
"Kakak berbohong, aku jelek, penampilan ku katro. Semua itu sudah terbukti banyak orang yang bilang begitu padam ku." Era berkata dengan perasaan
tidak ada kepercayaan diri.
"Dek, kamu cantik. Mereka bilang begitu pada mu hanya belum tahu saja bagaimana pesona mu. Jadi kakak minta jangan bersedih ya." Fatih berkata dengan tulus dan berniat membangun percaya diri bagi Era.
Dalam pandangan Fatih,Era tidak seperti yang di bilang teman&teman Era. Bagi Fatih penampilan katro Era adalah ciri khas Era dan Fatih tahu betul Era sangat cantik apa bila penampilan nya di ubah. Bagaimana mana pun penampilan Era yang katro mampu menumbuhkan cinta pada Era. Apa lagi kalo Era berpenampilan seperti wanita lain bisa-bisa suruh dunia memujinya, seperti itu pikir Fatih. Maka itu lah sebabnya dia lebih mendukung Era berpenampilan katro dia takut Era akan pergi di ambil orang lain.
Setelah Fatih menumbuhkan percaya diri pada Era. Era pun pamit pada kakak nya untuk masuk ke kelas. Dan latihan juga langsung pergi dari sekolah Era.
Saat Era berjalan menuju jelas tiba tiba pundaknya di sentuh oleh seseorang.
"Era." Ternyata orang yang memeanggil Era dan menyentuh pundaknya adalah Akhtar. Lelaki yang di sukai. Namun sayangnya dia pacar Feby.
"Hmmm, ada apa kamu memanggil ku." Era terpaksa bersikap ketus kepada Akhtar. Karena kejadian waktu itu. Kejadian di kamar mandi dan kejadian saat dia mendengar Feby mengucapkan kata sayang pada Akhtar.
"Dih ketus amat sih jawabnya." ucap Akhtar pada Era yang terus saja berjalan. Tanpa menghiraukan keberadaan Akhtar yang mengekor nya dari belakang.
"Ya biarin, dari pada aku di marahin pacar kamu." Jawab Era pada Akhtar.
"Pacar?emang siapa pacarku?" Akhtar kebingungan dengan pernyataan yang di berikan Era padanya. Akhtar merasa tidak mengerti kenapa Era takut sama pacarnya sedangkan dirinya belum mempunyai pacar.
"Kamu ini, kamu yang berpacaran masa tanya nya ke aku?" ucap Era.
"Aku ga punya pacar." Jawab jujur Akhtar pada Era.
__ADS_1
"Dasar lelaki udah jelas-jelas punya pacar,tapi tetep aja ga ngaku." Celoteh Era sambil berjalan pergi meninggalkan Akhtar.
"Hey kenapa kamu Pergi gitu aja tunggu aku." Akhtar pun berlari mengejar Era.
Sesampainya di kelas Era pun langsung duduk di tempat nya dan tidak lama di ikuti oleh Akhtar yang duduk di samping Era. Sepanjang pelajaran di mulai Akhtar terus berbicara pada Era. Namun Era tidak menanggapinya dia hanya terdiam dan fokus pada pelajaran yang di berikan oleh pak Ari. Hingga tiba pada waktunya pulang semua siswa di kelas merapihkan peralatan tulisnya begitu pula dengan Era dan Akhtar.
Saat merapihkan peralatan menulis Akhtar meminta bantuan Era untuk mengajarkannya pelajaran yang Akhtar tidak mengerti. Pada awalnya Era menolak permintaan Akhtar.
"Aku tidak mau membantu mu, kamu pikir saja sendiri pelajaran yang tidak kamu bisa."Tolak Era.
" Ayolah Er bantu aku ya." Dengan wajahnya yang memelas.
" Hmmm gimana ya.... " Era pun berpikir tentang permintaan Akhtar.
"Ayolah Er nanti aku kasih apa aja yang kamu mau deh, kamu minta apa pun aku kasih." Bujuk Akhtar pada Era.
Saat di taman hanya ada mereka berdua. Akhtar dan Era pun mengeluarkan peralatan sekolahnya. Dan Akhtar pun mengulang pelajaran yang tidak di pahami. Lalu Akhtar sesekali bertanya pada Era. Era menjawab sebisanya dan menerangkan semua yang Akhtar tidak paham.
Namun saat mereka asik-asik nya belajar. Cuaca berubah mendung dan seketika hujan turun. Sebelum air hujan membasahi mereka, Akhtar dan Era pun berlari ke sebuah halte dekat taman dan berteduh di sana. Semakin lama hujan semakin deras. Dan langit pun aga gelap karena hujan, lalu terdengar suara-suara petir bergemuruh yang membuat Era ketakutan.
'Ddddduuuuuuuarrrr' suara petir yang membuat Era ketakutan dan memeluk tubuh Akhtar.
"Er, kau takut petir?" tanya Akhtar saat Era memeluk tubuhnya. Era yang menyadari dia memeluk Akhtar langsung menghempaskan jauh-jauh tubuhnya dari pelukan Akhtar.
"Tidak, aku tidak takut petir." Jawab Era berbohong tentang dia yang tidak takut petir. Namun kebohongan Era tidak bisa di sembunyikan lama. Karena tiba tiba sebuah petir menggelegar yang lagi-lagi membuat Era takut dan memeluk Akhtar.
__ADS_1
"Jangan berbohong aku tau kamu takut suara petir." Ucap Akhtar pada Era.
Era merasa malu kebohongan nya di ketahui oleh Akhtar. Ia berniat menarik lagi tubuh nya dari tubuh Akhtar namun Akhtar malah berbalik memeluk tubuh Era.
"Sudah kalo mau peluk-peluk aja." Bisik Akhtar pada telinga Era. Membuat jantung Era seketika berdetak kencang. Pelukan yang tadinya akan Era lepas kini tidak jadi dia lepas. Dia terlanjur nyaman berada di pelukan Akhtar.
Pelukan itu terlalu nyaman hingga membuat mereka tidak menyadari bahwa hujan pun sudah reda.
"Hujannya sudah reda." Ucap Akhtar pada Era yang sedikit mengantuk di pelukannya. Dia baru menyadari dia sedari tadi berpelukan dengan Akhtar dan langsung menjauhkan tubuhnya.
"Sudah reda ya, maaf aku tadi sudah memeluk mu terlalu lama." Ucap Era.
"Apa seperti ini cara mu berbalas budi?"
tanya Akhtar sambil memegang dan mengelus-elus pipi Era.
"Maksud kamu aku harus melakukan apa?" Era berbalik bertanya.
"Kamu harus melakukan seperti ini." Akhtar berkata sambil mendekatkan wajahnya, pada wajah Era.
Era pun seketika mematung dan terdiam. Sedangkan wajah Akhtar sudah berhadap-hadapan sangat dekat dengan Era.
......................
Hai gaes maaf ya kalo ceritanya ga nyambung dan masih banyak tanda baca yang salah.
__ADS_1
Bagi kalian yang suka tinggalkan jejak ya dan Follow akun ku.
terimakasih.