
Pak Zared masuk dalam kategori orang terpandang sekaligus orang yang pandai, maka .. dia sudah bisa menyimpulkan meski samasekali tidak ia utarakan bahwa kedua tamu yang ada dihadapannya tersebut penuh misteri.
Namun dia orang cukup bijak, maka ia hanya tersenyum nan memaklumi setiap untaian kata yang terucap oleh Zio.
Semasih berbincang, seringkali pak Zared memperhatikan bentuk fisik dari keduanya tampak masih sangat muda, lantas tumbuhlah rasa iba pada mereka untuk memberikan rumah sewa tanpa di pungut biaya.
Meski demikian, tetap ada sebuah syarat dibalik semua itu yakni dengan cara mempekerjakan keduanya. Zio hendak menjadi pekerja serba bisa, sementara Vina jua kerja menjadi asisten rumahtangga di rumahnya. Tentu saja, baik Zio maupun Vina sangatlah senang atas tawaran tersebut.
Setelah perbincangan usai serta mereka sudah saling sepakat, Zio dan Vina berpamitan lantaran hari sudah semakin senja.
Lantas Pak Zared memberikan kunci rumah sekaligus menyuruh seorang pekerjanya untuk mengantarkan mereka ke rumah yang hendak mereka tinggali.
"Sekali lagi terimakasih pak, kami pamit dulu" Ucap Zio.
"Sama-sama Dik, silahkan" Pungkas Pak Zared di iringi senyum penuh keramahan.
Mereka berdua hengkang dari sana dengan berjalan kaki bersama salahsatu pekerja pak Zared biasa di panggil Pak Moza menuju rumahnya yang berjarak kurang lebih 1 Km dari lokasi kediaman pak Zared.
***
Setelah menjelang sampai pada lokasi rumah yang hendak mereka tinggali berjarak kurang lebih 100 Meter, Pak Moza berpamitan tidak bisa mengantarkannya tepat di rumah tersebut lantaran dirinya memiliki urusan lain.
"Pak, maaf saya tidak bisa mengantar anda dan istri anda tepat didepan rumah itu, karena kebetulan saya memiliki urusan lain di jam ini. Bapak dan istri berjalan saja ke arah sana, lalu dibalik pohon besar itu ke arah belakang sedikit, ada rumah yang posisinya paling pinggir disana adalah rumah yang akan bapak tinggali." Ucap Pak Moza.
"Baik Pak, kami paham. Terimakasih pak" pungkas Vina tersenyum sembari menerima konci yang pak Moza berikan tersebut.
Setelah pak Moza pergi, lantas dilanjutknlah langkah mereka menuju arah sesuai arahan pak Moza tersebut. Lantas tiba saatnya mereka tepat di tempat yang di maksud, tampaklah sebuah rumah kecil yang masih terbuat dari anyaman bambu khas rumah jaman dulu.
__ADS_1
Zio tertegun kala melihat kondisi rumah itu tampak banyak yang sedang di pikirkannya lantas lamunannya tercabik, kala ada tetangga yang menghampirinya.
"Loh, adik berdua ini .. yang mau tinggal di rumah sini ya?" Sapa tetangga tersebut yang tak lain ialah pak Anan sembari menelunjuk rumah yang dimaksud.
"Eh .. pak, Benar pak, tapi .. maaf apa benar rumah ini milik pak Zared ya?" Tanya kembali Vina tersenyum tanda sapa kembali berjumpa dengan pak Anan.
"Kalau rumah milik pak Zared yang berada disini hanya rumah ini Dik." Jawab pak Anan.
"Oh baiklah terimakasih pak. Oh iya, bapak ini .." Sambung Zio belum usai berbincang lantas perhatian tertuju ke arah lain kala ada seorang perempuan menghampiri mereka sembari menggendong bayi yang tak lain istri pak Anan bernama Zara.
Lantas Zara mengulurkan tangan hendak berjabat dan berkenalan.
"Ini istri saya Dik, dan .. itu rumah kami." Ucap Pak Anan seraya menelunjuk ke arah rumahnya yang hanya berjarak 3 rumah dari deretan rumah yang hendak Zio dan Vina tinggali.
"Wah, jadi tetangga kita mereka ya pak." Sambung Bu Zara lantas tersenyumlah ia disusul senyum oleh Zio dan Vina.
"Oh iya .. itu, anaknya sudah berusia berapa Dik, keliatannya masih sangat kecil seperti anak saya ini" Lanjut Zara mendekat ke arah bayi milik Vina seraya dia menimang bayi-nya sendiri.
"Owalah .. laki-laki atau perempuan, Dik?" Lanjut Bu Zara.
"Laki-laki bu." Jawab Vina singkat semakin tampak risau.
"Duh tampan sekali anak kamu Dik, du .. du .. du .. Tuh Nak, lihatlah kelak dia akan menjadi sahabatmu." Lanjut Bu Zara sembari menimang-nimang bayinya sendiri. Sementara Zio dan Vina hanya senyum menyetarakan keramahan dari tetangga mereka ini.
"Oh iya, siapa nama Anak-nya Dik?" Tanya Bu Zara.
Lantas membuat Vina gugup kala mendengar pertanyaan tersebut lantaran dirinya belum terpikirkan untuk memberikan nama kepada bayi itu. Lantas akhirnya dijawablah oleh Zio. "Namanya Lazarus bu"
__ADS_1
Sontak Vina tersenyum kala dang suami mengucapkan kalimat tersebut tak ayal membuat Pak Anan dan bu Zara jua tersenyum "Wah, sungguh nama yang indah Lazarus yang berarti 'Allah akan menolong' semoga Tuhan selalu menyertaimu Nak." Sambung Bu Zara seraya mengusap lembut kening bayi tersebut.
Sementara Zio sendiri tampak menyesal sebabnya ia tidak disengaja tiba-tiba mulutnya memberikan nama kepada bayi tersebut. Namun apalah daya demi tiada timbul kecurigaan pada hari pertama mereka tinggal disana akhirnya Zio memilih untuk bungkam nan berpolah seolah-olah bayi itu benar-benar anak mereka.
"Oh iya bu, lalu .. siapa nama anak ibu ini ..?" Tanya balik Vina seraya menyempil hidung mungil dari anak bu Zara.
"Nama anak saya Vernan, Dik."
"Wah, bayi yang sangat imut dan Lucu ya bu .." Basa-basi Vina membumbui suasana perbincangan yang masih berlangsung ini hingga tiba saatnya mereka saling berpisah lantaran hari sudah semakin senja.
"Baiklah, kami akan beristirahat dulu bu."
"Iya Dik, walah .. kita malah larut ngobrol terus hehe sampai lupa kalian pasti lelah. Mari silahkan, silahkan" Pungkas Bu Zara tersenyum hangat tampak tidak enak pada mereka.
***
Sesudah berpisah lantas masuklah mereka berdua kedalam rumah tersebut. Didalamnya tampak sangat kotor dan berdebu serta terdapat banyak sarang laba-laba pada langit-langit rumah lantaran sudah lama tidak dihuni.
"Aih, tak pantas pula ini disebut sebagai rumah. Apa-apaan lah sanak itu penghinaan nian!" Gumam Zio usai meletakkan beberapa barang di kursi yang berdebu seraya menatap keseluruh penjuru ruang.
"Asudahlah Bang, tak usah lah kau banyak cakap. Masih untung tidak tidur dijalanan kita. Ini pun gratis kita tinggal." Jawab Vina seraya meletakkan bayi itu pada kursi lantas dilanjutkannya berbenah.
"Wei bang, bantulah aku bereskan ini .. jangan kau diam saja lah bang. Sudah semakin gelap ini" Celetuk Vina kala melihat Zio masih diam saja tampak asam pada ekspresi wajahnya.
Walau berat hati lantas akhirnya Zio terpaksa ikut serta berbenah rumah itu.
"Eh bang, bayi itu hebat nian ya bang tidak rewel, dia nangis saat dia lapar saja." Vina mengajak berbincang merasa kagum kepada bayi yang ditemukannya tersebut semasih mereka berbenah.
__ADS_1
"Aih, sudah tak usah banyak cakap kau! Cepat bereskan ini sebelum gelap!" Pekik Zio tidak ingin membicarakan bayi itu.
"Heleh, ini pun sedang ku dikerjakan bang." Lirik Vina tampak kesal perbincangannya tidak di respon oleh sang suami.