
"Cuacanya cerah, sangat pas untuk bersantai ditemani secangkir teh." Isabella tersenyum. Ia lalu memandang penuh kasih pada seorang pria yang duduk berhadapan dengannya. "Bukankah begitu, Duke?"
Aldis hanya diam tanpa berniat menanggapi. Mata birunya membidik sang putri tajam. Ia muak dengan basa-basi yang diucapkan wanita itu.
"Katakan saja apa tujuanmu," ucapnya sinis. "Waktuku terbuang sia-sia."
Isabella hanya tersenyum penuh arti. Ia pun memainkan cangkir tehnya menggunakan sendok emas kecil. Tatapan matanya berubah drastis, yang semula menampilkan niat menggoda kini menjadi ambisius.
"Pertama-tama, selamat atas pernikahanmu, Duke."
Aldis terdiam mendengarkan ucapan selamat dari sang putri, menebak-nebak apa rencana wanita itu kali ini.
Di sisi lain, Isabella menyeringai kecil. Ia menutupi bibirnya dan berpura-pura terkejut. "Ups. Maksudku, selamat atas pernikahan kontraknya, Duke."
'Oh.'
Aldis tersenyum jahat di dalam hati, sedangkan Isabella tampak senang seolah baru saja memenangkan sebuah permainan.
"Jadi?"
"Jadi, daripada meneruskan kontrak kalian, bukankah lebih baik Duke menikah secara resmi? Yah, tentu saja dengan wanita lain?"
Isabella memiringkan kepalanya sedikit dan tertawa kecil. Ia memainkan helaian rambutnya dan menatap Aldis penuh cinta.
"Misalnya saja, denganku?"
"Mimpi."
Aldis langsung membalas cepat dan singkat. Ia segera berdiri dari duduknya. Pandangannya berubah mematikan.
"Denganmu?"
Aldis bahkan memakai bahasa tak formal, tanda bahwa ia murka.
"Ha, kau bahkan tidak sebanding dengan Freya-ku, Putri ke-3. Lihat batasanmu."
"Oh, ya?" Isabella masih tak peduli. Ia tetap pada pendiriannya. "Memang kau akan berbuat apa? Kau berani melukaiku?"
"Tentu saja."
Sesaat, Isabella merinding kala mendengarnya. Wanita itu segera menormalkan ekspresinya.
"Umm... tapi bagaimana, ya? Sepertinya sebentar lagi rumor tentangmu dan aku akan menyebar." Senyum kemenangan terbit di wajah Isabella. "Bagaimana reaksi istrimu saat mendengarnya nanti?"
Benar. Inilah tujuan Isabella memanggil Duke Viasse ke taman istananya dengan alibi 'tea time' bersama. Nyatanya, ia menempatkan seorang pelayan di sudut taman dan juru kamera terkenal di kekaisaran. Keduanya akan menjadi sumber rumor dan skandal pun akan terbit.
Kekaisaran Phireum yang menjunjung tinggi status kehormatan seorang wanita sangat melarang adanya perceraian atau perselingkuhan.
Itu artinya rumor antara dia, yang adalah sang putri, dan Duke Viasse, pria yang berstatus suami orang lain, akan menjadi topik terpanas yang mengundang omongan orang-orang.
Isabella memang nekat. Ia bahkan tidak peduli jika nantinya dicap buruk oleh orang-orang karena menggoda suami orang. Itu karena ayahnya, penguasa Phireum, pasti akan membelanya apa pun yang terjadi.
Jadi, selama ada dukungan dari penguasa yang disegani semua orang, Isabella tidak takut apa pun.
Begitulah yang dia pikirkan.
Sampai akhirnya, Aldis tersenyum meremehkan alih-alih menunjukkan ketakutan.
'Hah?'
Isabella mengerutkan kening, merasa ada yang tidak beres.
'Bukankah harusnya dia sedikit panik karena takut dibenci istrinya? Nanti rumor akan bilang dia selingkuh, pasti istrinya membencinya, 'kan? Apa dia tidak takut kehilangan wanita itu?'
__ADS_1
Termenung sesaat, Isabella melotot bahagia.
'Atau mungkin wanita itu tidak penting baginya?'
Pemikiran tak warasnya disentak Aldis dengan pernyataan yang terduga.
"Kau ingin mengikuti jejak ibumu ya, Putri ke-3?"
Deg.
Kedua tangan Isabella terkepal. Pupil mata ungu mudanya bergetar, memandang tak percaya ke arah Aldis.
"K-kau...."
Aldis mengangkat bahu. "Aku bingung harus merahasiakan ini selamanya atau―" Mata birunya melirik wanita berambut cokelat itu. "Haruskah aku sebar? Sepertinya bakal menarik."
"A-apa kau tahu konsekuensinya?" Isabella berniat mengancam. Ia menggeram marah. "Kau bisa dihukum mati!" teriaknya menggebu-gebu.
"Oh, ya?" Aldis tetap cuek, meniru perilaku sang putri tadi. "Peristiwa 'kelahiranmu' bisa kujadikan alasan untuk memberontak."
"Duke!"
"Aku tak peduli bila harus menghancurkan kekaisaran ini karena ada orang yang beraninya mengganggu kehidupan pernikahanku."
Pria itu lantas membenarkan pakaiannya dan merapikan rambut peraknya. "Putri ke-3, kau sungguh buruk untuk dibandingkan dengan istriku," ujarnya mengejek.
Setelah mengucapkan kata-kata beracun seperti itu, Aldis berjalan santai keluar dari istana sang putri, meninggalkan Isabella yang meraung di belakangnya.
...―•♡•― ...
'Ck. Anak haram seperti dia berani sekali kurang ajar padaku.'
Aldis menopang dagunya sambil memandangi pemandangan di luar kereta kudanya. Kini dia sedang dalam perjalanan pulang.
Kelahiran Putri ke-3 yang tak diketahui orang-orang adalah aib terburuk bagi Kekaisaran Phireum.
Kekaisaran memang tak melarang adanya pernikahan antara seseorang yang sudah bercerai dan seseorang yang belum menikah.
Cerita dongeng yang diketahui orang-orang adalah Kaisar Phireum Edson II menikah dengan mantan ratu sebelumnya, yaitu ibu dari Putri ke-3.
Kaisar Phireum Edson I meninggal karena penyakit yang menular saat itu, dan karena penerus takhta masih sangat kecil untuk menjadi kaisar, para bangsawan mempertahankan ratu sebelumnya sebagai wali Putra Mahkota.
Di tengah-tengah peristiwa duka, adik dari kaisar sebelumnya melamar sang ratu dan bersedia menjadi ayah bagi Putra Mahkota. Ia juga berjanji akan memberikan takhta kepada Putra Mahkota saat usianya mencapai dewasa.
Karena mempertimbangkan darah kekaisaran yang mengalir pada pria itu, para bangsawan menyetujui lamaran itu seraya berpikir, 'Toh mereka hanya menikah politik'.
Pernikahan yang disebut-sebut 'pernikahan tersuci' saat itu pun digelar mewah.
Orang-orang membicarakan kebaikan hati Kaisar Edson II, tanpa tahu hubungan seperti apa yang dijalankan kedua orang itu 'sebelummya'.
Jauh sebelum suami sang ratu meninggal, ratu dan kaisar saat ini menjalin hubungan terlarang yang sering disebut 'berselingkuh'.
Dan hasil perselingkuhan mereka adalah Putri ke-3, anak kesayangan Kaisar Edson II.
'Dari suami yang pertama menghasilkan seorang putra dan dua orang putri, lalu dari suami yang kedua menghasilkan seorang putri. Benar-benar ratu yang hebat dalam melahirkan.'
Bersamaan dengan kalimat ejekan itu, Aldis tersenyum miring.
'Untung Ayah menceritakan rahasia negara ini padaku.'
Sebelum Duke Viasse sebelumnya memutuskan pergi berwisata keliling benua bersama istrinya, ia menceritakan kisah rahasia itu pada Aldis, putranya, agar nantinya cerita itu bisa menjadi tameng saat Kaisar Edson II semena-mena terhadap kekuasaannya atau mengancam kekuasaan keluarga Viasse.
Dan terbukti, cerita itu efektif digunakan saat melawan Putri ke-3.
__ADS_1
'Kalau pak tua itu marah saat aku mengancam putrinya dan menyerangku, aku tak akan segan-segan untuk menyerang balik.'
Selama termenung dalam pikirannya, kereta kuda mewah itu sudah memasuki halaman depan kediaman Viasse. Kastil putih yang menjulang tinggi menyambut kedatangan kereta kuda itu.
Setelah turun dari kereta, Aldis dikejutkan dengan Ivan yang menunggunya di pintu masuk kastil. Ajudannya itu nampak gembira melihatnya.
"Tuan Duke!" Ivan menghampiri Aldis dan tersenyum ramah. Ia memberikan sebuah surat di tangannya pada majikannya itu, tak lupa tersenyum sumringah. "Ada surat untuk Anda."
Aldis melirik sekilas, berniat pergi, namun gambar cap di surat itu menghentikannya. Ia segera merebut surat itu dan membukanya. Jantungnya berdegup kencang, merasakan perasaan bahagia mengalir di hatinya.
Saat membuka lembaran surat itu, seulas senyuman terpatri di wajah Aldis. Kini ia menunjukkan senyumnya secara terang-terangan, hingga membuat Ivan melotot tak percaya.
[Untuk suamiku tersayang.]
Aldis menutup wajahnya kala membaca kalimat pertama. Telinganya memerah. Ia kembali melipat surat itu dan masuk ke kamarnya, menghiraukan Ivan yang bengong melihat tuannya merona malu.
Sampai di kamar, Aldis segera membuka lipatan surat dan membaca ulang kalimat pertama di surat itu.
[Untuk suamiku tersayang.]
"Argh, aku bisa gila. Dia sangat manis," gumam Aldis sambil meraup wajahnya kasar. Membayangkan istrinya tersenyum saat menulis surat membuatnya berdegup bukan main.
[Kau pasti akan senang mendengar kabar ini. Pekerjaan membasmi monster hampir selesai, aku dan para pendeta lainnya hanya perlu menyucikan area-area yang diserang monster. Itu artinya, aku akan segera pulang!]
[Kau pasti sangat merindukanku, 'kan? Hum, kau pasti sedih karena tak ada yang membacakan dongeng lagi tiap malam.]
Aldis tertawa pelan kala membacanya. Ia akui kemampuan mendongeng istrinya sangat bagus hingga membuatnya tidur nyenyak tiap malam.
[Ngomong-ngomong, kau tidak berbuat onar selama aku pergi, 'kan?]
Aldis berpikir, kemudian menggeleng. Rasanya ia melakukan aktivitasnya seperti biasa.
[Oh ya, kau tahu? Aku punya cerita gila. Um, yakin tidak marah?]
'Apa maksudnya....'
Aldis berkerut bingung, lalu saat membaca kalimat selanjutnya, matanya melotot garang. Surat di tangannya langsung kusut karena ia meremasnya kuat. Kobaran api amarah menyala di sepasang mata biru itu.
[Ada seseorang yang memberiku bunga mawar. Dia pria. Tinggi dan berotot. Sepertinya seorang kesatria. Apa aku sebegitu memukaunya sampai-sampai dia tidak lihat cincin pernikahanku? Hihi.]
"Sialan! Beraninya baj*ng*n itu mendekati istriku! Cari mati!"
Aldis menyumpah serapah pria yang mendekati istrinya berulang-ulang. Dia sudah ancang-ancang hendak menyusul istrinya ke Kota Cherise―tempat Freya ditugaskan membasmi monster. Namun, langkahnya tertahan saat bola cahaya putih melesat dan melayang di depan wajahnya.
Sring! Zzpp!
Itu adalah sihir yang digunakan untuk berkomunikasi jarak jauh.
"Hei."
Deg.
Wajah geram Aldis berubah total menjadi berbinar-binar.
"Freya?!"
"Tanda tangani dokumen yang akan datang hari ini. Itu surat cerai kita."
Detik itu juga dunia Aldis serasa runtuh.
――――――――――――――――
jiakhh istri tercinta minta cerai😢
__ADS_1
Tbc.