Gadis Di Bangku Taman

Gadis Di Bangku Taman
4. Dia


__ADS_3

“Hei, kamu! Ngapain berdiri disitu, mau malas-malasan kamu?” teriak penjaga


Dana terbangun dari lamunannya, “Eh, anu. Nggak, pak. Itu ada cew.., maksud saya siswi duduk disitu, pak.”


“Apa maksud kamu? Ngelantur kamu? Balik kerja sana!”


“Ta, tapi ada cewek duduk disitu pak.”


Penjaga menjewer telinga Dana. “Jangan banyak alasan, pekerjaan masih banyak” Penjaga menggiring Dana balik untuk bekerja.


***


Di kantin saat Istirahat pergantian jam pelajaran.


“Bro, kemana aja. Jam pelajaran tadi kok, nggak masuk?” Tanya Hafsah ke temannya yang sedang menyantap seblak.


“Kerja rodi gue, bersihin halaman, karna telat.” Jawab Dana.


“Lah, kok bisa lu telat? Tumben.” Tanya Rafa Kembali.


“Yah bisa lah, gara-gara lu pada nahan gue ampe jam dua pagi. Dimarahin abis-abisan deh gue ama kakak, jadinya nggak dibangunin.” Keluh Dana


“Lebay banget sih kakak lu, gitu doang dimarahin.” Balas Gani.

__ADS_1


“Udah ah, gue nggak mau bahas. Eh, ulangan gimana tadi? Soalnya susah, nggak?” Tanya Dana


“Nggak jadi ulangan. Dibatalin, jadinya diundur” Jawab Hafsah.


“Lah, kok bisa? Kalau gitu kelas kita yang duluan dong. Aduh! padahal mau nanya soal ama jawaban.” Keluh Gani.


“Ada dua orang yang nggak masuk kelas tadi pagi, Dana amaa… biasalah” Jelas Hafsah.


“Kalau gitu bolos aja yuk, Fa. Biar ulangan diundur.” Ajak Gani.


“Kasusnya beda, cok. Ini yang nggak hadir si privilege. Orang biasa kayak kita, mau masuk isekai pun, ulangan mah tetap jalan.” Jelas Rafa.


“Apaan sih lu pada!. Gue masuknya pake jalur murni, ada step-stepnya. Ampe ubanan gue belajar biar masuk kesini. Privilege darimana coba.” Ketus Dana.


“Ntar kasih tau soalnya apa aja ya.” Sahut Hafsah.


“Lah, ni orang malah main reverse.” Ketus Gani sambil melempari Hafsah dengan tisu bekasnya, kemudian berjalan mengikuti Rafa meninggalkan mereka berdua.


***


Beribu lembar kertas dan tumpukan dokumen tersebar berserakan di ruangan kecil berukuran lima kali lima meter persegi, tetapi masih luas sebagai tempat kerja untuk empat orang. Berbagai moto tertempel dengan rapi di dinding disertai dengan kalender yang dihiasi oleh agenda mendatang. Seorang wanita paruh baya dengan seragam kerja yang rapi memasuki ruangan itu.


“Bu Afsheen memanggil saya?”

__ADS_1


“Maaf jika mengganggu waktu istirahat Ibu, silahkan duduk.” Wanita itu duduk dikursi yang berada di hadapan Afsheen. “Saya memanggil Ibu kesini, karena ingin bertanya, bagaimana keadaan di kelas yang Ibu ajarkan dijam pertama tadi?”


Wanita itu tersenyum tipis, sambil mengambil teh dan menyeruput dengan perlahan. “Maaf, jika saya bertanya kembali, apakah Ibu Afsheen benar-benar bertanya mengenai bagaimana keadaan di kelas saya, atau bagaimana keadaan dia?”


“Maksud Ibu?”


“Saya sudah memperhatikan Bu Afsheen. Sudah hampir seminggu ini Bu Afhseen memanggil semua guru yang mengajar dikelas tersebut, bertanya mengenai hal yang sama dengan yang tadi.”


“Bukankah wajar bagi seorang wakil kepala sekolah menanyakan kepada guru mengenai keadaan di kelas yang dia ajarkan. Ini merupakan salah satu cara kami untuk mengevaluasi sekolah dan menjadikannya lebih baik.” Ketus Afsheen.


“Memang wajar bagi seorang wakil, tetapi yang Ibu lakukan bukanlah untuk sekolah. Maaf jika misalnya saya lancang, hal yang Ibu lakukan melainkan untuk kepentingan pribadi.” Kedua wanita itu terdiam sejenak.


“Jika ibu menginginkan jawaban, tanyakan saja dengan jelas. Kami para guru akan menjawabnya. Jujur, bukan hanya Ibu yang memperhatikan anak itu. Kami semua, warga sekolah disini, juga memperhatikan anak itu.” Ujar wanita itu dengan tenang.


“Tetapi hal yang Bu Afsheen lakukan mulai terlihat jelas, hingga anak-anak lain mulai menyadarinya. Bagaimana jika mereka berpikir, kita mulai memberikan perhatian yang lebih kepada seorang murid. Hal ini tentu akan sangat mempengaruhi reputasi sekolah kita.”


Afsheen menghela nafas. ”Baiklah, saya minta maaf jika misalnya saya terlihat basa basi didepan Ibu. Saya pun bingung, tiga bulan berlalu dan Ibu lihat bagaimana outputnya pada saat ujian tengah semester lalu. Ibu tahu, semua warga disekolah ini pun tahu, bagaimana potensi anak itu. Tetapi kalian malah ‘membiarkannya’ dengan alasan duka. Bagi saya, duka itu cukup untuk seratus hari”


“Bu Afsheen! Anda memang memiliki jabatan yang lebih tinggi daripada saya, tetapi bukan berarti hal tersebut menjadikan anda untuk lancang kepada orang yang lebih tua. Ingat siapa yang membuat anda untuk duduk di kursi itu sekarang.” Ucap wanita itu dengan lantang.


“Ibu benar, tanpa dia saya tidak akan duduk disini. Tetapi Ibu juga harus ingat, kenangan yang dia tinggalkan. Karna itu bu, dia tidak akan suka melihat kenangannya dilalaikan begitu saja. Terlebih lagi dengan potensi yang sebesar itu.”


Wanita itu menghela nafas, terdiam sejenak. “Saya akan berusaha semampu saya. Mengenai anak itu, dia tidak mengikuti jam pelajaran saya dimana seharusnya ulangan diadakan. Tetapi Ibu tenang saja, akan saya usahakan semampunya agar anak itu tidak tertinggal. Jika tidak ada hal yang lainnya lagi, saya permisi.”

__ADS_1


Wanita itu berjalan anggun keluar meninggalkan Afsheen duduk sendirian di ruangan.


__ADS_2