Hujan Yang Meneteskan Cinta

Hujan Yang Meneteskan Cinta
Misi


__ADS_3

Malam ini hujan turun dengan deras diiringi suara petir yang menggelegar. Hal ini benar-benar menambah suasana mencekam, disinilah Anna sekarang, di depan pintu gerbang gedung tua. Mereka sedang menunggu intruksi dari sang kapten yaitu CL. Persiapan sudah matang, mereka hanya tinggal menunggu situasi yang tepat untuk menerobos masuk mengingat banyaknya penjaga. Tapi mereka sudah sangat siap menjalankan misi ini.


"Bereskan dulu anak buahnya! Setelah itu yang intinya, ayo!" Perintah sang kapten dengan suara lantang miliknya.


Mereka menerobos masuk setelah mendengar titah sang kapten CL dengan gagahnya melawan para penjaga di depan gedung itu bersama anak buahnya. Tidak seperti CL yang dengan brutal menghabisi lawannya, Anna menghampiri lawannya dengan santai tanpa aba-aba menyerang.


"BODOH! JANGAN MENDEKATINYA TANPA PERSIAPAN!"


Zion berteriak memperingati Anna tapi wanita itu malah mengabaikan peringatan Zion. Anna menghampiri lawannya yang sedang menyiapkan tembakan dengan senapan Mosin-Nagant. Sebenarnya apa yang Anna pikirkan? Apa ia mau mati begitu saja? Zion sama sekali tak mengerti jalan pikiran Anna.


Anna sengaja membiarkan orang itu memfokuskan tembakannya lurus ke depan. Saat lawan Anna bersiap menarik pedal senapan itu ia dengan cepat tiarap.


Bang!


Satu tembakan keluar dengan suara yang nyaring membuat perkelahian berhenti sesaat. Mereka melihat asal suara itu, dengan cara ini konsentrasi lawan akan buyar dan terfokus pada suara nyaring tersebut. Dan di saat itu Anna dan rekannya dapat kesempatan untuk menyerang dengan lebih leluasa.


Anna menyeringai lalu berlari dengan lincah ke arah lawan yang baru saja menarik pedal senapannya, sang lawan masih diam mencerna keadaan. Tentunya Anna tak akan menyia-nyiakan ini.


Dia menendang senapan itu dari samping hingga jatuh lalu mengambilnya.


"Bergerak berarti bunuh diri paman," Kata Anna dengan wajah kemenangannya sambil mengarahkan senapan itu ke kepala sang lawan.


"Hey! Tapi ini belum berakhir," Kata orang itu sambil menodongkan pisau.


"Saat kau akan menembakku,  aku akan menancapkan ini pada kepalamu itu hahaha," lanjut si lawan.


Tampaknya Anna tidak peduli ia mengambil ancang-ancang untuk menembak. Namun sebelum itu terjadi tiba-tiba CL datang dan menendang pria yang sedang menodongkan pisau tadi sampai jatuh. CL segera mengunci gerakan lawan. Namun sialnya lengan kiri Anna sedikit tergores oleh pisau itu


"Ck, shit!" Kata Anna sambil mengelap kasar darah di lengannya dengan jaket basah yang ia kenakan.


"Utamakan keselamatan jangan terpancing emosi," Ucap CL.


"Kapten aku sudah mengurus semuanya." Zion baru saja kembali dari gudang. Ia mengusap kasar wajahnya yang basah karena air hujan.


"Satu lagi," Kata CL sambil menunjuk pria tadi dengan dagunya.


"Kau merepotkan, ck!" Kesal Zion lalu menyeret pria tadi ke gudang dan menguncinya.


Semua penjaga sudah terkalahkan dan di kumpulan di gudang. Jika mereka di lepas begitu saja tentu akan membahayakan.


Tak lama setelah itu Zion kembali dengan wajah kesalnya. Kenapa ia mendapat tugas membersihkan orang-orang yang sudah kalah itu? Padahal ia ingin menyerang langsung sama seperti Anna.


"Aku sudah menyebar gas tidur di gudang itu. Oh, ya! Kenapa aku dapat bagian ini kapten? Aku kan ingin menyerang juga," keluh Zion.

__ADS_1


"Kau harus terbiasa dulu melihat cara bermain kami, Zi! Melihat Anna menghampiri lawan saja kau sudah teriak tak karuan tadi," ledek CL.


Zion mendengus sebal. Lalu melirik Anna yang sedang memperhatikan mereka dengan senapan di tangannya.


"Wah, hebat juga kau bisa merebut itu darinya," kata Zion sambil melihat senapan itu dengan berbinar.


"Kau mau? Ambil saja."


Anna melempar senapan itu ke badan Zion setelah mengatakan itu. Zion sedikit kaget lalu dengan sigap menangkap senapan itu.


"Bodoh, kenapa dilempar? Jika tiba-tiba saja benda ini menembak sendiri bagaimana?" Kesal Zion.


"Kau mati."


Zion berdecak sebal mendengar Anna dengan entengnya mengatakan itu.


"Tergores," Kata CL sambil melihat lengan Anna.


"Tidak masalah kapten. Ayo masuk! Hujan semakin deras," Ajak Anna.


CL mengangguk lalu memerintahkan seluruh anak buahnya masuk dengan menyisakan beberapa orang untuk menjaga dari luar. Mereka memasuki gedung lewat pintu belakang.


"Kau cukup putuskan saja kerja samamu itu dengan perusahaan di ujung kota dan berkerjasama lah dengan kami," Ucap pria paruh baya di dalam sana. Dia adalah orang yang dibilang Herry ingin menipu dan memeras dia.


"Kau pikir kami tidak tahu rencana busukmu? Kami sudah tahu semuanya tua,n," jawab pria di depannya yang tak lain tak bukan adalah ayah Naya. Ya! Itu adalah Herry.


"Urungkan saja niatmu itu. Jadi kau sudah tahu rahasiaku, ya? Sebaiknya kau tutup mulut jika masih ingin hidup," Ancam pria paruh baya yang merupakan calon rekan bisnis tuan Herry.


"Kenapa? Karena kau sudah mengepung gedung ini? Tak ada gunanya! Kami sudah membereskan sampah-sampah itu," jelas Tuan Herry dengan sombongnya.


"Cih, padahal kita yang membereskannya, ia hanya modal uang," Gumam Anna.


Kini CL dan anak buahnya sedang bersembunyi dan berjaga-jaga dari lantai dua.


Rekan Tuan Herry terlihat panik dengan wajah yang sedikit pucat. Untung saja ia memiliki asisten di sampingnya yang berusaha menenangkannya.


"Takut? Cukup alihkan saja kepemilikan perusahaan kulinermu dan tanda tangani ini," Lanjut Herry dan menunjukkan kertas yang bertuliskan kontrak pengalihan aset perusahaan.


Pria itu tampak diam dan berpikir lalu berkata,


"Tunggu. Ini pemerasan dan penipuan. Lalu apa bedanya kau denganku? Aku juga bisa menyeretmu ke penjara," Ucap pria itu tak terima. Padahal kan ia yang berniat memeras Herry pada awalnya. Tapi sekarang, kenapa posisi mereka jadi tertukar?


"Mudah saja. Jika tidak mau aku akan meledakkan gedung ini dan asal kau tahu, aku sudah menutup akses keluar dari sini."

__ADS_1


Tawa Herry pun terdengar mengisi kesunyian di gedung ini. Anna yang mendengar itu tentu tak terima. Ia merasa ditipu, bukankah pria itu hanya menyuruh melindungi dirinya dari ancaman rekan bisnisnya. Lalu mengapa sekarang Herry malah menipu mereka bahkan memeras rekannya.


"HEY! B*RENGSEK, MAKSUDMU APA? MENIPU KAMI, HAH?" Teriak Anna.


Anna keluar dari persembunyiannya dan mendekati mereka diikuti rekan timnya. CL tampak membisikkan Anna sesuatu sambil mencengkram tangan Anna.


"Jangan gegabah."


"Tapi dia membahayakan nyawa kita kapten!"


"Bukankah aku cerdas? Rekan bisnisku yang berusaha menipuku sekarang ini ada digenggamanku. Begitu juga kalian. Agen rahasia abal-abal ini ternyata mudah dibodohi,"" Kata Herry di iringi tawa iblisnya. Anak dan ayah sama saja.


"Dengan benda ini kalian akan ku antar menemui Tuhan. Tapi kalian tak perlu takut, bom yang ku pasang ini hanya mampu meledakkan tubuh kalian dan gedung ini saja. Kota ini akan tetap aman," jelas Herry sambil mengeluarkan sebuah remote.


Dengan emosi yang membara Anna merebutnya dan merusak benda itu.


"Rusak saja bodoh! Lagipula bom itu sudah aku atur. Benda itu akan meledak dalam tiga menit," Jelas nya.


"Kau sungguh ingin bermain-main dengan kami, Tuan Herry?" Tanya CL.


"Tidak akan sempat kapten CL. Kau dan seluruh anak buah mu sebentar lagi juga akan meledak. Sebaiknya kau meminta ampun pada Tuhan atas segala dosa mu itu," jawab Herry.


"Iblis."


Herry mendekatkan dirinya pada Anna lalu berbisik,


"Iblis? Kau mau tahu siapa sebenarnya iblis itu? Ia adalah orang tuamu, Meysari Alendita. Orang tua mu itu menjadikan orang lain sebagai kelinci percobaan mereka hingga tak peduli dengan nyawa orang lain. Mereka bahkan melebihi iblis."


Herry menampar Anna setelah mengatakan itu. Anna lemas hingga tubuhnya jatuh ke lantai. Bukan! Ini bukan karena tamparan Herry. Ia berusaha mencerna ucapan pria itu mengenai orang tuanya. Apa maksudnya? Apa ia cuma menggertak? Tapi bagaimana ia tahu tentang nama asli Anna adalah Meysari Alendita? Padahal hanya bibinya dan CL yang tahu tentang nama itu


"Kau tak apa?" Cemas Zion sambil membantu Anna berdiri.


"Apa yang kau lakukan?" Tanya CL pada Herry dengan tatapan membunuh.


"Hanya memberi tahu sebuah fakta. Selamat tinggal. Sebaiknya kalian mencari pintu keluar bukan? Oh ya terima kasih untuk perusahaan mu itu."


Setelah mengatakan itu, Herry langsung keluar bersama asistennya lalu meninggalkan kembali pintu utama yang terbuat dari besi itu.


'"Sial! Ayo cari pintu keluar, kita tak punya banyak waktu."


Semua orang bergerak mencari akses keluar setelah mendengar perintah CL.


To be continue 

__ADS_1


Please! Give me a support guys.


Thx for reading.


__ADS_2