Embuh Lah

Embuh Lah
Bab 9


__ADS_3

Miris memanglah miris, tetapi itulah fakta yang terjadi kepadanya. Namun, ia samasekali tidak menangis apabila tubuh dihantam berbagai macam benda rumpul oleh ayahnya, ia hanya merintih tanpa bersuara.


Penganiayaan yang terjadi padanya berlarut-larut, namun samasekali tidak diketahui oleh para tetangga, karenanya Zio melakukannya didalam rumah maupun pada area belakang rumah saat suasana sepi.


***


Kini Liam sudah tumbuh menjadi pemuda remaja berusia 17 tahun, menempuh pendidikan pada sekolah menengah atas masih mendapat bantuan biaya dari pak Zared.


Ia tumbuh besar bersama adik berbeda satu tahun usia darinya. Maka mereka pun sekolah bersama-sama, namun sungguh hal yang sangat menggelitik jiwa karenanya sang adik sangatlah membenci dirinya.


Lokasi tempatnya menimba ilmu berjarak kurang lebih 5 Km dari kediamannya maka kini ia tinggal didalam asrama sekolah bersama adik-nya. Tetapi meski mereka tinggal didalam asrama yang sama, mereka tidak satu ruang kamar, melainkan berbeda ruang kamar.


Ia satu kamar dengan sahabatnya bernama Vernan, yakni anak dari tetangga rumah yang hanya berjarak tiga rumah dari deretan rumahnya yaitu anak-nya pak Anan. Semua terjadi bukan tidak ada 'Karena' melainkan sang Adik memang sangat membenci dirinya setara dengan Ayah-nya, jangankan satu kamar dengannya menatap wajahnya saja menumbuhkan murka kebencian yang tiada tara.


***


Teruntuk kronologi Liam, dia tumbuh menjadi seorang pemuda yang sangat tampan. Ya, dibilang sangat tampan apabila dibandingkan dengan pemuda desa pada daerah sana.


Paras tampan yang dimilikinya setara dengan bibit dan bobot aslinya yang berkualitas tinggi, yakni anak dari Kenneth Stefanus Sulistio. Dia berwatak pendiam dan sangat dingin. Bahkan sifat pendiam yang dimilikinya tersebut sering disebut bisu oleh Ayah-nya lantaran setiap kali dia ditanya oleh ayah-nya tentang apapun dia hanya mengangguk maupun menjawab "Iya" saja.


Meski masih usia remaja, dia memiliki Paras yang sangat tampan terbilang sangat sempurna. Yakni berciri-ciri badan tinggi, dada bidang, berjenis kulit bersih, lisung pipit di kedua belah pipi, gigi gingsul yang membuatnya tampak menawan, serta bibir tipis nan mata tajam.


Sempurna akan fisik yang dimilikinya lengkap dengan prestasi tinggi yang diraihnya dalam pendidikan. Ya, dia satu-satunya siswa yang berprestasi tinggi didalam kelasnya hingga membuat banyak siswi mengaguminya.


Akan tetapi, banyaknya para siswi yang mengaguminya tidak ada satupun yang bisa memenangkan hatinya lantaran dinginnya sikap dia terhadap semua siswa maupun siswi. Maka sebagian banyak menilai bahwa dirinya angkuh walau sesungguhnya tidaklah demikian.


Satu-satunya orang terdekat dengan Liam hanyalah Vernan seorang dan dia adalah Sahabat terbaik Liam. Baik disekolah maupun di rumah, hanya Vernan-lah yang bisa mengajak Liam berbincang nan mengerti akan semua yang ada didalam diri Liam.

__ADS_1


Teruntuk Sifat Vernan kebalikan dari sifat Liam. Yakni dia pemuda yang periang, hangat dan sangat ramah lengkap dengan keusilannya yang selalu saja menggoda Liam yang bersifat pendiam tersebut. Namun, beginilah kehidupan orang yang bersahabat tetap lekat meskipun berbeda sifat.


***


Liam kini dikenal dengan nama Lazarus atau biasa dipanggil Laza, kala sedang tidak ada kegiatan lebih disekolah, ia selalu pulang kerumahnya lantaran perintah dari ayah dan ibunya, hingga tiada waktu baginya untuk menikmati indahnya masa-masa remaja.


Layaknya seperti hari ini ia suruh pulang oleh ayah dan ibunya untuk mengerjakan pekerjaan rumah seperti biasa, karenanya segala pekerjaan rumah memang dibebankan kepadanya sedari ia masih balita.


"Za, Haga dipa? Arah ke asrama kan di sana, kenapa kau malah ke arah sono?" Tanya Vernan Kala mereka keluar dari ruang kelas saat pelajaran sudah selesai, seraya menelunjuk ke arah yang dimaksud.


"Aku pulang ke rumah dulu Ver," Jawab Liam singkat.


"Oh, yasudah. Tapi .. lihatlah awan terlihat sangat gelap, kehujanan pula kau nanti. Apa .. sebaiknya nanti saja kau pulangnya, angkutan juga penuh jam segini, Za."


Namun, kalimat Vernan hanya di balas senyum oleh Liam disusul menepuk lembut pundak dia sebelum akhirnya ia melangkah pergi.


"Heleh .. bukannya di jawab malah senyum dan pergi saja tu bocah." Gumam Vernan seraya garuk-garuk kepala. Namun karena sudah sangat paham akan sifat Liam, maka ia hanya menggelengkan kepala sebelum akhirnya beranjak menuju ke asrama.


***


Sesampainya disana hujan turun sangat lebat, serta kilat petir disusul gemuruh guntur sangat menggelegar. Liam meneduh disana bersama beberapa siswa dan siswi sesama hendak menuju pulang nan menunggu angkutan.


Sifat dia yang sangat pendiam cenderung dingin maka tidak ada yang berani mengajaknya berbincang semasih menunggu hujan mereda. Adapun para sisiwi hanya saling berbisik bersama teman sesama siswi lainnya atas kagum akan paras tampan yang Liam miliki tersebut.


Hingga dua jam lamanya hujan akhirnya mereda, namun masih terdapat rintikan air dalam Volume sedang, angkutan pedesaan pun datang lekas Liam masuk jua kedalam kendaraan meskipun berhimpitan dengan banyaknya siswa dan sisiwi sesama hendak pulang.


Waktu kini menunjukkan pukul 14:55 Pm. Mobil angkutan yang ditumpangi oleh Liam telah sampai di pinggir jalan tak jauh dari rumahnya, lekas ia turun dari kendaraan tersebut seraya mencari uang di beberapa sakunya.

__ADS_1


"Hoi, lama nian kau bayar, cepat lah sikit, rugi waktu pula aku ni, oi." Ucap sang sopir tidak sabar.


Liam tidak menjawabnya lantaran sedang fokus mencari uang dalam saku celananya. Namun, ia lekas terdiam karenanya teringat bahwa hari ini ia hanya membawa uang saku pas-pasan untuk biaya angkutan sewaktu berangkat tadi pagi.


"Em .. maaf bang," Ucapnya lirih tampak bimbang dan sungkan.


"Aeh, yasudahlah besok saja kau bayar double. Rugi pula waktu saya menunggu kau bayar!" Pungkas sang sopir dalam suara lantang sebelum akhirnya kembali memacu kendaraannya tampak kesal.


Liam menyadari akan kesalahannya, namun mau bagaimana lagi karena ia benar-benar sedang tidak ada uang. Setelah mobil itu pergi, Liam lanjut memijakkan kaki menuju ke rumahnya.


Ia tidak memiliki telephone genggam maupun jam tangan, maka ia tidak mengetahui pukul berapakah saat ini. Yang mana seharusnya waktu pulang dari sekolah sedari beberapa jam yang lalu.


Baru saja ia masuk kedalam rumahnya lantas disambut langsung oleh sang ayah yang sedang duduk di ruang tamu seraya meminum secangkir kopi.


"Darimana saja kau?" Tanya-nya lekas berdiri dari tempat semula ia duduk sebelum akhirnya melangkah mendekat Liam. Namun tiba-tiba saja Zio mengayunkan tangannya di pipi Liam.


Plak! Plak!


Liam memejamkan mata sewaktu tamparan tersebut mendarat di pipinya, sembari menjawab dalam suara lirih "Maaf Ayah .."


"Maaf, maaf, saya tanya darimana saja Kau anak sampah! Apa kau tak lihat jam berapa sekarang ini hah!" Pekik Zio melotot tajam.


Liam terdiam seribu bahasa namun melirik tajam ke arah ayahnya ketika kalimat 'Anak sampah' Tersebut terucap. Sebab kalimat tersebut selalu saja diucapkan oleh Zio kala dia sedang marah maupun tidak.


"Jangan kau pikir setelah kau besar bisa se'enak jidat kau sendiri pulang kerumah! Hei, Tak usah kau melotot macam itu! Cepat sana kau masak, Lapar saya ni."


Liam masih terdiam seraya tangan masih memegang pipinya sehabis di tampar tadi.

__ADS_1


"Ayo capet kerjakan, kenapa pula kau malah diam saja dasar anak bisu! aehh .. Lama nian kau itu!" Pekik Zio seraya menarik tangan Liam kemudian di dorongnya ke arah dapur.


Seet!


__ADS_2