Hanya Karena Aku Anak Pertama

Hanya Karena Aku Anak Pertama
it's not my style


__ADS_3

" Ish...  Kamu ini! "  Maira melemparkan tisu yang sudah berubah menjadi bulatan bola kertas.  Dia tampaknya benar benar sewot.


" Apa..  memangnya aku salah ? kamu berdoa dan aku mengerti Aamiin kan.  Itu kan bagus.  Karena sesungguhnya kita tidak tahu dari mulut yang mana doa di kabulkan Tuhan. "  ucapku sambil tergerak.  Tapi mata tetap fokus pada komputer


"Aku ini mau tanya serius Marimar..! "  serunya dengan suara menahan geram.


" Ya tanya saja Pulgoso.. Aku dengar kok. " jawabku


PLETAK..  "auws..  " aku merintis sambil memegang kepalaku yang mungkin sudah benjol.  Sontak saja aku menoleh padanya.  Kali ini bukan lagi bulatan tisu, tapi bollpoint yang melayang tepat mengenai kepala bagian belakangku.


" Hei...  Kau mau membuatku gegar otak..?! " aku sudah berkaca pinggang.


" ha ha ha ha... " serempak teman satu divisiku tertawa terbahak.  "hebat loe Ra...  Jempol kita semua deh buat loe.. " seru Edwin.  Bahkan sekarang mereka ber - tos ria.  Bangga sekali mereka bisa berhasil membuatku berdiri dari dudukku di depan komputer.


Sial aku kalah kali ini.  Aku mengentakkan kaki lalu kembali ke tempat duduk ku.  Dengan bibir mengerucut.


"Makanya Ray...  Serius is serius,  tapi agak santai lah dikit jangan spaneng.  Woles gitu lho,  yang penting jangan meleng juga.. "  seru mas Bejo.


Entah kenapa aku heran dengan teman satu tim ku yang satu ini.  Bisa di bilang wajahnya mirip bule.  Putih bersih,  warna matanya juga tidak hitam seperti kebanyakan orang indo.  Rambutnya juga agak pirang.  Kalo temanku bilang aku agak mirip dengan dia sih.  Padahal sama sekali tidak mirip.


Kembali ke laptop.  Yang aku heran adalah kok namanya Bejo,  yang kedengaran nya agak Ndeso.  Mau tidak percaya tapi di name tag nya memang seperti itu.


"Ray...  Aku ini tadi serius ada yang mau aku tanyakan sama kamu.  Tapi kamu jangan marah ya..  ?" seru Maira lagi.


"Ish..  Belum belum kamu udah mau bikin aku marah.. " ucapku


"Ya itu makanya.  Sebelumnya aku minta untuk kamu jangan marah. Ya. Ya..  Soalnya aku beberan penasaran ini.  Bisa bisa aku sampai rumah gak akan bisa tidur kalo kamu gak kasih jawaban ini nanti"

__ADS_1


"Ya udah iya..  Tanya aja aku gak ajan marah,  "  sahutku.  Toh bau baunya aku kayak udah tahu apa tang mau dia tanyakan.  Apa lagi memangnya,  pasti tak jauh dari Mira yang jadi sering nganter aku makan siang.


"Emm gini Ray..  Suer tapi kamu jangan marah !?"  aku diam mendengar apa yang hendak di tanyakannya.  " emm sekarang ini hubungan kamu dengan pak Rizwan kaya gimana sih..?! " Dengan suara yang ragu akhirnya pertanyaan itu keluar juga dari mulutnya.  Tuh kan benar tebakanku tadi.  Pasti seputar itu juga yang bakalan dia tanyakan,  aku bilang juga apa,  entah apakah aku ini punya indera keenam.  Kok bisa bisa nya aku ini peka sekali.  Pasti setelah ini dia akan bicara soal adikku yang sekarang jadi dekat dengan Rizwan.


"Ya gak gimana gimana,  memang nya mau gimana sih,??"  aku berpura pura cuek seolah Tidak tahu apa maksudnya.


"Emm.  Itu.   Anu. Tapi beneran ya kamu jangan marah..? "  ucap Maira terbata


" Iya iya aku tidak akan marah , apaan sih ? Am em Ita itu ona anu..  nggak jelas tahu !" omel Raya sambil berpura pura merengut kesal . dalam hatinya dia tertawa,  melihat sikap Mahira yang seakan takut untuk menyinggung perasaanKu.


" emm sebenarnya...  " ucapan Maira terhenti,  aku mendongak menatap nya karena sepertinya dia masih ragu untuk bicara.. "


"Apa..?! " Aku meyakinkan nya untuk bicara


"Ini ada hubungannya dengan adikmu itu. " ucapan itu akhirnya keluar juga dari mulut nya.  "Apa kau tidak mencurigai adikmu yang sering datang kesini?  sumpah aku ngerasa aneh banget,  kaya ngerasa otu bukan dia aja.! " pungkas Maira.


"Maksudmu itu apa...?! jangan muter muter kalo ngomong,  pusing tau dengernya.! " akhirnya aku memutar kursiku agar menghadapnya.


" sebenarnya kita kita curiga kalo adik loe itu berusaha ngerebut pacar loe lagi Ray..! " Seru Windy yang sudah tidak sabar menunggu penjelasan Maira padaku.


"Oh... "  ucapku lalu membalik kursi ku kembali menghadap ke arah komputer.


"Oh...???!!! " Seru mereka bersamaan.  Dan kulirik mereka yang saling pandang satu sama lain.


"Demi apa Ray..  ? Cuma Oh tanggapan kamu..?! " sentak Maira.  Aku pun menggedikkan bahuku.  Karena sudah kembali fokus dengan data data di depan mataku.


"ya jangan cuma oh dang Ray..! " windy ikutan nyeblak.

__ADS_1


"Lha terus...  Aku harus lompat salto sambil bilang wauuw gitu..?! " aku tergelak merasa lucu dengan tingkah mereka.


"Ya minimal harus itu kaget gitu loh..!!? " sahut Edwin.


"Yeee...  Orang aku gak kaget kok di suruh kaget..?! Gak sekalian aja kalian suruh aku jantungan??! "  jawabku.


"Maksud loe..?  Loe udah tahu gitu Ray..?! " tanya Maira yang masih tidak percaya.


"Iya! " jawabku cuek.


"Ai bilang juga apa..?  Pasti Raya itu sudah mencium aroma sesuatu,  yu yu aja yang gak percaya sama ai.! " sahut mas bejo.


"is gak seru amat sih loe Ray..! " Maira malah yang cemberut merasa gak terima .


" Emang bener Ray..  Loe udah ngerasa kalau adik loe itu ada apa apa sama pak Rizwan?? " Edwin ikutan nimbrung


"Ya tahu lah orang kelihatan jelas kok.! " jawabku cuek.


"Kok loe biarin aja adik loe kayak gitu Ray..  " tanya Maira lagi.  "Kebiasaan tahu Ray..  Kok demen banget sih dia itu ngerebut cowok loe...?! " malah dia yang geram. Aku hanya bisa menggeleng gelengkan kepala.


"Emang pernah kayak gitu juga..?! " tanya Windy kepo.


"Ya bukan cuma pernah,  sering malah..! " Aku cukup diam.  Keterangan demi keterangan meluncur bebas dari mulut Maira,  dia yang paling tahu sifat Mira.  Karena dulu Maira adalah teman sekolahku sejak SMA sampai kuliah.


"Ya kamu gak boleh diam gitu aja dong Ray..  !" seru windy,  setelah mendengar semua cerita Maira.


" Ya terus...?  Kalian mau lihat aku nangis tersedu sedu atau meraung raung di pojokan gitu..?  Atau kalian pingin lihat aku jambak jambakan sama Mira?  gitu?  "  but it's not my style.  Sory udah bikin kalian kecewa. !" ucapku.  Sambil tetap fokus pada layar.  Sesekali kulirik mereka yang  mukanya merah menahan geram pada Mira , aku salut dengan mereka semua,  aku yang di tikung tapi mereka yang ikut merasakan,  sungguh kesetia kawanan yang luar biasa

__ADS_1


"tapi tetep aja,  emangnya kamu gak sakit hati Ray..  Itu kan artinya pak Rizwan sudah selingkuh,  Ray,  ? Dia udah ngianatin kamu! " ucap windy.


"Ngapain sakit hati??  Kurang kerjaan.  Justru dengan begini aku malah tahu bagaimana sifat Rizwan kan,  artinya dia bukan orang yang layak untuk kupertahankan.


__ADS_2