
Masih di Cafe yang sama. Fina masih tidak menyadari adanya Kenneth di Cafe itu. Wanita itu menelfon sopir pribadinya untuk menjemputnya segera. Dia keluar dari Cafe, berdiri di depan Cafe menunggu jemputan datang.
Sementara Kenneth semakin terpaku duduk di dalam Cafe. Memandangi ibunya dan mobilnya bergantian. Sambil berfikir, apakah Fina mau ia ajak pulang bersama. Apa ibunya akan menolaknya seperti biasa.
Kenneth menggeleng, mengenyahkan keinginan itu. Namun hatinya tergerak untuk melakukan itu. Kenneth akhirnya berdiri, berjalan keluar Cafe setelah membayar makanannya.
Laki-laki itu berdiri jauh dari jangkauan Fina, masih memandangi Fina tanpa berkedip.
Tiba-tiba ia memekik pelan saat melihat ada seseorang tak sengaja menabrak ibunya. Cup yang berisi kopi dari genggaman orang itu juga mengenai baju ibunya. Orang itu buru-buru meminta maaf, menawarkan tisu untuk membersihkan baju ibunya yang kotor.
Fina menggeleng, Kenneth tau ibunya merasa sungkan.
Kenneth memutuskan untuk menghampiri ibunya setelah melihat orang itu pergi. Laki-laki itu melangkah pelan mendekati Fina, menyodorkan sapu tangannya pada Fina.
Fina melirik sapu tangan itu, kemudian beralih menatap sang pemilik. Sementara Kenneth mengangkat wajahnya, menatap ibunya yang kini menatapnya dengan datar.
"Seenggaknya biar baju mama nggak kotor banget". Kata Kenneth dengan senyum tipis.
Fina tetap diam. Egonya lebih besar dari apa yang di bayangkan. Namun Kenneth tak tinggal diam, laki-laki itu menarik tangan Fina, menggenggamkan sapu tangannya pada Fina. Ia kemudian tersenyum tipis, berlalu dengan langkah yang berat.
Sementara Fina terdiam, wanita itu menatap sapu tangannya lama. Hingga menggulirkan pandangan pada Kenneth yang masih berdiri di dekat mobil, tersenyum kearahnya. Wanita itu bergantian menatap sapu tangan itu dan anaknya.
Hingga jemputannya datang, Fina meremas sapu tangan itu. Berjalan melewati Kenneth begitu saja.
Sekali lagi Fina melihat anaknya lewat kaca mobil, masih memandanginya dengan senyum yang tak kunjung berhenti.
Mobil Fina melaju meninggalkan area Cafe, meninggalkan Kenneth dengan keterbungkamannya. Laki-laki itu tersenyum getir, meremas kuat tangannya frustasi.
Ia terkekeh kecil. "Nggak papa, mungkin lain kali". Monolognya dengan dengusan kecil.
Percaya tidak percaya. Hanya kalimat itu yang mampu menyeimbangkan harapan semu yang ia alami. Baginya, keterdiaman orangtuanya selama ini adalah waktu. Waktu untuknya memperbaiki diri. Waktu untuk dirinya mencari jati diri. Dan waktu untuknya memantaskan diri. Ketiganya selalu ada dalam pikiran Kenneth. Hingga waktu yang tepat. Saat-saat yang ia tunggu akan datang. Ia hanya perlu bahagia bersama mereka kembali.
Soal kapan itu terjadi. Kenneth hanya perlu menunggu. Dan berharap ada keajaiban waktu yang ia harapkan itu disegerakan. Supaya hidupnya sempurna, dan hidupnya bahagia.
Tidak akan ada lagi kebencian dari masalalu. Tidak ada lagi penolakan dengan sebab yang ia tak tau. Dan tidak akan ada lagi kata 'tak dianggap' yang menghantuinya selalu.
__ADS_1
Ia hanya ingin hidup normal seperti orang lain. Tanpa ada kesalahan dan kebencian yang ia alami sekarang.
Kenneth memasuki mobilnya dengan tenang. Pikirannya masih berkecamuk tentang apa yang ia lakukan tadi. Ia rasa itu adalah langkah yang terbaik. Perkara ibunya yang menganggapnya seperti apa akan ia tepis jauh-jauh pikiran buruk itu. Dan berharap Fina juga akan melakukan hal yang sama.
Bukankah untuk memulai semuanya, ia harus berjuang dari hal-hal kecil.
***
Kenzo duduk di sofa ruang tengah, laki-laki itu sedang menunggu Kenneth yang belum pulang sejak tiga jam dari bel pulang sekolah tadi. Meskipun ia tau Kenneth tidak akan betah berada di dalam rumah dan memilih menghabiskan waktu di luar. Namun tetap saja ia khawatir. Pasalnya, saat berada di parkiran sekolah tadi, ia tidak menemukan keberadaan Kenneth bersama rombongan temannya. Formasi mereka tidak lengkap, hanya ada Bastian, Dylan, dan Cameron.
Saat ketiga teman Kenneth di tanya tentang keberadaan laki-laki itu pun mereka menggeleng tidak tau. Walau ada kecurigaan antara mereka tidak mau memberitahu atau benar-benar tidak tau. Wajah mereka sangat polos tadi, Kenzo hampir lupa bahwa mereka benar-benar teman-teman Kenneth. Mereka berempat seolah telah menyatu dan memiliki satu kesamaan.
Sama-sama sulit untuk di tebak.
Pintu terbuka. Kenzo berdiri dengan wajah sumringah, walau sedetik kemudian laki-laki itu tersenyum kecut.
Bukan Kenneth. Tapi ibunya yang baru pulang dari sebuah acara.
"Mama udah pulang". Kata Kenzo yang melangkah maju saat Fina berjalan kearahnya.
"Iya. Maaf ya lama, tadi hujan di jalan". Jawab Fina seadanya.
"Kalo gitu mama bersih-bersih dulu ya sayang". Tambahnya seraya berjalan ke arah kamar.
Kenzo mengangguk. Laki-laki itu memandangi punggung ibunya dengan kening mengerut. Ibunya tampak lesu dan tidak seceria seperti biasanya. Apa ibunya memiliki masalah. Apa ibunya sakit.
"Mama nggak papa?". Tanyanya khawatir.
Fina berhenti, membalikan badannya kemudian tersenyum lebar. "Mama nggak papa kok. Oh iya, kamu udah makan?".
Kenzo mengangguk seadanya, kemudian kembali menatap ibunya yang berjalan ke arah kamar.
"Mama kenapa?". Kata Kenzo bingung. "Ahh Kenneth aja belum pulang, ini lagi mama kenapa?". Kenzo mengacak rambutnya frustasi, ia mengambil ponselnya untuk menghubungi Kenneth.
Satu kali tidak di angkat.
__ADS_1
Dua kali di tolak.
Tiga kali di angkat.
"Apa?".
"Lo kemana aja?, Tadi gue nggak liat muka lo di rombongan".
"Makan".
"Lo kan bisa makan di rumah Ken. Ken, kita bisa nikmatin masakan mama di kamar lo, atau di kamar gue. Ini kenapa lo makan di luar?".
"Biasanya juga gini kan? Apa yang salah?".
"Ck! Yaudah dehh, langsung pulang ya berarti habis ini?".
"Nggak janji".
"Ahh lo nggak_".
Sambungan mendadak di putuskan secara sepihak, siapa lagi pelakunya jika bukan Kenneth.
Kenzo mendengus, ia kemudian mendudukan diri secara kasar ke atas sofa. Menggerakkan tubuhnya ke kanan kiri dengan malas. Tidak lupa decakan kesal dan dengusan kasar yang keluar dari bibirnya.
Di sisi lain Fina berdiri di samping pintu kamarnya, menempelkan pipinya pada pintu. Ia mengacak rambutnya frustasi, kemudian mengeluarkan sebuah kain kecil dari dalam tasnya.
Sapu tangan Kenneth.
Tatapan polos dan sendu itu tiba-tiba terlintas dalam benaknya, tanpa terlupakan bagian-bagian apa saja yang Kenneth lakukan tadi. Semuanya masih hangat. Tentang Kenneth yang mengucapkan sebuah kalimat. Dan tentang Kenneth yang memberikan sapu tangan ini.
Dalam sekejap meluluhlantakkan sebagian hatinya, melebur separuh egonya yang biasanya selalu menolak kehadiran anak itu. Fina sangat bingung. Perasaan apa yang ia alami saat-saat melihat Kenneth tadi. Mengapa ia tidak menolak. Mengapa ia tidak marah. Mengapa ia tidak menjauh saja. Mengapa justru hati dan tubuhnya menetap. Seolah ingin membuka jalan untuk anak itu kembali ada dalam hidupnya. Setelah bertahun-tahun terlupakan karena kebencian. Mengapa justru anak itu merubah hatinya.
"Akhh!!". Fina tidak tau. Ia melempar sapu tangan itu asal.
***
__ADS_1