
Burung-burung berkicau merdu di atas ranting pohon. Cahaya matahari menyinari rumah-rumah rakyat dan yang ada di sekitarnya. Langit biru muda dan awan-awan putih bergerak pelan bersama angin musim semi. Pagi hari yang cerah menjadi saksi bisu aktivitas manusia-manusia di Kekaisaran Phireum.
Berbeda dengan cuaca yang cerah dan bersahabat, suasana di ruang makan kediaman keluarga Viasse sangat suram dan dingin. Para pelayan gemetar saat mengerjakan tugas mereka, seperti sedang berjalan di atas es tipis.
Aldis, yang makan seorang diri di ruang makan, berekspresi suram dan menguarkan hawa dingin di sekitarnya, sementara kepala pelayan yang sudah tua hanya mampu diam menggigil di samping tuannya.
Tak.
Aldis meletakkan garpunya, tanda bahwa ia sudah selesai sarapan. Ia mengambil serbet dari seorang pelayan dan mengelap bibirnya.
"Philip," panggilnya dengan nada tidak bersahabat.
"Ya, Yang Mulia," jawab Philip, kepala pelayan di kediaman ini. Bahunya gemetar saat melihat tuannya mengeluarkan sebuah surat dari saku jasnya. "Ini...?"
"Sampaikan kalau aku akan berkunjung ke istana. Sekarang."
Melihat wajah garang Aldis, Philip segera mengangguk cepat. "Baik! Akan saya sampaikan sekarang!"
Aldis tidak menanggapi dan berdiri dari duduknya. "Panggil pelayan. Aku harus bersiap-siap," perintahnya tegas.
Philip bingung, seingatnya tidak ada jadwal yang mengharuskan sang duke keluar dari kediaman. "Apakah Anda akan keluar? Saya akan segera menyiapkan kereta."
"Ya, cepatlah."
"Lalu ke mana tujuan Anda?"
"Istana."
"Ya?"
Philip memandang Aldis aneh dan heran, lantas memandang surat di tangannya yang sudah diberi cap.
'Terus kenapa Anda mengirim surat? Ah, apa supaya lebih sopan?'
Pria tua itu mengangguk-angguk membenarkan isi pikirannya.
'Ini peningkatan pesat, sih. Soalnya Yang Mulia 'kan setiap ke istana selalu datang tanpa pemberitahuan. Makanya sering dicemooh.'
Namun, sang kepala pelayan tidak tahu bahwa seseorang yang sikapnya berubah dalam waktu singkat itu sangat menakutkan. Dan apakah Aldis yang 'itu' benar-benar memiliki sikap sopan kepada orang yang sudah mengirim istrinya ke medan perang? Tentu saja tidak.
Pria berambut perak itu menyeringai kecil tanpa diketahui siapa pun.
...―•♡•―...
Istana Kekaisaran Phireum adalah tempat yang tidak bisa dimasuki oleh sembarang orang. Mereka yang ingin datang ke sini harus mengajukan permintaan pertemuan yang ditulis melalui surat dan tentunya harus mendapat persetujuan dari kaisar, sang penguasa Phireum.
Itulah mengapa para nona muda bangsawan berbondong-bondong merias diri hanya karena mendapat undangan tea time dari sang ratu.
Namun, aturan tersebut tidak berlaku bagi pria yang satu ini.
"A-astaga!"
Salah satu kesatria yang menjaga gerbang istana kekaisaran berseru kaget kala memandang kereta kuda mewah yang baru saja datang. Lambang kepala serigala putih dengan pedang menyilang pada kereta itu membuatnya gemetar tanpa sadar.
"Salam kepada―"
"Buka gerbangnya."
Suara tajam dari kusir kereta itu membuat kesatria yang bertugas itu berkeringat.
__ADS_1
"Mohon maaf, tapi Anda harus memperlihatkan surat persetujuan atau undangan dari Yang Mulia Kaisar, baru gerbangnya boleh dibuka...!"
"Haa...."
Pria berambut perak yang duduk di dalam kereta menghela napas. Ia berdecak. Tatapan matanya yang menyala dari mata biru tuanya mengarah pada kesatria itu. Alisnya mengerut tanda ia sedang kesal. Sosok wajahnya yang terlihat melalui jendela kereta membuatnya tampak seperti malaikat maut.
"Buka gerbangnya atau mati. Beraninya orang sepertimu menahanku. Apa kepalamu ingin dipenggal sekarang, hah?"
"T-tidak...!" jawab kesatria itu spontan, terlihat panik dan ketakutan setengah mati.
Tindakannya yang berani menahan seorang panglima perang memang patut diberi tepuk tangan. Siapa yang tidak mengenal pria yang ada di dalam kereta? Bahkan semua orang tahu sifatnya yang buruk! Orang itu hanya perlu mencabut pedangnya dan semuanya selesai!
Maka demi melindungi nyawanya, kesatria itu membuka gerbang istana kekaisaran dengan ekspresi memohon ampun.
"Ampuni saya, Yang Mulia Kaisar...! Saya melakukannya demi nyawa saya dan kebersihan tempat tinggal Anda! Anda pasti tidak ingin tempat ini digenangi darah, 'kan!" racaunya setengah berbisik, meskipun hal itu tidak ada artinya karena sang 'Duke Viasse' mendengar semua omongan kesatria itu.
Sementara Aldis menghiraukan ucapan tak berarti kesatria itu, ia memilih memfokuskan pandangannya pada Istana Kekaisaran Phireum yang sering ia kunjungi akhir-akhir ini.
Tentu saja untuk meminta pada kaisar menyebalkan itu agar memulangkan istrinya. Kali ini pun rencananya datang ke sini untuk hal itu. Namun, ia sudah mempersiapkan 'sogokan' luar biasa kepada kaisar.
"Heh."
Aldis menyeringai jahat.
Kakinya melangkah masuk ketika kereta kudanya berhenti di depan pintu utama istana.
...―•♡•―...
"Apa yang membawamu kemari, Duke Viasse?"
Suara tegas seseorang menyambut kedatangan tamunya. Rambut cokelat tuanya yang sebahu ditata rapi, menyambung dengan janggutnya. Mahkota emas bersinar di atas kepalanya, menandakan bahwa dialah penguasa Phireum.
Dia adalah Edson Cherpire Phireum, kaisar dari Kekaisaran Phireum, atau yang biasa dipanggil Kaisar Edson II.
'Sebenarnya seberapa dalam cintanya pada istrinya?! Sampai-sampai dia memohon padaku berulang kali agar memulangkan Duchess!'
Sejujurnya hal ini bisa menjadi keuntungan bagi Edson. Ia akhirnya tahu kelemahan Duke Viasse yang sangat-sangat mendekati sempurna itu. Namun kegigihan pria itu membuatnya merasa bahwa keuntungannya tidak ada artinya.
"Tentu saja saya datang karena ingin menyapa Baginda Kaisar Phireum yang agung dan bijaksana."
'Hm?'
Di luar dugaan, Aldis, seseorang yang sepertinya memiliki dendam padanya, justru tersenyum dan memujinya. Edson jadi merasakan hawa-hawa tidak menyenangkan dari sifat mencurigakan sang duke.
"Begitu...."
Edson menanggapi sambil tersenyum canggung, lalu memaksakan tawanya.
"Suatu kehormatan untukku disapa oleh Duke Viasse sang panglima perang kekaisaran kita. Hahaha."
Sekali lagi Aldis tersenyum, lalu memberi isyarat pada seorang pria yang berdiri di belakangnya.
"Yang Mulia, tolong terimalah hadiah dari saya. Saya menyiapkan ini dengan 'sepenuh hati'," ucap Aldis sambil memperlihatkan kotak perhiasan di tangannya. "Saya harap Yang Mulia menyukai hadiah dari saya."
'Aha.'
Edson menyeringai kecil, tahu maksud dari perbuatan sopan dan baik yang ditujukan Duke Viasse padanya.
'Jadi dia ingin menyogokku? Yah, mari kita lihat sogokan seperti apa yang dia berikan padaku....'
__ADS_1
Cling, cling.
Ketika kotak perhiasan yang dibawa Aldis dibuka, Edson menganga tak percaya, sementara mata ungu mudanya memantulkan kilau kekaguman.
"UWOOOHH! DUKE! INI 'KAN PERMATA ELF YANG SANGAT LANGKA!!" soraknya heboh dan gembira. Ia tanpa sadar melompat turun dari singgasananya dan bergegas menghampiri Aldis sambil terus-terusan berseru kagum, "Ini hadiahku? Tidak bisa dipercaya!"
Ekspresi gembira yang ditunjukkan Kaisar Phireum membuat Aldis tersenyum puas. "Benar, Yang Mulia. Ini adalah hadiah Anda," jawabnya sopan.
"Wahh! Terima kasih banyak! Apa ada sesuatu yang kau inginkan, Duke? Katakan saja! Apa pun itu!"
Entah sadar atau tidak dengan ucapannya sendiri, Edson dibutakan oleh permata elf yang menumpuk di kotak perhiasan itu. Ia sibuk memilah-milah hadiahnya, sedangkan Aldis menyeringai jahat.
"Kalau begitu, Yang Mulia. Saya ingin meminta sesuatu."
"Ya, ya! Katakan saja apa maumu!" balas Edson tanpa mengalihkan pandangan dari hadiahnya.
"Permintaan saya sederhana. Saya ingin Anda memulangkan istri saya."
"Tentu saja!" ucap Edson mengabulkan permintaan Aldis, masih fokus pada hadiahnya. "Aku akan segera memulangkan Duschess Viasse. Jadi―"
"Terima kasih banyak atas kemurahan hati Anda, Yang Mulia," potong Aldis sambil tersenyum. "Kalau begitu, saya pergi dulu."
"Ah? Hah? Oh?" Edson, yang terlambat menyadari suasana di sekitarnya, tersentak kaget kala menyadari apa yang baru saja terjadi. "T-tunggu, Duke...!"
Sayangnya, Aldis sudah tidak ada di tempatnya. Pria itu menghilang secepat kilat tanpa meninggalkan jejak.
'Aakhh! Harusnya aku tidak terbuai dengan permata-permata ini!!'
Edson ingin menyesali perbuatannya namun ia mengingat bahwa harta-harta langka di tangannya bisa dijadikan harta negara yang tentunya memiliki nilai sejarah tinggi. Selain itu, wajah cantik seseorang muncul di pikirannya.
'Ah! Aku bisa berbaikan dengan Ratu melalui permata-permata ini...!'
...―•♡•―...
"Tuan Philip!!!"
Seruan dari seseorang yang berlari dengan napas tersengal-sengal segera menjadi pusat perhatian para pekerja kediaman Viasse. Orang yang berlari penuh semangat itu adalah Ivan, yang datang dengan ekspresi pucat di wajahnya.
"I-Ini...!"
"Astaga! Viscount Broun!"
Philip segera menghampiri ajudan tuannya sembari menyuruh pelayan mengambikan segelas air minum.
"Kenapa Anda berlari seperti ini? Apa Anda punya keperluan dengan saya?"
"Ini!!" seru Ivan antusias seraya memperlihatkan sebuah surat yang ada di tangannya. "Ada surat yang datang!"
"Saya juga tahu itu surat," balas Philip tertawa canggung.
Ivan melototkan matanya sambil berucap, "Ini bukan sekadar surat!"
"I-iya. Terus?"
"Ini adalah surat dari Duchess!"
"APA?"
―――――――――――――――
__ADS_1
waw, dari 900-an word jadi 1300-an word.
Tbc.