
Tentu saja, kejadian yang bikin hati cenat-cenut saat Ayase-san dan aku berangkat ke sekolah bersama-sama tidak pernah terjadi. Mengetahui bahwa kami berdua sama-sama murid dari SMA Suisei, dia menyarankan untuk tidak melakukannya supaya tidak ada gosip aneh yang menyebar di sekolah. Tentu, itu adalah pilihan yang sangat tepat. Ayahku dan Akiko-san sepertinya menyadari hal itu, dan memutuskan untuk tidak mengubah gaya hidup secara tiba-tiba, seperti mengganti nama keluarga kami. Karena itu akan mengundang kesalahpahaman, dan mengurus dokumennya sangat menyebalkan, jadi aku cukup senang tentang itu. Karena itu, Ayase-san dan aku meninggalkan rumah pada waktu yang berbeda, berangkat ke sekolah secara terpisah.
Dunia didasarkan pada persaingan yang kompetitif. Untuk bertahan dalam persaingan yang kejam ini, seseorang tidak boleh mengeluh atau menyombongkan diri, dan menunjukkan ratusan hasil.
Itulah motto sekolah kami. Motto tersebut menggambarkan kalau hasil lebih disukai daripada upaya, yang mana artinya jika kau mampu mempertahankan nilai bagus atau menunjukkan pencapaian luar biasa dengan aktivitas klub, kau diizinkan untuk mempertahankan kerja sambilan. Mengagumi kebebasan semacam ini, aku memutuskan untuk mengikuti ujian masuk di SMA Suisei. Sebuah sekolah yang cukup bergengsi, tapi aku tidak benar-benar memikirkan universitas, atau tujuan yang ingin aku capai. Aku hanya ingin masuk ke universitas yang relatif bagus saja.
Namun, itu bukan karena aku ingin mencapai sesuatu yang hebat, atau bertujuan untuk sesuatu yang lebih tinggi, tapi hanya karena aku memanfaatkan belajarku untuk menghindari masalah apapun dalam kehidupan pribadiku. Saat SD dulu, aku disuruh mengunjungi tempat les. Kejadian tersebut terjadi sebelum ayahku bercerai. Orang yang merupakan ibuku mencoba membesarkanku supaya menjadi orang yang memiliki pengaruh sosial yang lebih besar daripada ayahku, itulah sebabnya aku disuruh mengikuti tempat les terkenal.
—Hal itu justu membuatku merasa berkecil hati selama mencoba hadir di sana.
Bercampur dengan anak-anak lain yang belajar seolah-olah hidup mereka bergantung pada hal itu, aku mengalami banyak kesulitan berurusan dengan mereka dan belajarku, sampai pada titik di mana aku akan hancur dari tekanan hanya karena dipaksa untuk berurusan dengan mereka. Itulah pertama kalinya aku menyadari sepanjang hidupku bahwa aku menderita gangguan komunikasi. Untuk membalasnya, aku belajar dengan putus asa, dan menaikkan nilai raporku. Sekarang aku bersekolah di sekolah SMA bergengsi ini, nilaiku berada di setengah bagian atas, tapi saat SMP dulu, aku pasti menduduki peringkat atas.
Bukannya aku bertujuan lebih tinggi, aku hanya tidak ingin menghadiri tempat les. Karena upaya ini, aku dapat menghindarinya. Satu-satunya alasanku bekerja sambilan selain mendapatkan nilai bagus ialah semata-mata untuk menunjukkan kepada ayahku bahwa Ia tidak perlu mencemaskanku, karena kedengarannya merepotkan untuk ditangani. Itulah sebabnya aku merasa tidak melakukan sesuatu yang hebat, bukan sesuatu yang pantas dihormati, karena aku bahkan tidak bekerja keras untuk mencapai tujuan. Benar, teman tepercayaku Maru Tomokazu lebih dari tipe itu.
“Yo, Asamura. Pagi.”
“Pagi juga Maru. Latihan pagi?”
Pagi hari, di dalam kelas kami yang biasa. Jam pelajaran akan dimulai dalam sepuluh menit, namun Maru sudah sampai di tempat duduknya di depanku. Ia memiliki penampilan yang berpengetahuan luas dengan kacamatanya, rambut yang dipangkas dengan liar, dan perut yang diberkahi. Sekilas, kau bisa menyebutnya sedikit gendut, tapi ungkapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Saat aku mengetahui bahwa yang menutupi tubuhnya bukanlah lemak melainkan otot, aku hampir terjatuh dari kursi. Memang benar kalau kita tidak bisa menilai orang berdasarkan penampilan mereka.
“'Iyalah. Tiada hari tanpa latihan.” Ujarnya dengan ekspresi masam.
Maru sebenarnya bagian dari klub bisbol, dan kedapatan bagian cacther seperti yang ditunjukkan sosoknya. Tentu saja, Ia sangat menyukai klubnya, tetapi bahkan orang yang paling bersemangat terkadang mengeluh tentang bidang yang mereka geluti.
“Klub itu mirip seperti lintah darat, iya ‘kan.”
“Dijamin datang lebih awal dan selalu pulang lebih sore. Persaingan, kecemburuan. Usia tidak masalah, keterampilan adalah yang terpenting. Pada titik itu, itu sudah disebut game.”
“Dan kau kalah?”
“Peka sekali, aye. Jika kau masuk ke klub bisbol tanpa kecintaan murni pada olahraga, kau akan kalah. Sudah terbiasa mengatakan capek bahkan sebelum itu, tapi… Yah, aku tidak berharap orang lain memahami apa yang aku alami. ”
“Hiii, kedengarannya mustahil bagiku.”
Maru melepas kacamatanya, dan mengeluarkan kotak kecil dari tasnya. Di dalamnya, Ia membawa kacamata yang berbeda, yang dia kenakan. Yang satu digunakan untuk olahraga, yang lainnya untuk studinya. Sepertinya Ia mengganti peralatannya seperti di RPG. Rupanya kacamatanya rusak selama latihan sebelumnya, jadi dia mulai menggunakan dua pasang masing-masing.
“Begitulah adanya. Lalu, bagaimana dengan kehidupan barumu?” Maru bahkan tidak ragu untuk mengganti topik.
Tentu saja aku akan memberitahu teman tepercayaku mengenai ayahku yang menikah kembali, dan keluarga baruku. Sejujurnya, aku hampir tidak punya teman di sekolah. Setelah mengalami hal mengerikan di tempat les, kemampuan komunikasi pertemuan pertamaku mencapai titik terendah.
Tapi, untuk Maru Tomokazu, Ia selalu duduk dekat denganku di kelas, dan minat kami terhadap manga dan anime cukup serasi, jadi kami dengan sendirinya menjadi teman. Kau mungkin menganggapnya aneh kalau Ia masuk klub olahraga dan juga otaku pada saat yang sama. Rupanya, Ia terpikat pada manga bisbol populer, dan ingin mencobanya sendiri, yang membuatku bersandar padanya sebagai seorang otaku. Maksudku, kadang juga ada otaku yang terpengaruh oleh anime, dan mulai mengunjungi gym, bukan?
Tapi tentu saja, topik yang dibicarakan adalah fakta bahwa aku punya keluarga baru.
“Bagaimana, ya… Jika mengatakannya dalam satu kalimat… Ini berbeda dari yang kubayangkan.”
“Kau punya adik perempuan, ‘kan? Dasar Onii-chan keparat.”
“Jangan gunakan itu sebagai penghinaan… Dan, meski memanggilnya sebagai adik perempuan…”
“Tidak bisa bersemangat karena kau tidak berhubungan darah?”
“Aku bahkan tidak melihatnya sebagai adik maupun saudara tiri.” Balasku dan teringat wajah Ayase-san. “Ketimbang adik, dia lebih merasa seperti 'Wanita'.”
“Itu salah satu cara yang mesum untuk mengatakannya.”
“Cuma itu satu-satunya cara untuk menggambarkannya. Sejujurnya aku tidak tahu bagaimana cara mendekatinya.”
“Hmmm, begitu ya. Seorang 'Wanita', huh. Kurasa gadis gyaru SD baru-baru ini berada di level yang berbeda.”
“Gyaru SD? Apa yang sedang kau bicarakan?”
“Kita sedang membicarakan tentang adik perempuanmu, ‘kan?” Maru berkedip dengan tatapan bingung.
Harusnya aku yang bingung, hei… Oh, tunggu sebentar. Aku hanya mendengar bahwa dia anak SD atau SMP, karena seperti itulah yang terlihat dalam gambar yang ditunjukkan ayahku. Aku tidak pernah mengoreksi kesalahpahaman Maru sejak itu.
“Tidak, adik perempuan itu—“ Aku berbicara sejauh itu, lalu menahan diriku.
__ADS_1
Dia bukan anak SD, tapi sebenarnya anak SMA sama seperti aku, terlebih lagi dia bersekolah di sekolah ini, dan di angkatan yang sama pula. Aku tidak tahu dia di kelas mana, tapi dia gadis yang cantik — Hanya memberitahu itu saja akan menggelitik keingintahuan para pria, dan malapetaka akan terus terjadi sesudahnya. Bukannya aku tidak bisa memperacayainya, aku hanya tidak bisa mengingkari janjiku dengan Ayase-san. Aku bukanlah cowok yang bermulut ember.
“Adik perempuanmu— … apa?”
“Adik perempuanku… sangat berbeda dari yang kubayangkan. Tidak seperti yang aku ketahui dari media 2 Dimensi selama ini. ”
“Yah, duh. Kau akhirnya tidak dapat memisahkan antara kenyataan dengan 2D?”
“Apa maksudmu 'akhirnya'? Itu membuatnya terdengar seperti aku hampir kehilangan diriku seperti itu.”
“Itu kebenarannya, ‘kan?”
“Bukan berarti kau bisa seenak jidat mengatakan apapun yang kau inginkan, oke.”
“Yah, itu karena sudah karakterku.”
Oh aku tahu. Aku sudah mengenal Maru setidaknya lebih dari setahun sekarang, jadi aku sangat menyadari bahwa lidahnya setajam pisau, berayun-ayun tanpa henti, dan seringkali tidak mengenal ampun.
“Bagaimanapun juga, aku tidak kegirangan seperti yang kau pikirkan. Jika ada, itu sangat melelahkan, dan sulit untuk mengetahui jarak yang harus dijaga.”
“Sudah sangat ketahuan.”
“Ngomong-ngomong, ayo ganti topik — Apa kau mengenal gadis yang bernama Ayase Saki?”
“Mm ?? Aku pernah mendengar tentang dia sih, tapi kenapa kau tiba-tiba menanyakan hal itu?” Tentu saja, karena pertanyaan yang terlalu mendadak, Maru jadi menyipitkan matanya.
Jaringan informasi di klub olahraga lebih luas dari yang bisa kau bayangkan. Saat berbicara tentang gadis — terutama seseorang yang setara dengan kecantikan yang dimiliki Ayase-san, dia pasti akan menjadi topik yang menarik. Karena aku tidak tertarik dengan rumor dan sebagainya, aku tidak pernah memikirkannya, tapi sebelumnya, Maru pernah menceritakan kepadaku cerita dan rumor tentang gadis-gadis yang bahkan tidak aku kenal, jadi aku pikir ini layak untuk dicoba.
“Ayase, ya? Hmm… Mengapa dari semua gadis yang ada kau justru bertanya mengenai dirinya? ”
“Yah, kau tahu sendiri, aku hanya ... Dia itu cantik, ‘kan?”
“Lebih baik jangan.”
“Eh?”
“Tunggu sebentar. Kenapa kau berbicara seperti itu?”
“Aku tidak punya hobi mencampuri urusan cinta orang lain, tapi ...”
“Aku tidak pernah ingat meminta nasihat cinta darimu.”
Aku tidak tahu kenapa Maru sampai mengatakan itu, jadi aku segera menyela.
“Aku salah, ya? Aku pikir kamu naksir dengan Ayase atau semacamnya.”
“Kau ini gila? Mana mungkin gadis cantik seperti Ayase-san repot-repot melirik ke cowok sepertiku, hal itu mustahil terjadi.”
Dia adalah gadis rupawan yang mirip seperti boneka, dengan rambut pirang yang memikat, dan aku adalah tipe cowok yang menatap dirinya sendiri di cermin untuk menyadari sekali lagi betapa membosankannya rupaku. Serius, siapa yang akan memikirkan itu? Aku menghela nafas tak percaya. Saat aku menghela nafas, Maru menatapku seolah-olah memiliki sesuatu untuk dikeluhkan.
“Tidak, justru sebaliknya. Jika kau berniat berpacaran dengan Ayase, harga dirimu akan turun. ”
“… Haha, lelucon yang bagus.”
“Aku tidak bercanda, bung.”
“Lalu apa yang sedang kau bicarakan? Pasti ada batasan seberapa jauh kau bisa berkomentar seperti itu ‘kan.”
“Maksudku, aku setuju kalau gayanya bagus ... Tapi, ada juga beberapa rumor jelek yang beredar.” Maru mengatakannya dengan wajah masam. “Aku sebenarnya bukan penggemar bergosip di belakang orang lain, tapi beda lagi ceritanya jika teman tepercayaku mau PDKT dengannya. Pepatah bilang ketidaktahuan adalah berkah, tapi aku tidak bisa bersikap acuh sekarang. ”
“Apa kau bisa menceritakan lebih banyak mengenai rumor itu?”
Tentu saja, aku tidak jatuh cinta pada Ayase-san, tetapi menjelaskan apa pun tentang hal itu akan memaksaku untuk mengungkapkan fakta bahwa kami sebenarnya adalah saudara tiri sekarang. Karena itu akan semakin menjengkelkan, aku membiarkan kesalahpahaman Maru, dan mendengarkannya. Maru dengan cepat mengamati sekelilingnya, dan mendekatkan wajahnya ke arahku saat berbisik.
“Ayase, kau tahu… Rupanya, dia… melakukan itu… 'Prostitusi'.”
“……Hah?”
“Rambut pirang, tindik, selalu masang muka kesal, tidak membiarkan orang lain mendekatinya. Dia mungkin gyaru paling menonjol di sekolah ini, terutama dengan suasananya yang mencolok. Bahkan ada saksi mata yang melihatnya keluar dari beberapa bangunan mencurigakan di Shibuya, atau hotel terdekat. ”
__ADS_1
“Hah, aku tidak pernah tahu.” Tidak menyangkal atau menerimanya, aku hanya mengangguk.
Aku dapat melihat mengapa gosip klise semacam itu dilabelkan padanya, hanya dengan melihat penampilan luarnya. Usai beberapa kali berbicara dengannya, dia tidak memberikan kesan akan melakukan hal semacam itu, tapi aku jelas belum cukup mengenalnya sampai dengan yakin membantah rumor tersebut.
“Bisa dibilang, jarang sekali kau menelan bulat-bulan rumor semacam itu, Maru. Biasanya kau adalah orang yang meragukan rumor semacam ini terlebih dahulu.”
“Ada seorang teman di klub bisbol yang menembak Ayase-san.”
“Eh. Meski semua orang menghindarinya?”
“Maksudku, rumor ya rumor, tapi masalah rupa beda lagi ceritanya. Dia cukup populer. Meskipun itu di luar jangkauanku.”
“Begitu ya.”
“Dan, temanku di klub diberitahu dari orangnya sendiri.”
“…Haa?”
"'Aku ini orang yang persis seperti yang dirumor kan. Aku tidak berniat berpacaran dengan siapa pun, katanya.” Maru mencoba meniru cara bicaranya, saat menjelaskannya kepadaku.
Jelas sekali Maru tidak memiliki kesan bagus dari Ayase-san.
“Bagaimana dengan kemungkinan kalau teman klubmu itu cuma mengada-ada?”
“Masih belum pasti sih, tapi mungkin nol. Apalagi, ini bukan pertama kalinya hal ini terjadi. Cowok dari klub lain mengatakan hal serupa. ”
“Jadi pendapatnya mungkin subjektif, tetapi angka-angkanya menunjukkan objektivitas.”
“Kurang lebih begitu.”
Masih belum ada jaminan kalau apa yang mereka semua katakan adalah benar, tapi paling tidak, masih aman untuk mengatakan bahwa Ayase-san menanggapi pengakuan seperti itu.
“Mmm… macam kotak pandora…”
Rasanya seperti aku membuka kotak Pandora. Pertama, kau harus melihat ke orang lain — apa yang dikatakan dalam 'Ilmu Pria dan Wanita', dan aku pikir itu akan menjadi taruhan terbaik untuk mulai mencari tahu seberapa jauh jarak yang harus aku miliki dengan Ayase-san, tapi sekarang aku justru punya banyak masalah yang perlu dikhawatirkan.
Apa rumor itu benar? Jika ya, apa Akiko-san dan Ayahku mengetahuinya? Jika tidak, haruskah aku yang melaporkannya?
… Tidak, lebih baik jangan. Aku tidak mau mempercayai rumor yang tak berdasar semacam itu. Pada saat yang sama, walaupun rumor ini benar, aku bukan dalam posisi untuk memarahinya. Jika sebenarnya ada beberapa kencan berbayar atau sejenisnya yang terjadi, maka, jika orang yang terlibat membayar dan menyediakan dengan benar, itu hal yang mereka khawatirkan, dan bukan masalah aku untuk mengkhawatirkan orang yang tidak aku kenal.
Tentu saja, ada sisi yang menjengkelkan sekarang setelah Ayase-san menjadi keluargaku, tapi bahkan jika rumor ini ternyata benar, aku tidak pernah berpikir untuk memberitahunya. Lebih dari itu, aku justru merasa sedih jika ada suatu keadaan atau seseorang yang memaksanya.
“Jadi, Asamura, bagaimana dengan bagianmu?”
“…Apa maksudmu?”
“Aku sudah menjelaskan semuanya. Sekarang giliranmu. Kenapa kau tiba-tiba mengungkit nama Ayase?”
“Ah, baiklah, aku menyerahkan sisanya pada imajinasimu.”
“Hah? Oi, jangan bikin penasaran begitu.”
“Aku tidak memberitahumu bukannya karena aku tidak mau. Tapi karena aku tidak bisa. Tolong, maaf tentang hal itu.”
“Jangan berpikir kamu bisa menggunakan beberapa kalimat manga untuk menghindariku ... Ya Tuhan, inilah yang aku dapatkan setelah memberimu informasi.” Maru mengeluh, tapi aku biarkan dia melampiaskan sedikit.
Itulah yang luar biasa dari Maru Tomokazu. Ia tahu persis kapan harus berhenti. Pandangan mataku menjauh dari belakang kepalanya, lalu mengarah pada kaca jendela di sampingku. Wajahku sendiri, bertumpu pada telapak tangan, terpantul di permukaan kaca, saat pikiranku melayang memikirkan Ayase-san.
Aku sangat senang kita tidak berada di kelas yang sama. Jika tidak, aku mungkin akan khawatir pada level di mana aku tidak dapat fokus pada pelajaran. Tentu saja, itu akan terjadi begitu aku sampai di rumah, tapi aku lebih suka menundanya untuk saat ini. Aku rasa itulah yang dimaksud dengan manusia.
—Apa yang ingin aku tunda terjadi tidak lama kemudian. Yakni, dua jam kemudian. Takdir selalu kejam, dan tidak memandang orang. Setiap hari Senin jam pelajaran ketiga, kelasku kebagian pelajaran olahraga. Tentu saja, alasannya hanya memperburuk keadaan. Selama periode waktu ini, festival olahraga SMA Suisei kami semakin dekat, jadi untuk mengganti waktu latihan, sekitar pertengahan tahun ajaran, dua kelas digabung menjadi satu. Tentu saja, praktik ini dimulai pada hari ini juga.
“Rasakan ini! Jurus Rahasia - Great Ether Serve! Oraaaaa! ”
Aku sedang berada di lapangan tenis sekolah. Di bawah langit abu-abu, seseorang meneriakkan jurus rahasia yang bisa keluar dari manga dengan suara yang keras dan lugas. Pemilik suara itu adalah seorang gadis, mengenakan kaos olahraga, saat dia akan mengayunkan raket.
Dia gadis berambut merah cerah, perawakan yang agak kecil, membuatnya terlihat seperti hamster kecil. Meski dia dari kelas lain, bahkan aku tahu namanya — Narasaka Maaya. Untuk memujinya, bisa dibilang kalau dia sangat energik, tapi di sisi lain, dia dikenal sebagai perwakilan kelas yang usil. Ditambah energinya yang dapat menyuplai sejuta minuman berenergi, dan kemampuan untuk merawat orang lain seperti seorang nenek, serta penampilannya yang cukup imut, dia memiliki teman di seluruh sekolah, seorang riajuu yang berdiri di atas riajuu lainnya.
__ADS_1