. Kamipun megikuti penjaga itu memasuki wilayah petilasan ini. Tepat di samping pojok tidak jauh dari pintu masuk terdapat sebuah petilasan yang konon katanya tempat prabu Siliwangi. Kamipun berhenti depan didepan petilasan itu dan petugas itupun berkata


“ Kalian harus meminta maaf kepada prabu siliwangi jika kalian mau teman kalian selamat. Namun jika tidak silahkan kalian tinggalkan tempat ini.” Katanya tanpa senyum sedikitpun diwajahnya


Kami saling menatap dan kamipun setuju tanpa pikir Panjang lagi, karena walau bagaimanapun ini demi teman kami. Kamipun mengikuti instruksi dari petugas itu untuk kembali ke petilasan tepat jam lima sore nanti. Entah apa yang ada dipikiranku saat itu yang jelas aku merasa ini adalah sebuah permainan dan sebuah kekonyolan. Karena aku sangat yakin bahwa prabu siliwangi itu tidak ada, karena menurutku itu adalah sebuah mitos yang menjadi pembicaraan warga dari mulut ke mulut. Tapi saat itu sama sekali tidak berkata demikian kepada teman-temanku. Aku tahu bahwa mereka telah merasakan Lelah dan pastinya pemikiran mereka sama denganku ini dilakukan hanya untuk Dani, gak lebih.


Waktu telah menunjukan pukul dua belas siang. Kami masih terdiam di luar objek wisata cibulan ini. Tak ada kata yang terontar sama sekali dari mulut kami. Seakan kami masih memikirkan kenapa hal ini terjadi oleh kami. Apa salah kami hingga teman kami sampai hilang seperti ini. Aku menatap wajah Alfan ia tampak frustasi, terlihat dari wajahnya seakan hamper menyerah dengan kejadian ini. Begitu pula dengan labib dan zulfikar. Memang kami merasa hal ini diluar dugaan dan kami benar-benar menyesalinya.


“ lu semua gak ada niatan buat cari makanan gitu, eh inget dari semalem kita belom makan. Kalo kita semua sakit siapa yang bakalan nyari Dani ? mending sekarang kita nyari makan dulu deh daripada kita sakit kan repot semua urusannya.” Kataku memecah lamunan mereka.

__ADS_1


“ daritadi kek ngomongnya kalo mau nyari makan, gua dari tadi nungguin lu pada ngomong tau. Kagak ada yang ngomong-ngomong.” Ucap Alfan


Kamipun meninggalkan objek wisata tersebut dan berniat mencari makan dan beristirahat sejenak untuk nanti malam katanya disuruh bersemedi atau apalah itu namanya aku tidak mengerti. Rasanya memang lelah sekali dari semalam kami didalam petilasan itu dan banyak sekali suara yang sangat aneh disana hingga membuat bulu kuduk kami semua merinding. Ridwan terlihat sangat lelah dari semua teman-temanku dan syang paling penakut diantara kami semua. Kami berhenti disebuah tempat makan yang cukup jauh dari lokasi objek wisata cibulan tersebut. Kalo tidak salah nama tempat makan itu “ Pujasera” ya aku tahulah memang harganya sangat tidak mendukung ukuran kantong anak sekolah tapi mau gimana lagi hanya tempat makan ini yang buka yang lainnya entah kenapa tidak ada yang buka.


Singkat cerita, waktu sedah menunjukan pukul lima sore, kamipun berniat untuk kembali ke petilasan tersebut. Dengan langkah gontai diiringi kemalasan kami mulai melangkahkan kai kami menuju tempat tersebut. Malas memang, apalagi ketika kami mengetahui kelompok lain telah selesai mengerjakan tugas ini tanpa ada masalah sedikitpun seperti kami. Tak lama kamipun sampai di depan tulisan “Objek Wisata Cibulan”. Seketika bulu kuduku terasa merinding. Angina yang tenang berubah menjadi bertiup semakin lama semakin kencang. Suara-suara aneh yang kami dengar kemarinpun mulai kembali terdengar. Raungan suara macan putih sangat jelas di telinga kami. Kami mengerti mereka pasti marah kami menginjak daerah kekuasaan mereka dan mengganggu ketentraman mereka. Tapi kamipun tidak punya cara lain untuk menyelamatkan Dani dari sini selain melakukan hal ini.


Langkah demi langkah mulai kami pijaki, satu demi satu lantai tempat dimana pengunjung membeli tiket kami lalui. Semakin kami masuk semakin dalam suara raungan harimau putih semaki jelas terdengar seakan inigin menangkap dan memakan kami hidup-hidup didalam sini. Untuk kesekian kalinya langkah kami kembali terhenti didepan tulisan “7 SUMUR KERAMAT” . kembali kami ragu untuk kembali melangkah seakan bayangan sang prabu yang memakai baju layaknya baju kerajaan padjajaran berada di hadapan kami. Kami menatap ragu, seakan memberi  isyarat untuk tidak masuk kedalam sana.


Kami terdiam tak ada kata-kata bahkan penjaga petilasan itupun tampak mengeluarkan senyum pertanda menang karena kami mengikuti apa yang ia perintahkan.


“ syaaaattnyaaaa adaaalaaahh kalian harus bersemedi di petilasan prabu Siliwangi” uacap orang itu


“ Apaa ? woooii gua bukan orang musrik, gua punya tuhan gak kaya lu sesat semua..” ucapku kesal.


Zulfikar berusaha menenangkanku dan mencoba berbicara kepada sang penjaga tersebut untuk meminta solusi lain agar teman kami bisa selamat. Tapi tampaknya sia-sia saja. Dari taut wajah penjaga tersebut telah menunjukan wajah yang sangat puas karena tampaknya ia merasa menang dengan apa yang ia katakanya. Akhirnya Zulfikar kembali ke kami, dan menjelaskan bahwa kata penjaga itu tidak ada cara lain untuk menyelamatkan Dani teman kami yang hilang itu.


Aku sudah menduga kalau hasilnya akan seperti ini, percuma saja buang-buang waktu buat diskusi dengan penjaga itu kalau akhirnya kita harus menyembah sebangsa jin yang musyrik itu. Alah apa itu menghormati. Yang ada di pikiranu hanya lah takut kepada allah bukan mahluk gaib yang hina itu.


“ Budi tahan emosi lu, kita lakuin ini buat nyelametin Dani, gak ada cara lain buat ini..” ucap Zulfikar menjelaskan.


“ Oke, kalau ini bukan demi Dani gua ogah ngelakuin ini apalagi yang berhubungan dengan musrik kaya gini.” Ucapku


Kamipun menghampiri penjaga tersebut. Tampak raut wajahnya menunjukan kebengisan yang sangat tidak suka terhadap kami. Seakan penjaga itu marah dan tidak akan pernah memaafkan kami. Kamipun megikuti penjaga itu memasuki wilayah petilasan ini. Tepat di samping pojok tidak jauh dari pintu masuk terdapat sebuah petilasan yang konon katanya tempat prabu Siliwangi. Kamipun berhenti depan didepan petilasan itu dan petugas itupun berkata


“ Kalian harus meminta maaf kepada prabu siliwangi jika kalian mau teman kalian selamat. Namun jika tidak silahkan kalian tinggalkan tempat ini.” Katanya tanpa senyum sedikitpun diwajahnya


Kami saling menatap dan kamipun setuju tanpa pikir Panjang lagi, karena walau bagaimanapun ini demi teman kami. Kamipun mengikuti instruksi dari petugas itu untuk kembali ke petilasan tepat jam lima sore nanti. Entah apa yang ada dipikiranku saat itu yang jelas aku merasa ini adalah sebuah permainan dan sebuah kekonyolan. Karena aku sangat yakin bahwa prabu siliwangi itu tidak ada, karena menurutku itu adalah sebuah mitos yang menjadi pembicaraan warga dari mulut ke mulut. Tapi saat itu sama sekali tidak berkata demikian kepada teman-temanku. Aku tahu bahwa mereka telah merasakan Lelah dan pastinya pemikiran mereka sama denganku ini dilakukan hanya untuk Dani, gak lebih.


Waktu telah menunjukan pukul dua belas siang. Kami masih terdiam di luar objek wisata cibulan ini. Tak ada kata yang terontar sama sekali dari mulut kami. Seakan kami masih memikirkan kenapa hal ini terjadi oleh kami. Apa salah kami hingga teman kami sampai hilang seperti ini. Aku menatap wajah Alfan ia tampak frustasi, terlihat dari wajahnya seakan hamper menyerah dengan kejadian ini. Begitu pula dengan labib dan zulfikar. Memang kami merasa hal ini diluar dugaan dan kami benar-benar menyesalinya.


“ lu semua gak ada niatan buat cari makanan gitu, eh inget dari semalem kita belom makan. Kalo kita semua sakit siapa yang bakalan nyari Dani ? mending sekarang kita nyari makan dulu deh daripada kita sakit kan repot semua urusannya.” Kataku memecah lamunan mereka.


“ daritadi kek ngomongnya kalo mau nyari makan, gua dari tadi nungguin lu pada ngomong tau. Kagak ada yang ngomong-ngomong.” Ucap Alfan


Kamipun meninggalkan objek wisata tersebut dan berniat mencari makan dan beristirahat sejenak untuk nanti malam katanya disuruh bersemedi atau apalah itu namanya aku tidak mengerti. Rasanya memang lelah sekali dari semalam kami didalam petilasan itu dan banyak sekali suara yang sangat aneh disana hingga membuat bulu kuduk kami semua merinding. Ridwan terlihat sangat lelah dari semua teman-temanku dan syang paling penakut diantara kami semua. Kami berhenti disebuah tempat makan yang cukup jauh dari lokasi objek wisata cibulan tersebut. Kalo tidak salah nama tempat makan itu “ Pujasera” ya aku tahulah memang harganya sangat tidak mendukung ukuran kantong anak sekolah tapi mau gimana lagi hanya tempat makan ini yang buka yang lainnya entah kenapa tidak ada yang buka.


Singkat cerita, waktu sedah menunjukan pukul lima sore, kamipun berniat untuk kembali ke petilasan tersebut. Dengan langkah gontai diiringi kemalasan kami mulai melangkahkan kai kami menuju tempat tersebut. Malas memang, apalagi ketika kami mengetahui kelompok lain telah selesai mengerjakan tugas ini tanpa ada masalah sedikitpun seperti kami. Tak lama kamipun sampai di depan tulisan “Objek Wisata Cibulan”. Seketika bulu kuduku terasa merinding. Angina yang tenang berubah menjadi bertiup semakin lama semakin kencang. Suara-suara aneh yang kami dengar kemarinpun mulai kembali terdengar. Raungan suara macan putih sangat jelas di telinga kami. Kami mengerti mereka pasti marah kami menginjak daerah kekuasaan mereka dan mengganggu ketentraman mereka. Tapi kamipun tidak punya cara lain untuk menyelamatkan Dani dari sini selain melakukan hal ini.


Langkah demi langkah mulai kami pijaki, satu demi satu lantai tempat dimana pengunjung membeli tiket kami lalui. Semakin kami masuk semakin dalam suara raungan harimau putih semaki jelas terdengar seakan inigin menangkap dan memakan kami hidup-hidup didalam sini. Untuk kesekian kalinya langkah kami kembali terhenti didepan tulisan “7 SUMUR KERAMAT” . kembali kami ragu untuk kembali melangkah seakan bayangan sang prabu yang memakai baju layaknya baju kerajaan padjajaran berada di hadapan kami. Kami menatap ragu, seakan memberi  isyarat untuk tidak masuk kedalam sana. Tapi bayangan akan penyelamatkan Dani terus menghantui kami, dengan langkah berat akhirnya kami mulai melangkah masuk kedalam gapura. Langkah demi langkah terasa semakin berat dengan diiringi suara raungan harimau putih yang terus menggema. Sangat terasa bulu kuduk kami sudah mulai tak bersahabat, bahkan sempat sekilas patung harimau yang berada didekat petilasan sekali lagi terlihat melirik kearah kami dan menatap dengan tatapan beringas.


Aku dan yang lainnya pun seakan mencoba untuk tidak peduli dan melanjutkan apa yang diperintahkan penjaga itu. Bahkan saat kami duduk entah kenapa saat itu kami merasa sangat nyaman. Aneh memang yang tadi ada hawa yang menyeramkan kali ini kami merasakan sebuah kenyamanan yang entah darimana datangnya. Kamipun mulai focus memejamkan mata dan melakukan instruksi dari penjaga petilasan. Kami berharap dengan usaha kami melakukan ini teman kami dapat kembali dan mungkin prabu siliwangi memaafkan kami atas kesalahan kami yang tanpa izin masuk kedalam petilasannya yang juga menjadi tempat singgah sang prabu saat berkunjung ke sini sewaktu jaman padjajaran dulu.


“Budi, Alfan, Ridwan, Zulfikar, kabuuurrr!!!!”


Suara yang tiba-tiba muncul mrmbuat kami semua tersadar dan membuyarka konsentrasi kami. Ya aku pribadi sangat hafal suara itu, itu adalah suara Dani. Tapi darimana ? tidak ada tanda-tanda wujud manusia disini. Seketika itu pula suasana kembali menjadi mistis. Air yang berada dikola sumurpun tiba-tiba berubah menjadi penampakan sesosok harimau putih yang sangat menyeramkan. Saat itu  akupun sudah tak lagi konsentrasi dengan semua instruksi dari petugas itu.


“Dani lu dimana ? Dani keluar Dan….” Kataku, namun tak ada jawaban sama sekali.


Saat ini aku dan teman-temanku sadar apa yang kami lakukan ini adalah salah. Semua itu haruslah mendapat izin dari pemilik atau paling tidak harus didampingi sama orang yang paham dengan semua ini. Tidak seperti kami yang asal menetiti dan akhirnya berujung seperti ini. Semua ini adalah sebuah pelajaran berharga. Bahwa mahluk astral atau setan, jin dan sebagainya memang itu benar adanya. Sama seperti manusia, mereka tidak akan mengganggu jika tidak diusik oleh siapapun, tapi jika ada yang mengusik kenyamanan mereka merekapun akan mengganggu dan bahkan bisa lebih parah dari manusia yang mengganggu mereka.


Kini Danipun telah ditemukan kami berlimapun kembali kepondok pesantren dan menyelesaikan hasil dan tugas akhir penelitian kami disana. Apa yang kami alami dan kami dapat inilah pengalaman yang sangat berharga. Bahwa kita haruslah MENGHORMATI SESAMA MAHLUK HIDUP. Baik itu ada wujudnya ataupun tidak ada. Karena walau bagaimanapun mereka ingin tenang dan hidup nyaman dialam mereka tanpa merasa terancam.

__ADS_1


__ADS_2