
Karena Ibu berada jauh, ayahku menghianati Ibu, aku marah saat pertama kali tahu ayahku berselingkuh, sedih dan merasa terpukul.
Bagaimana kesetiaan Ibu di khianati begitu saja oleh Ayah, hanya karena sebuah jarak memisahkan.
Aku tak menyangka Ayah setega itu, dimna ibu sedang berusaha keras bekerja untuk meningkatkan perekonomian keluarga kami, dia dengan tanpa malunya menduakan Ibu.
__ADS_1
Aku mencoba mencari tahu siapa wanita simpanan Ayah, sampai aku mendapatkan nomer telepon wanita sialan itu, aku yang waktu itu masih kelas 4 sd mempunyai fikiran untuk meneror wanita tersebut.
Ku telepon wanita itu, aku maki dia, tak peduli Ayah akan marah jika mengetahuinya, yang ada dalam fikiranku saat itu adalah bagaimana membuat wanita itu menjauhi Ayahku.
Ku kirimi wanita itu pesan dengan isi " jangan ganggu Ayahku, dasar wanita murahan, emang tidak ada lelaki lain apa yang mau denganmu, hingga kamu mau dengan lelaki yang sudah beristri dan mempunyai anak".
__ADS_1
Mengadu pada kakak adalah satu-satunya hal yang aku lakukan ketika Ayah terus-terusan bermain wanita, kebencianku kepada Ayah mulai tumbuh membesar dn tak terbendung lagi.
Aku kira Ayah akan berhenti untuk bermain wanita setelah aku beranjak dewasa, nyatanya tidak, dia semakin menjadi, bahkan ketika Ibu mengirim uang Ayah selalu menggunakannya untuk menikmati tubuh wanita-wanita murahan itu.
Aku mulai tidak menginginkan berada di rumah sebab tidak mau terus-terusan menyaksikan penghianatan ayah, ku putuskan untuk mondok saat lulus smp, aku berfikir mungkin jika aku menjadi anak yang baik ayah akan sadar dan berubah, tidak lagi melakukan kebiasaan biruknya, tapi nyatanya tidak dia semakin leluasa untuk menghianati ibu, ku putuskan untuk berhenti moandok setelah 6 bulan aku meninggalkan rumah, dan bersekolah umum saja, untuk sekedar memantau kegiatan Ayah sehari-hari.
__ADS_1
Kekecewaanku terhadap Ayah semakin menjadi, aku mulai tak mempercayainya lagi, membatah semua omongannya, dan mulai memberanikan diri untuk berkata bahwa aku mengetahui segalanya, mengetahui perselingkuhannya, ku tunjukan chat di hp nya yang ku pegang dengan erat, dia mencoba merebut hp itu namun aku menahannya, emosiku semakin meningkat, aku lemparkan hp itu hingga hancur, dia hanya bisa tertunduk malu dan waktu aku mengamuk dan mengatakan jika aku membencinya dia harus memohon maaf kepada Ibu untuk bisa mendaatkan kemaafan dariku, aku menangis sejadi-jadinya dan tertawa dalam tangisku, menampar pipi sendiri dan menjambak rambutku sendiri, entah apa yang merasukiku yang aku rasakan saat itu bahwa hatiku sangat sakit dan semua yang aku lakukan saat itu hanya untuk mengalihkan rasa sakit hatiku, kemudian dia pun mulai ikut menangis dan menyalahkan dirinya atas semua yang terjadi kepadaku, aku hanya bisa terduduk dengan sisa-sisa tangisku dan berkata perlahan " Minta maaflah pada Ibuku" berulang kali aku katakan kalimat itu.
Sejak kejadian itu ku tak tahu dia masih menghubungi perempuan lain atau tidak, karena sakit Ayahku semakin parah, dan dia juga jadi jarang keluar rumah, bahkan sehari-hari hanya duduk di depan rumah melihat mobil berlalu lalang, kemudian kembali masuk ke rumah saat merasa sudah bosan.