Hanya Karena Aku Anak Pertama

Hanya Karena Aku Anak Pertama
Let's start the game


__ADS_3

" Ada yang ingin aku bicarakan..!" ucap Rizwan ketika kami berpapasan di koridor


"Ada apa ya pak ..? Apa ada kesalahan dalam pekerjaan saya ?" tanya ku. Bagaimana pun kedudukan dia memang lebih tinggi di perusahaan ini. Walaupun bukan atasan ku secara langsung.


"Bisa kita ketemu di jam makan siang? Di kantin seperti biasa !" tanya Rizwan sambil menatap ku , seolah ada yang di cari di sana entah apa itu


"Emm .. Sebenarnya saya sudah ada janji makan siang bersama dengan teman teman satu divisi pak , !" entah kenapa aku juga tidak hendak menunduk kan wajahku


"Baiklah kalau begitu, " dia hendak berlalu , tak berusaha agar aku menerima ajakan nya . " dan " tiba-tiba dia menghentikan langkahnya " bisakah kau memanggil ku seperti biasa, janan merubah kebiasaan , sejujurnya aku merasa kau sedang berusaha menghindari ku.!" ucap Rizwan.


" Ah tidak kok pak. Masa sih saya seperti itu ?? Tidak lah , saya biasa saja kok. !" jawabku dengan tertawa, aneh kan dia yang mulai asik dengan mainan baru , malah aku yang seolah menjadi tertuduh.


"lalu kenapa kau merubah panggilan?" tanya nya.


"Oh... Itu kan karena pak Rizwan termasuk atasan saya, saya tidak enak di dengar oleh teman teman. Kesannya sayo kok SKSD banget sama pak Rizwan." aku memberikan alasan. Ada yang berubah dari raut wajahnya, tak tahu itu spa ,


********


" Wauw... Ibu masak besar ya...? Mau ada acara apa..?" aku bertanya karena memang tak biasanya , ibu memasak dalam jumlah banyak, dan juga ada banyak sekali kue kue yang sudah tertata rapi di piring


 " Sudah sana jangan ganggu ibu.. !" ibu seperti tak ingin menjawab rasa penasaran ku. Aku pun bergegas pergi ke kamarku . Dan segera mandi . Aku memang sudah lelah dan ingin istirahat setelah seharian bekerja.


Berendam dengan air hangat benar membuat pikiran ku rileks. Dan anganku jadi melayang kemana-mana. Ku Pandangi sekeliling ruangan kamar mandi ku. Terkadang aku merasa heran. Ayahku hanya bekerja sebagai tukang tambal ban. Dan ibu hanya bertanam sayur di kebun yang tak begitu luas. Tapi kehidupan kami seperti tak sama dengan tetangga yang lain , yang dengan pekerjaan yang lebih mentereng dari orang tuaku.

__ADS_1


Kamar mandi ini misalnya, memang tidak mewah , tapi fasilitas lengkap. Ada bak berendam yang besar, ada shower. Yang di tiap kamar dalam rumah ini memiliki nya juga. Begitupun dengan isi rumah ini, tidak ada satupun barang mewah, tapi perabotan rumah ini bisa di bilang lengkap, bahkan ada peralatan yang tidak di miliki oleh para tetangga, kami memilikinya


pun juga dengan kebutuhan kami sehari-hari, sejak aku masih sekolah dulu , tiap kali ada kebutuhan apapun , ayah selalu bisa mencukupi nya . Walaupun ayah atau ibu bilang *iya nanti* tapi pada akhirnya selalu ada .


Padahal teman teman ku saja yang orang tuanya punya usaha yang lebih bagus kadang bayaran sekolah menunggak. Yang sering jadi pertanyaan dalam hatiku adalah, dari mana ayah dan ibu mendapatkan uang untuk semua itu.


Ah... Sudahlah, tiap kali mengingat hal itu membuat jiwa kepo ku semakin meronta-ronta.


Oh iya , aku ingat. Tadi siang Rizwan mengirim pesan lewat aplikasi hijaunya, katanya dia meminta izin untuk nanti malam akan datang ke rumah ini . Tetapi sebelum nya dia juga meminta maaf kalau nanti menyakiti ku , apa ini ada kaitannya dengan ibu yang menyiapkan banyak hidangan tadi ya ?? . Ada senyum di susut bibirku. Apa mereka, Mira dan Rizwan akan bergerak hari ini ??


" Its ok .. No problem. Let's start the game !!!!" senyum manisku semakin merekah.


~Kau yang sudah memulainya sejak awal Mira. Bukan aku membencimu , tapi sesekali kau membutuhkan terapi mental~ ucapku dalam hati.


"Lho ..Arga.. !" aku terkejut waktu hendak mengetuk pintu. Gimana gak kaget coba. Aku baru aja ngangkat tangan mau ngetuk pintu, terus tiba-tiba saja pintu dah kebuka dari dalam , untung aja gak ke getok jidatnya dia.


"Lho.. eh... Raya .. ??" kamu ngapain di sini ..?" dia bertanya dengan gugup , entah mungkin juga kaget karena aku tiba-tiba muncul begitu dia membuka pintu .


Harus nya aku yang tanya , ngapain kamu di sini ..??" ucapku balik bertanya.


" Oh itu .. Anu .. Apa.. ? Itu .. Anu .. Aku..!"


"itu anu itu anu apa..??" tanya ku tak sabar . kenapa dia ngomong gak jelas ,

__ADS_1


" Ah .. itu .. aku nganter pesanan gofood punya Tuan Septi .. iya itu benar, mengantar pesanan go food punya Tuan Septi ..!" jawabnya masih seperti orang gagap atau mungkin gugup. lalu kulihat dia bernafas lega, sambil menggaruk tengkuknya


"Oh... ?" aku manggut-manggut . karena teringat dia memang seorang driver ojek online.


ku perhatikan dia dari atas , ku telisik penampilan nya yang aneh , penampilan nya rapi ,walaupun dia memang selalu rapi . tapi rapinya kali ini seperti tak biasa, entah lah menurutku dia aneh saja. celana kain, kemeja lengan panjang, pakai sabuk . rambut klimis . dan jaket ojol yang disampirkan di lengan.


kenapa jaketnya di lampirkan di lengan , kenapa tidak di pakai, apa saat mengantar pesanan makanan pada pak Septi di sempat melepas jaketnya ?? "


"Raya apa kabar nya.. ?;" dia lalu bertanya.


"Aku baik, sangat baik !" jawab ku. "kamu sendiri ??" aku balik bertanya


"Ah aku juga baik..!" dia tersenyum manis sekali. entah apa yang membuat nya terlihat begitu bahagia. mungkin karena orderan nya lancar , yang ku tahu pak Septi memang termasuk orang yang murah hati, jadi bisa saja dia baru saja mendapatkan tips yang banyak, atau mungkin mendapatkan bintang Lima.


"Ya sudah , aku mau menghadap pak Septi..!" putus ku . aku tak ingin berlama-lama, takut kena semprot dari bos yang super tegas itu , dalam tanda kutip *tegas* . tegas lho ya ? bukan galak.


"Ah iya silahkan..!" ucapnya sambil membuka kan pintu untuk ku.


~apaan sih ni anak ?!" aku mendelik menatapnya. tapi tak urung aku hendak masuk juga


"Ah .. Raya..!" serunya . padahal aku baru saja maju dua langkah dengan tangan kanan yang hendak mendorong pintu agar lebih lebar terbuka, dan terpaksa harus berhenti mendengar seruannya, aku menoleh tanpa suara.


"Itu .. boleh tidak kalau nanti kapan kapan kita bertemu..?!" aku shok, melongo . aku menoleh gugup kearah pak Septi yang sedang menungguku . semoga saja beliau tidak marah , bagaimanapun ini bukan salahku. ini salah Arga si tukang ojol . aku menggerakkan kesal ke arahnya.

__ADS_1


"Ah maaf Tuan Septi.. !" permisi , terima kasih pesanan hari ini . mungkin dia tahu aku sedang menahan marah, atau mungikn juga dia menyadari tatapan tajam pak Septi.


__ADS_2