Gimai Seikatsu

Gimai Seikatsu
Chapter 5


__ADS_3

Lingkaran hitam besar memenuhi area di depanku, memblokir segalanya. Aku meletakkannya di pundakku, dan melangkah keluar. Hujan turun sebagian sejak dini hari, tapi aku juga ingin membawa payung lain selain kemarin, agar orang yang kebetulan melihat Ayase-san dengan payung itu tidak salah paham. Mungkin aku tidak perlu terlalu khawatir, karena pada akhirnya kita masih saudara.


Meski begitu, belum seminggu berlalu sejak saat itu. Meski, aku merasa sudah mulai bisa memahami Ayase-san. Tapi, kata-katanya pagi ini masih melekat di kepalaku. Dengan hujan yang menerjang payung, aku tidak bisa fokus pada pikiranku sama sekali.


Tak lama kemudian, aku berhasil kembali ke apartemen, dan memasuki rumahku. Begitu masuk, suara hujan yang menjengkelkan dengan cepat menghilang. Aku meletakkan payung di tempatnya, dan menghela nafas. Meski tubuh aku cukup dingin, aku tidak punya waktu untuk mandi. Lagipula aku harus pergi bekerja. Oleh karena itu aku menuju ke kamarku, sekalian melewati kamar Ayase-san.


Aku tidak bermaksud untuk mengintip ke dalam kamarnya, tapi karena pintunya terbuka sedikit, aku dapat memeriksa situasi di dalam. ******, bra dan pakaian berwarna sedang dikeringkan tersebar tanpa pertahanan di tempat tidurnya. Aku rasa itu wajar saja karena cuaca sedang hujan. Aku biasanya akan menyatukan semuanya dan membiarkannya mengering, tapi tergantung pada pakaiannya, bisa rusak karena itu juga, jadi ada orang yang mengeringkannya seperti ini.


Oleh karena itu, tak kusangka kalau aku disuguhi pemandangan seperti itu di rumahku sendiri. Aku tidak boleh terus-terusan melihat ini, iya ‘kan. Karena cuciannya mengering, tampak jelas kalau Ayase-san sudah pulang, dan akan sangat menyedihkan jika dia melihatku seperti ini.


“Asamura-kun? Kamu sudah pulang, ya. ”


“Eeek!”


Sebuah suara muncul di belakangku, membuatku menegakkan punggung karena terkejut. Aku pun berbalik.


“Apa ada yang salah?”


“Ti-Tidak ada sama sekali.”


“Benarkah? baiklah kalau begitu.” Ayase-san menatapku dengan ragu.


“Ak-Aku ada kerjaan hari ini jadi aku pergi sekarang.” Aku melambaikan tanganku dengan ringan, dan menuju ke kamarku sendiri.


Aku masih merasakan tatapan tajam Ayase-san terpaku di punggungku, tapi aku tidak punya nyali berbalik untuk melihatnya. Aku merasa seperti pencuri ****** karena suatu alasan, meski aku cuma kebetulan melihatny, dan dia sendiri yang bilang kalau ****** setelah dicuci itu tidak ada bedanya dengan sapu tangan, jadi aku tidak perlu merasa bersalah dengan itu… iya, ‘kan?


Aku memasukkan seragam kerjaku ke dalam tas, lalu bergegas keluar rumah, dan sepanjang waktu saat menuju ke tempat kerja, bahkan suara hujan tidak mampu menenggelamkan detak jantungku yang berpacu dengan keras.


Aku berencana untuk membenamkan diri dalam pekerjaanku. Aku ingin menghapus semua ingatanku dari kejadian tadi. Terutama kain biru yang aku lihat. Aku memakai seragamku, menambahkan papan nama, dan mulai bekerja. Hari ini, aku sibuk mengatur inventaris. Kami menerima beberapa novel baru yang dirilis beberapa hari yang lalu, dan novel tersebut harus disimpan di rak, ditukar dengan novel yang tidak laku.


Besok hari Jumat, dan kami mendapatkan pengiriman buku yang bagus, jadi kami perlu menyiapkan semuanya untuk pengiriman baru juga. Pada dasarnya, aku harus membuat rak lebih luang dari biasanya. Walaupun kami mendapatkan prediksi kasar tentang berapa banyak buku yang akan terjual dari penerbit, mana maungkin kami bisa secara akurat menunjukkan perilaku pelanggan itu sendiri. Sebagai akibatnya, kami hampir tidak pernah sepenuhnya menjual buku-buku yang masuk. Lain kali juga. Selalu ada buku yang tertinggal.


Ah, seperti yang satu ini… Saat aku memeriksa bagian novel ringan, aku mengambil satu volume. Aku tertarik pada novel ini sejak tersedia. Aku tidak berpikir itu bertujuan untuk menjadi romcom tipe harem, tapi ada 48 gadis di sampulnya, jadi kurasa pada akhirnya masih novel rom-com harem. Aku pikir kau tersesat dalam pencarianmu akan orisinalitas, wahai penulis yang terhormat.


Meskipun penerbit dan penulis berasumsi bahwa itu akan populer, masih ada kemungkinan bahwa itu tidak akan laku sama sekali. Banyak pelanggan cenderung sangat konservatif. Novel itu aku taruh di pojokan berbeda, dan melanjutkan penyortiran.


“Kamu menyimpannya untuk dirimu sendiri lagi ~” Saat aku berbalik, Yomiuri-senpai berdiri di sana. “Mereka hanya akan membelinya saat itu, jadi selama kita bisa mendapatkan penghasilan, itu akan baik-baik saja — mungkin itulah yang mereka pikirkan saat menyimpannya.”


Sebagai toko buku eceran, trennya memang seperti itu, namun aku tetap tidak berpikir mereka akan membeli buku khusus seperti itu. Maksudku, aku menyukai mereka jadi tidak masalah.


“Mungkin saja ada orang yang membeli rilisan baru ini setiap bulan ~”


“Aku ingin tahu apakah ada orang semacam itu.”


Yomiuri-senpai menatapku sambil tersenyum. Eh, apa kau membicarakan tentang aku?


“Hehe. Lebih penting lagi, Kouhai-kun, tumben sekali kamu bersemangat dengan pekerjaanmu? ”


“Bisa tidak jangan membuatnya terdengar seperti aku biasanya bermalas-malasan terus? Aku bekerja seperti biasa, kok.”


“Benarkah?”


“Apa aku bertingkah aneh atau apa?”


“Aku kebetulan melihat seorang pemuda yang memfokuskan segalanya pada pekerjaan, jadi aku penasaran apa ada sesuatu yang terjadi, mungkin?”


“Kau terdengar seperti cenayang yang bisa melihat dari jarak yang sangat jauh.”


“Kedengarannya bagus. Aku ingin menjadi seperti itu. Itu berarti aku bisa melupakan semua masalah di dunia ini, huh. "


Ketika kau mendesah seperti itu, aku jadi merasa lebih penasaran tahu.


“Bagaimana denganmu, Senpai? Apa terjadi sesuatu? ”


“Tertarik?”


“Jika ada sesuatu yang bisa membuatku tertarik, mungkin ada.”


“Tanggapan yang bagus ~ Itulah yang aku sukai darimu ~”


“Sekali lagi, bisakaha supaya tidak mengatakan hal yang mengundang kesalahpahaman?”


Tidak adil rasanya kau tersenyum padaku saat mengatakan itu.


“Aku baik-baik saja sekarang. Hanya mengetahui kalau kau peduli saja sudah cukup bagiku ~”


“Begitukah cara kerjanya?”


“Begitulah cara kerjanya. Itulah sebabnya.”


“Iya?”


“Jaga baik-baik adik tirimu yang imut.”


“Ueh !?”


“Jika kamu membuatnya marah, belikan dia sesuatu yang manis dalam perjalanan pulang nanti.”

__ADS_1


“A-Aku tidak membuatnya marah, kok.”


Setidaknya masihm belum.


“Lantas, apa yang kamu perbuat?”


“Tidak ada sama sekali.”


“Nutting terus-terusan? Itu sangat ekstrim.” (TN : hmm bagian ini agak sulit diterjemahin ke bahasa Indonesia\, di bahasa inggrisnya si MC bilang “nothing at all”\, dan dibalas sama Senpai “nutting at all?”. Kedua kata tersebut hampir sama jadi dibuat plesetan juga kedengarannya enggak aneh\, tapi kata ‘nutting’ kalau diterjemahin artinya jadi istilah jorok yaitu on*n*\, jadi ganjil kedengarannya ‘kan? Jadi saya biarin aja pake kata bahasa inggris)


“Dengarkan ini, kita sudah mendengar candaan jorok yang sama sebelumnya, jangan buang halaman lagi tentang itu…”


“Ahaha. Yah, kamu tidak bisa mengabaikan perasaannya, jadi jika kamu tidak mengurusnya sekarang, itu mungkin akan meledak nanti. ”


“Ugh…”


Karena aku tidak bisa mengatakan apa-apa lagi, aku pergi begitu saja untuk fokus pada pekerjaanku lagi, dan dilihati oleh seringai Yomiuri-senpai.


“Orang itu ... Fiuh ...” Aku menghadap rak lagi, saat aku bergumam.


Bahkan selama pekerjaan sederhana seperti yang aku lakukan sekarang, kau harus menangani permintaan pelanggan dengan benar jika ada. Selama kau memakai seragam toko buku di sini, pelanggan akan selalu datang meminta bantuanmu. Kebanyakan dari mereka menanyakan lokasi sebuah buku, yang kedengarannya cukup sederhana, tapi mereka cenderung melakukannya bahkan tanpa mencoba mencarinya terlebih dahulu. Mereka tidak memberitahu info mengenai penerbit, atau pengarang, membuat genre tetap samar, namun memintamu untuk memandu mereka.


Meski kau memberitahu sesuatu seperti - Ini adalah seri di mana banyak pembunuhan terjadi, aku tidak tahu bila informasinya sedikit itu, aku tidak dapat menemukan hal yang benar tidak peduli seberapa sungguh-sungguh aku mungkin bersedia membantu. Daripada tidak dapat menemukannya secara spesifik, aku menemukan terlalu banyak. Apa kau tidak punya lagi… petunjuk?


Seekor kucing menyelesaikan kasus ini.


Seekor kucing?


Aku pergi untuk meminta bantuan Yomiuri-senpai, dan dia segera membimbing pengunjung ke buku yang tepat.


“Yang ini cukup populer. Rasanya aneh sampai kamu tidak mengetahuinya.”


“Benarkah?”


Misteri sebenarnya bukanlah genre kesukaanku.


“Aku akan tersesat jika mereka bilang itu anjing.”


“Memangnya ada yang seperti itu?”


“Tentu saja, sesuatu seperti ini.”


Wow, Anda memang jenius, penulis misteri.


Kau sudah mengerti intinya. Mengurus pemesanan di muka untuk rilisan baru, tambahan majalah yang hilang, atau hanya anak-anak yang tersesat di dalam toko, ada banyak hal yang harus dilakukan sebagai karyawan. Usai menjalani pekerjaanku seperti itu, shift-ku sudah berakhir. Aku mengganti pakaianku, mengucapkan selamat tinggal pada Senpai, dan meninggalkan toko.


Hujan akhirnya berhenti, dan berkat langit yang cerah, aku bisa melihat bulan di antara celah-celah deretan bangunan. Tergantung pada musimnya, caramu melihat bulan akan berbeda-beda. Selama musim panas, saat matahari masih cerah, bulan purnama tetap rendah, dan di musim dingin justru sebaliknya. Karena kita berada di titik balik matahari musim panas, bulan purnama tidak setinggi itu, membuatnya tampak seperti terjepit di antara bangunan.


“Kamu melihatnya, ‘kan.”


Sesaat, jantungku hampir copot. Itu adalah pesan terburuk untuk diterima. Aku bisa tahu apa yang dia bicarakan bahkan tanpa bertanya lebih jauh lagi. Aku mem-boot aplikasi, dan mengonfirmasi sisa pesan. Singkatnya, isinya adalah sebagai berikut.


Dia bertanya-tanya apa yang sedang aku lakukan di depan kamarnya, dan akhirnya sampai pada asumsi bahwa aku mungkin telah melihat kancur dan bra di dalam kamarnya. Dia memang menganggap kancur itu sebagai sapu tangan setelah dicuci, tapi karena aku adalah target dari rasa malu kali ini, dia ingin memastikan apakah aku melihatnya — Sepertinya.


Sebelum interogasi dan kemungkinan penyiksaan, aku mengiriminya pesan singkat yang menjelaskan mengenai alibiku, dan bergegas pulang. Hanya melihat sepatunya di pintu masuk, aku menghela nafas lega karena orang tua kami belum pulang. Saat aku mengangkat kepalaku lagi, aku melihat Ayase-san menatapku.


“Aku pulang, Ayase-san.”


“Selamat datang kembali, Asamura-kun.”


Meski kami mengatakan hal yang sama, intonasinya sama sekali berbeda dari sebelumnya.


“Jangan berdiam diri terus di pintu masuk.”


“Ah, ya…”


Aku memang memberitahu alibiku, tapi aku penasaran apakah dia akan mempercayaiku ...


“Kembalilah ke kamar dulu.”


“Eh? Kamar yang mana?”


“Apa kamu masih tertarik dengan kamarku?”


“Aku akan menuju ke kamarku sendiri, terima kasih banyak.”


Pada saat seperti ini, sebaiknya jangan membantah, tentunya. Aku pergi ke kamarku, meletakkan tasku, dan duduk besimpuh di atas lantai, menunggu kedatangan Ayase-san.


“Kenapa kamu duduk di lantai seperti itu?”


“Yah, aku hanya ingin melakukannya.”


Aku tidak bisa bilang kalau aku sedang mempersiapkan diri untuk bersujud. Aku tidak tahu apakah dia akan memaafkanku.


“Ini.”


Aku mengangkat kepalaku, dan melihat cangkir yang mengepul di depanku.

__ADS_1


“Eh?”


“Coklat panas. Aku akan mengambilnya jika kamu tidak mau.”


“T-Tidak, aku akan ... mengambilnya ...” kataku, dan menerima cangkirnya.


Aku memang lebih suka kopi, tetapi aku senang dengan sesuatu yang hangat sekarang — Tunggu, apakah ini seperti yang kupikirkan? Aku menatap wajah Ayase-san, dan seperti yang diharapkan, matanya berkobar karena amarah.


“Jadi… tentang pesan yang kamu kirim tadi.” Ucap Ayase-san membuka obrolan.


“Ah, yeah.”


“Pintu kamarku kebetulan setengah terbuka, dan matamu tertarik pada apa yang ada di dalamnya. Lalu, saat aku memanggilmu, kamu kabur, ya. ”


“Memang begitu adanya.”


“Karena sepertinya kamu akan masuk ke dalam untuk mencuri sesuatu?”


“Yah… aku… kira…”


“Meski itu punya adik perempuanmu sendiri?”


“Itu memang benar, tapi ...” Kata-kataku tersangkut di tenggorokan.


Jika ini tentang adik atau ibu kandungku, maka itu akan terasa sangat memalukan, tapi itu saja. Namun dalam kasus ini… mau bagaimana lagi. Ini baru hari ke-5 sejak kita menjadi saudara — Alasan kedua muncul di dalam kepalaku, ekspresinya sedikit rileks.


“Maaf, tadi itu sedikit tidak adil, ya.”


“Eh.”


“Secara hukum, kita memang bersaudara, tapi bukan berarti kamu bisa tiba-tiba bertindak seperti kakak laki-laki begitu hukum mulai berlaku — Setidaknya tidak di kepalamu.”


“… Ya, aku mengerti maksudmu.”


Kami berdua tinggal di bawah satu atap, dan setidaknya bertindak seperti saudara, sebagai sebuah keluarga. Diharapkan bahwa kami bertingkah seperti itu, dan kami tidak dapat mengkhianati harapan ini. Karena itu akan merepotkan Ayahku dan Akiko-san. Meski demikian, kita tidak bisa bertindak seperti saudara kandung yang telah hidup bersama selama 16 tahun. Proses berpikir manusia bukanlah kode yang dapat diedit, atau program yang dapat ditulis ulang.


Itu fakta bahwa kami berdua hanyalah orang asing seminggu yang lalu. Sekarang, Ayase-san mengatakan bahwa aku perlu menyadarinya. Dia selalu berusaha untuk bersikap adil.


“Tapi, sekarang kita impas. Lupakan saja ini, oke? ”


“Impas?”


“Aku pikir terpesona oleh kancutku adalah jenis tindakan refleksif lainnya. Pagi ini, aku secara refleks mengucapkan kata-kata itu. Itulah sebabnya, menurutku kita impas. Aku pikir kamu adalah tipe orang yang dapat belajar dari tindakan refleksif ini juga, sama seperti kamu mempercayai kalau aku bisa.”


“Aku senang mendengar hal itu.”


“Ngomong-ngomong.”


Hm?


“Kamu pada dasarnya mengatakan kalau kancutku cukup memikat sampai membuatmu terpesona, bukan.”


“Aku tidak pernah mengatakan itu, kok.”


“Kalau begitu, itu sama sekali tidak menarik… ya. Hee.”


“… Apa jangan-jangan kamu sedang menggodaku?”


“Entahlah, siapa yang tahu. Tapi, aku tidak bisa membiarkan suasana gelisah ini terus berlanjut, kan? ”


“Kurasa …begitu.”


“Kamu… pasti punya hasrat untuk memiliki beberapa kancutku, iya ‘kan?”


“Urk… Yah, sejujurnya, akan bohong jika aku berkata tidak memiliki nafsu duniawi seperti itu… Tapi, aku tidak akan melakukan apapun hanya karena itu, oke?”


“Hmm… Jadi kamu sebenarnya punya nafsu juga.”



“Akan sangat merepotkan jika aku tidak nafsu. Tapi, memiliki nafsu, dan bertindak menuruti hal itu merupakan dua hal yang berbeda.” Jawabku dengan ekspresi seserius mungkin.


“Pfft. Benar, maaf karena sudah menggodamu. Mari kita sudahi saja untuk saat ini.”


“Terima kasih banyak…”


Aku mengucapkan terima kasihku kepadanya, dan menemukan apa yang ingin dia katakan. Kau tidak dapat membatalkan emosi yang pernah kau miliki. Meski itu hanya kesalahpahaman. Kemarahannya padaku karena sudah melihat kancutnya masih belum hilang. Ketimbang melemparkan emosi ini kepadaku, dia malah menjelaskan mengapa dia marah, dan tetap tenang. Pengendalian emosinya sungguh menakjubkan. Menyesuaikan, huh… Aku masih jauh dari mencapai levelnya.


“Tapi, aku senang.”


“Hm?”


“Aku tidak ingin kamu berpikir bahwa desainnya aneh. Aku mungkin perlu membuangnya nanti.”


“… Aku merasa seperti mulai memahami kepribadian seperti apa yang kau miliki, Ayase-san.”


“Benarkah?”

__ADS_1


“Ya, sedikit.” Usai mendengarkan perkataanku, Ayase-san hanya menunjukkan senyum tipis.


sorry jarang uploud


__ADS_2