Gimai Seikatsu

Gimai Seikatsu
Chapter 5


__ADS_3

Pagi hari. Bersama Akiko-san, kami berempat duduk mengelilingi meja makan. Karena Akiko-san pulang larut kemarin, atau lebih tepatnya pagi ini, dia seharusnya masih tidur pada saat ini.


“Titik balik matahari musim panas sudah dekat, bukan ~” Ucapnya sambil menguap.


Dia rupanya bangun karena sinar matahari yang terlalu terang. Karena itu, aku pikir mungkin ide yang bagus untuk memasang tirai peneduh di kamar tidur mereka. Karena Ayahku mungkin tidak pernah memikirkannya, aku akan memberitahunya nanti.


“Aku akan tidur lagi nanti,” kata Akiko-san, namun tetap berdiri di dapur.


Pada saat yang sama, karena ayahku tidak harus berangkat kerja lebih awal, Ia dapat dengan santai membaca berita di tabletnya. Oleh karena itu, kami berempat akan makan sarapan bersama-sama.


“Ini, Yah, urus itu.”


“Woke.”


Aku memberinya kain untuk mengelap meja. Sambil menyeringai, Ia menyeka bagiannya sendiri dari meja, serta bagian Akiko-san. Setelah semuanya bersih berkilau, Akiko-san dan Ayase-san mulai membawakan sarapan hari ini. Mungkin karena keduanya memasak, kami memiliki variasi yang lebih banyak hari ini. Terakhir, mereka sepertinya menyiapkan telur dadar gulung, di atas wajan yang dibuat untuk telur gulung (dibawa oleh Akiko-san, karena kami sebelumnya tidak memilikinya), karena mereka menggulung telur menggunakan sumpit panjang. Itu tampak seperti karya master, karena aku bahkan tidak melihat telur di dalam telur dadar yang sudah jadi. Bahkan saat mencicipi sup miso, Ayase-san menatap kerajinan Akiko-san.


Setelah kami semua menangkupkan tangan, saling berdoa atas makanan, kami mulai menyantapnya. Tentu saja, kami semua meraih telur dadar gulung buatan Akiko-san terlebih dahulu. Saat aku menggigitnya, rasa saus yang berair memenuhi mulutku. Ini berbeda dari rasa yang kuharapkan… Apa ini?


“Rasanya enak. Tapi… tunggu, ini bukan… telur dadar gulung? ”


“Ini gaya Jepang yang spesial.”


Meskipun Akiko-san yang membuatnya, Ayase-san memberiku respon.


“Telur dadar gulung ala Jepang?”


“Telur dadar gulung biasanya rasanya seperti telur, kan? Jika kamu mau garam, tinggal tambahkan saja, dan mereka yang suka manis bisa menambahkan sedikit gula ke dalamnya. ”


“Gula?”


“Apa kamu tidak suka makanan manis? Kalau begitu, aku takkan membuatnya lain kali.”


“Ah, tidak… aku bukan orang yang pilih-pilih. Hanya saja, kamu bahkan bisa membuat telur dadar gulung yang manis, ya. ”


“Eh…”


“Hm?”


Bahkan jika kau melihatku seperti seorang alien, aku tidak dapat memberikan jawaban yang berbeda…


“… Kamu ikut pelajaran memasak, ‘kan?”


“Y-Ya. Tapi, kami tidak pernah membuat telur dadar gulung. Menunya selalu telur ceplok.”


“Hmmm. Tapi ya, omelet gulung ala Jepang yang kamu buat dengan menambahkan kaldu sup di dalamnya. ”


“Kaldu sup… Jadi seperti mie kuah?”


“Kami melakukannya dengan kecap putih, mirin, dan gula hampir sepanjang waktu.”


Dia melihat ke arah dapur, ke mangkuk putih tertentu. Begitu ya, karena kita hanya menggunakan garam, kecap, dan gula di sini, dia, atau lebih tepatnya, Akiko-san mungkin membawa bumbu itu bersamanya.


“Itulah mengapa rasanya lebih seperti kaldu sup daripada telur. Tentu saja, terkadang sedikit lebih asin. Jika ingin lebih manis, gunakan mirin. Kamu juga bisa menggunakan kecap, tetapi telur dadar gulung tidak mempertahankan warna kuningnya.”


“Kamu tahu banyak.”


“Saki-chan juga bisa membuatnya, loh. Mungkin kamu bisa membuatkan untuk Yuuta-kun karena dia menyukai rasanya?” Akiko-san ikut berkomentar.


“Aku tidak bisa melakukannya dengan baik…”


“Secara pribadi aku lebih suka telur ceplok.”


“…Begitu ya. Aku akan membuatnya jika aku mau.”


Pada dasarnya, inilah yang terjadi di balik Ayase-san dan percakapanku. “Kau tidak perlu melakukan hal lain di luar kesepakatan. Aku tidak keberatan sama sekali ', itulah yang aku katakan, dan ditanggapi oleh Ayase-san dengan “Terima kasih, aku akan membuatnya jika aku punya waktu '. Sebagai hasil dari itu, keinginan dan pendapat kita sendiri dapat tersampaikan dengan sempurna. Jauh lebih baik ketimbang menggunakan beberapa bahasa kode rahasia, karena itu bisa menyebabkan kesalahpahaman.


Namun tidak menyadarinya maksud dibalik percakapan kami, Ayahku terus memuji makanan Akiko-san sampai akhir waktu sarapan. Menyebutnya 'terlezat di seluruh dunia' mungkin terlalu berlebihan jika ada yang bertanya kepadaku. Apa kau hanya mencoba menggoda? Walaupun masih ada anak-anakmu? Kau benar-benar merusak motivasiku hari ini.


Aku sedang mencari topik lain untuk mengubah alur percakapan, ketika aku mengingat sesuatu.


“Oh ya, minggu ini giliranku untuk tugas mencuci, tapi apa aku boleh mengambil pakaian Akiko-san dan Ayase-san juga?”


“Ah, itu ...” Ayase-san ingin berbicara, tapi akhirnya menelannya lagi.


Aku memiringkan kepalaku dengan bingung. Jarang sekali bagi Ayase-san sampai tak bisa berkata-kata seperti itu. Apa mungin aku mengatakan sesuatu yang aneh?


“Nah, jika kamu setuju dengan itu, maka aku ingin mengurus cuciannya bersama-sama, Yuuta-kun.” Akiko-san menambahkan.


“Eh? Aku tidak bisa melakukan itu.”


Setelah kami memutuskan untuk tinggal bersama sebagai empat orang, kami membagi tugas beres-beres rumah. Banyak hal yang sudah berubah di sana, tapi aku tidak bisa begitu saja membebaninya banyak tanggung jawab…


“Tapi, mencuci pakaian untuk empat orang pasti sulit, bukan?” Akiko-san menekan lebih jauh.


Melihat betapa putus asanya dia, bahkan aku mulai memahami sesuatu. Sekarang aku jadi tersadar, meminta cowok mengurus pakaian wanita sampai mencucinya, bukannya itu sangat tidak sensitif? Tapi, karena aku terlalu sibuk berusaha untuk tidak membebaninya lagi, aku benar-benar mengabaikan poin itu. Hampir saja. Sebelum aku bisa menarik kembali penyataanku, Ayase-san terpaksa menjelaskannya kepadaku.


“Membiarkan pakaian dalamku pada Asamura-kun itu sedikit… yah… Da-Dan juga, mereka butuh perlakuan khusus dibandingkan dengan pakaian biasa. Apa kamu tahu, mana yang harus dimasukkan ke dalam jaring cucian? ”


“Yang mana ... apanya?” Tambahku, tapi memandang matanya untuk meminta maaf karena membuatnya mengatakan itu.


“Jika kamu mencuci bra begitu saja, bentuk bra akan berubah bentuk, dan pengaitnya bisa tersangkut di pakaian lain, bukan? Itu sebabnya ada jaring cucian khusus untuk bra. Jika kamu punya ka — ****** ***** yang lucu, dekorasi yang lebih kecil di atasnya bisa tersangkut dengan pakaian lain juga… ”


Bahkan di tengah suasana yang canggung ini, Ayase-san dengan hati-hati menjelaskan masalahnya. Berkat itu, aku mengerti betapa rumitnya mencuci pakaian wanita.


“Ditambah lagi, bukannya kamu memisahkan pakaian yang warnanya lebih kuat dan lemah? Kamu memasukkan pakaian dengan objek tiga dimensi ke jaring yang berbeda, bukan? Kalau tidak, mereka akan terkelupas.”


“Benda tiga dimensi, maksudmu seperti gambar atau logo yang menempel di kain?”


“Yup, yang itu.”


“Ahh, jadi itu sebabnya mereka mengelupas setiap selesai dicuci.”


Mendengar perkataanku, Ayase-san memegangi kepalanya. Namun dia dengan cepat mengangkatnya lagi, dan mengumumkan.

__ADS_1


“Dengan tingkat pengetahuan ini, aku tidak bisa menyerahkan pakaianku padamu, Asamura-kun, jadi aku akan mencucinya sendiri.”


“Ah, ya… Dimengerti.”


Merasakan suasana canggung, Akiko-san berbicara dengan senyum lembut.


“Lagipula aku akan mengurus pakaian Taichi-san, jadi kenapa tidak sekalian mencuci pakaianmu juga, Yuuta-kun?”


Mendengarkan kata-kata ini, aku membayangkan pemandangan dia melewati keranjang cucianku. Akiko-san akan… mencuci celana dalamku? … Mustahil.


"... Aku benar-benar memahami betapa canggungnya perasaanmu, Ayase-san.”


“Benarkah?” Dia menghela nafas.


Ya, aku sangat memahaminya. Maaf soal itu.


*****


Ketika aku membuka pintu depan, aku langsung disambut dengan deru hujan yang menghantam jendela dan pagar pembatas. Kita akan berangkat bareng, itulah yang dikatakan Ayase-san, dan meninggalkan rumah bersamaku, membuatku bingung dengan apa yang terjadi. Selama ini, dia selalu bersikeras untuk berangkat duluan. Maksudku, karena dia adalah saudara tiriku, adik perempuanku dalam konteks ini, berjalan bersama ke sekolah bukanlah hal yang aneh… Atau bukan? Aku merasa aneh bagi saudara yang sedang dalam perjalanan ke dan dari sekolah menengah. Atau apa aku hanya terlalu memikirkannya saja?


“Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan.” Di dalam lift , dalam perjalanan turun, Ayase-san tiba-tiba mengatakan itu.


Begitu ya. Itu masuk akal. Tentu saja, aku tidak tahu tentang apa, tapi itu sangat mirip sifat Ayase-san yang selalu berterus terang.


“Aku ingin meminta maaf.”


“…Minta maaf?”


Untuk apa? Aku memikirkan obrolan kita berdua pagi ini. Apa dia melakukan sesuatu yang pantas dimintai maaf? Justru, Akulah yang harus meminta maaf, karena mengatakana sesuatu yang sangat sensitif ...


Tapi, Ayase-san tetap diam bahkan setelah kami keluar dari apartemen. Kami berjalan di sepanjang jalan yang hampir kosong, payung kami berderet untuk melindungi kami dari hujan. Itu adalah waktu yang tepat untuk membicarakan sesuatu yang lebih pribadi, setidaknya sampai kami dekat dengan sekolah.


Deretan gedung-gedung dipertegas melalui hujan yang turun di atasnya, karena kami berdua harus berhati-hati dengan mobil yang melintas, supaya tidak membuat kami basah kuyup karena genangan air hujan di pinggir jalan. Setelah berhenti sekali karena itu, Ayase-san perlahan mulai berjalan lagi, saat wajahnya sedikit menegang.


“Sesuatu yang diskriminatif, bahkan tanpa disadari, adalah sesuatu yang aku benci. Karena itu, aku minta maaf.” Dia berkata dengan ekspresi serius.


Wajahku langsung menengok ke arahnya, dan aku tahu bahwa dia melihat ini sebagai percakapan penting. Dia menarik napas dalam-dalam, dan mengeluarkannya.


“Bukan tidak mungkin kamu akan mengenakan pakaian dalam dari merek mahal.”


Ini sangat tidak mungkin.


“Meskipun aku selalu berusaha untuk tidak termasuk dalam pandangan bias peran gender ...”


“Tunggu, Ayase-san.”


“Asamura-kun, aku bisa melihat bagaimana caramu merawat tubuhmu. Bahkan kemarin, kamu langsung memasukkan pakaian yang basah kuyup ke dalam mesin cuci. Aku belum pernah melihatmu memakai lip gloss atau bedak foundation, tetapi kamu sepertinya tipe orang yang sangat menyadarinya.”


“Tenanglah dulu, Ayase-san.” Aku berjalan di depannya.


Untuk menghentikan pikirannya yang semakin aneh, aku perlu menghentikan gerakannya, sehingga dia hanya bisa fokus padaku. Berkat itu, Ayase-san berhenti, dan menatapku dari bawah payung.


“... Oke, aku sudah tenang.”


“Bahkan jika kamu lebih menyukai pakaian wanita, bukan berarti kamu benar-benar akan memakainya.”


Gawat, dia sama sekali belum tenang.


“Tarik napas dalam-dalam, dan pikirkanlah. Kamu sudah melihat ruang cuci rumahku, kan?”


“Hmmm…” Ayase-san tenggelam dalam pikirannya. “Um… baiklah, aku melihat krim cukur dan pisau cukur. Aku tidak menemukan kosmetik untuk wanita… sepertinya. ”


“Benar, ‘kan?”


“Tapi, bentuk alismu sangat bagus.”


“Hah?”


“Kau pasti merawat mereka dengan cara tertentu. Aku tidak melihat sisir, tapi kamu mungkin mengunjungi salon kecantikan— ”


“Ke barber shop sih, iya.”


Apa menurutmu cowok sepertiku bisa melenggang santai ke salon kecantikan? Meski kita tinggal di kotanya anak-anak muda - Shibuya – bukan berarti semua orang terobsesi dengan kosmetik dan merek. Aku justru menabung untuk membeli buku.


“Eh? Lalu, apa bentuk alismu itu natural?”


“Yup, memang.”


Ayase-san menatapku.


“Aku tidak percaya ... aku sangat iri ...”


“Me-Memangnya semenakjubkan itu?”


“… Sungguh menjengkelkan…” Dengan kata-kata ini, Ayase-san mulai berjalan lagi.


Aku tetap diam, dan berjalan mengejarnya.


“Hei, dengarkan aku dulu.” Aku angkat bicara.


“Apa?”


“Tentang apa yang baru saja kau bicarakan tadi. Kau tahu, peran gender dan semacamnya.”


“Ya.”


“Peran gender adalah, memerankan peran tergantung pada gendernya.”


Sederhananya, pria bertindak seperti pria, dan wanita bertindak seperti wanita. Itulah yang dirujuk oleh peran gender. Tindakan apa yang 'seperti' gender ini atau itu sayangnya diputuskan oleh halusinasi dan imajinasi bersama yang disebut publik, dan kita sebagai individu kecil tidak dapat mempengaruhi logika tersebut.


“Benar. Tapi, tidak ada batasan yang ditetapkan bahwa hanya boleh ada dua jenis kelamin, bukannya kamu setuju?”


“Yah begitulah.”

__ADS_1


Tentu saja aku tahu tentang itu. Selama kau membaca buku, kau jadi mengetahui tentang segala macam hal, entah itu disengaja atau tidak. Dan, masalah tersebut sering kali menjadi berita akhir-akhir ini. Aku rasa di media sosial facebook, kau bisa menampilkan hingga 58 jenis kelamin khusus sekarang. Hal itu jadi topik panas belakangan ini.


Selain itu, kau tidak bisa begitu saja memberi label sebagai pria atau wanita hanya dengan DNA. Rupanya, Ayase-san memikirkan hal yang sama denganku.


“Pembedaan manusia terjadi dengan penggunaan kromosom, ‘kan…”


“Kromosom X dan kromosom Y.”


“Ya. Ada kromosom X dan Y, dan dengan mencampurkan keduanya, kamu mendapatkan jenis kelamin. XX artinya perempuan, dan XY artinya laki-laki. Itu adalah satu kromosom dari 46 yang kita miliki sebagai manusia, dengan variasi X dan Y. Berapa persen dari semua genom itu?” ujar Ayase-san dengan nada menyesal.


“Yah, jelas sekali kalau perbedaannya tidak terlalu besar.”


“Karena perbedaan kecil itu, kita dipaksa untuk berperan.”


Di tengah guyuran hujan lebat, hanya suaranya yang sampai ke telingaku.


“Ini sama dengan identifikasi diri. Ada orang yang jenis kelaminnya diberikan kepada mereka melalui gen berbeda dari yang aslinya, dan ini perlahan-lahan menjadi lebih di mata publik.”


Aku tahu logika yang dibicarakan Ayase-san. Tapi, aku terlahir sebagai cowok, dan dalam pikiranku, aku juga cowok, jadi agak sulit bagi aku untuk memahami sepenuhnya.


“Hal yang sama berlaku untuk cinta. Cinta cowok, cinta wanita, keduanya mencintai, dan keduanya tidak. Perasaan romantis itu tidak normal, tidak dapat diperkirakan secara alami… Kamu bisa setuju dan tidak setuju dengan itu. Itu semua kembali ke pakaian yang kita dekorasi sendiri. Menurut gen, kamu adalah wanita, kamu melihat dirimu sebagai wanita, dan kamu menyukai cowok, tapi jika menyangkut pakaian lawan jenis… pada dasarnya pakaian cowok, tidak jarang ada wanita yang menyukainya. Di saat yang sama, tidak aneh jika seorang cowok tertarik mengenakan pakaian dalam wanita.”


“Yah, memang sih.”


“Namun, pada saat itu, aku sepenuhnya mengabaikan kemungkinan itu.” Ayase-san berkata dengan nada yang disesalkan.


Apa ini sama dengan yang aku pikirkan? Sudut pandang mayoritas mungkin ada benarnya, tapi terkadang kau bisa melihat perbedaan saat menyelam lebih dalam ke wilayah minoritas? Hanya karena separuh umat manusia seperti ini berarti bahwa orang ini pasti seperti itu juga — jalan pemikiran semacam itu sangat salah.


Bahkan jika aku adalah seorang pria yang mengenakan pakaian dalam wanita setiap hari, tidak ada yang berbeda, seperti kita adalah saudara perempuan yang mencuci pakaian dalam kita. Jika aku harus menebak, Ayase-san mungkin tidak terganggu dengan pakaian dalamnya yang dicuci oleh ibunya. Namun, pagi hari ini, ketika dia membayangkan aku mencuci ****** ********, rasa malu yang ditimbulkan secara biologis menjajahnya.


Biasanya aku akan melupakannya dengan 'Tidak masalah', tapi Ayase-san sepertinya peduli tentang itu. Dia selalu bertarung. Menghadapi peran gender secara publik terus mendorong orang lain, dia ingin memikirkan semuanya dengan hati-hati satu per satu. Bagi diriku, yang membiarkan semuanya terjadi secara normal dan bersikap acuh tak acuh, sifatnya itu terlihat sangat mempesona.


“Nah, jika kau akan mengatakan itu, maka aku juga harus meminta maaf padamu. Aku merasa malu saat memikirkan Akiko-san mencuci celana dalamku.”


“Ini bukan masalah perasaan orang lain. Aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri. Itu sebabnya aku ingin meminta maaf.”


“Hmmm…” Aku memikirkannya sejenak.


Aku setuju dengan pemikirannya, tetapi jalan pemikiran yang tekun ini mungkin hanya membuatnya menderita dalam prosesnya. Apa ada cara berpikir yang lebih nyaman yang tidak menyangkal idenya? Aku penasaran.


Aku bisa melihat gerbang sekolah di kejauhan. Itu berarti jumlah siswa di sekitar kita akan meningkat, dan kita tidak dapat terus berbicara seperti ini.


“... Ini seperti refleks, ya.”


“Refleks?”


Terkadang aku sama sekali tidak bisa mengikuti jalan pemikiran Ayase-san. Namun, hal itu sendiri cukup menyenangkan.


“Seperti, saat kamu bertindak sebelum sempat berpikir. Refleks yang itu.”


“Ahh, yang itu, ya.Saat lututmu menabrak sesuatu, atau kakimu bergerak, sesuatu semacam itu?”


“Yup.”


Ada kalanya orang bertindak sebelum otaknya bisa mengimbangi. Ketika sesuatu terbang ke arahmu, kau akan secara refleks menutup mata. Saat kau menyentuh sesuatu yang panas, tanganmu menarik ke belakang sebelum kau menyuruhnya.


“Manusia sudah berevolusi untuk membiarkan otak mereka menangani pemikiran. Jadi, mengapa kita memiliki mekanisme ini di dalam diri kita, itulah yang sering aku tanyakan pada diriku sendiri. ” Aku menengok ke arah Ayase-san.


“Itu… Jika mereka menggunakan waktu untuk berpikir selama keadaan darurat, mereka punya sedikit waktu untuk bertindak, ‘kan?”


“Ya. Ketika hidupmu dalam bahaya, tubuhmu bereaksi lebih cepat dari kemampuan otakmu sendiri. Aku setuju bahwa kita sebagai makhluk hidup membutuhkan mekanisme ini.”


“Apa itu… Ah, benar.” Ayase-san yang bijak mencapai kesimpulan bahkan sebelum aku bisa menjelaskannya sepenuhnya.


Namun, aku tetap memutuskan untuk melanjutkan.


“Pada dasarnya, ini seperti mayoritas atau tombol pintasan dalam aplikasi.” Kataku, dan Ayase-san terkikik.


“Perumpamaan yang sangat menarik.”


“Mudah dimengerti, jadi aku suka menggunakannya. Namun, terkadang ada kasus di mana bahkan mayoritas tidak dapat melakukan apa pun. Jika kamu tidak mengetahui logika fundamental itu, kamu tidak dapat menambahkan yang baru.”


“Benar.”


“'Aku melakukannya secara tidak sengaja — memiliki aspek yang tidak dapat membantu, aku rasa. Aku yakin ada sesuatu yang didapat bahkan dari tindakan refleksif.”


“Tapi, prasangka akan melahirkan diskriminasi, bukan?”


“Kalau begitu perbaiki saja pandanganmu? Kau merefleksikan tindakanmu sendiri. Karena itu, kurasa kau tidak perlu khawatir lebih dari itu. Aku merasa kau akan mampu menjadi orang yang dapat belajar dari tindakan refleksif ini, dan menjadi lebih baik. ” Ujarku dengan nada ringan, dan tersenyum.


Baru sekarang aku menyadari bahwa Ayase-san tidak berjalan di sampingku lagi. Aku pun berbalik dan melihat kakinya membeku di tanah tiga langkah di belakangku.


“Ayase-san?”


Karena wajahnya menghadap ke bawah, aku menjadi sedikit khawatir, dan memanggilnya.


“Asamura-kun, kamu ...” Suaranya hampir lenyap di tengah suara deruan air hujan. “—Kamu sangat memahamiku.”


Jadi… katanya? Dia mengangkat kepalanya, dan berlari melewatiku, bahkan tidak repot-repot melirikku. Dia berjalan melewati gerbang, masuk ke dalam sekolah, dan dengan cepat menghilang dari pandanganku.


“Apa ada yang salah, Asamura?” Sampai Maru menepuk pundakku, aku berdiri diam, hanya menatap ke arah Ayase-san masuk.


Anehnya, bagian bahu yang Maru tepuk terasa dingin, bahkan basah kuyup. Meski begitu, pikiranku masih dipenuhi dengan punggung Ayase-san yang kulihat tepat sebelum dia menghilang.


Bahkan saat bunyi lonceng terakhir berbunyi, hujan masih belum berhenti. Hari ini adalah hari Rabu, hari dimana aku harus bekerja. Oleh karena itu, aku harus pulang ke rumah dulu, dan kemudian pergi ke toko buku di depan stasiun kereta. Melakukan itu di tengah hujan membuatnya lebih menjengkelkan berkali-kali lipat. Mungkin aku harus membawa seragam ke sekolah, dan langsung menuju ke sana.


Aku menatap ke luar jendela dan mengagumi guyuran hujan lebat. Tentu saja, aku tidak terlalu suka hujan bulan Juni seperti ini. Semua aroma selama hujan membuatnya terasa seperti musim panas. Hanya saja, pada hari-hari hujan begini, aku lebih suka tidak membawa banyak barang bawaan. Oleh karena itu, seragam dari kerjaan yang selalu aku bawa pulang, karena kebijakan kami adalah kau mencucinya sendiri saat kotor, aku tinggalkan di rumah.


Aku bisa melihat loker sepatu di depanku. Saat aku berjalan ke sana, tatapanku tanpa sadar bergerak ke kiri dan ke kanan. Ketika aku menyadari tingkahku sendiri, aku menggelengkan kepala. Tidak, tidak, tidak, mana mungkin dia berdiri di sini lagi. Dia membawa payung hari ini.


“Dia mungkin sudah pulang.” Gumamku, dan membuka payung besar di tanganku.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2