
Anna kembali memasuki kelasnya, terlihat disana sudah ada dosen mata kuliah yang sudah berganti. Dosen itu sedang menerangkan materi dengan semangat. Sedangkan mahasiswa dan mahasiswinya terlihat mengantuk dan bosan.
"Darimana saja? Mau membolos?" Tanya dosen itu dengan ketus.
"Sudah pasti, Bu! Kulihat tadi dia berduaan dengan lelaki di perpustakaan," sahut Naya. Lagi lagi wanita ini. Main menyahut saja sudah seperti burung kakak tua.
"Aku dikeluarkan dari kelas makanya aku ke perpus. Lalu soal masalah berduaan dengan laki-laki? Dia adik kelas yang ingin mengambil buku. Oh iya, mengapa kau bisa tahu, tuan putri? Padahal kan sedari tadi pelajaran belum selesai." jawab Anna
"Hah, apa?? Ak-aku kan izin ke kamar mandi tadi," elak Naya sedikit gugup. Bodoh!
"Up to u," balas Anna disertai senyum menyeringai.
"Sudah! Sudah! Anna duduklah! Dan kamu Naya biar saya perjelas perpustakaan dan kamar mandi itu letaknya berjauhan,". jelas sang dosen.
Pelajaran dilalui dengan cepat,tak terasa waktu istirahat pun sudah tiba. Seperti biasanya Anna hanya diam dikelasnya sambil mendengarkan lagu. Ia terlalu malas untuk ke kantin yang sudah pasti penuh dan ramai.
"Hai," sapa seorang pria sambil duduk disebelah Anna.
Anna pun melepas earphone-nya lalu tersenyum tipis. Bahkan sangat tipis sampai tak terlalu terlihat.
"Kau siapa?" Tanya Anna.
"Aku? Kau tak tahu aku? Sungguh? Kita sudah sekelas hampir satu tahun dan kau tak mengenalku?" Kagetnya.
"Ya begitulah. Aku hanya mengenal Sina dan tuan putri kelas ini," jawab Anna sambil menunjuk tempat duduk Naya.
"Tuan putri? Hahaha bisa saja kau" Ucap pria itu.
Anna sedikit bingung karena ada orang yang mengajaknya bicara. Sejal setahun terakhir orang itu memang selalu mencoba berinteraksi dengan seluruh mahasiswa di kelas ini. Tapi karena sifat Naya yang masa bodoh itu ia lupa.
Oh iya soal tuan putri itu, dia itu Naya. Ya seperti itulah julukan yang Anna berikan kepadanya. Tingkah yang manja,selalu ingin menjadi nomor satu dan disayangi semua orang dengan tingkahnya yang kurang baik itu membuat Anna memanggilnya tuan putri. Ok cukup membahasnya.
"Aku Bintang. Bertemanlah denganku ya..." ucap pria yang bernama Bintang ini.
Berteman? Apa Anna membutuhkan teman?
"Alasan?" Tanya Anna. Ia pikir tak mungkin bukan seseorang tiba-tiba mengajakmu berteman jika bukan karena alasan tertentu. Begitulah manusia kan?
"Tak ada alasannya sih, hanya saja aku menyukai sikap mu itu," ucap Bintang sambil senyum. Sepertinya Bintang tipe orang yang suka tersenyum. Sejak tadi saja senyumnya itu tak lepas dari wajahnya.
" Penjilat haha! Kau menyukai sikap burukku maksudnya? Hahaha," ucap Anna diiringi tawanya kemudian memukul pelan bahu Bintang.
"Ya begitulah hahaha," balas Bintang sambil tertawa juga.
__ADS_1
"Boleh aku duduk bersamamu? Teman sebangkuku Jack pindah kampus sebulan yang lalu. Dan aku jadi sendirian," pinta Bintang.
"Sesukamu saja," jawab Anna acuh.
Sesaat setelah itu waktu istirahat pun habis. Kini kegiatan olahraga mingguan kampus akan segera di mulai.
"Anna! Ayo ganti baju bersamaku," ajak Sina dan salah satu temannya.
"Apa tak masalah?" Tanya Anna memastikan.
"Tentu, apa salahnya?" Jawab teman Sina yang bernama Clara.
Anna pun mengangguk lalu pergi bersama mereka ke ruang ganti.
Kegiatan olah tubuh pun dimulai. Saat ini pelatih basket sedang membagi kelompok untuk diadakannya pertandingan basket. Anna tentu senang bukan main karena basket bukanlah hal yang sulit baginya.
"Anna, Naya dan Della kalian satu tim," ucap coach.
"What? Ah, aku tidak mau setim dengan ****** itu, pak!" Tolak Naya sambil melirik sinis pada Anna.
"Iya, pak keluarkan aku dari tim itu. Aku tak mau sekelompok dengan orang yang menangkap bola saja tak bisa," kata Anna dengan santai.
"Sombong sekali, akan sangat malu jika kalah nantinya haha," ejek Naya
Tanpa menolak, coach itu langsung mengiyakan permintaan Bintang. Alhasil Anna masuk timnya.
Pertandingan dimulai antara tim Bintang dan Jean.
Bola saat ini berada di tim Jean, dengan sangat lincah Trian yang merupakan anggota tim Anna merebut bola lalu mengoper pada Bintang dan dihadang oleh lawan.
"Anna! Tangkap!" Teriak Hoshi sambil mengoper bola pada Anna.
Anna dengan sigap menangkap bola dengan satu tangan. Suasana pun mulai ricuh dan ramai. Banyak dari mereka yang membicarakan tentang skill olahraga milik Anna.
"Bukankah Anna sangat hebat?"
"Ah, iya Aku mulai menyukainya,"
"Seperti atlet saja ya.... "
"Dia cukup hebat untuk ukuran wanita,"
"Apa hebatnya orang itu?,
__ADS_1
Dan masih banyak lagi komentar beberapa orang yang menonton pertandingan. Mulai dari cibiran sampai pujian.
"Cih, ****** itu belaga bisa sekali bermain basket, kena lempar bola baru tahu rasa," cibir Naya.
"Dia memang bisa, Tuan Putriku," Jawab Sina disusul dengan tawa Clara.
"Bagaimana kalau kau saja yang kena lempar bola?" Tambah Clara masih dengan tawanya
Naya hanya berdecak sebal lalu mempoutkan bibirnya seperti ikan lele.
"Jika aku laki-laki mungkin aku akan mencium bibirmu itu sekarang juga. Lihat bibirmu sangat seksi. Sudah seperti ikan lele hahaha," ledek Clara lagi asal. Sontak membuat orang disekelilingnya tertawa ngakak. Bagaimana bisa seorang Naya yang notabetnya wanita cantik yang katanya memiliki beribu pesona dipermalukan oleh Clara dan Sina?
"ANNA FIGHTING!" Teriak Sila dan Clara memberikan dukungan.
Anna hanya mengangguk lalu berlari sambil menggiring bola dan dengan mudahnya ia menembak bola ke ring lalu masuk dengan sempurna.
"Good job!" Kata Bintang sambil menepuk-nepuk kepala Anna
Anna pun melihat ke sekeliling lapangan dan melihat seorang pria sedang tersenyum manis padanya sambil mengacungkan jempolnya. Seketika itu Anna terdiam dan memalingkan wajahnya .
"Hey, mengapa wajahmu merah. Apa kau mulai menyukaiku?" kata Bintang sambil tertawa.
"Tentu saja tidak, bodoh!" Kata Anna sambil memasang wajah datarnya lalu menendang pelan kaki Bintang. Wanita ini sangat kasar...
Babak pertama pun selesai dengan tim Anna sebagai juara tentunya.
"Hebat juga kau! Berguru dimana?" Kata Jean sambil merangkul Anna dan Bintang.
"Haha. Persetan! Menyingkir dari dekatku. Keringatmu itu bau, bodoh!" ledek Anna pada Jean.
"Minggir-minggir kalau wanita iblis ini mengamuk repot," kata Bintang sambil menjauhkan Jean dari tubuh Anna.
"Siapa yang kau panggil iblis, hm?" Kata Anna dengan sorot mata tajamnya.
"Ampun, nyai," kata Bintang.
"Ok, kembali berkumpul. Kita mulai babak kedua," intruksi sang coach.
"Ok we'll go!" Ucap Anna semangat
To be Continue
Haloooo. Gimana? Gimana? Yaudahlah ya cerita gue garing :D tapi ggp dah sing penting vote ama comment ya hehe
__ADS_1