
...5 tahun kemudian...
Eriena membuka matanya. Kini sudah pagi namun dia tidak ingin bangun dari katilnya. Rasanya seperti mimpi.
Tanpa sedar sudah hampir lima tahun berlalu sejak pertama kali aku bereinkarnasi. Aku sangat bahagia.
Aku hidup dengan nyaman dikehidupan baruku ini. Tiada orang munafik, tidak perlu berpura-pura, tidak perlu menjaga tingkah laku ku. Aku bebas menjadi diriku yang sebenarnya.
Tiada lagi akan memarahiku untuk kesalahan yang aku lakukan. Hanya ada peneguran lembut. Tidak ada penyiksaan hanya ada kasih sayang.
'Di kanan ada ibu di kiriku ada ayah. Aku tidak ingin saat ini berakhir'. Eriena menarik kedua ibu bapanya agar lebih mendekat dan memeluknya.
Alex yang sudah bangun melihat tingkah manja putrinya. Dia tersenyum dia tahu istrinya juga sudah bangun. Dia memeluk mereka berdua erat membuatkan jarak mereka tambah dekat.
Reviana yang terkejut membuka matanya lebar. Sementara Eriena yang berada di tengah-tengah terhuyang-hayang apabila Alex memeluk mereka dan menggoyang-goyang tubuh mereka.
"Sayang berhenti! Mengapa kau menggoyangkan tubuh kami?" tanya Reviana sedikit marah. Dia mulai pusing apabila digoyang tanpa henti oleh Alex.
Alex akhirnya berhenti menggoyangkan tubuh mereka sambil tersengih. Dia kemudian mencubit pipi putrinya yang sedang tertawakan ayahnya yang dimarahi ibunya.
"Apa kau suka menertawaiku seperti itu?" tanya Alex sambil mencubit-cubit kedua-dua pipi Eriena.
"Iya, sangat lucu melihat ayah dimarahi ibu" kata Eriena sambil tersengih lebar.
Alex memandang putri manjanya itu. "Setiap kali kau bercakap itu pasti menyakitkan hati. Aku lebih suka saat kau bayi dan tidak bisa bercakap"
Eriena hanya tersengih. Alex benar sejak dia bisa bercakap dia selalu mengusik dan menjahili Alex dengan trik kecil. Tapi tentu saja selepas itu dia akan berlari mencari Reviana agar tidak terkena semburan kemarahan Alex.
"Maka masukkan saja aku kembali ke perut ibu" kataku bersahaja.
Alex sangat geram dengan sifat Eriena. Dia mengangkat Eriena dan menolak-nolak Eriena diperut istrinya sambil berkata "Masuklah kau kembali bocah nakal"
Eriena hanya ketawa geli ditolak Alex ke perut Reviana. Sementara Reviana mulai kesal dengan pasangan anak bapa itu. Dia berkata fengan marah "Hei, berhenti itu mengangguku!"
Dia sangat kesal Alex menolak Eriena diperutnya. Dia tertolak-tolak apabila tubuh Eriena mengenai perutnya. Mereka benar-benar tidak berfikir tentangku yang menjadi mangsa masa romantis bapa dan anak mereka.
Alex dan Eriena yang melihat Reviana marah refleks berpelukan erat. "Ayah, ibu marah" kata Eriena sambil memandang ibunya dengan takut.
"Bertahanlah, ini ujian kita. Kita perlu menghadapinya" kata Alex sambil memeluk putrinya.
"Apa kita akan mati?" tanya Eriena dengan wajah yang dibuat-buat polos olehnya.
"Ayah tidak pasti" kata Alex dengan wajah ragu-ragu.
Reviana dibuat tambah kesal. Dia pun bangun dari katil dengan marah. "Kalian pergi bersihkan diri. Kuhukum kalian berdua membersihkan rumah" Reviana kemudian berjalan pergi.
Alex dan Eriena memandang satu sama lain. Mereka menghela nafas pasrah. Mereka telah silap bermain. Bak kata orang 'pandai buat, pandai tanggung'. Tidak ada yang mereka boleh lakukan jika itu perintah ibu ratu.
......................
Alex dan Eriena sudah selesai mengemas rumah. Ianya sangat melelahkan. Sedar tidak sedar sekarang sudah petang.
Mereka berdua menikmati angin yang bertiup lembut. Berehat selepas melakukan kerja memang menyenangkan.
"Ayah aku ingin berjalan-jalan" kata aku kepada ayah. Aku tidak pernah keluar jauh dari kawasan rumah. Aku sangat penasaran apa ada diluar sana.
Alex tersentak dengan perkataan Eriena. Dia tidak pernah mengizinkan putrinya keluar dari kawasan rumah. Dia tidak sangka putrinya akan meminta untuk keluar. "Untuk apa?"
"Rin ingin keluar dan melihat apa yang ada" kataku sambil memandang ayah dengan wajah super duper dibuat imut.
Aku tidak pernah melihat dunia luar. Walaupun disini sangat selesa, aku juga ingin tahu sekarang sudah zaman apa. Dari cerita-cerita yang aku tonton biasanya akan mengambil masa beratus tahun sebelum bereinkarnasi.
Jika sudah beratus tahun bagaimana rupa dunia saat ini? Pasti akan menarik ditambah lagi aku pernah hidup di abad lalu. Aku jadi bersemangat memikirkan hal ini.
Alex tersenyum "Baiklah mari kita pergi" kata Alex sambil mengambil pakaian luarnya.
Eriena mengerutkan dahinya "Aku ingin pergi sendiri". Aku tidak ingin pergi bersama ayah atau ibu. Mereka pasti akan melarangku.
Ketika mereka tiada, aku bisa bebas melakukan apapun. Walaupun aku bertingkah seperti monyet atau sapi mereka juga tidak akan memarahiku.
Alex tidak menolak "Baiklah tapi pastikan kau kembali kepada kami ya. Jangan berjalan terus"
"Baik ayah" kataku sambil memberi hormat layaknya tentera. Aku dengan cepat berlari ke arah hutan mengabaikan ayah ku. Aku sangat gembira saat ini.
Alex melihat punggung putrinya yang perlahan menjauh. Dia tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya tersenyum dan berbalik masuk ke rumah.
Dia jendela dia melihat istrinya sedang memandangnya. Pandangan mereka bertemu. Sang istri memandangnya dengan sedih. Waktu sangat cepat beelalu. Tidak lama lagi apa yang ditakutkan akan terjadi.
__ADS_1
......................
Eriena melihat keadaan sekelilingnya. Dia memandang sekeliling dengan antusias. Pemandangannya sangat cantik.
Ini sangat menenangkan. Aku menikmati perjalanan indah ku. Setakat ini aku tidak menjumpai rumah atau mana-mana makhluk hidup.
Mungkin kerana aku baru sahaja berjalan beberapa minit dari rumah. Tapi jujur ibu dan ayah pandai memilih tempat membina rumah. Disini sangat tenang dan damai.
Pohon-pohon berbuai tenang, angin bertiup lembut, daun-daun berguguran, bunga berwarna-warni. Sangat sesuai untuk membuat rumah bagi sebuah keluarga.
Eriena sudah berjalan selama tiga puluh minit. "Aku sudah berjalan jauh mengapa aku tidak melihat sebarang makhluk hidup? Bahkan bunyi burung serangga juga tidak kedengaran. Apa yang terjadi?"
Eriena terus berjalan-jalan. Sepanjang jalan dia hanya melihat pemandangan yang sama, pohon-pohon yang besar, daun musim semi, angin lembut.
"Apa ini tiada penghujungnya?" tanyaku kehairanan. "Mungkin aku berada di bahagian dalam hutan kecil ini" kataku menenangkan hati yang mula gelisah.
Tidak lama berjalan, Eriena melihat sebuah gua "Ada gua". Eriena berjalan mendekat ke arah gua itu. Dia tidak sangka ada gua di tempat ini.
Eriena memasuki gua tersebut. Keadaanya sangat sunyi dan gelap. Saat Eriena memasuki gua tersebut dia merasakan sesuatu yang aneh.
"Apa ini? Ianya sangat kuat. Ia terasa seperti sebuah aura yang kuat. Tapi tidak mungkin ada orang yang bisa mengeluarkan aura" gumam Eriena.
Aku yakin ini sebuah aura. Aku merasakannya saat bersama Edward. Tapi itu hanya jika dia bersamaku. Bagaimana aura ini boleh ada jika tiada siapa disini? Apa ada orang lain disini.
Eriena dengan pantas berlari menelusuri gua tersebut. Dia sangat teruja untuk menemui manusia lainnya.
Bagaimana tubuh orang itu agaknya? Apakah dia akan berkepala besar dan berbadan kecil seperti yang diramalkan para saintis? Atau sangat tampan atau cantik bagai bidadari?
Ah... memikirkan semua itu membuatnya semakin teruja. Dia melajukan lariannya ke dalam gua. Dia masuk semakin dalam dan dalam. Dia melihat sebuah cahaya.
Eriena tersenyum lebar dan berlari dengan pantas ke arah cahaya itu. Eriena melihatnya, kini dia sudah sampai di cahaya itu.
Eriena dengan antusias berlari disekeliling tempat itu. Dia tidak menjumpai sebarang tanda-tanda makhluk hidup. Dia tidak melihat walau satupun manusia. Yang kini dilihatnya hanyalah... Eriena tersentak.
Dia tidak memperhatikan sekeliling nya sebelumnya kerana terlalu antusias mencari manusia. Kini dia baru sedar. Dia melongo kaget melihat keadaan sekelilingnya.
"Tempat ini sangat indah" tanpa sedar Eriena bergumam. Dia pergi mendekat ke arah pohon tersebut. Matanya berpusing-pusing melihat keindahan tempat itu.
Ada sebuah pohon ditengah-tengah kawasan tersebut. Pohon itu berwarna putih. Eriena mendekat ke arah pohon tersebut. Dia tersentak, pohon itulah yang mengeluarkan aura yang dirasainya.
"Jadi tiada manusia disini, pohon inilah yang mengeluarkan aura kuat itu. Tapi bagaimana?"
Eriena menyentuh pohon tersebut dengan jarinya. Dia merasakan sebuah cahaya mengalir masuk ke dalam tubuhnya.
Eriena menutup matanya dan mengamati cahaya itu. Dia dapat merasakan dengan jelas cahaya itu. Cahaya itu sangat sulit digambarkan. Ianya memberi tenaga yang sangat kuat.
Ia mengeluar sebuah getaran hebat di setiap helaiannya. Ia seperti helaian angin lembut yang berbentuk di tubuhku
Ia menelusuri setiap inci tubuhku. Aku tersedar. Namun itu sudah terlambat, tanpa cahaya itu sudah masuk ke dalam hatiku.
Eriena memegang dadanya. Dia merasakan sakit di hatinya. Cahaya itu menghancurkan hatiku menjadi kepingan kepingan. Ianya sangat sakit, hatiku kini sudah hancur bentuknya.
"Ahh...sakit" tanpa sedar air mataku mengalir. Aku memegang dadaku.
Aku dapat melihat dengan jelas, cahaya itu berpusing-pusing dan seperti magnet hatiku melekat ke arah cahaya itu. Cahaya itu mengumpulkan serpihan hatiku dan membentuknya menjadi baru.Hatiku berwarna emas.
Kini aku sudah kehilangan tenaga. Cahaya itu menyerap seluruh tenagaku. Aku terbaring ditanah dengan tubuh yang berkeringat.
Walaupun begitu, aku masih dapat melihat cahaya itu. Cahaya itu memasuki hatiku dan mengalir dan menyatu di dalam tubuhku. Tidak lama kemudian aku mulai kehilangan kesedaran.
Sebuah cahaya muncul dari pohon itu. Terlihat sosok seorang pria berjubah hitam. Pria itu mengeluarkan aura gelap yang mematikan.
Pria itu memperhatikan wajah Eriena sebentar. Dia menggendong Eriena. Dalam sekejap mereka menghilang meninggalkan aura hitam disekelilingnya.
......................
Eriena tersedar. Kepalanya sangat sakit. Cahaya terang masuk ke matanya. Semuanya sedikit kabur. "Auch...aku dimana?" kata Eriena refleks memegang kepalanya yang sakit.
Eriena mengedipkan matanya berkali-kali dia dapat melihat semuanya dengan jelas sekarang. Hutan?
"Apa yang terjadi?" tanya Eriena bingung. Dia memejamkan matanya sebentar sambil memegang kepalanya. Dia ingat!
__ADS_1
Dengan cepat Eriena bangun dan melihat sekeliling "Dimana pohon itu? Dimana gua itu? Aku dimana?"
"Mengapa aku berada disini? Apa aku tersesat? Aku tidak berjalan. Apa tadi tanpa sedar aku berjalan semasa cahaya menyakitkan itu masuk ke tubuhku?" Eriena berfikir keras sambil mengerutkan alisnya.
"Sebentar, cahaya itu! Apa cahaya itu? Mengapa ia masuk ke tubuhku" Eriena mendadak cemas dan takut. Bagaimana jika cahaya itu adalah racun. Itu pasti sangat berbahaya.
"Jika itu benar racun, aku harus mencari penawarnya secepat mungkin" Eriena ingin melangjah pergi. Tanpa sengaja dia menginjak sesuatu.
Eriena menunduk ke kakinya. Disana ada sebuah surat. "Surat?". Eriena mengambilnya dan membeleknya.
Dapat dilihat, surat itu diperbuat dari kertas kulit berkualiti tinggi. Diatasnya juga ada sebuah lambang. Serigalan bulan.
"Apa ini lambang keluarga Lavire?"
Eriena membuka surat itu. Dia terdiam.
"Halo sayangku Eriena. Disaat kamu membaca surat ini ibu dan ayah sudah tiada. Kami akan pergi ke suatu tempat yang jauh. Kami minta maaf kerana perlu meninggalkanmu begini tapi percayalah sayang semua yang kami lakukan ada hikmahnya. Kami tidak dapat menjagamu lagi. Kami menyayangimu. Suatu hari nanti kita pasti akan berjumpa lagi. Disini ada sebuah peta dan sebuah kalung. Ikutilah peta ini. Nanti kamu akan berjumpa dengan sebuah keluarga. Kamu ikutilah keluarga itu. Mereka akan menjagamu. Kalung ini sangat berharga. Ia dibuat khas untukmu oleh seseorang yang istimewa jagalah ia sepenuh hatimu. Sayangilah dia, kalian telah ditakdirkan bersama. Kami akan sentiasa menyayangimu"
Air mataku mengalir laju. "Ibu...ayah...apa kalian akan meninggalkanku juga?" Eriena menangis dengan keras. Dia tidak menahan emosinya. Dia meraung dengan kuat.
"Mengapa semua orang meninggalkanku? Aju sudah mencuba untuk menjadi orang baik". Aku menunduk ke tanah. Air mataku mengalir dengan deras. Aku benar-benar terlihat seperti anak cengeng.
Eriena menangis selama satu jam lebih tanpa henti. Kini emosinya sudah mulai stabil. Dia mengambil sebuah bungkusan. Bungkusan itu berada di tepinya. Pasti terjatuh saat dia bangun.
Eriena menatap bungkusan itu dengan tatapan kosong. Dia membuka bungkusan itu. Ianya adalah sebuah kotak. Diatasnya ada sebuah peta.
Eriena menolak ke tepi peta itu. Dia memperhatikan kotak itu dengan teliti. Di atas kotak itu terukir sebuah nama "Eriena Bellatrix Verirosura"
"?". Dengan penasaran Eriena menyentuh permukaan kotak itu. Sebuah cahaya terang muncul. Eriena menutup matanya.
Saat cahaya itu memudar, Eriena melihat sebuah kalung indah. "Kalung ini sangat indah"
Kalung ini sangat simple namun sangat indah. Tidak tahu mengapa Eriena sangat menyukainya. Semua kesedihannya hilang apabila melihat kalung itu.
Eriena memakai kalung itu dilehernya. Permata dikalung itu mengeluarkan tulisan di langit.
"Ada satu perkara yang kau harus tahu sayang, kau adalah milikku selamanya"
Eriena memandang tulisan itu. Dia tersenyun misterius. "Milikmu? Aku? Jangan menyesal wahai orang istimewa, bila kau menjadi milikku aku akan memerangkapmu di duniaku" kata Eriena tersenyum misterius sambil menggenggam erat rantai itu.
Eriena mengambil peta itu. Dia membuka gulungan peta itu perlahan-lahan. Saat peta itu terbuka penuh yang dilihat Eriena hanyalah sebuah kertas kosong.
"Kosong? Tidak mungkin ibu dan ayah memberi peta yang salah bukan? Aku akan meninggalkan mereka tidak mungkin mereka cuai. Ini perkara yang penting"
Eriena mengangkat peta itu ke atas dan menggerakkannya ke sana ke mari. Mungkin peta itu akan kelihatan kalau terkena matahari, fikirnya.
Setelah beberapa minit, peta itu tetap tidak memberikan sebarang reaksi. Eriena mulai kehilangan akal. Dia menjatuhkan dirinya ke atas tanah.
"Auch!" Sebuah duri pohon menusuk ke jari Eriena. Jarinya mengeluarkan darah. Eriena tidak merasa sakit apapun. Dia hanya mengibaskan tangannya agar darah di jarinya terbang pergi.
Tanpa sengaja darah dijarinya memercik ke arah peta itu. Matanya membulat "Ahh petaku... ia sudah kotor dengan percikan darah!" dengan cepat Eriena mngelap pervika darah itu.
Tapi suatu yang tidak terjangka terjadi, darah itu meresap ke dalam peta tanpa meninggalkan jejak apapun.
Peta itu mengeluarkan cahaya. Cahaya itu bertukar menjadi tulisan keemasan di peta.
"Namaku adalah Peta Bluwind. Aku adalah peta tingkat tinggi yang dicipta khusus. Aku mengetahui semua tempat di dunia ini. Tanyalah kepadaku aku akan membimbingmu ke arah tujuanmu"
Eriena kebingungan. Eriena tidak terkejut dengan peta itu, kerana dahulupun sudah ada peta sebegitu tapi apa yang perlu dia katakan untuk peta ini menunjukkan jalan ke keluarga barunya.
"Emmm....peta, apa ibu dan ayah ada meninggalkan pesan untukmu?" tanya Eriena.
Peta itu mengeluarkan tulisan lagi "Ibu dan ayah?"
"Maksudku Alex Xeftiree Lavire dan Reviana Reselle Lavire. Apa mereka ada meninggalkan pesan kepadamu untukku? Mungkin seperti peta ke sebuah keluarga?"
"Mereka ada..." tulisan di peta itu mulai memudar. Sebuah garisan muncul di peta membentuk sebuah peta.
"Aku akan menemanimu ke arah tujuanmu. Ikutilah arahan ku" tulisan di peta itu muncul lagi.
"Baik peta" kata Eriena patuh. Dia mulai berjalan seperti yang disuruh peta. 'Aku benar-benar seperti orang gila yang bercakap dengan peta'
__ADS_1
Eriena tersenyum kecil. Dia memandang ke atas. Pandangannya meredup, dia tersenyum kecil "Ayah, ibu, apa ini memang takdirku? Jika saja kita dapat bersama aku pasti akan menjadi anak baik. Tapi itu tampak mustahil. Aku memang ditakdirkan tidak akan mendapat kasih sayang ibu bapa"
...◌⑅⃝●♡⋆♡LOVE♡⋆♡●⑅◌...