
Sore yang sangat indah, suasana sangat cerah. Aku duduk di bangku kecil di halaman belakang rumah. Ku usap peluh ku yang membasahi kening. Lelah sehabis menyiram tanaman sayur dan menyiangi rumput di kebun kecil milik ibu , hanya sepetak kecil. Tapi cukup untuk kami tak perlu membeli sayur tiap hari.
Ada beraneka tanaman sayur di sana, bayam, kangkung, sawi, tumpang tindih dengan cabai dan tomat, di atasnya ada labu bergelantungan yang di sangga dengan tiang bambu oleh bapak.
Kali sekiranya kebanyakan untuk di masak sendiri terkadang juga di ikat kecil kecil oleh ibu, untuk di tutup jual ke tukang sayur keliling.
"kakak... " suara manja adikku merah menyapa telinga
' tit tut tit tut ti tut... " alarm di otakku seolah berbunyi aku seperti merasa akan mendengar berita kurang baik. tanpa menoleh aku bisa mendengar langkah kaki Mira yang berlainan kecil dengan riang, semakin dekat dan semakin dekat, lalu tanpa permisi duduk di sampingku.
"Kak Raya..! " serunya lagi dengan manja Karena aku belum meresponnya . aku menghela nafas pelan, kemudian kuarahkan pandanganku padanya
"ada apa ??" tanyaku
"tidak ada apa-apa kak . aku kan cuma ingin berbincang saja dengan kakak. kalau tidak hari libur begini kan kakak nggak pernah di rumah." jawabnya itu memang betul lah kami tidak pernah bertemu kalau tidak hari libur. tapi Entahlah aku seperti merasa ada tujuan dia mendekatiku
" Ya sudah bilang aja ada apa ? tumben-tumbenan kamu mau ngobrol sama kakak? biasanya juga lebih asik dengan hp-mu itu dek?" aku mencoba bersikap biasa-biasa saja
"ini kan hari libur Kak ? kok tadi kakak nggak pergi jalan-jalan dengan Kak Riswan ? Biasanya kan kalau hari libur Kak Rizwan datang ke sini untuk jemput kakak ?" tanya Mira lagi ya
__ADS_1
" Ya nggak apa-apa sih Dek . Kakak cuma lagi malas untuk jalan aja ?" bohong ku . sebenarnya adalah karena sekarang Riswan sudah tak lagi sesering dulu menghubungiku. dan Bahkan dia selalu beralasan sibuk di rumahnya atau ada acara apa dengan temannya . dan aku pun tidak peduli itu. karena aku sudah merasakan adanya sinyal-sinyal bahwa hubungan kami akan berakhir .
tak masalah sih bagiku karena sepertinya hal itu tidak menimbulkan efek buruk di hatiku. Entah kenapa aku merasa sama sekali tidak keberatan jika aku harus putus hubungan dengan Riswan
" sebenarnya Hubungan Kakak dengan Kak Riswan itu bagaimana sih ? Kok tidak seperti orang pacaran biasanya ?" tanya Mir
" ya nggak gimana-gimana Dek . mau gimana? biasa aja sih sama aja kayak dulu . Cuma kakak Memang lagi malas aja kalau untuk keluar-keluar !" jawabku berbohong . aku ingin memastikan apa yang ingin dibicarakannya.
" tapi nggak ada masalah kan Kak ?" Tanya Mira penasaran
" nggak ada sih. Masalah apa memangnya?" tanyaku
" Biasanya sih Kak. kalau laki-laki sudah jarang menunjukkan kepeduliannya atau sudah dia sudah mulai menjauh itu . Mungkin saja dia punya gebetan lain
" Ish kakak kan gak tahu gimana dia kalo lagi gak sama kakak..? " Mira malah mencoba memprovokasi agar aku mencurigai Rizwan, sungguh lucu menurutku.
"Eh kak .. Kalo misalnya.. Misal Lo ini ya ..? Ternyata kak Rizwan itu selingkuh gimana..?" tanya Mira seolah mencoba memancing atau entah dia ingin menyelami hatiku.
"Apaan sih kamu dek ? Gak lucu tau..!" aku pura-pura sewot.
__ADS_1
"Ini kan cuma misal kak?! Apa yang akan kakak lakukan..?!" masih ngeyel juga dia . pingin tahu reaksiku, mungkin dia hanya ingin menentukan langkah apa yang akan dia ambil selanjutnya.
" Ya gak tau dek, yang namanya orang di selingkuhi itu kan pasti sakit banget rasanya ? Mungkin kakak akan sedih, patah hati, bingung down, mungkin juga kakak akan menangis meraung-raung, atau entah lah , itu kan cuma misal. Dan kakak yakin bahwa itu tak akan pernah terjadi, karena kakak percaya Rizwan setia. " jawabku panjang lebar. Ada seringai licik di sudut bibirnya, yang terlihat jelas dari sudut pandanganku.
"Ha ha ha ... Setia kau bilang, tunggu saja tanggal mainnya kak !"
"Apa dek..?!" tanyaku terkejut mendengar nya. Tapi kulihat bibirnya tertutup rapat, hanya senyum manis terukir di sana
"Apa kak..? Aku kan diam aja dengerin kakak ngomong, aku belum ada jawab apa apa kok!" jawab nya. Entah ini telinga ku yang salah atau apa, tapi tadi aku benar-benar mendengar dia bicara seperti itu
Entah kenapa aku semakin merasa kalau aku ini sebenarnya memiliki semacam indera ke enam. Tapi apa ? , dari mana ? , sejak kapan ?
Ah.. Aneh aneh saja otakku ini. Terlalu penat dengan pekerjaan kali ya ? Atau mungkin juga karena aku hafal tabiat adikku itu , makanya aku seperti seolah sudah hafal kata kata itu, hingga merasuk begitu saja ke dalam kepala ku. Sehingga semua yang pernah Mira lakukan tersimpan rapi di otakku . dan berubah menjadi semacam paranoid.
Ah.. Tapi kalau di bilang paranoid ya enggak juga, wong tindakan Mira kali ini , walaupun itu baru rencana yang kubaca, tidak ngefek apapun pada hatiku kok, dan sepertinya seandainya pun Rizwan benar-benar berpaling pada Mira, ya it's no problem. It'oke wae kalo kata Jupe. Atau apakah itu artinya selama ini aku tidak benar-benar jatuh cinta sama Rizwan ya..? Bisa jadi sih.. Bisa jadi aku hanya kesengsem dengan sikap baiknya padaku saja, jadinya aku nyaman ngobrol sama dia, nyaman juga tiap dia ngajak jalan. Di tambah lagi teman teman kerja yang suka menyimpulkan bahwa kita adalah pasangan serasi, jadi aku iya on aja pas Rizwan bilang suka padaku. Ah entahlah bingung aku
"ya udahlah kak aku mau ke dalam dulu. Belum mandi aku tadi, silahkan nikmati saja waktu istirahat kakak , bye..!". Suara Mira membuyarkan lamunan ku, aku mendongak dan kulihat dia sudah melenggang meninggalkan ku duduk sendiri tanpa menunggu jawaban ku. Bodo amat pikirku.
Aku segera beranjak dari duduknya. Kucuci wajah tangan dan kakiku dengan selang air yang tadi ku gunakan untuk menyiram tanaman. Lalu segera masuk ke dalam rumah. Sebentar lagi adzan Maghrib, pamali katanya kalau masih berada di luar rumah. Katanya itu waktunya SANDI KALA, alias waktu nya BATARA KALA keluar mencari makan. Dan entah kenapa aku masih mempercayai hal hal seperti itu,
__ADS_1
padahal ini sudah abad milenium, sudah tahun 2023, tapi aku masih saja mempercayai nya, seolah dongeng yang dulu sering bapak cerita kan menjelang tidurku adalah hal yang nyata, seperti nasihat nasihat bapak yang lain, misalnya jangan makan dengan duduk di pintu, jangan menengok orang sakit di hari pasaran WAGE dan LEGI, jangan keluar rumah menjelang Maghrib dan menjelang adzan dhuhur, dan jangan ini , jangan itu yang lain.
Seiring bertambahnya usiaku, pernah aku punya pemikiran jika itu mungkin cuma MITOS saja , tapi tetap saja aku menurutinya, bukan untuk mempercayai nya , tapi untuk menunjukkan baktiku pada bapak. Karena aku selalu merasa bahwa, nasihat orang tua tidak mungkin salah , karena tak kan ada orang tua yang ingin menjerumuskan anak nya pada hal yang tidak baik