
Sepulang dari apartemen Kelvin, Kenneth langsung pulang menuju rumahnya. Walau pikiran yang masih memikirkan masa depan Kelvin bagaimana, ia juga tetap merasa terusik dengan orangtuanya. Setidaknya jika ia benar benar pergi, tak ada lagi yang harus dipikirkan.
Ia harus bisa berdamai dengan orangtuanya, jikalau nanti memang tak ada harapan untuk ia bisa ada dalam lingkup keluarganya sendiri.
Setidaknya Kelvin harus bisa menjaga diri, walau nantinya mungkin ia akan mengungkap tentang laki laki itu pada teman temannya.
Mungkin ia akan menitipkan Kelvin pada mereka.
Kenneth menghentikan mobilnya, saat sebuah sedan putih mewah keluar dari area rumah. Pemuda itu menepi di bawah pohon, agak jauh dari rumahnya berada.
Walau hari sudah malam, mata Kenneth masih jeli untuk melihat siapa yang berada di mobil itu. Itu adalah mobil ayahnya, tepat di belakangnya ada Kenzo yang sedang duduk melamun memandangi kaca mobil.
Kenneth mendengus kecil, setelah mobil sedan itu melaju pergi, ia segera membawa mobilnya menuju belakang rumah.
Rumah sepi, membuat Kenneth bergerak bebas memasuki rumah. Tak ada pertengkaran, atau drama kecil yang biasa terjadi karena ulahnya.
Saat berjalan menaiki tangga, beberapa notifikasi muncul di layar ponselnya.
**
Kenzo
Kenzo: gue pergi makan malam sama mama papa
Kenzo: tadinya gue mau ngajak lo, tapi lo gak pulang pulang
Kenzo: lo kemana aja?
Kenneth menghela nafas untuk kesekian kalinya, namun dia kembali berjalan menaiki tangga. Tanpa berminat untuk membalas pesan dari saudaranya itu.
Setelah masuk ke dalam kamarnya, dia merebahkan diri di atas kasur. Memeluk erat guling yang berada disampingnya, tubuhnya bergerak gelisah dengan mulut yang terus mendecak.
Perlahan dia bangkit, teringat dengan sepatunya yang masih ia pakai. Dengan malas pemuda itu melepasnya, lalu berjalan gontai menuju rak sepatu.
Karena tak mau terlalu hanyut dalam kemalasan, Kenneth langsung masuk ke dalam kamar mandi. Mengguyur tubuhnya juga untuk menghilangkan berbagai pikiran di kepala.
Setelah lima belas menit mandi juga menghibur diri, Kenneth keluar dari kamar mandi. Ia menyampirkan handuk di gantungan, lalu kembali merebahkan diri di atas ranjang.
Saat ini pikirannya tengah kacau, tak lagi kecewa dengan orangtuanya yang kembali mengabaikan dirinya malam ini. Dengan tidak menyadari keberadaannya, atau tidak mementingkan dirinya.
Sekarang hanya ada pertanyaan untuk bagaimana ia bisa menjelaskan kepada Kelvin tentang semuanya. Bagaimana berbicara kepada Kelvin bahwa ia akan pergi, ikut Gwen untuk melanjutkan pendidikan di luar negeri.
Atau memikirkan tentang teman temannya yang siap tak siap untuk bisa ditinggalkan. Setidaknya ada Cameron yang merengek untuk ikut, Dylan yang kecewa dan tak terima, atau Bastian yang menyerangnya dengan berbagai tanda tanya.
Hampir 2 tahun terlewati, mereka yang mau menerima kehadirannya apa adanya.
Kenneth menganggap mereka bukan hanya sebatas teman atau sahabat, mereka adalah saudara.
Kenneth menghela nafas. Hampir dua jam terlewati, sebuah bunyi kendaraan roda empat memasuki pekarangan rumah. Pemuda itu berdiri tegak, dan berjalan menuju jendela.
__ADS_1
Di bawah sana sudah ada Kenzo yang baru turun dari mobil dengan wajah mengeruh, saudaranya itu tiba-tiba mendongak menatapnya.
Tatapan yang sulit diartikan itu membuat Kenneth bingung. Ia lebih memilih untuk menjauh, duduk di meja belajar memandangi sebuah foto dirinya bersama Kenzo.
Figura kecil Kenzo dan dirinya.
Kenzo berdiri dengan tangan kanan yang merangkulnya, dan tangan kirinya memegangi kedua sudut bibirnya dan memaksanya untuk tersenyum.
Dengan seragam SMA. Di balik tertangkapnya gambar itu, ada Dylan yang mengambil gambar mereka dengan tawa yang nyaring. Kemudian ada Cameron yang tersedak susu kotak karena tak kuat dengan mimik mukanya yang di buat buat. Satu satunya manusia yang merespon dengan tak berlebihan hanya Bastian, laki laki itu hanya tersenyum geli.
Saat itu Kenzo datang tak sendiri, ada dua temannya, Bryan dan Brandon. Mungkin anak kembar itu sudah mengabadikan momen mereka berfoto dengan ia yang saat itu tak menyadarinya. Mungkin juga anak kembar itu sudah mengirimkannya pada Kenzo.
Sekarang Kenneth hanya diam. Ia yang awalnya tak menyukai itu mendadak bungkam, saat itu ia tak menyadari bahwa banyak orang yang memperlakukannya layaknya manusia yang berarti. Saat itu ia hanya seorang anak yang belum dewasa yang masih menginginkan kasih sayang dari orangtuanya. Dan sekarang, ia adalah seseorang yang di paksa dewasa untuk tegar dan menerima keadaan.
Kenneth hanya perlu melanjutkannya. Menjadi laki laki yang tulus saat semuanya menjauh.
Dengan hati yang tak siap, Kenneth tersentak kecil saat pintu kamarnya terbuka dengan paksa. Disana, di ambang pintu berdiri seorang Kenzo dengan celana pendek dan kaos putih menenteng tiga buah kresek.
Kenzo yang sedang tersenyum lebar berjalan dengan tergesa-gesa menghampiri saudaranya. Namun baru dua langkah ia berhenti, membalikkan tubuhnya saat sadar bahwa pintu kamar itu belum di tutup.
Kenneth mengangkat sebelah alisnya, lalu terkejut saat Kenzo dengan santainya menutup pintu kamarnya dengan kencang.
"Pelan pelan anj_"
"KEENN!"
Ucapan yang mengandung umpatan itu harus terpotong, saat Kenzo berjalan riang menghampiri Kenneth. Laki laki itu meletakan kresek berisi makanan itu di atas lantai. Kemudian kedua tangannya menarik Kenneth dengan paksa.
Kenneth hanya memutar bola matanya saat tertarik pasrah oleh Kenzo. Dia terduduk di lantai, lalu diam memperhatikan saudaranya yang membuka makanan itu.
Dengan telaten Kenzo membuka bungkusan makanan itu, lalu menghidangkannya di depan Kenneth.
Kenneth mengerut bingung, saat Kenzo hanya tersenyum bodoh dan menatapnya seolah menyuruhnya untuk makan.
"Katanya lo cuma makan dikit, Lo aja yang makan". Kata Kenneth masa bodo.
Mendengar respon itu membuat Kenzo mendengus kesal. "Yakan gue udah makan, lah lo emangnya udah?". Balasnya tak mau kalah.
Kenneth menghela nafas kecil. "Lo aja yang makan Zo, gue udah kenyang".
"Makan apaan? Batu? apa makan luka?". Jawab Kenzo sinis.
Tak mau bertengkar, Kenneth menarik satu kotak makanan. Dia membuka kotak itu dengan malas, lalu menipiskan bibirnya saat semerbak harum masakan Padang menguar melewati hidungnya.
Dia yang akhirnya luluh bersiap untuk makan, namun melihat Kenzo yang hanya diam memperhatikannya membuat ia bingung.
"Lo beli dua buat apa? Gue nggak kuat makan dua porsi, lo beli buat lo juga kan?".
Kenzo terkekeh kecil, dia mengangguk dengan santai. Ia akhirnya mengambil satu kotak itu. "Ya, kan gue tadi bilang gue makan dikit biar bisa makan bareng lo".
__ADS_1
Sekali lagi Kenneth memutar kedua bola matanya. "Makan tinggal makan aja sih, ngapain nungguin gue".
Mendengar respon menyebalkan itu membuat Kenzo kesal. "Iya kapan lagi bisa makan bareng gini kan?".
"Serah lo Zo".
Mereka makan berdua, di tengah kusutnya wajah Kenneth juga semangatnya Kenzo yang menggebu-gebu. Keduanya saling melengkapi dalam sepi.
Di sela makannya, Kenneth tersenyum tipis walau mulutnya penuh dengan makanan. Ia ingin menangis, sangat. Saat Kenzo masih mau memperhatikannya, masih mau mempercayai, dan masih menghargainya sebagai seorang manusia.
Kenneth mengangguk pelan. Kenzo adalah saudaranya yang baik. Benar kata Fina, ia tak boleh mengotori saudaranya itu. Atau membuat Kenzo marah dengan semua ulahnya, membuat Kenzo khawatir dengan semua luka yang ia terima. Ia adalah pengaruh buruk untuk Kenzo.
Karena sampah sepertinya memang cocok berada di tempat sampah.
"Kenapa lo ngangguk-ngangguk? ngantuk?". Tanya Kenzo heran.
Kenneth yang tersadar hanya menggeleng malas.
"Yaelah segitu nggak maunya ya gue disini? Iya deh nanti kalo kelar makan gue langsung balik". Balas Kenzo kesal.
Kenneth yang sudah selesai hanya mengedikan bahu masa bodoh. Dia merapikan kotak makanannya, lalu menaruhnya ke dalam kresek.
Begitupun dengan Kenzo, setelahnya laki laki itu bersendawa kecil. Tangannya meraih dua minuman dan membagikan satu kepada Kenneth.
"Oh iya gue mau nanya".
Suara Kenzo memecah keheningan. Kenneth mengangkat alisnya saat Kenzo masih menyedot minuman itu.
"Soal kata mbak Gwen, lo nggak serius kan?".
Akhirnya pertanyaan itu. Kenneth terdiam, bahunya menurun seiring dengan wajahnya yang mengeruh. Tatapan matanya tak lagi menatap Kenzo, tidak, ia tak sekuat itu.
"Kok lo diem, jangan jangan lo serius lagi".
Bagaimana mungkin ia menganggap hal ini hanya bercanda. Saat semuanya bahkan tak benar benar damai. Kenneth masih berperang hati dengan orangtuanya.
Kenzo yang melihat keterdiaman Kenneth langsung mengerti, dia meraih sampah makanan mereka dan menggenggamnya.
Kemudian menghela nafas dan menegakkan tubuhnya. "Makanan ini nggak gratis, sebagai bayarannya lo nggak boleh ikut mbak Gwen".
Kenzo berjalan menuju pintu kamar, namun dia berhenti, laki laki itu menoleh ke belakang saat melihat Kenneth masih bungkam.
"Kalo sampe lo ikut, gue bakal kecewa banget sama lo".
Setelahnya Kenzo pergi, meninggalkan Kenneth dalam keterdiaman. Seolah ada sebuah lampu sorot dalam temaramnya bola putih yang menggantung di kamar. Kenneth menghela nafas berat, terlihat sekali wajah lelahnya, rambutnya teracak kasar, merasa stress dengan kalimat sialan itu.
Kenneth benar benar menduga bagaimana pertanyaan Kenzo, ia juga mengerti bagaimana nanti kekecewaan laki laki itu jika keputusannya terjadi.
Kenneth sangat bingung.
__ADS_1
***