
Lantas Vina menoleh sejenak ke arah bayi tersebut, niat hati hendak memberikan kembali susu kepada bayi itu. Namun, setelah melihat susu yang diberikannya tersebut sudah mulai basi, maka lekas ia pergi hendak mencari susu lagi pada warung terdekat.
"Hei, mau kemana kau?" Tanya Zio kala Vina baru berpijak hendak keluar rumah.
"Nyari susu sebentar buat bayi itu bang." Jawabnya.
"Apa kau bilang, susu? Aeeh macam mana pula kau itu, Kau pun tau ini hari sudah makin gelap, bukannya cepat bereskan kekacauan rumah binatang ini dulu! Malah bayi itu terus yang kau pikirkan!"
"Cuma sebentar ku cari susu di warung bang. Mati pula bayi itu nanti bila tak di kasih susu lagi." Jawab Vina tampak kesal melihat ekspresi sang suami.
"Aeh, bukannya tadi sudah kau kasih susu. Mau kau kasih lagi dan lagi. Alasan saja kau itu, menghambur-hamburkan uang buat hal yang tak penting!" Pekik Zio tampak emosi.
"Astaga Bang, cem mana pula kau bilang aku alasan. Susu yang ku kasih buat bayi itu sudah basi, Bang. Mati pula nanti bayi itu. Sudahlah, capek aku ngomong sama kau." Pungkas Vina lantas bergegas pergi keluar rumah.
"Hoi! Kau!" Teriak Zio, namun sudah tidak digubris oleh Vina.
***
Beberapa waktu kemudian, matahari kian mulai tenggelam Vina kembali pulang usai mendapatkan barang yang ia belanjakan di warung, yakni susu sahset beserta lampu, sebabnya rumah yang hendak mereka tinggali tidak memiliki lampu.
Lantas Zio segera memasang lampu tersebut sebelum akhirnya mereka saling membersihkan diri. Usai berbenah, Zio terus-menerus mengutarakan rasa kesalnya melalui lisan atas rasa tidak suka-nya ia tinggal didalam rumah itu. Vina kian ambil bicara sebabnya telinga terasa penging setiap kali Zio mengutarakan rasa kesalnya.
"Aih sudahlah bang, jangan kau cakap terus. Penging nian kupingku. Bila kau ingin rumah yang berdinding matrial bata, maka kau kerjalah yang benar, kelak kita ganti dinding ini sesuai yang kau inginkan." Celetuk Vina sembari menimang-nimang bayi tersebut.
"Banyak pula mulut kau cakap. Ah sudahlah, pedom pai." Pungkas Zio beranjak tidur, lantas akhirnya Vina jua menyusul.
***
__ADS_1
Pagi hari pun tiba, mereka berdua bangun sejak masih petang karenanya hari ini ialah hari pertama mereka tinggal di sana sekaligus hari ini mereka jua sudah langsung bekerja dirumah pak Zared.
Teruntuk Zio sudah lebih dulu berangkat sejak pukul 07:15 am. Sebab hari sebelumnya segala pekerjaan yang diperbincangkan dengan Pak Zared sudah disepakati untuk Zio bekerja menjadi sopir. Namun tidak hanya menjadi sopir saja melainkan segala pekerjaan yang pak Zared perintahkan kian dikerjakan oleh Zio (serba bisa)
Sementara Vina menyusul kerumah pak Zared hendak bekerja jua setelah satu jam kemudian yakni pukul 08:15 am.
Sesampainya disana disambut langsung oleh istri pak Zared (Danica) "Apa kamu sudah bisa bekerja pasca melahirkan kak?" Tanya-nya seraya melihat seluruh fisik Vina lantaran melihat bayi yang sedang di gendong oleh Vina tampak satu usia dengan anaknya.
Vina hanya mengangguk saja nan tidak ingin memperpanjang percakapan tentang itu, lekas ia memulai aktifitasnya berawal dari menyetrika.
"Wah .. Bayi kamu tampak sikep nian kak, siapa nama dia?" Tanya Danica melihat bayi Vina yang di letakkan pada kasur tak jauh darinya semasih Danica menggendong bayinya sendiri.
"Nama dia Lazarus Bu." Jawab Vina singkat.
"Laza .. Nama yang sangat indah, lihatlah Nak kelak dia akan menjadi sahabatmu" Ucap Danica berbicara sendiri dengan bayinya.
"Nama anak saya Geovano, kak." Jawabnya memungkas percakapan sebelum akhirnya pergi dari ruang sana untuk melakukan aktifitas lain.
***
Next
Satu tahun kemudian, Vina mengandung dan berhasil melahirkan satu anak laki-laki melalui operasi caesar diberikan nama Azev.
Semasih Vina mengandung Azev, Impian Zio kian dia wujudkan yakni berhasil merenovasi rumah itu. Namun setelah Vina melahirkan melalui operasi caesar, maka membuat mereka memiliki sejumlah hutang yang cukup besar untuk membiyayainya. Alhasil Zio kini bekerja serabutan di luar kerja dari tempat pak Zared sebabnya Vina jua cuti bekerja pasca bersalin.
Semenjak Vina memiliki bayinya sendiri, sikap yang semula sayang terhadap bayi yang dia temukan itu (Liam) kini berubah menjadi acuh cenderung benci, terlebih lagi sikap Zio yang tidak pernah menyukai bayi tersebut.
__ADS_1
Semasih Liam berusia kurang lebih 1 hingga 2 tahun adalah masa-masa dimana karakter anak kian tumbuh berkembang, namun sungguh anak yang berbeda dalam diri karakter Liam, ia tidak rewel maupun nakal seperti anak-anak pada umumnya.
Namun semua itu tidak merubah pola pikir Vina maupun Zio untuk bersyukur memiliki anak yang tidak rewel samasekali sejak mereka menemukannya, bahkan mereka selalu membedakan antara anaknya sendiri dengan Liam.
Membedakan antara Azev dan Liam Semasih usia kurang lebih 8 tahunan, yakni bila mereka membelikan mainan untuk Azev maka mereka tidak jua membelikan mainan untuk Liam. begitupun dengan segala hal antara lain makanan, pakaian aksesoris dan lain sebagainya.
Sifat dan karakter Azev pun sama seperti Zio yakni keras kepala nan tidak ingin kalah. Maka setiap kali barang apapun miliknya tidak disengaja tersentuh oleh Liam, maka menumbuhkan pertengkaran. Azev selalu mencaci makinya, apabila Azev sedang memaki Liam lantas disaksikan oleh Zio maupun Vina lekas Liam dianiaya oleh Zio serta di caci maki jua oleh Vina.
Bagaikan mental sekuat baja yang dimiliki oleh Liam, meskipun cacian serta penganiayaan kian bertubi-tubi menerjangnya, ia masih kokoh dan tidak merubah karakter aslinya yang lembut, penurut dan pendiam serta tidak menjadikannya seperti bocah ling-lung.
***
Liam kini bernama Lazarus atau biasa di sapa Laza. Sedari sekolah dasar mendapat bantuan biaya sekolah dari pak Zared. Semasih ia duduk di sekolah dasar seringkali ia mengantarkan keperluan kepada sang ibu (Vina) semasih Vina bekerja di rumah pak Zared, maka ia pun sering berjumpa dengan anak tunggal pak Zared yang bernama Geovano biasa di sapa Vano.
Vano seringkali mengajak Liam untuk bermain kala Liam datang kerumahnya, namun Liam sudah diancam oleh Vina maupun Zio untuk tidak bermain maka membuatnya hanya sebentar di rumah Pak Zared.
Hingga membuat Vano sering kesal lantaran dirinya memang berwatak keras, sombong dan nakal serta egois. Dia tidak bisa mengerti tentang keadaan terlebih lagi dengan karakter Liam yang pendiam hingga membuatnya kian benci terhadap Liam akibat salah tanggap.
Liam sedari usia dini memang berwatak pendiam, ia tidak banyak bermain karenanya tidak diizinkan oleh kedua orangtuanya dan jua memang murni dari dirinya sendiri yang tidak menyukai keramaian ataupun pergaulan seperti anak pada umumnya.
Dia memang anak laki-laki, namun dia disuruh oleh kedua orangtuanya melakukan segala pekerjaan seperti wanita yakni Sepulang sekolah hingga malam hari tiba, waktu yang dimilikinya hanya untuk mengurus pekerjaan rumahtangga seperti memasak, mencuci, bersih-bersih dan lain sebagainya.
Apabila ada satu saja pekerjaan yang terlewatkan olehnya maka toleransi yang siap diterimanya ialah penganiayaan yang dilakukan oleh ayahnya.
Catatan
Saya menggunakan bahasa dari daerah lampung bercampur melayu.
__ADS_1