Hujan Yang Meneteskan Cinta

Hujan Yang Meneteskan Cinta
Tawaran


__ADS_3

"Ayo, mulai! Fokuslah Anna, ku lihat kau sedikit gelisah Apa ini ada hubungannya dengan wajah merahmu itu?" Cemas Bintang.


"Merah apanya? Gila! Aku sudah fokus, Bin!" Elak Anna yang sudah jelas gelisah karena memikirkan Gia.


Anna pun membuang nafasnya kasar lalu menguncir rambutnya sehingga membuat kecantikannya seakan -akan bertambah. Bahkan sejak tadi obrolan orang-orang hanya tertuju pada Anna.


"Baik, babak kedua dimulai," ucap coach sambil meniup peluit.


Bola berada di tim Anna kini Anna sedang menggiring bola menuju ring tetapi ia dihadang oleh Tio bahkan Tio sedikit mendorong badan kecil Yuna dengan bahunya agar Anna jatuh.


Dan benar saja Anna pun terduduk di lantai lapangan lalu ia memasang smirk-nya sambil berdiri dan memandang Tio dengan pandangan meremehkan.


Bagaimana bisa seorang pria melakukan hal kasar hanya untuk memenangkan sebuah pertandingan abal-abal ini. Apalagi yang dikasarinya itu adalah seorang wanita. Anna sampai bingung dibuat.


Ok kembali ke pertandingan, bola yang berada di tangan Tio kembali Anna ambil alih dan dia juga berbisik kepada Jongin di sela-sela pertandingan.


"Pengecut!" Bisik Anna hingga membuat Tio merinding hanya dengan mendengar kata itu. Ia juga sampai membeku di tempat.


Lalu Anna kembali menggiring bola menuju ring saat ia akan menembak bola. Ia melihat Bintang terlebih dahulu seolah meminta izin untuk memasukkan bolanya lalu Bintang hanya mengangguk menyetujuinya.


Tapi saat Anna sedang mengambil ancang-ancang untuk menembak bola ia dihadang oleh Sandy. Anna hanya mengangkat sebelah alisnya lalu menyeringai hingga membuat Sandy diam entah terpesona atau bagaimana. Anna dengan lincah melakukan tembakan yang biasa digunakan atlet bola basket. Dan ya bolanya masuk ke ring lalu coach tersebut menghentikan pertandingannya. Tim Anna kembali menang dengan selisih skor yang sangat tipis.

__ADS_1


Seketika lapangan ramai oleh suara tepuk tangan orang-orang dan beberapa siulan dari para penonton. Bahkan para dosen dan mahasiswa diluar kelas Anna juga ikut menonton pertandingan.


"Apa kau mengikuti klub basket?" Tanya coach itu pada Anna.


"Tidak, bahkan aku tak tahu di kampus ini ada klub basket," jawab Anna santai. Sedangkan yang mendengar itu hanya terbengong karenanya.


"Kalau begitu bergabung lah. Teman sekelasmu Sina, Naya, Mina, Jean dan Sandy juga sudah bergabung sejak awal masuk ke kampus ini. Kebetulan saya pelatih klub basket ini. Saya yakin jika kamu bergabung, kemampuanmu itu bisa meningkatkan," ucap coach itu dengan semangat. Bahkan ia sampai menyebutkan semua teman kelas Anna yang ikut klub basket.


"IKUT SAJA, NAAA! KITA AKAN SATU KLUB NANTI, YEY!!" Teriak Sina tanpa malu. Kebiasaan memang, Anna hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil terkekeh melihat kawannya itu.


"Cih! Mencari perhatian. Kalian lihat? Saat ia bertanding tadi ia terus saja menebar pesona dengan senyum menjijikkannya itu. Benar-benar seperti ****** bukan?!" Naya terus saja menjelekkan Anna dihadapan teman-temannya. Apa ia kepanasan?


"Bagaimana jika saya beri penawaran?" Ucap coach itu. Kenapa ia memaksa Anna? Padahal sudah jelas ia menolak mentah-mentah dengan alasan malas.


"Pulang sekolah bertandinglah dengan ketua klub basket di sekolah ini. Jika kau menang, kau tak perlu ikut klub dan kami dari klub basket akan memberimu hadiah. Emm... tapi jika kau kalah kau harus bergabung dengan kami," jelas coach itu panjang lebar lalu mengulurkan tangan.


"Lalu apa untungnya? Lagipula aku yakin hadiahnya tak seberapa," balas Anna


"Tidak! Hadiahnya lumayan, akan merugikan jika kau tak ikut," bujuk coach itu masih dengan paksaan nya. Dengan malas Anna mengangguk dan setuju untuk bertanding lagi sepulang sekolah


"Pak? Bisakah jika kalian berbisnis tidak dihadapan semua orang? Itu mengganggu orang yang melihatnya. Dan juga mengganggu waktu belajar," tegur Naya sambil memutar bola matanya malas. Ok kali ini wanita ini benar.

__ADS_1


"Ah, maaf semuanya... yasudah ayo lanjutkan pertandingannya. Sekarang giliran tim Sina dan Naya bertanding. Silahkan ke tengah lapangan," titah coach itu.


"Kalahkan tuan putri, ok?" Ucap Clara pada Sina. Clara yakin Sina bisa karena ya kemampuannya lumayan.


"Sudah pasti, Ra! Lagipula siapa yang mau kalah dari wanita itu? Yang ada aku ditertawakan Anna hahaha.Doakan aku ya... " Kata Sina.


"Fighting! Jangan sampai kalah dari orang itu," ucap Anna pada Sina sambil mendorong pelan bahu Sina.


"Iya-iya, tapi tak usah mendorongku juga, bodoh!" Balas Sina dengan muka malas.


"Haha, oke."


Anna memutuskan untuk beristirahat dengan duduk sendirian di pinggir lapangan sambil melihat pertandingan dari kejauhan. Disini sangat sejuk cocok sekali untuk dijadikan tempat istirahat.


"Haus, nona? Silahkan ambil minumannya," ucap seseorang sambil menempelkan minuman kaleng dikening Anna.


Apa lagi ini Ya Tuhan?!


To be Continue.


Mohon dukungannya...

__ADS_1


__ADS_2