
Aldis keluar dari pintu masuk Istana Kekaisaran Phireum. Ekspresi puas tersirat di wajah tampannya. Rambut peraknya bersinar dari kejauhan.
Pria itu nyaris tersenyum senang memikirkan istrinya akan pulang sebentar lagi, namun sesaatnya ia tersadar dan segera menormalkan ekspresinya.
Berbeda dengan ekspresi datar di wajahnya, sepasang kaki jenjangnya melangkah cepat menuju kereta kuda yang menunggunya. Ia sungguh tak sabar sampai di kediamannya dan menyiapkan pesta untuk kedatangan istrinya.
"Duke."
Sayangnya, di tengah jalan ia bertemu dengan seseorang. Aldis berdecak kecil menyadari ada yang menghalangi jalannya. Mata biru tuanya menunjukkan sorot kebencian pada orang yang menyapanya.
"Lama tak berjumpa, Duke Viasse." Pria yang mengenakan seragam kesatria suci itu tersenyum ramah, sementara Aldis mengerutkan alisnya. "Apakah Anda masih mengingat saya?" tanyanya sopan.
Aldis menaikkan sebelah alisnya, lantas memindai pria itu dengan teliti, setelah itu berucap santai, "Tidak sama sekali."
"Haha... begitukah?" Pria itu tampak tersenyum canggung. Mata hijau mudanya yang cekung menjadi seperti bulan sabit di kala ia tersenyum. "Mungkin Anda tidak ingat, tapi saat Duchess Viasse bersiap melakukan pembasmian monster di Kota Cherise, saya yang mengawalnya."
"Hm?"
Pendengaran Aldis menajam kala mendengar sebutan 'Duchess Viasse'.
"Izinkan saya memperkenalkan diri lagi. Saya adalah Leonis Alvred, putra bungsu Count Alvred dan ketua pasukan 'Kesatria Suci Dewi Bulan'."
Leonis memperkenalkan dirinya sambil tersenyum ramah. Rambut pirangnya sedikit bergoyang saat ia membungkuk.
"Omong-omong, saat di akademi kita adalah teman sekamar."
Aldis menelengkan kepalanya sedikit mendengar Leonis berbicara tentang akademi. Dulu ia memang tidak pernah memperhatikan orang-orang di sekitarnya. Namun, jika dilihat lebih teliti lagi, ia memang merasa pernah bertemu dengan Leonis.
Leonis tersenyum lagi. "Apakah saya sudah banyak berubah? Orang-orang memang tidak menyangka kalau saya adalah Leonis yang dulu," ujarnya malu.
'Ah.'
Aldis akhirnya mengingat sesuatu setelah memikirkan panggilan 'putra bungsu Count Alvred'.
Pria berambut pirang di depannya ini, Leonis Alvred, adalah pria yang suka bermain dengan banyak wanita. Di akademi, ia terkenal memiliki kekasih lebih dari sepuluh dan sering memikat wanita muda dengan senyum hangatnya. Ia juga terkenal dengan skandalnya ketika berpacaran dengan putri kekaisaran di satu hari dan berpacaran dengan wanita lain di hari kedua.
Singkatnya, Leonis adalah pria yang memiliki riwayat percintaan yang tak terhitung jumlahnya. Siapa yang menyangka bahwa pria seperti itu mendapat pencerahan dan bekerja di kuil sebagai ketua pasukan kesatria suci?
Pada awalnya, Aldis pun tak menyangka bahwa dia adalah Leonis di masa lalu.
__ADS_1
"Hm. Ya, aku ingat," balas Aldis singkat. Sorot matanya seketika mendingin. "Jadi, kenapa ketua pasukan kesatria suci sepertimu ada di sini?"
Leonis kelabakan mendapat tatapan dingin seperti itu. Keringat tipis mengalir di pelipisnya. "Saya datang kemari untuk bertemu Baginda Kaisar Phireum," jawabnya jujur.
"Untuk?"
"Ah, untuk memberitahukan bahwa pembasmian monsternya hampir selesai. Saya datang untuk menyampaikan ini."
Secercah cahaya muncul di mata biru Aldis. Tatapannya perlahan melunak. "Begitu, ya."
Reaksi tak wajar itu benar-benar membuat Leonis tercengang. "Wah, saya tak menyangka kalau Anda benar-benar mencintai istri Anda," ungkapnya tanpa sadar.
"Apa katamu?" tukas Aldis ketus.
"M-maksudnya, saya pikir Anda akan tetap menjadi diri Anda yang dulu, tak tertarik pada wanita. Saat berita pernikahan kalian menyebar pun, saya sangat terkejut."
Aldis hanya diam mendengarkan tanpa berniat membalas. Ia sudah siap-siap hendak pergi, namun ucapan Leonis selanjutnya membuatnya terdiam.
"Ah, ada Tuan Putri Isabella. Saya pamit undur diri dulu."
Seakan dikejar monster, Leonis melarikan diri secepat mungkin. Sementara Aldis yang mengetahui siapa yang datang semakin mengerutkan alisnya. Kali ini tatapan matanya menyiratkan perasaan muak yang sangat dalam.
Suara kekanak-kanakan yang manja terdengar dari belakang, merusak indra pendengaran Aldis. Pria itu sangat-sangat enggan berbalik, tetapi kalau ia tidak segera mengakhiri pertemuan mereka hari ini, ia mungkin tidak akan bisa pulang ke rumahnya.
"Rupanya ada Tuan Duke!"
Dengan hati yang berat, Aldis berbalik dan menyapa sesingkat-singkatnya, "Salam kepada Putri ke-3 Kekaisaran Phireum," sapanya datar.
"Hihi." Sang putri tertawa cerah. "Senang bertemu denganmu, Tuan Duke."
Di hadapan Aldis, seorang wanita muda yang memakai gaun ungu muda pastel tersenyum riang hingga semua orang yang melihatnya bisa mengetahui betapa bahagianya ia saat ini. Rambut cokelat tua bergelombang dan mata ungu muda yang indah adalah ciri khas 'Putri ke-3' yang sangat mirip dengan Kaisar Phireum.
Wanita itu adalah Putri Isabella Elaine Phireum, Putri ke-3 Kekaisaran Phireum dan merupakan salah satu 'anak kesayangan' sang kaisar.
Tak heran, karena ia adalah anak kesayangan, kaisar pun rela memberikan titah pernikahan pada Aldis, yang seharusnya tidak boleh dilakukan karena wanita tidak diperbolehkan melamar pria lebih dulu. Itu sama saja dengan menebar aib, apalagi titah pernikahan itu ditolak Aldis mentah-mentah, semakin membuat martabat keluarga kekaisaran jatuh sangat dalam.
'Sial. Dari semua orang, kenapa aku harus berpapasan dengannya.'
Selama sebulan ini, Aldis sudah sangat senang karena tidak bertemu dengan Putri ke-3, namun ternyata ia malah bertemu dengannya hari ini, tepat di saat istrinya sedang tidak ada di sisinya.
__ADS_1
'Freya....'
Tak, tak.
Suara hak sepatu terdengar. Pikiran Aldis yang merindukan istrinya seketika buyar.
Isabella berjalan mendekat. Sepasang mata ungu mudanya berbinar, menatap intens ke arah pria idamannya. Saat jaraknya dengan Aldis kian menipis, ia berhenti. Bibir tipisnya mengembangkan senyum. Kali ini bukan senyuman manis seperti sebelumnya.
"Duke," panggilnya dengan nada sensual. Pipinya kian merona saat Aldis menatapnya balik. "Aku mengundangmu untuk tea time bersamaku hari ini."
Aldis mengernyit sesaat.
Senyum Isabella kian mengembang.
"Hanya kita berdua. Di istanaku."
...―•♡•―...
Prangg!
Suara pecahan terdengar. Gelas kaca mahal jatuh begitu saja, pecahannya menebarkan beling-beling kaca yang bisa membuat siapa pun terluka. Orang-orang yang mendengar suara pecah itu seketika berkerumun.
"Ya ampun! Apakah Anda baik-baik saja, Saintess?"
"Apakah Saintess terluka?"
"Astaga! Jarinya berdarah!"
"Saintess terluka? Cepat panggil pendeta! Bisa gawat kalau tidak segera diobati!"
Orang-orang riuh. Para kesatria berseragam putih segera menghampiri pusat kerumunan sambil membawa seorang pendeta. Di tengah kerumunan orang-orang, tampak seorang wanita berambut merah muda bergeming di tempatnya.
"Saintess!"
Tak menghiraukan panggilan dari orang-orang di sekitarnya, wanita itu hanya menatap kosong gelas kacanya yang pecah. Beberapa detik kemudian, mata emasnya berkedip beberapa kali.
"Apa ini...?" gumamnya seraya mengepalkan tangannya. Bibir kecilnya cemberut sesaat. "Kenapa aku merasa sesuatu yang berharga dariku seperti direbut, ya?"
―――――――――――――――
__ADS_1
Tbc.