
Setelah beberapa hari kemudian....
#Kediaman Steward.
Vanilla tengah di dandani dengan cantik oleh seorang MUA yang di kirim oleh calon suaminya, ada madam Choo juga disana,tak lupa memakai gaun pengantin yang telah di pesan tempo hari bersama paman Jay, sepasang Hells setinggi lima cm menghias kaki nya.
Serta tudung putih pengantin juga bertengger di kepala nya.
Vanilla menatap pantulan wajahnya di cermin dengan sedih.
Ini mungkin akan menjadi pernikahan yang menyedihkan,,,tidak ada keluarga
atau sahabat yang di undang untuk menyaksikan pernikahan nya.
Daddy nya bahkan terkesan tidak peduli dan acuh saat mendapat pesan dari tuan muda Hilton agar tak menghadiri pernikahan mereka.
Ibu tiri dan saudari tirinya entah menghilang kemana.
Sedangkan adiknya, Alvaro yang ia harapkan,juga tidak di kasih tau tentang hari ini dan pergi ke Maldives.
"Mari Nona,, sudah siap,, tuan Jay sudah menunggu di depan"ucap Masam Choo setelah membuka ponselnya.
Vanilla menghela nafas lelahnya,lalu mengikuti Madam Choo keluar dari kamar nya menuju halaman depan.
Vanilla menatap sendu wajah Daddy nya saat melewati nya yang berdiri di teras rumah berharap belas kasihan darinya,tapi lelaki paruh baya itu memalingkan wajahnya menghindari tatapan mata Vanilla.
Vanilla masuk ke dalam mobil yang di buka kan oleh paman Jay.
Kemudian mobil pun melaju meninggalkan kediaman keluarga Steward.
πΉπΉπΉπΉπΉ
Vanilla turun dari mobil setelah sampai di sebuah gereja yang tidak terlalu besar.
Di susul paman Jay dan Madam Choo.
"Maaf Nona,,,tolong pakai ini"ucap paman Jay sambil menyerahkan sebuah kain kecil dan panjang berwarna hitam kepada Vanilla.
Vanilla mengerutkan dahi nya, bahkan madam Choo juga ikut kelihatan bingung.
__ADS_1
"Tuan muda yang meminta,,anda belum di perboleh kan untuk melihat tuan muda"jelas Paman Jay.
"Astaga!!!!! pernikahan konyol macam apa ini?????"Vanilla membatin.
Lagi lagi Ia harus menelan pil pahit dari pernikahan nya sendiri.
Vanilla meraih kain itu dan menutup mata nya dengan kain itu, Madam Choo membantunya untuk mengikatkan nya di belakang kepala nya.
Setelah itu,, Madam Choo dan Paman Jay menuntun nya masuk kedalam gereja dimana Darren sudah menunggu di sana.
Setelah Vanilla berdiri di samping Darren madam Choo dan Paman Jay berdiri tak jauh dari mereka.
Di dalam gereja hanya ada asisten Adam , seorang penghulu dan dua orang petugas di gereja itu,di tambah Madam Choo dan paman Jay.
Darren menatap Wanita dengan mata tertutup.
"Cukup penurut"Darren menyirngai saat melihat wanita bahkan tidak berniat membuka penutup mata nya.
"Apa maksudnya ini paman Jay??? tanya Madam Choo sambil berbisik kepada Paman Jay.
"Itu bukan urusan kita Madam Choo"jawab paman Jay pelan.
Dari awal Ia mengira Vanilla mau menikahi Darren karena harta, berhubungan rumor tentang cacatnya Darren masih menjadi perbincangan umum, walaupun sudah dari lima tahun yang lalu,tapi setelah melihat keadaan Vanilla, bagaimana sikap orang orang yang berada di rumah itu kepada Vanilla sangat buruk dan tak tampak seperti anggota keluarga disana.
Madan Choo menatap punggung dengan tatapan bersimpati.
Paman Jay menatap Madam Choo, kemudian tanpa menjawab apa apa,paman Jay kembali fokus ke depan.
Selang beberapa waktu kemudian,,, Vanilla dan Darren telah sah menjadi suami istri.
Darren langsung meninggalkan Vanilla di tempat itu diikuti oleh asisten Adam.
"Pastikan, mereka tidak ada yang menyebarkan informasi pernikahan ini"titah nya tegas.
"Baik tuan"jawab Asisten Adam.
Setelah Darren dan Adam pergi,madam Choo dan Paman Jay menghampiri Vanilla yang masih setia berdiri.
Paman Jay lalu membuka penutup mata Vanilla.
__ADS_1
Vanilla langsung celingukan mencari seseorang.
"Tuan muda sudah pergi dahulu Nona"ucap Paman Jay.
Vanilla menghela nafas kecewa.
"Ini cincin pernikahannya Nona"Paman Jay menyerahkan sebuah cincin berlian yang cantik kepada Vanilla.
Vanilla tidak berkomentar apapun,lalu memakai cincin yang seharusnya di pakaikan oleh suaminya,tapi itu hanya akan ada dalam angan-angan saja.
"Mari Nona"Paman Jay menggiring Vanilla keluar dari Gereja itu diikuti oleh madam Choo menuju mobil mereka.
Kemudian mobil pun melaju meninggalkan gereja itu.
sepanjang perjalanan pulang, Vanilla hanya menatap keluar jendela,rintik hujan tiba tiba mulai berjatuhan lalu menjadi deras dan membasahi wajah nya.
Pikiran nya berkecamuk,antara marah dan malu,sedih dan tidak berdaya masih menguasai hatinya,,,tapi tidak tau harus melampiaskan perasaan perasaan tersebut kemana,,,,hanya bisa menelan kegetiran sendiri.
"Tutup jendela nya Nona"seru paman Jay saat melihat Vanilla yang menatap keluar dengan diam dari jendela mobil yang di buka dan membiarkan wajah nya terkena tempias air hujan.
Mendengar seruan itu Vanilla langsung menutup kaca jendela tersebut dan menghapus air hujan di wajahnya dengan tangan.
Madam Choo memberikan sebuah sapu tangan kepada Vanilla.
"Terimakasih Madam"
Madam Choo hanya mengangguk.
Selanjutnya hanya suara hujan yang terdengar,tidak ada percakapan antara mereka.
Hingga sampai lah mereka di depan sebuah mansion yang megah dan mewah.
.........
ππππππ₯₯ππππππππππ
Jangan lupa untuk like comment dan vote yaaa π₯°π₯°
Happy reading π₯π₯π₯π₯π₯πΊπΊπΊ
__ADS_1