Gimai Seikatsu

Gimai Seikatsu
end chapter 6


__ADS_3


(EKhmmm... manis bet) :v


"Hah?!"


Untuk sesaat, kepalaku terasa kosong. Apa-apaan maksudnya itu?


 “Bagaimana menurutmu?”


“… A-Apa maksudmu?”


“Persis seperti yang aku katakan. Aku bertanya apa kamu mau membeli tubuhku. Pada dasarnya, dengan imbalan uang.”


“……”


“Karena kejadian sebelumnya, aku sangat memahami bahwa tubuhku cukup baik untuk membuatmu terangsang, dan… yah… Kita tidak perlu melangkah terlalu jauh. Kamu bisa menggunakannya sesukamu. ”


“Oi oi oi oi oi oi…”


“Jika dipikirkan secara rasional, jawaban inilah yang aku dapatkan.”


Kau bilang ini rasional?


“Dengarkan aku dulu.” Pintanya.


“Ah, oke…”


Akal sehat dan rasionalitasku hampir saja dibuang jauh-jauh, tetapi aku masih bisa berhasil menahannya.


“Kita ini anak SMA, ‘kan?” Ayase-san terus melanjutkan.


“…Ya.”


“Itu sebabnya, kamu tahu. Ada perbuatan canggung yang tidak dapat kamu lakukan sendiri, iya ‘kan?”


Perbuatan canggung yang tidak bisa dilakukan sendiri? Apa dia sedang membicarakan tentang perbuatan yang ... kau tahu, membutuhkan alat kelamin pria dan wanita? Yah, aku rasa begitu… Tidak, aku tidak bisa menyangkalnya. Aku bukanlah orang sok suci atau semacamnya, aku adalah anak SMA yang sehat, jadi percuma saja menyembunyikannya, tapi aku masih tidak menyangka akan membicarakannya dengan gadis seusiaku.


“Sekarang kita tinggal di bawah satu atap, ada kemungkinan kita akan ketangkap basah satu sama lain saat sedang melakukan itu.”


“Aku tidak ingin memikirkannya, tapi memang ada kemungkinan itu.”


“Di situlah aku berpikir. Jika repot-repot cemas akan tertangkap basah, bukannya lebih menguntungkan bagi kita untuk mengurus kebutuhan satu sama lain dengan jeda waktu yang ditentukan, dengan izin dari kedua belah pihak?”


“Bagaimana kau bisa sampai pada pemikiran itu…”


“Saat kamu memuji masakanku dengan sangat tinggi, Asamura-kun…”


Mendengar perubahan topik yang tiba-tiba ini, aku bingung. Kenapa dia tiba-tiba membicarakan makan malam?


“…Aku sudah memikirkannya matang-matang. Jika aku meminta uang sebagai imbalan untuk masakanku, aku bisa mendapatkan uang dengan sedikit pekerjaan.”


“Itu……memang masuk akal.”


Aku juga memikirkannya. Kurasa kami berdua sampai pada cara yang agak tidak menguntungkan untuk menyelesaikan masalah ini.


“Meski tidak dibayar banyak, itu dapat mengurangi biayaku seminimal mungkin.”


“Kedengarannya ide yang bagus.”


Namun, Ayase-san menggelengkan kepalanya.


“Aku tidak ingin menghasilkan uang melalui itu. Aku akan mendapatkan terlalu banyak dari itu dan sangat tidak sepadan dengan prinsip timbal balik. Tapi, aku ingin uang. Itulah sebabnya aku menemukan sesuatu yang berharga yang bisa aku berikan, dan mendapatkan uang kembali.”


“Jadi pada dasarnya, saat mencari pekerjaan bergaji tinggi, Kau memutuskan untuk bekerja malam dengan salah satu anggota keluargamu?”


Dia mengangguk. Jalan pemikirannya sampai pada kesimpulan yang berbahaya.


“Jika kita benar-benar melakukannya, aku yakin ada sedikit sedikit rasa canggung setelahnya, tapi ketimbang melakukannya dengan orang yang tidak aku kenal, aku menilai bahwa jauh lebih nyaman untuk melakukannya dengan seseorang yang baik sepertimu, Asamura-kun. ”


Jadi dia bahkan berpikir untuk melakukannya dengan orang asing.


“Jika melakukannya seperti ini, aku takkan merasa bersalah setelah meminta uang terlalu banyak.”

__ADS_1


Aku mendengar suara sesuatu muncul di dalam kepalaku. Aku mengangkat tubuh bagian atasku, mengulurkan tanganku. Akibatnya, bahunya gemetaran karena terkejut. Hanya melihat reaksinya saja, rasa bersalah yang kuat memenuhi dadaku, saat mulutku terbuka perlahan.


“Tipe wanita seperti itulah yang paling kubenci, Ayase-san.”


“Eh…”


Aku benci yang namanya fitnah dan ucapan buruk. Apapun alasannya, aku tidak ingin menyakiti orang lain melalui perkataanku, dan rasanya membuat hatiku sakit saat memikirkan aku mengatakan ini. Namun, aku harus melakukannya sekarang. Aku harus menghentikan amukan Ayase-san saat ini juga.


Wajah ayahku dan Akiko-san terlintas di dalam kepalaku. Setelah semua yang Ayahku lalui, dikhianati oleh mantan istrinya, dan menjadi tertekan karenanya, bisakah aku benar-benar berpaling dari itu? Tidak. Aku merasa lega ketika aku melihat wajahnya yang bahagia, dan aku ingin mendukungnya sekarang.


Sedangkan untuk Akiko-san, aku tidak tahu persis apa yang dia alami, tapi mungkin ada masalah dengan mantan suaminya, itulah mengapa mereka bercerai. Namun, saat ini, sepertinya dia hidup bahagia. Jika aku mengikuti ide Ayase-san, permintaannya, dan apa yang akan terjadi setelah itu, itu akan membawa malapetaka bagi kedua orang tua kami. Aku tidak bisa menerima itu.


Kami sudah berjanji untuk tidak mengharapkan apa pun dari satu sama lain. Kami mengkonfirmasinya saat pertama kali kami bertemu, dan agak menjaga jarak sejak saat itu. Di satu sisi, aku berharap Ayase-san tidak melakukan hal seperti ini, yang mana menyebabkan situasi ini sejak awal, artinya aku melanggar janji. Namun, berbicara masalah siapa yang pertama ingkar janji, pihak yang melanggar duluan adalah Ayase-san.


“Menggunakan penampilanmu sebagai persenjataan, bukannya itu yang pernah kau katakan?”


Aku tidak tahu mengapa Ayase-san sangat ingin tidak dianggap remeh sebagai gadis, begitu fokus pada kemandirian, tapi apa yang dia lakukan saat ini sangat kebalikan dari itu. Dirinya yang sekarang adalah tipe gadis yang akan diremehkan. Aku tidak meragukan pemikirannya bahwa ini mungkin mengarah pada urusan timbal balik. Tapi…


Itu mengingatkanku, kencan berbayar dan kerja malam seperti tindakan singkat, dan kau berasumsi orang yang melakukannya hanya untuk mendapatkan uang cepat, tetapi bahkan ada gadis pintar yang akhirnya melakukannya, atau begitulah yang aku dengar. Tidaklah aneh ada gadis yang berpikiran sama persis dengan apa yang Ayase-san pikirkan sekarang.


Namun, ini terlalu sederhana. Dan, itu bertentangan dengan keyakinannya sendiri. Mereka yang menyimpan kontradiksi mereka dan mengganggu orang lain dengannya… Aku tidak bisa menyukai mereka. Jika dia cuma orang luar, aku bisa saja mengabaikannya. Tapi sebagai keluarga, sebagai kakaknya, aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja. Aku meletakkan handuk di bahunya, memastikan supaya dia tidak kedinginan.


“Bukan itu. Jika kau tidak menemukan metode untuk membuktikan dirimu lebih unggul, mengabaikan masalah jenis kelamin, maka tidak ada artinya melakukan ini, bukan.”


“T-Tapi, ini akan menjadi pilihan yang layak biarpun aku cowok. Itu sebabnya, persenjataan dan sejensinya tidaklah penting.”


Jadi dia tetap melakukan hal yang sama jika dia adalah adik laki-lakiku? Untuk sesaat, aku membayangkan Ayase-san dengan badan laki-laki, tapi itu mengundang banyak masalah dengan sendirinya, jadi aku segera membuang imajinasi tersebut dari kepalaku.


“Aku tidak mau mendengar alasan apapun darimu.”


“Ma-Maaf.”


Mungkin karena aku memperingatkannya dengan nada dingin, tapi Ayase-san menunjukkan reaksi murung. Dari sana, aku melihat kecemasan, dan penyesalan. Meski aku sudah menyadari kalau dia kebalikan dari rumor yang beredar, dia hampir bertindak menuruti rumor tersebut. Sekarang aku mengerti bahwa dia siap melakukan segalanya demi mewujudkan keinginannya.


Aku sangat senang… Sangat senang dia mencobanya denganku dulu. Jika dia mencobanya dengan orang lain ….


“Selama kau mengerti, semuanya baik-baik saja. Lagian, aku tidak keberatan… yah, membayar masakanmu. Tapi hanya ada satu masalah.”


“Masalah…?” Ayase-san dengan lembut memiringkan kepalanya.


“Jika kita mempertahankan pertukaran moneter di dalam keluarga kita, maka pendapatan ekonomi keluarga kita tidak akan naik.”


“…Maksudnya?”


“Kedua orang tua kita sama-sama sibuk, jadi mereka tidak bisa pergi berbelanja terus. Kecuali furnitur mahal dan peralatan elektronik, kami perlu menghemat uang untuk hal-hal kecil, dalam skala bulanan.”


“Benar…”


“Dan, aku sendiri bekerja sambila. Aku pasti bisa membayarmu untuk makanannya. Tapi, coba pikirkan. Jika aku harus berhenti bekerja karena sakit, atau masalah lain, dan aku tidak mendapatkan gaji bulananku lagi, maka kau juga tidak bisa mendapatkan uang. Tapi, apa kau benar-benar berhenti memasak sejak hari itu dan seterusnya? ” Aku melanjutkan. “Selama sumber penghasilanmu berasal dari dalam keluarga, tidak pasti apa kau benar-benar dapat menerima harga yang pantas untuk kerja kerasmu.”


“Itu benar ... aku tidak pernah memikirkan itu.”


“Tentu saja, dibayar dari keluarga sendiri mungkin ada manfaatnya. Kau pasti takkan tertipu dalam prosesnya. Saat kau mendapatkan uang dari luar, kau terus-menerus harus berhati-hati supaya tidak dibayar lebih sedikit atas apa yang pantas kau dapatkan. Tapi, meski gajinya tidak terlalu bagus, aku masih berpikir lebih baik mendapatkan nilai obyektif dari orang luar, dan meminta bayaran dalam konteks itu.”


Ayase-san tetap diam, mungkin memikirkan kata-kataku.


“Itu saja saran yang bisa aku berikan. Tentu saja, aku akan membantumu mencari pekerjaan, tapi tidak lebih dari ini.”


“Oke ….aku minta maaf.”


“Tidak apa-apa.” Aku menerima permintaan maaf Ayase-san.


Tidak ada alasan untuk memarahinya lebih jauh sekarang karena dia sudah menyadari kesalahannya dengan caranya sendiri.


“Tapi, ada sesuatu yang perlu kita bicarakan.”


“Eh?”


“Sejujurnya, aku tidak berpikir kamu adalah tipe orang yang melakukan ini, Ayase-san.”


“Itu… sama untukku juga.”


“Kupikir seluruh kejadian ini terjadi karena aku tidak pernah benar-benar memahamimu, Ayase-san. Itu sebabnya aku ingin tahu lebih banyak mengenai dirimu. ”

__ADS_1


“…Baik. Aku tidak suka membicarakan masa lalu, tapi aku sudah merepotkanmu seperti ini… ”Ayase-san memejamkan mata dan memikirkannya.


Menghela nafas, dia berbicara tentang kenangan masa lalunya. Ini terjadi ketika dia masih kecil.


Ayah Ayase-san tampaknya adalah pengusaha yang hebat. Namun, karena Ia dikhianati oleh teman-temannya, Ia kehilangan perusahaan, menderita inferiority complex, dan mulai menjaga jarak dari istri dan putrinya.


“inferiority complex?”


“Kalau dipikir-pikir lagi, ayahku mungkin cemburu. Ibu selalu bilang, sebagai lulusan SMA, dia hanya bisa mengandalkan bisnis kehidupan malam , tapi mendengar pendapat dari rekan-rekannya, dia cukup populer.”


“Akiko-san sepertinya pembicara yang hebat. Dia oranganya selalu ceria.”


“Ya… Aku pikir ayahku adalah orang yang baik. Tapi, setelah kehilangan perusahaan, Ia jadi berubah.”


Terkadang Ayahnya menjauh dari keluarga nya, atau menghabiskan waktu dengan seorang wanita di tempat lain. Ia pada dasarnya berhenti memiliki kasih sayang terhadap Ayase-san dan Akiko-san. Ia berhenti memberi uang ke keluarganya, memaksa Akiko-san untuk membayar semua uang yang dibutuhkan Ayase-san, yang menyebabkan dendamnya terhadap ayahnya. Ada juga fakta bahwa, semenjak istrinya bekerja di bisnis malam, Ia selalu mencurigai istrinya punya pria lain, bahkan mengejeknya karena itu.


“Meski begitu, bukan berarti itu menjadi alasan Ia sampai membuat Ibu menderita banyak hal.”


Itu menjelaskan mengapa dia membenci pandangan yang meremehkannya sebagai wanita ...


“Aku memahami bagaimana perasaanmu.”


Ayase-san menatapku. “Asamura-kun?”


“Ah, yah, aku hanya berpikir kalau kita sangat mirip sekali.”


“Itu sama dengan keluargamu juga, Asamura-kun?”


“Ya, untuk waktu yang singkat, ayahku menderita ginofobia untuk sementara waktu. Aku kaget melihatnya bisa menikah lagi. Mungkin itu berkat Akiko-san. ” (TN : ginofobia adalah rasa takut berlebihan kepada perempuan)


“Ginofobia? Sungguh?”


“Ya.”


“Begitu ya…”


Jadi, apa kamu juga sama? - Aku mendengar gumamannya yang samar, tapi aku memutuskan untuk mengabaikannya.


“Ahh, itulah sebabnya Ia menjaga jarak yang aneh dengan Ibu…” gumamnya.


Rupanya dia menyadari bahwa aku menjaga jarak dengan Akiko-san.


“Kita berdua benar-benar sangat mirip.”


“Benar.”


“Bahkan bagian yang buruknya hampir sama persis.”


Aku menunjukkan senyum masam, tidak bisa menyangkal kata-katanya.


“Yah, kita masih harus melalui ini, termasuk semuanya. Sebagai kakak beradik.”


“… Sebagai kakak beradik?”


“Ya.”


Ayase-san terkekeh, dan melepas handuk yang ada di pundaknya.


“Tolong jaga aku dengan baik mulai sekarang, Asamura-kun.”


“Sama juga. Ah, aku tidak keberatan jika kau mulai memanggilku 'Nii-san' ...”


“Hal itu takkan pernah terjadi.”


“Ehhh…”


Sayang sekali. Tapi, tidak perlu terburu-buru. Kita akan menjadi saudara untuk waktu yang lama sekarang.


“Aku tidak berencana untuk melangkah lebih jauh dari ini, Asamura-kun.” Ayase-san meletakkan handuk di tempat tidur, dan mendekatiku sambil tersenyum. “Takkan. Pernah.”


Dia melontarkan dua kata ini padaku, keluar dari bibirnya yang memerah, yang dia tekan di wajahku. Aku sudah mengerti itu, ya ampun. Bagaimanapun juga, hari-hariku bersama dengan adik tiri yang cantik namun anehnya berbahaya ini baru saja dimulai.


end

__ADS_1


__ADS_2