INCEPTION

INCEPTION
Chapter 21


__ADS_3

Cameron mendengus pasrah melihat Kenneth yang bermain game di ponsel. Walau dalam hitungan beberapa menit lagi temannya itu akan berkelahi dengan musuh bebuyutannya. Arka. Tanpa ada ancang-ancang atau persiapan apapun, Kenneth terlihat jauh lebih santai seperti biasanya. Seolah tidak akan ada yang harus di khawatirkan, walau Kenneth masih menggunakan seragam sekolah.


"Ken, orangtua lo nggak ngomel kalo main masih pake seragam sekolah?".


Bukannya apa-apa. Tetapi setelah makan siang mereka tadi, masing-masing dari mereka memang pulang lebih dulu.


"Bunda gue aja ngomel berat kalo seragam sekolah gue kotor, di kira gue main lumpur malah". Tambah Cameron yang menceritakan tentang ibunya yang sangat menjaga kebersihan, apalagi tentang baju putih.


Kenneth mendengus kecil, masih melanjutkan kegiatannya tanpa terganggu dengan ucapan itu.


"Mereka nggak bakal marah, lo tenang aja". Lebih tepatnya tidak akan peduli. Hanya Kenzo sejauh ini yang selalu marah-marah, pun bukan karena baju, tapi melihat luka yang merata di wajahnya.


Bastian menyimpan ponselnya di saku jaket, dia melihat Kenneth yang masih sibuk bermain game. "Arka dateng 5 menit lagi, lo udah siap?".


Kenneth mengangguk tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel. "Kabarin aja kalo udah di depan".


Saat ini mereka berada di dalam gedung tua bekas rumah sakit. Seperti perjanjian hari kemarin, Arka ternyata merubah tempat dan waktunya.


"Oh iya Ken. Pak Adit nanyain soal Arka, kita jawab apa?". Tanya Bastian pada Kenneth.


Kenneth kini menghentikan kegiatannya, menatap Bastian dengan dahi mengerut. "Jawab apa adanya aja, bilang juga kalo sekarang kita mau fight".


Bastian mengangguk patuh, segera membalas pesan dari pak Adit seperti apa yang Kenneth ucapkan tadi. Tangannya bergerak lincah mengetikan kalimat, juga menyelipkan alamat dan tempat mereka saat ini. Bukan tanpa alasan. Supaya pak Adit tau lokasi-lokasi biasa tempat Kenneth dan Arka berkelahi. Supaya pak Adit bisa memantau adik dari orang tercintanya itu. Juga jaga-jaga jika sewaktu-waktu jangkauan Arka setelah berkelahi dapat di kira-kira.


Pak Adit pernah bercerita bahwa Arka seringkali keluyuran tanpa ada seseorang disampingnya, termasuk teman-temannya. Entah kemana tujuan Arka, laki-laki itu baru pulang keesokan harinya.


Dylan mengernyit saat mendengar suara gemuruh dari arah luar. "Mereka dateng". Katanya yang berdiri dan bersiap-siap. Kenneth menghentikan kegiatannya, Cameron dan Bastian ikut berdiri dan berjaga.


"Ken, sekali-kali lo jangan diem aja. Maksud gue lo bales dia setimpal, minimal jangan biarin muka cakep lo banyak bonyoknya". Tambahnya dengan nada khawatir.


Karena setiap kali ia memperhatikan cara Kenneth berkelahi itu sedikit tidak wajar. Bukannya melawan, justru apa yang Kenneth lakukan itu seperti menyerahkan diri sendiri secara cuma-cuma. Juga tatapan Kenneth yang seakan menantang Arka, bukannya menghindar atau membalas, Kenneth lebih dominan diam dan menikmati. Itu sangat tidak wajar. Walau di akhir nanti Kenneth membalas Arka dengan pukulan bertubi-tubi. Tetapi tetap saja, Kenneth selalu membiarkan lawannya puas dan Kenneth yang terluka.


Kenneth menggedikan bahu. "Tergantung".

__ADS_1


"Tergantung apa?". Tanya Dylan tidak paham.


"Kalo gue capek pasti gue serang".


Dylan menghembuskan nafas berat, pasrah dengan apa yang akan ia lihat nanti.


Bunyi gemuruh langkah itu semakin anggun terasa. Berdiri Arka dan pasukannya, dengan wajah sangar Arka menatap Kenneth rendah.


"Dateng juga lo". Kata Arka dengan senyum tipis.


Kenneth membalas dengan dengusan kecil. "Bukannya gue yang harusnya bilang gitu ke elo? Mampir kemana dulu? Nyari orang bayaran apa bujuk temen-temen lo?".


Bunyi gemelatuk gigi terasa dari bibir Arka. Laki-laki itu membuang muka tak peduli, melirik pada teman-temannya yang juga memasang wajah emosi.


"Bacot! Cowok yang kemarin itu sodara lo kan?". Balas Arka .


Kenneth mengernyit mendengar itu. Tak terkecuali Bastian yang langsung waspada mendengar penuturan Arka yang sengaja memancing Kenneth.


Kini Arka terkekeh kecil. "Sodara kembar lo? Kenzo Leandro?".


Tangan Kenneth mengepal, namun masih bisa mengontrol emosi yang sudah memuncak. Usapan tangan dari Dylan yang berdiri disampingnya juga turut menyadarkan Kenneth.


"Harusnya kalo lo nyari kepuasan, bukan Kenneth atau Kenzo yang jadi tempatnya". Bastian menyahut, memandang Arka dengan tenang.


Bastian tersenyum tipis. "Bukannya lo yang kelihatan cupu kalo punya masalah trus lampiasin ke orang lain? Lo masih kekanak-kanakan, pikiran lo terlalu sempit buat bahkan nyari pelampiasan". Lanjut Bastian masih dengan wajah tenangnya.


Dylan dan Cameron menahan tawa, dengan muka memerah dan bibir yang berkedut yang susah payah untuk dipertahankan.


"Main PS enak padahal, atau mau mabar sama gue?". Cameron kali ini menawarkan hal konyol, Dylan disampingnya sudah mencubit lengan laki-laki itu, tak urung juga ikut terkekeh.


"Oke lah berantem, tapi kenapa nggak yang resmi aja. Lo ikut gulat kek atau mma, sia-sia bakat lo kalo caranya kaya gini". Timpal Dylan.


Sebenernya seperti ini. Bagaimana pun mereka memiliki rasa jengah tersendiri dengan sikap dan kelakuan Arka. Bagaimana cara Arka bertahan di tengah tengah badai yang menerpa. Terlalu kekanak-kanakan dan sangat merugikan orang lain.

__ADS_1


Itu mengapa sedikit demi sedikit mereka menyadarkan laki laki itu. Walaupun sejauh ini tidak ada perubahan apapun.


Cukup. Arka tidak tahan lagi. "Kalo nggak lo, masih ada sodara lo. Gue pastiin salah satu diantara kalian yang bakal kena akibatnya, atau dua-duanya? Seru kayaknya".


Kenneth memejamkan mata, lalu membukanya dengan perlahan. "Nggak usah bawa-bawa orang lain termasuk Kenzo. Lo lawan gue aja masih suka kalah, apalagi Kenzo yang bahkan gampang buat lumpuhin lo". Katanya dengan senyum sinis.


"Cukup!! Sini lo maju!!!".


**


Fina membuka pintu kamar, kemudian menghentikan langkah saat melihat Kenzo masih duduk di ruang tamu. Putranya terlihat gelisah, beberapa kali berdiri lalu celingukan seperti mencari seseorang, kemudian kembali duduk dan melihat ke arah ponsel. Fina membalikan tubuhnya lalu bersandar pada tembok kamar.


Ia mengerti bahwa Kenzo sedang menunggu anak itu. Saat tadi ia akan pergi ke dapur untuk mengambil air, ia juga melihat Kenzo yang masih duduk di ruang tamu. Saat ia akan mengambil camilan pun Kenzo masih ada di ruang tamu. Menjelang malam seperti sekarang pun Kenzo masih ada di ruang tamu. Putranya sudah berjam-jam menunggu.


"Kamu ngapain, Fin?". Reyhan berdiri didepannya, dengan wajah penuh tanda tanya.


"Mas". Fina mendekati suaminya. "Kenzo masih disitu. Kenapa anak itu makin nggak tau diri? Padahal Kenzo udah nunggu dia berjam-jam loh mas, tapi anak itu malah nggak pulang-pulang".


Reyhan mendekap istrinya, mengusap-usap pucuk kepala istirnya dengan dagu. "Mungkin ada urusan".


Merasa kurang setuju, Fina mendongak dengan tatapan tak suka. "Tapi kamu liat Kenzo kan mas? Dia sampe khawatir gitu, apa anak itu nggak ngabarin Kenzo?".


"Bilang aja kalo nggak pulang, bikin orang repot aja".


Kalimat itu hanya di balas dengan senyum tipis, walau dalam hati Reyhan merutuki sesuatu. Entah dengan alasan apa putra keduanya belum pulang, ia belum memiliki jawaban yang tepat. Lagi-lagi karena ia tidak pernah memperhatikan Kenneth, sibuk menenangkan Fina yang masih dalam lingkaran keterpurukan.


"Kenzo khawatir sama Kenneth".


"Mas aku nggak suka ya kamu sebut-sebut nama dia, kamu kan udah janji nggak akan sebut nama dia lagi di depan aku ataupun di depan orang lain".


Sekarang sangat fatal, Reyhan bahkan kelu untuk mengucapkan nama putranya lagi. Teguran istrinya karena sebuah janji itu mendadak menjadi kutukan yang mengerikan jika di ingat. Ia sekarang sadar telah menjadi sosok ayah yang sombong, yang tidak ingin mengenal apapun tentang anaknya sendiri.


"Kita harus pisahin Kenzo sama anak itu mas. Anak itu bahaya buat Kenzo, pergaulannya udah bebas, aku khawatir Kenzo kena dampaknya juga".

__ADS_1


Apa yang harus ia lakukan sekarang. Kenneth yang pasti membutuhkannya. Atau Fina yang juga melarangnya.


***


__ADS_2