Embuh Lah

Embuh Lah
Bab 10


__ADS_3

Liam nyaris tersungkur, namun beruntung keseimbangan tubuhnya stabil maka tidak menjadikannya terjatuh. Semasih dalam posisi itu, tampak sang ibu berada didalam ruang kamarnya sedang asyik mainan ponsel sembari rebahan.


Liam dapat melihatnya lantaran pintu kamar tidak tertutup, serta posisi kamar orangtua memang terletak tidak jauh dari arah dapur.


Sejenak Liam terdiam melihat sang ibu, dalam benaknya berpikir ada ibu dalam posisi tidak beraktifitas kenapa harus dirinya yang disuruh mengerjakan pekerjaan memasak oleh ayahnya? Namun … tidak begitu Liam pikirkan lantaran semua itu sudah menjadi kebiasaan.


***


Usai berbenah mengganti seragam sekolah yang masih melekat ditubuhnya, lantas dilanjutkan langsung olehnya mengerjakan seluruh pekerjaan rumah.


Pekerjaan yang dilakukan oleh Liam sebagian besar adalah pekerjaan wanita seperti memasak, menyapu, cuci piring, cuci baju dan semacamnya. Namun tidak hanya itu saja, melainkan pekerjaan berat lelaki juga dia lakukan seperti mencari kayu bakar di ladang maupun mencari rumput untuk beberapa ternak yang di pelihara jenis domba.


Usai melakukan pekerjaan memasak, lantas dilanjutkannya hendak mencuci pakaian di sungai belakang rumahnya yang berjarak kurang lebih 100 meter. Ia mencuci tidak hanya pakaian dirinya saja melainkan pakaian dari seluruh anggota keluarga termasuk adiknya.


Ya, semua pekerjaan itu dibebankan kepadanya sedari ia berusia 7 tahun. Miris memanglah miris namun itulah fakta yang terjadi padanya. Tiada kalimat baginya untuk menjawab "Saya kerjakan nanti" Apabila kalimat tersebut ia utarakan, maka konsekuensi yang pasti dia dapatkan adalah siksaan fisik oleh Ayah-nya.


Selesai mencuci pakaian di sungai, kini ia duduk termenung dibawah pohon jenis beringin berukuran besar yang berada tepat di pinggir sungai itu. Disanalah tempat dia duduk menyendiri untuk meredamkan suasana hati yang bimbang kala usai dianiaya oleh orangtuanya.


Dilain hari biasanya Vernan menemaninya duduk disana, namun berubung hari ini Vernan tidak pulang dari asrama, maka ia hanya melamun seorang diri. Semilir angin senja yang berhembus ringan membuainya kalut dalam lamunan akan masa depannya yang suram hingga tak terasa matahari kian tenggelam. Lantas segera ia hengkang dari sana sebelum siksaan dari orangtuanya kembali menerpanya.


***


Disaat Liam pulang dari sekolah tadi, waktu sudah masuk dalam kategori senja, maka pekerjaan yang sudah dia kerjakan hanya sebagiannya saja belum keseluruhannya. Lantas akan dilanjutkan lagi olehnya pada malam hari.


Meskipun Liam memiliki tugas berat seperti demikian, namun tak membuatnya bodoh dalam pendidikan lantaran semasih dia mengerjakan pekerjaan rumah ia selalu membawa serta buku pelajaran.


Akan tetapi khusus untuk hari ini, dia tidak bisa sembari memegang buku lantaran pulang sekolah tadi sudah terlampau sore, hingga tidak ada waktu baginya memegang buku, bahkan tugas sekolah jua lekas terlupakan olehnya.


Hingga waktu sudah larut malam, pekerjaan telah selesai dia lakukan, niat hati hendak mengerjakan tugas sekolah tapi apalah daya tubuh sangatlah lelah lantas ia pun ketiduran.

__ADS_1


***


Pagi hari pun tiba, sebelum matahari menampakan diri, Liam sudah bangun lekas melaksanakan kewajibannya sebagai anak yang berbakti.


Alih-alih menjadi seorang anak yang berbakti mengerjakan pekerjaan tersebut, tiada sangka penilaian kedua orangtuanya tidaklah demikian, melainkan Liam hanya sebatas anak pungut bagi mereka. Maka, kasih sayang merekapun tidak ada untuknya.


Liam tidak mengetahui tentang asal-usul dirinya, karena Zio dan Vina bungkam tentang hal tersebut sedari Liam masih balita.


Akan tetapi Liam sudah mengetahui tentang kasih sayang orangtuanya yang diberikan kepadanya sangatlah berbeda dengan adiknya. Oleh karena itulah antusias diri untuk mendapatkan kasih sayang mereka dengan menuruti segala apapun perintah mereka (Orangtua) sembari berharap akan mendapatkan kasih sanyang tulus sebagaimana mestinya.


Meski demikian, dibalik alih-alih harapan Liam tersebut, ia memang tipikal orang yang tulus maka tidak harus disuruh berulangkali pun tetap akan dia kerjakan dengan setulus hati.


***


Setelah semua pekerjaan rumah usai ia lakukan, lantas dilanjutkannya berbenah diri hendak kembali menimba ilmu ke sekolah. Zio sudah pergi bekerja sedari subuh sementara Vina jua menyusul pergi.


Saat ini menempati pukul 06:45 am.


Liam tampak semakin gugup lantaran jarak tempuh ke sekolahannya cukup jauh dan jua kendala angkutan yang tidak pasti melintas. Maka, segera ia buru-buru menata peralatan sekolahnya kedalam tas hingga membuat buku pelajaran yang terdapat tugas sekolah tidak serta ia masukkan (tertinggal)


Selesai berbenah nan sudah rapi berseragam sekolah lantas segera memijakkan kaki keluar rumah hendak menuju kepinggir jalan untuk menunggu angkutan pedesaan.


Didalam daerah pedesaan yang Liam tinggali saat ini tidak sepi dan tidak jua ramai, namun .. untuk fasilitas transportasi darat tidak mempumpuni lantaran daerah tersebut kurang diperhatikan oleh pemerintah setempat.


Maka membuat Liam berdiri dipinggir jalan menanti angkutan pedesaan yang sangatlah lama. Adapun bus yang lewat, tetapi bukanlah bus transportasi umum layaknya di ibu kota melainkan bus pariwisata antar propinsi saja dan jua truk besar pengangkut barang industri.


Tidak selang waktu lama, ada angkutan pedesaan yang melintas lantas Liam segera menaikinya walau berdesakan dengan penumpang lain. Yakni, para penumpang yang hendak berjualan di pasar maupun berbagai macam tujuan mereka.


Didaerah tersebut tidak ada pasar yang mutlak buka setiap harinya melainkan hanya ada pada hari-hari tertentu saja dari desa satu dan desa berikutnya maka tidak heran bila Liam berdesakan dengan para warga sebab tepat hari ini adalah hari pasar yang berlokasi satu jalur dengan arah ke sekolahannya.

__ADS_1


***


Beberapa menit kemudian, gerbang sekolah nyaris ditutup oleh petugas sekolah namun tampak ada siswa yang menghalang-halangi petugas tersebut yang tak lain ialah sahabatnya (Vernan)


Setelah melihat Liam turun dari angkutan umum tersebut lantas Vernan berlari mendekatnya serta meraih langsung tangan Liam kemudian ditariknya menuju ke lingkungan sekolah.


"Oi Laza .. ! Alamak, macam mana pula loe baru datang jam segini, ayo buruan!"


Seet!


"Aih, Ver .. apa yang kamu lakukan, Ver." Gumam Liam semasih tangan di tarik kuat oleh sang sahabat.


"Diam, kuy kita masuk" jawabnya lantas melirik ke arah petugas sekolah dalam senyuman khas semasih mereka berjalan tepat di pintu gerbang.


"Permisi pak .. hehe" Celetuknya tampak mengejek petugas tersebut. Sontak membuat petugas itu menggelengkan kepala melihat kelakuan Vernan. Karenanya sedari tadi ia berseteru dengannya atas permintaan Vernan supaya gerbang sekolah tersebut jangan dulu di tutup.


"Za, tumben amat loe datang terlambat. Untung saja kawan loe ini superman" Celetuk Vernan semasih mereka berjalan bersama menuju ruang kelas.


"Superman?" Jawab Liam singkat tampak bodoh seraya mengangkat satu alisnya.


"Iyalah andai tadi sahabat loe ini tidak mengeluarkan jurus andalan, sudah tak bisa lagi loe masuk kedalam sini" Jawabnya sok Cool.


"Cih, begitukah?" Ejek Liam.


"Heleh .. Bilang kek terimakasih atau apa kek gitu? Contoh begini nih 'wahai sahabatku yang tampan dan berhati dermawan .. karena perjuangan engkau yang sangat mulia, kini aku dapat masuk kedalam sekolah tercinta ini ..' " Celoteh Vernan seraya meletakkan telapak tangan pada dadanya sendiri.


"Cih, konyol" Jawab Liam singkat seraya menggelengkan kepala melihat betapa konyol sahabatnya tersebut lantas melangkah lebih dulu meninggalkan Vernan semasih Vernan dalam posisi itu.


"Hoih kunyuk malah pergi gitu aja, Hoih Laza! Tungguin gua!"

__ADS_1


__ADS_2