
Kelvin menunduk dengan wajah tegang, sementara Kenneth yang duduk di depannya memasang wajah datar. Setelah Darel keluar dari apartemennya, Kenneth langsung masuk ke dalam apartemen tanpa melihat kearahnya.
Begitu saat ia berjalan menuju laki-laki itu, Kenneth meliriknya kemudian terkejut melihat cara berjalannya yang pincang. Bahkan laki-laki yang sudah ia anggap seperti kakak itu langsung berjalan mendekatinya dan memapahnya sampai ke sofa.
Sudah setengah jam terlewati, tetapi Kenneth tidak ada tanda-tanda untuk membuka suara, padahal ia sudah menanti Kenneth bertanya walau mungkin ia sangat pasrah.
"So?". Celetuk Kenneth memecah keheningan.
Kelvin mendongak, menipiskan bibir kemudian berkata. "Jadi, aku keserempet mobil".
Tidak ada respon, Kenneth sengaja menunggu jawaban yang lebih detail dari Kelvin. "Tadi aku pulangnya jalan kaki kak, trus di jalan keserempet mobil".
"Kenapa nggak naik taksi atau angkot".
"Eunghh". Kelvin melenguh, bingung harus menjawab seperti apa. Karena pada dasarnya ia memang tidak ingin naik kendaraan apapun, sebab Darel terlanjur membuatnya kesal karena ia harus menunggu laki-laki itu selesai. Bahkan motor Darel pun tadi ia tendang, semoga saja Darel tidak mengetahuinya.
"Darel kemana? Nggak bareng sama kamu?".
Mampus.
Mereka memang sedang tidak baik-baik saja sejak bel pulang sekolah tadi.
"Darel ngaret kak, tapi tadi dia nyusul aku kok. Jadi, tadi kita pulang bareng". Jawab Kelvin yang sebisa mungkin dengan wajah tenang.
Kenneth mengangguk singkat kemudian tanpa kata merebahkan tubuhnya di sofa. Kelvin yang melihat itu kembali menunduk, salah fokus pada luka lebam lagi di tubuh kakaknya.
Tapi lagi-lagi ia hanya bisa diam. Sebanyak apapun luka-luka di tubuh kakaknya, ia masih tidak berani memaksa ataupun menyinggung semua itu. Ia masih sangat menghargai privasi Kenneth, walau sebenarnya timbul banyak pertanyaan diotaknya. Tentang apa yang Kenneth lakukan di luar sana.
"Kakak udah lama disini?". Tanya Kelvin memberanikan diri untuk bertanya.
Kenneth melirik sekilas lalu memejamkan mata dan mengangguk.
"Mau Kelvin bikinin minum?". Tanya Kelvin lagi, masih memperhatikan kakaknya yang sepertinya sangat kelelahan.
"Nggak usah". Balas Kenneth santai.
Suara dering ponsel membuat Kelvin mengatupkan bibirnya. Suara itu berasal dari Kenneth, laki laki itu mengambil ponselnya dari dalam saku
Pak Adit
"Hallo, Ken".
"Iya, kenapa?".
"Gimana keadaan kamu? Katanya kamu baru ketemu Arka?".
"Saya oke pak".
__ADS_1
"Oh baguslah, ini saya juga lagi di rumah sakit. Tadi Bastian ngabarin saya kalo Arka di rumah sakit".
"Arka gimana pak?".
"Dia nggak papa, cuma belum sadar aja. Mungkin besok dia sadar".
"Syukur deh".
"Iya, yasudah saya tutup dulu".
"Iya".
Kenneth melihat ke arah ponselnya, mengetikkan pesan untuk teman-temannya tentang keadaan Arka.
Sementara Kelvin yang sejak tadi diam pun makin terdiam. Percakapan telepon itu mungkin menjadi tanda tanya besar untuknya. Apalagi menyebutkan nama seseorang yang terasa sangat asing untuknya. Ah, bahkan dia tidak pernah tau siapa saja teman teman kakaknya itu.
Bolehkah sekarang dia berlebihan. Berlebihan mengetahui semua tentang Kenneth, agar dia tau apapun tentang laki laki itu. Yang membuatnya cemas, gelisah, bahkan khawatir bersamaan saat laki laki itu datang kepadanya.
"Kamu mau makan?". Kenneth mengalihkan wajahnya dari layar ponsel, berganti menatap Kelvin yang masih bergeming.
Kenneth mengatupkan bibirnya, tangannya terangkat dan menggoyangkannya di depan wajah Kelvin.
"Vin". Tegurnya tak suka. "Jangan ngelamun".
Sontak Kelvin tersentak pelan, kemudian dia menunduk. "Maaf, kak".
Tanpa mengucapkan apapun Kenneth berjalan keluar dari apartemen, Kelvin yang masih berdiri melengos berat. Dia mendudukkan diri dengan kasar, sembari melihat lututnya yang terluka.
Kenneth masih ingin menutupi semua darinya. Bahkan satu bagian hidupnya yang berharga, Kenneth tak pernah membicarakan tentang itu. Kelvin merasa tak berguna, hanya hidup untuk merepotkan laki laki itu.
Alih alih untuk saling berbagi cerita, namun nyatanya Kenneth tak pernah melakukan itu semua. Kelvin tak pernah tau satu hal pun dari laki-laki itu, tau seberapa tertutupnya Kenneth darinya.
Disini yang banyak bercerita itu Kelvin, yang banyak mengeluh itu Kelvin. Kenneth pernah berjanji untuk datang jika dia kesulitan. Berharap bahwa Kenneth akan seperti itu jika laki laki itu memang membutuhkannya. Namun sampai detik ini, Kenneth hanya datang membawa luka memarnya, makanan, atau sekedar menanyakan bagaimana harinya sekarang. Kenneth tak membicarakan apa apa mengenai kehidupannya sendiri.
Kelvin seputus asa itu.
**
Sementara Kelvin berjalan keluar dari apartemen, di lobi utama dia berpapasan dengan Daren. Laki laki itu masih mengenakan seragam sekolah, berjalan sempoyongan membawa kantong kresek entah berisi apa.
Daren menyapa.
"Oi, kak".
Kenneth mengangkat sebelah alisnya, berhenti lalu memandangi Daren dengan teliti.
Daren yang merasa diintimidasi langsung melihat dirinya sendiri. "Kenapa? Ada yang salah?".
__ADS_1
"Lo habis darimana?". Tanya Kenneth bingung.
"Ouhh". Daren menggaruk alisnya, lalu menunjukan kantong kreseknya. "Ini, beli makan".
"Lo sendiri habis dari Kelvin?". lanjutnya.
Kenneth hanya mengangguk singkat. Ketika ia akan berjalan, tak selang lama ia membalikan badannya. Memandang Daren yang belum jauh darinya.
"Daren". Panggilnya serak.
"Iya?".
Daren masih disana, berdiri dan menunggu apa yang Kenneth ucapkan.
Sementara Kenneth sendiri mematung dengan tatapan kosong, memandangi tubuh Daren yang lebih pendek darinya itu dengan senyum tipis. Mengingatkannya pada sosok Kelvin, mereka seperti anak kembar.
Kenneth menghela nafas kecil. "Titip Kelvin".
Kenneth pergi.
Daren membuka mulutnya, wajahnya masih memperhatikan Kenneth yang berjalan menjauhinya. Dia mengerutkan alisnya dengan bingung. "Maksudnya?". Tanyanya pada diri sendiri.
Tak berselang lama dia pergi. Walau pikirannya masih diliputi oleh ucapan Kenneth yang membingungkan itu.
Sedangkan Kenneth sendiri berjalan memasuki mobilnya, memegang stir dengan perasaan gemuruh. Teringat dengan ucapan Gwen yang ingin membawanya pergi, juga Fina yang masih belum mau menerima kehadirannya.
"Nggak peduli!! Karena anak yang aku anggap itu cuma Kenzo!!".
"Kamu denger kan? Kamu denger apa yang mama kamu ucapin kan?".
"Jangan salahin mbak kalo suatu saat kamu kepisah sama Kenneth, mbak bakal bawa Kenneth pergi dari rumah ini. Mbak bakal ngurus dia, sekolahin dia di luar negeri".
Ia sangat jelas mendengar, ia tidak tuli. Ia masih bisa mendengar bagaimana penolakan Fina terhadap dirinya. Kecewa. Tentu saja.
Tapi melihat bagaimana Kelvin yang selalu meminta perlindungan darinya membuat ia kembali berfikir.
Gwen ingin membawanya pergi, melanjutkan pendidikan bersamanya di luar negeri. Dengan harapan yang sangat bahwa ia bisa memulai lembaran yang baru, tanpa harus terluka dengan ucapan orang tuanya.
Ia yang baru menyadari bahwa hidupnya memang sangat berarti, kembali harus berfikir bagaimana dengan Kelvin ketika ia pergi.
Kelvin. Yang sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri. Laki laki itu belum dewasa, belum bisa menjaga dirinya dengan baik. Sebab ia paham bagaimana hidupnya dulu, Kelvin masih membutuhkannya.
Ia tidak mungkin meninggalkan Kelvin begitu saja. Sekedar menitipkannya pada Daren bukan juga menjadi ide yang baik. Keduanya masih belum mengerti apa apa.
Sekarang bagaimana ia bisa tidur dengan tenang. Di saat Fina dan Kelvin sama sama menghantui pikirannya.
***
__ADS_1