
Namanya Danadyaksa, dilahirkan dengan titah laki-laki 16
tahun yang lalu. Anak kedua, tapi bukan anak tengah karena tidak punya adek.
Dana tidak mengalami kesulitan dalam keuangan, bahkan dipenuhi oleh kasih sayang
kedua orang tua dan kakaknya. Hanya saja Dana tinggal di kota kecil, sangat
kecil malah. Saking kecilnya, semua orang tau siapa Dana. “Dana si anak pinter?”,
“Dana si ganteng, tinggi blasteran?”, “Dana yang romantis?”,”Dana si anak motor?”,”Dana
yang main gitar?”, “Dana mantannya A, B, C sampai Z?”. Yup, Dana tidak dikenal
dengan nama orang tuanya. Membuat dia muak dengan kota kecil ini.
Hingga tamat trimester akhir SMP lalu, Dana meminta kepada
kedua orang tuanya untuk pindah. Tentu saja Dana tidak diizinkan. Dana
satu-satunya anak di rumah itu sekarang. Kakaknya bekerja di Kota Besar sebagai
wakil kepala sekolah SMA ternama disana. Sehingga orang tuanya merasa kesepian
jika ditinggal Dana.
“Ayah, jika aku rangking satu UN tinggkat Kota, Aku SMA di
tempat kakak, boleh, Yah?” tanya Dana.
“Mudah bagimu untuk mendapatkan peringkat itu, tidak seru
dong.” Jawab Ayah Dana.
“Lalu bagaimana caranya agar aku bisa bujuk Ayah, supaya aku
tinggal dengan kakak?” tanya Dana kembali.
“Apa maksudmu tinggal denganku? Tidak usah banyak tingkah,
kamu masih kecil. Aku terlalu sibuk untuk mengurusmu.” Ucap Afsheen, kakak Dana.
Kakak Dana itu satu-satunya perempuan ternekat di kotanya. Diumurnya
yang masih terbilang 4 tahun, dia mendaftakan dirinya untuk masuk SD, karena
sering ditertawakan masih kecil oleh anak-anak lingkunganya yang telah memasuki
SD terlebih dahulu. Lulus sekolah dasar pada umur 10 tahun, Afsheen
mendaftarkan sendiri dirinya ke SMP Ternama di Kota Besar, karena muak dengan
pelajaran di Kotanya. Lulus kuliah di umur 19 tahun, menjadikannya guru termuda
di sekolahnya sekarang. Dan telah dua tahun menjabat sebagai wakil kepala
__ADS_1
sekolah serta membina olimpiade matematika. Banyak yang bertanya, mengapa anak nekat
tersebut, yang berani hidup dikota besar sendirian di usianya yang masih
terbilang sangat muda, memilih profesi sebagai guru. Bukan professor atau pemimpin
perusahaan.
“Bilang saja, kakak sibuk hura-hura menghabiskan duit Ayah.
Pacaran sana kemari.” Ledek Dana.
“Ayah, aku akan menjaga kakak disana. Memastikan kakak untuk
makan tepat waktu, menjaga kesehatan kakak, dan menjaganya dari pria liar
dikota. Aku mohon Ayah.” Pinta Dana.
“Dana, kamu tidak sayang ibumu lagi. Ibu akan kesepian jika
kamu pergi. Kamu tau kan, betapa stressnya ibu sewaktu kakakmu nekat menempuh
perjalanan selama 8 jam menuju Kota sendirian. Kehilangan waktu bersama kakakmu
selama 10 tahun lebih, sudah cukup bagi Ibu. Tolong jangan buat Ibu kehilangan
waktu juga bersamamu.” Pinta Ibu Dana.
“Bu, aku masih hidup loh, lagi makan masakan Ibu lo, aku disini.
Ibu Dana adalah orang yang tidak bisa ditinggalkan
sendirian, dia juga orang yang tidak bisa meninggalkan orang lain. Berbeda
dengan Ayah Dana yang berjiwa bebas. Tetapi sejak bertemu dengan Ibu Dana, Ayah
Dana selalu bersama Ibu, tidak pernah meninggalkannya sendirian hingga menemani
Ibu Dana di pelaminan sebagai Suami. Sifat Ayah Danalah yang menurun ke Afsheen
dan Dana. Akan tetapi, Dana tidak senekat Afsheen. Hal ternekat yang pernah
Dana lakukan hanyalah pergi ke gunung tanpa izin kedua orang tuanya, karna Dana
tahu, dia tidak akan diizinkan, mengingat usianya yang baru 14 tahun.
“Oke Ayah izinkan!”
“AYAH!!” herdik Afsheen dan Ibu serentak.
“Tapi dengan syarat, kamu harus melanjutkan SMA di tempat
kakakmu bekerja.” Ucap Ayah.
“Beneran Ayah?” tanya Dana.
__ADS_1
“Bener, tapi syarat itu ada ketentuanya.”
“Kok, kayak peraturan sekolah, pakai ketentuan?” ucap Dana
Bingung.
“Oke, kalau nggak mau yaudah, nggak ada ruginya untuk Ayah.”
Balas Ayah.
“Eh, Ayah. Jangan gitu dong, kayak Ibu aja sering ngambekkan.”
“Oke, ketentuannya kamu harus mendapatkan setidaknya lima
besar sewaktu ujian tes masuk SMA tempat kakakmu bekerja. Dan mulai hari ini hingga
hari yang ditunggu, waktu malammu menjadi jam 6 sore, tiap kesekolah selalu
ayah antar, pulang sekolah ibumu yang jemput. Tidak motor-motoran lagi. Makan 3
kali sehari dirumah bersama ibumu.” Ucap Ayah
Dana menyanggupi permintaan Ayahnya. Ia tak ingin berdebat,
takut Ayahnya berubah pikiran. Dana Kembali ke kamarnya meninggalkan kedua
orang tua dan kakaknya.
“Ayah, kenapa Ayah setuju dengan Dana?” tanya Afsheen.
“Ayah, Ayah tega liat Ibu sendirian di rumah?” ucap Ibu.
“Ibu, Ibu tidak akan sendirian, ada Ayah. Justru waktu
berdua kita jadi lebih banyak juga kan. Dan juga Afsheen, dari kecil hingga
sekarang kamu tidak pernah diawasi. Bahkan adikmu tidak pernah merasakan
bagaimana rasanya mempunyai kakak. Sudah cukup waktumu untuk menyendiri dari
keluarga.”
“Ayah, umurku hampir 25 tahun. Aku bahkan berada diusia yang
seharusnya sudah bisa memiliki keluarga sendiri. Tidak ada wanita dewasa yang
diawasi adik laki-lakinya yang bahkan belum berusia 15 tahun.” Ucap Afheen.
“Kau benar, tetapi tidak ada juga anak berumur 10 tahun yang
mendaftarkan dirinya sendiri ke sekolah yang berjarak 8 jam perjalanan dari
rumahnya. Itu sudah menjadi bagian dari dirimu. Anggap saja ini adalah cara
kamu menyayangi satu-satunya adikmu.”
__ADS_1