
Namaku Ainun Mahya seorang gadis berusia sembilan belas tahun, sedari kecil aku hidup berdua dengan ayahku, bisa di bilang aku seorang anak yang kehilangan sosok figur seorang ibu, bagiku kesepian adalah sahabat sejati, aku besar dengan didikan keras ayahku.
Sebenarnya ibuku masih ada namun dia harus bekerja jauh dariku, dia berada di Kuwait negara bagian Timur Tengah sana, sebelumnya aku sangat membenci Ibuku karena dia pergi jauh dariku hanya untuk mendapatkan uang, tapi sekarang aku sadar bahwa dia pergi untuk membiyayai hidupku, karena Ayahku yang sudah sakit-sakitan sudah tidak mampu lagi bekerja.
Semakin beranjak dewasa aku semakin menerima keadaan ini, tapi akibat melihat keluargaku hancur aku memiliki luka batin yang tidak pernah sembuh.
Semenjak Ibuku pergi Ayah menjadi sosok yang berbeda, bukan hanya Ayahku namun semua anggota keluargaku berubah, Ayahku menjadi seorang pemabuk, begitu juga dengan paman-pamanku, akibatnya keluargaku yang tadinya hidup harmonis kini saling memusuhi.
Pernah suatu malam pamanku mengamuk dan mengancam akan membunuh ayahku, aku hanya bisa menangis karena ketakutan.
__ADS_1
Dari situ aku mulai membenci keluargaku, entahlah aku rasa semuanya telah hancur, Ibuku juga saat itu sangat susah untuk di hubungi.
Aku merasa semuanya tidak akan pernah kembali normal, tahun berganti tahun sejak Ibuku pergi bekerja, Ayahku semakin menjadi, bukan hanya menjadi pecandu minuman keras, namun dia juga sudah berani bermain wanita.
Aku marah, tapi apa dayaku saat itu, hanya bisa menangis di antara tumpukan bantal di bawah selimut, aku tak terima atas penghianatan Ayah terhadap Ibu.
Semakin lama aku menyimpan rasa benci terhadap Ayahku. Kenapa hidupku seerti ini, kenapa Ayahku harus berhianat, itu pertanyaan yang selalu aku tanyakan pada Tuhan.
Empat tahun berlalu, Ibuku pulang, aku pikir itubadalah akhir dari penderitaanku tapi kenyataannya tidak, aku bahkan sering menyaksikan kedua orangtuaku bertengkat hebat.
__ADS_1
Pernah suatu malam Ayah dan Ibu bertengkar, aku melihat Ibuku memegang pisau di tangannya, dia hendak bunuh diri, Ayahku mencoba untuk menenangkannya, sedangkan aku begitu takut dan menangis melihatnya.
Ku kira kedatangan Ibu akan membuat keluargaku kembali seperti semula tapi kenyataannya tidak, masalah demi masalah selalu bermunculan, Ayah dan Ibu ku juga sering bertengkar, tidak ada kebahagiaan lagi di hidupku.
Seperti gelas yang telah pecah, meskipun bisa di perbaiki namun tidak akan pernah kembali sempurna seperti sediakala.
Kedatangan Ibu pun hanya sementara, setelsh tiga bulan di rumah dia kembali pergi lagi, bukan pergi dalam waktu sebentar namun dalam waktu bertahun-tahun.
Kebiasaan Ayahku mabuk dan bermain perempuanpun kembali terulang, aku hanya bisa mebenci keadaan ini, bagaimana aku bisa hidup denga seoranng pemabuk akut.
__ADS_1
Entah harus seperti apa aku mengahadapi semua ini, meskipun aku membencinya tetapi aku juga tidak dapat berhenti untuk selalu menyayanginya.
Aku menghormatinya sebagai ayahku, dalam kebencianku kepadanya aku memiliki kasih sayang yang begitu besar, aku ingin dia kembali seperti dulu, dan kami bisa menjalani hari-hari yang normal lagi, berkumpul bersama, tertawa dan menciptakan sebuah keluarga yang lengkap dan harmonis lagi seperti sebelum semua ini terjadi.