Dunia Kedua

Dunia Kedua
Breakfast


__ADS_3

Pagi ini, entah kenapa aku mau diajak oleh Raka untuk sarapan bersama. biasanya aku malas, karena jam kuliahku dimulai pukul sembilan tepat, dan sekarang baru menunjukan pukul enam pagi. Aku Adelia Aprilia Putri, aku kuliah disalah satu universitas di kota Bandung. Banyak yang bilang kotaku adalah kota kembang. Banyak ide makanan yang terlahir dari sana. Dan ditambah udara yang memang sangan sejuk serta kebersihan yang selalu terjaga.


Aku Sendiri bangga menjadi putri kelahiran kota Bandung. Walaupun ibu dan bapaku bukanlah asli keturunan sini. Tapi justru akulah yang lahir dikota ini. Ya hanya aku sendiri. Aku merupakan anak pertama dari 4 bersaudara seharusnya. Jika saja kakaku tidak meninggal dunia ketika usiaku menginjak 16 tahun. Dan saat ini akulah yang paling tua. Adiku sendiri baru menginjak sekolah dasar dan pastinya butuh biaya banyak. Aku sendiri bukanlah seorang yang kaya raya. kehidupan keluargaku sederhana bahkan bisa dibilang mungkin terkadang kekurangan. Namun aku tetap bersyukur keluargaku masih bisa akur dan tidak ada persoalan yang membuat perceraian.


"Adeell, ada telpon sayang.."


Teriak seorang wanita dari bawah. Ya aku tahu itu ibuku. Seorang malaikat tak bersayap yang selalu ada untuku ketika aku merasa sedih bahkan ketika aku sakit. Aku beranjak dari kamarku. Tentunya aku sudah rapi untuk menunggu kedatangan Raka. Aku lihat bapaku sedang duduk diruang tamu membaca koran dan ditemani segelas kopi, berikut tak lupa beberapa buah pisang goreng. "hmm, rasanya lapar melihat pisang goreng itu" gumamku dalam hati. Akupun mengangkat gagang telpon, dan ternyata Raka. Ia menanyakan apakah aku sudah siap berangkat atau belum. Ya jelaslah aku sudah siap berangkat. Toh sudah dari tadi aku bersiap untuk menunggunya. Akupun menutup gagang telpon dan bapaku bertanya


"Tumben berangkat pagi sekali? Ada apa?"


"Iya yah, Adel ada tugas sama Raka, dan sekalian sarapam diluar" Ucapku kepada beliau


Bapaku hanya mengangguk. Entah apa yang ada dibenaknya akupun tak tahu. yang jelas dan yang terpenting aku diizinkan keluar. Biasanya jangankan keluar sama laki-laki, sama temanku saja sesama perempuan bapaku melarang. Tapi entah kenapa hari ini beliau tampak diam setelah aku sebut nama Raka. Ataukah Ibuku sudah menjelaskan kalau Raka teman satu kuliahku. "Ahhh, entahlah" gumam batinku.


Samar-samar kulihat ada sebuah mobil masuk halaman rumahku. Ya aku yakin itu Raka. Dia termasuk anak yang berada. Kedua orangtuanya adalah pembisnis yang sukses diberbagai kota di Indonesia. Jadi tak heran kalau Raka di fasilitasi sebuah mobil oleh orangtuanya.


"Assalamualaikum, Tante dan om" Salam Raka didepan pintu.


"Waalaikumsalam, silahkan masuk dulu nak Raka.." Sambut ibuku dengan senyumnya.


Aku memang sudah tahu bahwa ibu tidak pernah melarangku pacaran atau apapun itu selama aku bisa menjaga diriku. Dan tidak melampaui batas. Karena aku pernah cerita tentang Raka ke ibu. Dan ibu bilang silahkan karena kamu sudah besar. Tapi jujur aku dengannya tidak pacaran. Hanya seorang teman. Ya mungkin karena aku dan dia belum mengenal satu sama lain. Jadi ya belum ada ikatan yang serius diantara kami berdua.


"Gak usah bu, terimakasih, mau langsung saja bu. Udah siang soalnya. Takut gak keburu ngerjain tugas dan sarapan diluar." Ucap Raka kepada ibuku.


Aku melihatnya memberikan isyarat untuk segera pergi. Ya aku mengerti, takut kalau bapaku malah berubah pikiran nantinya. Aku juga pernah menceritakan kalau bapaku sebenarnya melarangku keluar dengan teman. Apalagi temannya itu seorang laki-laki. Aku dan Raka pun pamit kepada ibu dan bapaku. Dan aku berjalan keluar hingga aku memasuki mobil mewahnya dan meninggalkan rumah.

__ADS_1


Cukup lama perjalanan yang ditempuh, karena aku juga tidak tahu mau kemana tujuan Raka. Mengajaku berangkat pagi. Ya memang ia bilang hanya sekedar sarapan bersama. Tapi aku rasa ada hal lain yang ingin ia utarakan denganku. Sangat tidak mungkin jika tidak ada yang dibicarakan denganku


Aku menatapnya, Raka tampak begitu sempurna. Tapi kenapa seorang laki-laki sempurna memilihku yang bisa dibilang sederhana. Bisa dibilang bukan dari keluarga yang kaya raya seperti dia. Aku selalu ragu ketika aku berjalan dengannya. Baik itu dikampus, atau saat ini hanya berdua. Ragu bukan karena aku takut ia berbuat jahat. Tapi ragu jika ia hanya memainkan perasaanku saja.


"Kenapa kamu senyum-senyum natap aku Del? Jangan-jangan kamu naksir samaku ya?" Ucapnya memecah lamunanku.


Aku yang kaget secara spontan menjawab " Idiihh jangan geer kamu, lagipula gak mungkinlah aku suka sama kamu. Aku sadar diri lagi kamu anak orang berada" Jawabku dengan raut wajah yang memerah , berharap ia tidak melihatnya.


"Masa sih? kalo menurutku kamu suka. Tuh wajah kamu merah gitu" Ledeknya


"Ihhh apaan sih? Udah itu lihatnya kedepan nanti nabrak loh"


Ya tuhan ternyata dia sadar kalau wajahku memerah. Jujur aku tidak tahu lagi mau bilang apa. Memang aku suka sama Raka. Tapi aku masih mau lihat ia serius atau gak. Dan lagipula mana mungkin sih Raka suka samaku. Atau juga ia mengajaku makan bareng mau menyatakan perasaannya? "Ya ampun Adel, jangan berharap lebih." Gumam hatiku kembali.


"Iya kita makan disini? Jangan liat tempatnya aja. Makanan sama harganya sama kaya di kaki lima ko. cuma emang tempatnya yang bagus Del." Katanya


Aku hanya diam tanpa membalas. Pertama kalinya aku makan ditempat seindah ini. Aku ketinggalan jaman banget. Benar-benar kurang update gaya hidup. Ya memang aku hanya dirumah saja. Bahkan pulang kuliah aku langsung masuk kamar dan jika bosan live streaming drama korea kesukaanku. Jadi ya wajar saja aku gak pernah tau lifestyle saat ini apa saja. Aku sama sekali tidak mengerti itu.


"Kamu tau gak? Aku ajak kamu ketempat ini tuh sekalian aku mau kasih kamu sesuatu." Ucap Raka


"Sesuatu? apaan?" Tanyaku


"Penasaran? Tapi tutup mata kamu dulu dong"


Kejutan apa sebenarnya? Kenapa harus tutup mata. Yasudahlah aku turuti kemauannya. Aku menutup mataku. Lama juga aku menutup mata, tapi belum ada tanda-tanda agar aku membuka mataku. Atau jangan-jangan dia kabur ninggalin aku disini. Ya tuhan jika itu terjadi aku benar-benar bingung harus bagaimana aku ke kampus dan pulang kerumahku.

__ADS_1


Aku merasakan sesuatu menyentuh tanganku. Apa ini? suaranya kaya plastik? lalu tangan kananku seperti dipegang oleh Raka. Ya tuhan apa ini? Awas saja jika dia mengerjaiku. Aku akan jahili balik dia.


"Sekarang kamu boleh buka mata kamu" Ucapnya


What? Ini? Aku benar-benar terkejut. Tidak menyangka kalau Raka lakuin ini semua. Aku benar-benar ingin meneteskan air mata. karena tak menyangka Raka lakuin ini. Ada sebuah love mengelilingi tempat kami berdiri saat ini. Dan diujung sana aku lihat ada tempat yang dibuat seromantis mungkin untuk kami berdua. Apa dia akan menyatakan perasaannya? Jika iya aku benar-benar tak akan menolaknya. Aku benar-benar terharu tak bisa berbicara apapun saat ini.


"Raka, ini maksud kamu apa dengan semua ini?" Tanyaku menahan air mata haru.


Raka tersenyum sambil memegang tanganku. Ia menatapku serius. Jujur aku dibuatnya tak mampu berkata-kata. Benar-benar bungkam seribu bahasa aku sekarang ini.


"Del, kamu tau? Aku suka sama kamu, maukah kamu jadi pacarku? Aku benar-benar sayang sama kamu."


Mimpikah aku? Dia benar-benar menyatakannya? Apa yang harus aku perbuat? Aku tak menyangka ini akan terjadi. Tak terpikir bahwa Raka akan secepat ini menyatakan perasaannya. Perasaanku antara senang, terharu, dan tak menyangka. Benar-benar aku merasa beruntung seorang wanita sepertiku.


"Raka, Are you sure? You love me?" Ucapku tak percaya.


" Yes, Iam sure, i love you Adelia, apa kamu mau jadi pacarku?"


Aku hanya mengangguk, tanda iya aku mau jadi pacarnya. Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Jujur dari tadi aku menahan air mataku agar tidak menetes. Ini semua benar-benar sangat romantis. Aku tak menyangka seberuntung ini. Ya tuhan mimpi apa aku semalam bisa seperti ini, mendapatkan kejutan seindah ini.


Rakapun menggandeng tanganku kesebuah meja makan yang sudah ia siapkan. disana sudah ada berbagai hidangan. Tak lupa dilengkapi hiasan cantik seperti lilin yang di dekorasi sedemikian rupa agar terlihat nuansa romantisnya. Ya begitu sangat indah. Perempuan manapun pasti akan benar-benar merasa bahagia mendapatkan sebuah kejutan seperti ini. Terbayangpun tidak pernah mendapat sesuatu seperti ini. Indah dan tak bisa ku ungkapkan dengan kata-kata.


"Ayoo makan del, jangan melamun gitu dong sayang" Ucapnya tersenyum.


Aku membalas senyumnya. Tapi jujur aku masih terharu dengan apa yang ia lakukan. Dengan apa yang aku alami saat ini. Akhirnya aku menikmati makanku hari ini bersamanya. Sebuah kejutan yang tak pernah kulupa sampai kapanpun. Dan akan selalu ku ingat selamanya.

__ADS_1


__ADS_2