Gadis Di Bangku Taman

Gadis Di Bangku Taman
1. Namanya Dana


__ADS_3

Namanya Danadyaksa, dilahirkan dengan titah laki-laki 16 tahun yang lalu. Anak kedua, tapi bukan anak tengah karena tidak punya adik. Dana tidak mengalami kesulitan dalam keuangan, bahkan dipenuhi oleh kasih sayang kedua orang tua dan kakaknya. Hanya saja Dana tinggal di Kota Kecil, sangat kecil malah. Saking kecilnya, semua orang tau siapa Dana. “Dana si anak pintar?”, “Dana si ganteng, tinggi blasteran?”, “Dana yang romantis?”,”Dana si anak motor?”,”Dana yang main gitar?”, “Dana mantannya A, B, C sampai Z?”. Yup, Dana tidak dikenal dengan nama orang tuanya. Membuat dia muak dengan kota kecil ini.


Hingga tamat trimester akhir SMP lalu, Dana meminta kepada kedua orang tuanya untuk pindah. Tentu saja Dana tidak diizinkan. Dana satu-satunya anak di rumah itu sekarang. Kakaknya bekerja di Kota Besar sebagai wakil kepala sekolah SMA ternama di sana. Sehingga orang tuanya merasa kesepian jika ditinggal Dana.


“Ayah, jika aku rangking satu UN tingkat kota, Aku SMA di kota kakak, boleh, Yah?” tanya Dana.


“Mudah bagimu untuk mendapatkan peringkat itu, tidak seru dong.” Jawab Ayah Dana.


“Lalu bagaimana caranya agar aku bisa bujuk Ayah, supaya aku tinggal dengan kakak?” tanya Dana kembali.


“Apa maksudmu tinggal denganku? Tidak usah banyak tingkah, kamu masih kecil. Aku terlalu sibuk untuk mengurusmu.” Ucap Afsheen, kakak Dana.


Kakak Dana itu satu-satunya perempuan ternekat di kotanya. Di umurnya yang masih terbilang 4 tahun, dia mendaftarkan dirinya untuk masuk SD, karena sering ditertawakan saat kecil oleh anak-anak lingkunganya yang telah memasuki SD terlebih dahulu. Lulus sekolah dasar pada umur 10 tahun, Afsheen mendaftarkan sendiri dirinya ke SMP ternama di Kota Besar, karena muak dengan pelajaran di kotanya. Lulus kuliah di umur 19 tahun, menjadikan Afsheen sebagai guru termuda di sekolah tempat mengajarnya sekarang. Dan telah dua tahun menjabat sebagai wakil kepala sekolah serta membina olimpiade matematika. Banyak yang bertanya, mengapa anak nekat tersebut, yang berani hidup dikota besar sendirian di usianya yang masih terbilang sangat muda, memilih profesi sebagai guru. Bukan professor atau pemimpin perusahaan.


“Bilang saja, kakak sibuk hura-hura menghabiskan duit Ayah. Pacaran sana kemari.” Ledek Dana. “Ayah, aku akan menjaga kakak disana. Memastikan kakak untuk makan tepat waktu, menjaga kesehatan kakak, dan menjaganya dari pria liar di kota. Aku mohon Ayah.” Pinta Dana.

__ADS_1


“Dana, kamu tidak sayang ibumu lagi. Ibu akan kesepian jika kamu pergi. Kamu tau kan, betapa stresnya ibu sewaktu kakakmu nekat menempuh perjalanan selama 8 jam menuju kota sendirian. Kehilangan waktu bersama kakakmu selama 10 tahun lebih, sudah cukup bagi Ibu. Tolong jangan buat Ibu kehilangan waktu juga bersamamu.” Pinta Ibu Dana.


“Bu, aku masih hidup loh, lagi makan masakan Ibu lo, aku disini. Kok ibu ngomong kayak aku udah meninggal?” jawab Afsheen.


Ibu Dana adalah orang yang tidak bisa ditinggalkan sendirian, dia juga orang yang tidak bisa meninggalkan orang lain. Berbeda dengan Ayah Dana yang berjiwa bebas. Tetapi sejak bertemu dengan Ibu Dana, Ayah Dana selalu bersama Ibu, tidak pernah meninggalkannya sendirian hingga menemani Ibu Dana di pelaminan sebagai Suami. Sifat Ayah Danalah yang menurun ke Afsheen dan Dana. Akan tetapi, Dana tidak senekat Afsheen. Hal ternekat yang pernah Dana lakukan hanyalah pergi ke gunung tanpa izin kedua orang tuanya, karena Dia tahu tidak akan diizinkan, mengingat usianya yang baru 14 tahun.


“Oke Ayah izinkan!”


“AYAH!!” herdik Afsheen dan Ibu serentak.


“Beneran Ayah?” tanya Dana.


“Bener, tapi syarat itu ada ketentuannya.”


“Kok, kayak peraturan sekolah, pakai ketentuan?” ucap Dana Bingung.

__ADS_1


“Oke, kalau nggak mau yaudah, nggak ada ruginya untuk Ayah.” Balas Ayah.


“Eh, Ayah. Jangan gitu dong, kayak Ibu aja sering ngambekkan.”


“Oke, ketentuannya kamu harus mendapatkan setidaknya lima besar sewaktu ujian tes masuk SMA tempat kakakmu bekerja. Dan mulai hari ini hingga hari yang ditunggu, waktu malammu menjadi jam 6 sore, tiap ke sekolah selalu ayah antar, pulang sekolah ibumu yang jemput. Tidak motor-motoran lagi. Makan 3 kali sehari dirumah bersama ibumu.” Ucap Ayah


Dana menyanggupi permintaan Ayahnya. Ia tak ingin berdebat, takut Ayahnya berubah pikiran. Dana Kembali ke kamarnya meninggalkan kedua orang tua dan kakaknya.


“Ayah, kenapa Ayah setuju dengan Dana?” tanya Afsheen.


“Ayah, Ayah tega liat Ibu sendirian di rumah?” ucap Ibu.


“Ibu, Ibu tidak akan sendirian, ada Ayah. Justru waktu berdua kita jadi lebih banyak juga kan. Dan juga Afsheen, dari kecil hingga sekarang kamu tidak pernah diawasi. Bahkan adikmu tidak pernah merasakan bagaimana rasanya mempunyai kakak. Sudah cukup waktumu untuk menyendiri dari keluarga.”


“Ayah, umurku hampir 25 tahun. Aku bahkan berada di usia yang seharusnya sudah bisa memiliki keluarga sendiri. Tidak ada wanita dewasa yang diawasi adik laki-lakinya yang bahkan belum berusia 15 tahun.” Ucap Afsheen.

__ADS_1


“Kau benar, tetapi tidak ada juga anak berumur 10 tahun yang mendaftarkan dirinya sendiri ke sekolah yang berjarak 8 jam perjalanan dari rumahnya. Itu sudah menjadi bagian dari dirimu. Anggap saja ini adalah cara kamu menyayangi satu-satunya adikmu.”


__ADS_2