Dunia Kedua

Dunia Kedua
Petilasan Cibulan Part 2


__ADS_3

Mentari pagi bersinar indah, aku terbayang semua kisah masa kelam yang telah aku alami bersama Alfan, Ridwan, Dani, Labib, dan Zulfiqar. Tepatnya tujuh tahun lalu kami semua mengalami masalah yang tak pernah bisa kami bayangkan sebalumnya. Sebuah kejadian yang menyeramkan yang belum pernah aku alami. Dimana aku bersama teman-temanku mengalami peristiwa di 7 sumur kramat petilasan cibulan. Banyak sekali pelajaran yang aku dapat dari kejadian itu. Bahwa mahluk ghaib itu benar-benar ada dan merekapun sama dengan kita tidak mau diganggu apalagi tempat mereka di usik. Tak pernah sirna dari pikiranku semua kenangan itu. Mungkin kini, petilasan itu sudah menjadi tempat wisata yang sangat bagus. Dan jauh dari kata angker lagi.


Aku mulai melakukan aktifitasku seperti biasa. Lari-lari kecil dan push up. Setelah itu aku membuat teh hangat dan duduk di teras rumah. Ya aktifitasku begitu indah bagiku. Tak perlu dengan kemewahan, cukup dengan kesederhanaan dan kenyamanan saja. Tiba-tiba ponselku berdering, ternyata pesan whatapps. Dari Ridwan ternyata, ada apa ya ?


"Bud kita disuruh ke pesantren lagi, ada masalah di petilasan yang dulu katanya" ucap Ridwan dalam pesan singkat itu.


"Masalah apa? Bukannya sekarang udah jadi tempat wisata bagus ya sekarang" balasku


Ridwan tak membalas. Hanya saja aku tahu jika ia sudah Chat seperti ini pastinya tidak akan lama lagi ia datang. Aku segera bersiap-siap. Tak perlu mandi, karena pastinya itu akan lama jika aku mandi. Benar saja dugaanku sebuah mobil Honda Jazz masuk pekarangan rumahku. Fillingku tepat pasti Ridwan chat ia sudah dijalan.


"Ayo buruan," ucapnya.


Aku langsung pamit, dan langsung pergi meninggalkan rumah. Aku masih berpikir masalah apa ya ? Setau aku Cibulan sudah menjadi wisata yang diminati. Tapi entahlah aku tak tahu.


"Masalahnya adik kelas kita mengalami kejadian seperti kita. Dan yang lebih parahnya dari 5 orang sisa 2 orang sekarang." Ujar Zulfiqar


"Kok bisa? Emangnya gak ada yang dampingin?" Ucapku


"Entahlah itu sebabnya kita diutus ya bisa dibilang sebagai juru kunci." Celetuk Alfan


"Haha, ntar Dani ilang lagi nih ya" Candaku mencairkan


kamipun tertawa, Dani menjadi bahan bully saat itu. Aku beruntung mempunyai teman seperti mereka, susah dan senang bersama. Dalam kondisi apapun mereka selalu ada. Kami masih sudah melewati kabupaten Cirebon. Sebentar lagi kami akan tiba dirumah dipesantren tempat kami menuntut ilmu. 6 tahun kami menuntut ilmu disana. Enam tahun itu pula kami belajar segalanya. persahabatan, akhlaq, dan segalanya. kalau ingat semua itu, rasanya ingin hal itu terulang lagi, ingin rasanya kebersamaan itu terus dan terus bersama. Dari mulai ospek, kesasar di gunung, kami masih bisa mencari jalan keluar, hingga menemukan mata air disaat kami semua kehabisan air minum. Sangat indah jika ingat itu semua.


"Ayo turun, udah nyampe nih" Ucap Ridwan


"Keren sekarang ya pesantrennya, beda sama 7 tahun yang lalu" Ucapku melihat pesantren yang dulunya tak seperti ini.


"Gua denger-denger juga ada lagi di pancalang cabangnya" Ujar Zulfiqar


Sangat indah pesantrenku sekarang, dulu hanya sekedar air mancur dikantor yayasan ini. ya ditanami tanaman seadanya. Kini semua terasa sangat berbeda, semua ornamen yang dahulu tidak ada kini memperindah suasana menjadi lebih hidup dan megah. Sungguh berbeda sekali.


Aku, Zulfiqar, Alfan, Labib, Dani, dan Ridwan berjalan kearah kantor guru. Karena guru ilmu hadist dan ilmu kalam lah yang memanggil kami kembali kesini. Aku belum tahu pasti tugas apa yang akan diberikan, yang aku tau dari penjelasan temanku bahwa ada santri yang hilang di petilasan itu lagi. Kisah Dani terulang lagi. Tampaknya memang tidak pernah mengizinkan untuk diteliti petilasan mereka. Entah apalagi sebabnya dan apakah dengan orang yang sama? yang menyuruh kami bertapa meminta ampun kepada para penunggu petilasan itu. Kalaupun iya aku harus kembali berpikir 2 kali untuk melakukan itu. kami tiba dikantor guru dan mencari guru yang bersangkutan.


"Assalamualaikum, stad, ada ustad wahid?" Tanya Zulfiqar


"Oh ada sebentar saya panggilkan" Ucap salah satu guru disana.


Tampaknya beliau guru baru. Tidak pernah aku melihatnya selama aku dipesantren ini dulu. Aku menunggu dan tak lama ustad wahid keluar.

__ADS_1


"Assalamualaikum stad, apa yang bisa kami bantu stad?" Tanya zul


"Waalaikumsalam, alhamdulillah kalian sudah datang. Begini adik kelas kalian terjebak di petilasan yang pernah kalian teliti dulu. Saya mohon bantuan kalian untuk membantu mencari mereka, karena kalian adalah kunci dari semua ini. Kalian yang tahu tentang petilasan itu." Jawabnya


"Sebentar stad, mereka meneliti lagi atau bagaimana? kenapa kejadiannya bisa seperti ini? Dan bukannya kalau meneliti itu sudah tidak diizinkan dipetilasan lagi stad." Tanyaku.


Ustad Wahid terdiam sesaat, yang aku tahupun sejak kejadian yang menimpa kami. petilasan itu sudah tidak boleh di teliti kembali. Dikarenakan sebuah kejadian yang memang sangat menyeramkan bagi yang tidak tahu jalan keluarnya dan bisa menjadi tumbal para harimau putih penunggu petilasan tersebut.


"Mereka sedang izin dan berenang dicibulan, tapi sudah 3 hari ini 3 orang diantara mereka tidak kembali. Dan laporan yang didapat terakhir 3 orang ini hilang di petilasan itu" Jawab ustad Wahid


Sedikit ada yang janggal menurutku. Karena aku tahu pasti banyak pengunjung lain disitu. Masa iya mereka bisa hilang? Aku menatap Zulfiqar. Iapun terlihat kebingungan dengan penjelasan ustad Wahid. Ya kami berdua berpikiran sama tidak ada kemungkinan yang bisa dijadikan bukti kalau mereka benar-benar hilang.


"Kaya ada yang janggal ya, menurut gua sih kayanya ada yang gak beres tuh di petilasan"


"Bener gua juga ngerasa ada sesuatu dipetilasan itu. Zul kita harus kesana zul" Ujar Labib.


Zulfiqar hanya mengangguk. Aku dan yang lainpun bersiap menuju petilasan itu yang berada tepat didalam wisata cibulan. Aku kembali mengingat saat itu. Saat dimana aku pertama kali kesana. meneliti dan mengalami kejadian menyeramkan itu.


"Gak berubah. tetap sama suasananya. Dan gua yakin banget prabu siliwangi tahu kedatangan kita kesini." Ucap Alfan


"Alfan udah pengalaman banget liat situasi hahaha" kataku


Kami menghela nafas panjang, saling menatap dan bersiap menuju dunia 7 tahun yang lalu.


"Siap semua? Inget satu hal saling menjaga 1 sama lain. Jangan sampai diantara kita ada yag hilang" Ujar Zulfiqar


Kami mengangguk, mulai melangkahkan kaki kami menuju gerbang pintu masuk yang bertuliskan Wisata Cibulan. Dengan langkah yang yakin kami mulai masuk. Suasana tampak sepi dan tak berpenghuni, sama persis 7 tahun lalu tepatnya. Hanya ada suara aneh yang menemani langkah kami. Suara yang jelas raungan harimau kembali terdengar. Aku menyisir sekitar, benar saja tidak ada perubahan. Hanya sedikit bertambah 1 wahana baru yaitu flying fox. Sisanya tetap sama seperti dulu. Kolam renang masih sama di penuhi dengan ikan Kancra Bodas. yang menurut mitos ikan ini akan menghilang saat bulan purnama tiba. Dan akan memakan nyawa jika ada warga atau wisatawan berani mengambil ikan tersebut.


Hawa aneh mulai menyeringai begitu kuat. Kami bertatapan. Kami ragu untuk masuk ke gapura 7 sumur kramat yang memang disitulah tujuan kami. Seakan kami kembali kemasa lalu kami. Berjuang menyelamatkan Dani yang hilang entah kemana. Perlahan kami mendekati gapura yang begitu jelas menampilkan tulisan 7 SUMUR KRAMAT. Aku sendiri menelan ludah ketika tepat berada di depan gapura tersebut. Rasa tidak percaya bahwa akan kembali ke sini. Diselimuti rasa takut yang benar-benar terasa. Detak jantungku dan teman-temanku begitu terasa sekali. menandakan bahwa kami semua trauma atas kejadian 7 tahun yang lalu.Rasanya sulit untuk melangkahkan kaki ini. Sulit untuk melangkah masuk ke dalamnya. Namun kami semua ingat amanah yang diberikan, dan terpaksa kami harus melanjutkan langkah kami masuk ke dalam sumur kramat itu.


Flashback...


Raungan harimau begitu jelas terdengar, dan di depan kami 5 sosok harimau putih siap untuk menerkam kami jika kami bergerak sedikit saja. Kami hanya bisa berdoa berharap ada keajaiban yang datang menyelamatkan kami. Tatapan Tajam harimau itu mengawasi gerakan kami. akupun bingung harus berbuat apa. Hanya bisa pasrah dan menyerahkan semua ke yang kuasa.


"Budi, Alfan,Ridwan,labib, zulfiqar lariii" Ucap suara yang kami kenal itu adalah Dani.


Aku menoleh keasal suara


"Dani lu dimana?" teriaku keras

__ADS_1


Tak ada balasan. Kamipun lari meninggalkan petilasa tersebut. Dan menyelamatkan diri terlebih dahulu untuk memikirkan rencana menyelamatkan Dani. Namun ada yang aneh, pintu tempat kami masuk menghilang entah kemana. Kami mencari tak ketemu.


"Kemana pintunya? gua yakin banget pintunya disini." Ucapku


"Tapi buktinya gak ada Bud" Ucap Alfan


Udah jangan pada berantem, sekarang gimana caranya kita bisa istirahat dulu besok baru kita pikirin giman buat nyelametin Dani.


back to story


"Woi bengong, jangan dipikirin Bud" Ujar Dani mengagetkan lamunanku.


"Liat depan, itu bukannya penjaga yang dulu" Ucapku


Semua melihat kearah depan. Dengan seksama mereka memperhatikan.


"Benar itu dia, masih panjang umur tuh ******** haha" Ucap Alfan kesal


Geram rasanya melihat penjaga itu, aku tak tahu harus berbuat apa. Ingin rasanya langsung menemui penjaga itu. namun dilarang oleh zulfiqar karena banyak penjaga lain yang bersamanya. benar yang ada malah menimbulkan kecurigaan.


"Rencananya kaya yang dulu, kita mulai malem. kalo bisa kita mencar nanti malem bagi 2 tim." Ucap Zulfiqar


Kamipun keluar dari cibulan. rencananya kami dibagi 2 tim, dan mencar mencari santri yang hilang didalam petilasan. semoga dengan ini dapat mempercepat pencarian kami di sarang setan ini. akupun berharap tidak sampai seperti dulu yang begitu sulit pencariannya saat Dani mengalami nasib yang sama. waktu sudah menunjukan pukul lima sore. aku dan teman-temanku sudah berada di depan pintu masuk yang bertuliskan cibulan. sama seperti dulu aku dan yang lainnya akan masuk kedalam petilasan sore hari. Hawa dingin mulai menerpa kami, suara raungan harimau seakan mulai terdengar tak hentinya. suasana di sekitarpun sudah sangat sepi tak ada pedagang ataupun warga yang melintas, hanya kami berlima yang berada di sekitar cibulan ini. Dengan langkah yang meyakinkan kami mulai memasuki, takut, bahkan trauma dengan yang pernah kami alami masih teringat jelas di memori, tapi semua itu coba kami hilangkan dengan yakin bahwa tidak akan terjadi apapun. kami sudah memasuki pintu gerbang petilasan. Samar-samar aku melihat sesosok bayangan prajurit kerajaan padjajaran yang berpakaian lengkap dan dilengkapi dengan tombak besi. mereka tahu, batinku berkata. firasatku mulai tidak menentu. termasuk wajah temanku yang lain sudah mulai pucat didepan gapura petilasan. Kami mulai membagi 2 tim. Aku, Labih, dan Ridwan yang akan mencari dari sumur petilasan ke 7 dan Zulfiqar, Alfan, dan Dani mencari dari petilasan awal.


suasana mulai tak bersahabat, aku mulai yakin bahwa mereka tidak akan membiarkan kami lolos untuk kedua kalinya dan berhasil mendapatkan target yang kami cari. terlihat jelas bahwa dari yang aku lihat sesosok prajurit kerajaan sudah memantau gerak-gerik kami semua. Dalam hatiku hanya berkata,kami tidak akan takut walau kami tahu ini adalah hal yang tak mudah. Tapi kami yakin dengan semua ini bahwa kami akan berhasil membawa pulang santri ke esantren kembali.


"Bud, lihat depan. Harimau putih itu" Ucap Labib menghentikan langkah.


Kami terdiam, benar saja harimau itu seakan mendekat. kami mundur perlahan dan terlihat sosok seseorang dengan baju kerjaan padjajaran disebelah harimau itu. kami sudah tahu bahwa inilah sang prabu. Dengan tatapan sinis dan bengis seakan hendak menyerang kami dengan panglima utama mereka yakni harimau putih. Semakin lama semakin mendekat harimau itu. kami terdiam. aku dan yang lain tak dapat berkutik seakan terkunci tak ada celah untuk melarikan diri. aku, labib, dan ridwan sudah seakan terkunci seperti dulu. bayangan kami beberapa harimau putih sedang mengelilingi kami. sedang bersiap menerkam kami jika kami lengah sedikit saja. Jelas ini pertanda yang tidak baik karena ini baru awal kami memulai mereka sudah agresif menahan langkah kami. kami tidak bisa berbuat apapun saat ini. berharap mencari celah untuk masuk menerobos gerbang dunia lain yang aku yakini disitulah tempat santri ditahan. aku sangat yakin kalau mereka ingin dijadikan tumbal sama kerjaan padjajaran.


"Budi lariii.., gua yang urus harimau putihnya"


bersambung..


hallo guys maaf ya lama untuk up episodenya. karena lagi banyak kesibukan juga.


Jangan lupa like, komen, n vote ya guys..


Terimakasih

__ADS_1


__ADS_2