Finally, Duchess Viasse Is Back

Finally, Duchess Viasse Is Back
Bab 5


__ADS_3

"Hei."


Deg.


Wajah geram Aldis berubah total menjadi berbinar-binar. Ia kaget sekaligus senang melihat wajah istrinya terpantul di dalam bola cahaya itu.


"Freya?!"


Sementara Aldis diliputi kebahagiaan, Freya berwajah murung dan suram. Mata emasnya nampak tidak bercahaya. Bibir merah muda wanita itu cemberut. Lalu ia menjatuhkan bom kepada suaminya.


"Tanda tangani dokumen yang akan datang hari ini. Itu surat cerai kita."


Detik itu juga dunia Aldis serasa runtuh. Ia serasa disambar petir kala mendengarnya. Pupil matanya melebar, tak percaya mendengar kalimat tabu itu dari istrinya. Aldis menggeram tertahan, ditambah alis tebalnya mengerut. Ekspresi wajahnya saat ini mengerikan.


"Apa maksud ucapanmu, Duchess?" desisnya. Mata birunya menatap tajam istrinya yang tak bergeming. "Kenapa kau minta cerai?"


"Salahmu duluan!!"


Freya terlihat merengek. Pantulan dirinya di bola cahaya itu benar-benar menggemaskan, hingga sanggup membuat amarah Aldis mereda.


"Apa alasanmu minta cerai?" tanya Aldis tenang, berusaha menekan emosinya.


"Aku 'kan sudah bilang jangan buat onar!"


Freya melipat kedua tangannya di dada, kini giliran dia yang menatap suaminya tajam.


"Tapi, kenapa kau malah buat ulah sampai-sampai rumor tentangmu sudah menyebar ke sini hah?"


"Ah! Bukan, bukan. Mata-mataku bilang kau... kau... seling―pokoknya, kau keterlaluan!!"


"Saat aku pulang, orang-orang pasti akan bergosip tentangmu di depanku. Menyebalkan banget!"


"Sekarang aku tanya, kau sudah berbuat 'hal itu' sampai mana hah? Jawab!"


Aldis bingung saat mendengar rentetan ucapan beruntun istrinya. Memangnya dia sudah berbuat apa sampai-sampai Freya, istri tercintanya sekaligus duchess baik hati layaknya malaikat, mau menceraikannya?


Dan lagi, gosip tentang apa yang dibicarakan istrinya? Aldis benar-benar tidak mengerti.


"Aku tidak mau jadi janda duluan!" Freya berucap ngawur. "Makanya, aku yang akan membuatmu jadi duda lebih dulu!"


Oke, sekarang Aldis semakin bingung dengan kelakuan istrinya.


Pria itu memijit pelipisnya, berusaha mengingat kesalahannya. Tapi sungguh, ia benar-benar tidak tahu sudah membuat kesalahan apa. Dia hanya ingat hari ini mengancam Putri ke-3, selebihnya tidak ada lagi.


"Freya, dengarkan aku dulu," ucap Aldis membujuk. Matanya memelas. "Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan. Jadi―"


"Astaga, jadi suamiku dijebak?"


Freya tak menghiraukan ucapan suaminya. Dia menutup mulutnya, terkejut seolah baru menyadari sesuatu. Kemudian ia tersenyum licik. Sepasang mata emasnya berkilau berbahaya.


"Oke, aku punya rencana bagus."


"... Apa rencanamu?"


Aldis meringis saat istrinya tidak menjawab dan malah tersenyum manis. Ia sekarang yakin kalau sebentar lagi istrinyalah yang akan berbuat ulah. Entah keonaran apa lagi yang akan diperbuat istri tercintanya kali ini. Dan sebisa mungkin Aldis harus menjadi tameng yang kuat untuk Freya.


"Jadi, kita batal bercerai. Oke? Tunggu aku pulang ya, suamiku sayang! Lihat kejutan apa yang akan kuberikan nanti!"


Aldis tersenyum tabah, mengangguk singkat.


Semudah itu istrinya bilang cerai dan membatalkannya? Mungkin kalau dia benar-benar berbuat kesalahan yang fatal, Aldis pasti akan menjadi duda hari ini.


"Kalau begitu, aku―"

__ADS_1


"Tunggu, Freya," sela Aldis saat mengetahui istrinya berniat memutus komunikasi. Sesuai dugaan, Freya menunggu. "Kapan kau akan sampai?"


Freya berpikir dan menghitung dengan jarinya. "Jaraknya cukup jauh, jadi sekitar lima hari pakai portal. Dan karena bergerombol, mungkin butuh dua kali pemakaian portal, itu artinya sekitar sepuluh hari."


"Ck." Aldis berdecak tidak suka. "Pokoknya, kau yang lebih dulu masuk portal. Aku ingin kau sampai di sini sekitar tiga hari," perintahnya mutlak.


"Kau gila?!"


Aldis mengangguk menyetujui dengan wajah tanpa dosa. "Benar. Aku gila karena sangat-sangat kangen padamu. Jadi, cepatlah pulang."


"Tapi sepertinya tiga hari itu terlalu mustahil." Freya menghela napas. "Saat pulang nanti, aku juga harus meninjau butik―"


"Tiga hari."


"Lima."


"Tiga," tekan Aldis lagi. "Jangan melawan, Freya."


"Oke, tiga hari." Lalu Freya tersenyum licik. "Terus kita akan membuat bayi tiga tahun lagi."


"Apa?!"


"Sekarang pilih dengan baik, Duke. Tunggu aku di rumah lima hari lagi. Atau...." Freya tersenyum manis. "Aku sampai di rumah tiga hari dan aku tidak mau satu kamar denganmu."


Mungkin ini adalah pilihan tersulit bagi Aldis. Tapi dibandingkan mengikuti keinginan hatinya, dia lebih memilih cari aman.


'Aku bisa menunggu Freya selama lima hari. Tidak apa-apa. Lima hari itu singkat.'


Jadi, Aldis lebih memilih menunggu di rumah selama lima hari daripada tidak bisa menyentuh istrinya selama tiga tahun.


"Anak baik. Suamiku memang baik. Manisnyaaa~"


'Bagus. Aku dapat pujian.'


...―•♡•― ...


Dia adalah putri bungsu Kerajaan Visia yang disayangi semua orang. Keluarga yang harmonis, teman-teman yang menyenangkan, lamaran pernikahan yang menumpuk dan deretan barisan pria tampan yang mendekatinya, juga semua rakyat yang mencintainya.


Mungkin kata 'sejahtera' tidak cukup untuk mendefinisikan betapa bahagianya hidup Freya.


Parasnya cantik dengan sepasang bola mata emas yang memikat, rambut merah muda yang wangi dan halus, serta postur tubuh yang terpahat sempurna. Dibandingkan dengan penampilan kakak-kakaknya yang cenderung berambut hitam karena mengikuti ayah mereka, Freya mirip ibunya. Ia begitu dicintai keluarganya karena mirip dengan sang ibu.


Dan di tengah-tengah kebahagiaan itu, ada sebuah pertemuan panjang yang tidak bisa dilupakan Freya.


Hari itu, saat ulang tahunnya yang ke-13 tahun, ia bertemu dengan seseorang yang cocok berlabel 'pangeran berkuda putih'.


Di taman bunga mawar, Freya berkenalan dengan pangeran itu dan menjalin hubungan dengannya sampai sekarang. Dari sebatas tuan rumah pesta dan tamu, berlanjut ke teman masa kecil, lalu naik ke tahap sahabat, hingga tiba-tiba berstatus 'suami-istri'.


Freya kira itu mimpi. Tapi saat upacara pernikahan digelar, dia tersadar kalau semua yang terjadi adalah kenyataan.


Sebetulnya, pangeran berkuda putih itu, Aldis, adalah cinta pertama Freya saat kecil. Tapi semenjak mereka berpisah karena jarak tempat tinggal yang cukup jauh, Freya hanya berkomunikasi dengannya lewat surat selama lima tahun, dan perasaannya terhadap pria itu berubah menjadi ke bentuk 'sahabat'. Hingga dua tahun kemudian setelah debutnya, Aldis melamarnya.


Tepatnya, lamaran formal untuk pernikahan kontrak.


'Gila sekali.'


Freya memasukkan daging lumer itu ke mulutnya. Entah kenapa setiap makan, pikirannya selalu bernostalgia ke masa lampau. Akhir-akhir ini dia juga jadi sering memikirkan si gila Aldis itu.


'Aku dulu menerima pernikahan kontrak ini tanpa mengeluh karena sangat menguntungkan buatku. Tumpukan surat lamaran di kamarku jadi berkurang.'


Dan sekarang Freya pernah menyesali tindakan cerobohnya saat itu.


'Kupikir cuma kontrak biasa yang akan bertahan kurang dari lima tahun, tapi dia benar-benar mencintaiku?!'

__ADS_1


Itulah yang dipikirkan Freya saat malam pertamanya bersama Aldis.


Pria itu membeberkan alasannya menikahi Freya dan secara tegas mengatakan bahwa dia adalah pendamping hidup Freya yang pertama dan terakhir.


Alhasil, Freya pun dituntut balas mencintai pria itu walaupun sebenarnya tidak ada perasaan seperti itu di hatinya.


'Pada akhirnya, aku jatuh ke dalam kata-kata manisnya. Ck, ck.'


"Dasar. Katanya tidak pernah pacaran, tapi dia sangat ahli merayu," gumam Freya sambil senyum-senyum sendiri.


"Siapa yang sangat ahli merayu, Duchess?"


"Akhh!" Freya berjengit kaget saat pelayan pribadinya muncul sambil tersenyum lebar. "Melinda, berhenti muncul tiba-tiba seperti itu!"


'Duh, jantungku.'


Melinda, pelayan pribadi sang duchess, mengangguk patuh meskipun masih tersenyum.


"Baik, baik. Kalau begitu, haruskah kita bersiap-siap sekarang, Duchess? Portalnya sudah siap."


"Oke." Freya mengelap bibirnya kemudian bangkit, berjalan menuju kamarnya. "Sudah bilang kalau aku yang akan pulang duluan?"


"Sudah dilaksanakan, Duchess," jawab Melinda kompeten.


"Bagus. Setelah sampai di ibu kota, aku mau mampir ke butikku sebentar."


"Ya ampun." Melinda syok dan menutupi bibirnya. "Anda tidak pulang ke rumah dulu, Duchess? Misalnya, membuat penerus."


"MELINDAAAA!!"


"Maaf, maaf. Saya hanya tak sabar merawat anak bayi. Apalagi bayi-bayi yang mirip dengan Tuan Duke dan Duchess."


Melinda tertawa kecil, sementara muka Freya sudah sepenuhnya merah merona. Padahal ucapannya tadi soal membuat bayi tiga tahun kemudian hanya untuk sekadar mengancam Aldis, tapi ternyata orang lain menanggapinya dengan serius, dan itu adalah pelayannya sejak kecil.


'Sial. Kalau begini, aku 'kan jadi ingin punya bayi seperti kakak pertamaku. Arghh...!'


Freya meringis membayangkan wajah anak-anaknya yang lucu dan menggemaskan. Dia sungguh tidak tahan dengan sesuatu yang imut seperti itu.


'Arghh, membayangkan mereka memanggilku 'Ibu' membuatku jadi gila. Tenang, Freya. Tenang. Ingat, pikirkan soal anak nanti. Sekarang ada yang lebih penting.'


Freya menarik napas dan mengembuskannya perlahan. Mata emasnya berubah tajam.


'Sebelum anak-anakku lahir, aku harus menyingkirkan wanita-wanita agresif yang ingin merebut suamiku. Tak akan kubiarkan anak-anakku lahir tanpa seorang ayah.'


Freya bertekad kuat.


Kemudian, perjalanan seorang saintess yang ingin membasmi hama-hama mengganggu dimulai. Sebelum menghampiri Putri ke-3 si wanita ular, Freya lebih dulu mampir ke butiknya.


Sudah saatnya ia debut sebagai pemilik butik paling terkenal se-kekaisaran itu.


――――――――――――――――


aku menantikan debay lahir, ada yg sama?👀 oh dan maybe seterusnya Freya bakal jadi mc🤔


🔥tebak plot twist:🔥


💌↬ tim cerai-rujuk-happy end👉


💌↬ tim cerai-sad end👉


💌↬ tim Aldis duda-Freya janda-ada debay👉


💌↬ tim gada debay-happy end👉

__ADS_1


sedang bingung konfliknya gimana enaknya (ehem), secara aku ga suka pelakor😄


Tbc.


__ADS_2