Hanya Karena Aku Anak Pertama

Hanya Karena Aku Anak Pertama
rencana yang tercium


__ADS_3

" Raya kamu itu apa-apaan sih ?!"   suara Ibu mulai turun menginterupsi  " adikmu itu cuma minta nomornya , untuk Minta pekerjaan bukan ingin merebut kekasihmu itu . kenapa tidak bisa kau berikan saja .!" Ibu memulai omelanya menyuarakan pembelaan terhadap Maya tidak perduli Apakah itu benar ataukah salah


" ya tidak bisa seperti Itu toh bu ... tidak seperti itu konsepnya,  membagikan nomor pada orang lain harus ada izin dari pemiliknya, Kalau tidak ada izin dari pemilik itu namanya lancang Bu ..!"  bapak menengahi


" terus saja Pak , bela saja terus si Raya itu,  bapak memang lebih memilih menyayangi Raya daripada Mira , bapak itu pilih kasih . apa Bapak tidak sadar ??!" ucap ibu malah membentak bapak . rupanya Ibu juga tidak sadar bahwa selama ini dia lah yang lebih pilih kasih,  kasih sayangnya Antara Aku dan Mira.


Bapak memang sangat menyayangiku,  tapi bapak juga menyayangi Mira,


Hanya saja karena terkadang Mira suka berbuat jahil padaku,  jadi bapak sering merasa kesal. Tapi tak pernah sekalipun bapak membedakan kasih sayang antara aku dan Mira, apapun yang bapak berikan pafaku,  bapak memberikan nya juga pada Mira,  yang tentu saja harus sesuai dengan apa yang kami butuhkan,  bukan hanya sekedar kami inginkan.


"Sudah Sudah ... tidak usah diributkan lagi,  nanti aku kirimkan nomornya ke WA kamu ..!" aku memutuskan untuk menyudahi perdebatan itu . tidak baik untuk kesehatan Ayahku jika itu terus terjadi. Kulihat seringai tipis di bibirnya,  kala kalimat mengalah terucap dari mulutku.  Dia terlihat sangat bahagia,  ah...  Bukan terlihat bahagia,  tapi terlihat merasa menang


**********


"Kamu tidak jadi melamar kerja dhi tempat yang sama dengan kakak,  dek...? "  tanyaku.  Ini sudah hari ketiga sejak dia meminta nomor Rizwan, tapi aku belum juga melihatnya menampakkan batang hidung di perusahaan tempatku bekerja.


"Tidak kak..! " jawabnya singkat.


" Kenapa...  " tanyaku lagi,  dan dia hanya menghedikkan bahu saja sebagai jawaban.


" Apa Rizwan mengatakan kalau tidak ada lowongan  ?? Atau memang kamu belum membuat surat lamaran..? " tanyaku lagi,  dan lagi lagi hanya di jawab dengan gedikan dua bahu.


" Tapi kamu jadi menghubungi Ruzwan kan,  setelah minta nomor waktu itu..? " kakak juga tidakungkin memberi nomor yang salah.  !" ucapku.  Yang entah kenapa rasanya aku sekarang malas memamnggil Rizwan dengan embel embel mas.  Mungkin karena aku merasa sebentar lagi dia akan menjadi orang asing bagiku.


"Aku sudah menghubungi kak Rizwan kok,  !" sahutnya cuek.

__ADS_1


"Lalu...?? " Aku menatapnya dengan penasaran,  tak mungkin rasanya kalo Rizwan bilang tidak ada lowongan kerja di sana.  Karena di kantorku itu memang sedang butuh karyawan di bidang marketing,  dan itu sangat cocok dengan bidang yang di ambil Mira di kampusnya.


" Aku meminta nomor kak Rizwan bukan untuk mencari pekerjaan..! "  jawab mira akhirnya.


"Lalu...?? " Aku berpura pura penasaran  ingin tahu.


"Itu rahasia...  Belum waktunya kak Raya tahu.."  jawabnya seolah menyimpan misteri.


"Oo...  " Aku hanya menggedikkan bahu dan mencebik.  Seolah tak tahu apapun  .Padahal itu sangat mudah ku tebak, karena dulu pun dia pernah melakukan nya saat aku punya  seorang teman dekat bernama Agam.


Dia pun melakukan hal yang sama tetapi dengan trik yang berbeda.


Begitupun waktu ada senior kampus bernama Reno yang mendekatiku,  dan awalnya sering menitip pesan pada Mira.  Jadi aku sudah hafal dengan sifat adikku itu.  Sory Mira trik mu sudah terbaca,  kali ini kau tak kan bisa membuat aku merasa kalah.


Aku pernah mendengar satu pepatah,  *mengalahlah sampai tak ada yang bisa mengalahkanmu*  tapi kali ini aku justru akan melihatnya merasa kalah.


"Selamat pagi pak Rizwan... " sapaku pada Rizwan,  pagi itu ketika Kami berpapasan dengannya di persmpangan koridor.  Jabatan nya di kantor ini lebih tinggi dariku,  jadi aku harus menghormatinya kan..?


"Eh...  Raya..?!  apa apaan sih kamu ini,  manggil pakai sebutan pak segala..  ?!"  dia terlihat canggung berbicara denganku.  Padahal aku mah buasa saja.


"Ini kan di lingkungan tempat kerja pak..,  jadi harus sopan dong..?! "  aku memberikan alasan dengan sedikit bergurau.  Aku  melihat yang berubah jadi entahlah..  aku tak bisa menjabarkannya. Seperti ada perasaan canggung,  atau perasaan tak enak padaku.


"Mira apa kabarnya Ray..?! " pertanyaan basa basi dia lontarkan untuk memecah suasana canggung.


" Lhooo...  bukannya pak Rizwan tiap malam telepon an sama dia ya..? " kulontarkan pertanyaan yang mungkin baginya bagai bom yang meledak,  terbukti dari warna mukanya yang berubah pias.

__ADS_1


"Eh..  atau mungkin berarti itu bukan pak Rizwan ya..  yang tiap malam telepon an sama Mira.. maaf salah..! " ucapku memperbaiki suasana,  aku tak tega jika harus membuatnya salah tingkah sekarang,  madih belum waktunya.


Manusia yang tidak setia , alias plin plan hati ini juga harus ikut merasa kalah,  tapi tentu saja bukan sekarang.


Entah kenapa sejak Mira berubah jadi sering usil padaku,  aku jadi punya kepekaan yang sangat tinggi.  Tentang apapun yang terjadi di sekitarku.  Bahkan kadang aku merasa bisa membaca isi hati orang yang berhadapan dan berniat huruk padaku.


Terlebih yang kali ini benar benar tampak nyata.  Mira seolah secara terang terangan ingin menjatuhkan ku.  Tapi yang aku lihat mental ku lah yang ingin di jatuhkan nya.


Beberapa malam ini bahkan aku mendengar Mira bertelepon dengan suara yang keras,  dan seperti di sengaja agar aku bisa mendengar nya.  Dan yang jelas itu pasti bukan dengan Arga.  Walaupun hanya sebutan kak tanpa nama yang aku dengar.  Aku yakin itu adalah Rizwan.


"Kau ingin melihat aku cemburu atau patah hati..  ?  Maaf kau salah orang..! "  Batinku.


"Raya,  aku harus segera ke tempatku,  kamu juga kan..?! "  pungkas Rizwan akhirnya.  Mungkin dia sedang merasa seperti maling kepergok.


"Tentu saja.  Selamat bekerja pak!! " jawabku,  lalu menunduk hormat.  Dan dia pun segera berlalu.  Senyum manis,  ah bukan , tapi seringai sinis terukir rapi di sudut bibirku.  Tunggu saja tanggal mainnya.  Tanggal main yang sesungguhnya bukan aku yang menentukan.  Tapi kalian,  Rizwan dan Mira.  Kapanpun kalian bergerak berniat untuk menghancurkan hatiku,  di hari itu jugalah yang akan menjadi tanggal kehancuran kalian.


"Ray...  " sentak Maira yang kesal karena panggilan nya tak kuhiraukan.


"Apa sih..  Bicara saja,  aku dengar kok..! " sahutku dengan mata tetap fokus pada komputer canggih di depan ku.


"Ish..  Kamu ini,  bisa tidak sih kerja itu jangan terlalu amat?   Agak santai aja kali..  " ucapnya memprotes ku.


"No..  No..  No.. " Yang namanya kerja ya harus fokus,  karena yang di butuhkan oleh perusahaan ini adalah keseriusan kita,  perusahaan tidak menggaji karyawan untuk bersantai ala di pantai.. " jawabku logis.


"Iya deh iya...  Yang karyawan teladan...  Aku sumpahin deh suatu saat kamu jadi nyonya boss. " sewotnya karena rencananya untuk ngajak ngerumpi gagal.

__ADS_1


"Aamiin...  " ucapku seraya mengusap kan dua telapak tangan di wajah.  Membuat nya semakin sewot.  Terus salahku di mana coba


__ADS_2