
"Mereka hilang" Ujar Nadia cepat
Karna mau bagaimanapun Nadia memang harus mengatakan hal ini pada Devan. Wanita itu sudah menyiapkan mental jika seandainya Devan memang akan membunuhnya.
"Apa!!!" Teriak Devan dengan nada tinggi
Dari nada bicara serta raut wajahnya saja Nadia sudah bisa menebak jika saat ini Devan sedang marah besar. Melihat Devan seperti itu membuat Nadia bergedik ngerti.
"Maafkan aku Van" Ucap Nadia yang terdengar begitu lirih
Devan mendekat ke arah Nadia sambil menatapnya tajam. Pria itu semakin membuat Nadia merasa takut. Melihat Devan seperti itu membuat Nadia menundukkan wajahnya.
"Bagaimana bisa mereka berdua hilang? Apa kamu lupa apa yang sudah aku katakan malam tadi? Hmmmm!"
Nadia tidak bisa menjawab. Wanita itu hanya menundukkan wajahnya karna merasa takut dengan suara Devan yang begitu dingin. Nadia menjadi semakin ngeri dibuatnya.
"Jawab Nadia. Apa semalam kamu hanya sibuk tidur sampai tidak menyadari jika mereka berdua di culik"
"M...maafkan aku Devan. Aku benar-benar minta maaf. Aku sangat lelah sehingga tidurku begitu nyenyak. Maafkan aku"
Memang hanya kata maaf yang bisa di katakan oleh Nadia. Tidak ada kata lain yang bisa Nadia ucapkan. Tapi Nadia merasa sangat menyesal karna sudah membuat mereka berdua hilang entah kemana.
"Dasar tidak berguna!" Ucap Devan dan langsung pergi meninggalkan Nadia yang masih menundukkan wajahnya.
Taka lama kemudian. Devan mengambil ponselnya. Pria itu menghubungi Alex dan memintanya untuk mengecek kamera CCTV yang ada di tempat itu.
Kehilangan kedua anak itu membuat Devan merasa begitu khawatir dan panik. Karna mau bagaimana pun, Devan tidak ingin terjadi apa-apa terhadap mereka berdua.
π:Halo tuan. Ada apa?
π:Cek rekaman CCTV yang ada di tempat Nadia. Kedua bayi itu menghilang. Kalian sangat tidak bisa di andalkan!
π:Apa! Apa tuan sedang bercanda
π:Untuk apa aku bercanda. Cepat cek rekaman CCTV disini
Setelah mengatakan hal itu. Devan langsung memutuskan sambungan telponnya. Pria itu mengepal keras kedua tangannya saat mengingat Langit dan Bintang.
"Kemana kalian sayang" Ucapnya yang terdengar begitu lirih
Di Tempat Lain
Mala masih tidur begitu lelap. Mungkin karna hari kemarin dia sudah terlalu lelah dalam perjalanan dan juga lelah menangis. Namun tidurnya terganggu saat merasa tangan kecil mengusap lembut kedua pipinya.
Merasakan itu membuat Mala menggeliat serta mengerjab untuk beberapa saat. Setelah kesadarannya terkumpul sempurna, Wanita itu membuka kedua matanya dan seketika langsung merasa terkejut.
Mala menggelengkan kepalanya sambil menutup matanya dengan telapak tangan. Karna dia mengira jika ini hanyalah mimpi atau sebatas halusinasinya saja. Sebab Mala sudah begitu merindukan kedua anaknya.
"Sadar Mala. Ini pasti hanya mimpi atau sekedar halusinasi kamu saja. karna saat ini kamu begitu merindukan mereka"Ucap Mala sambil terus memejamkan kedua matanya
Mala masih enggan untuk membuka kedua matanya. Dia masih merasa begitu sedih karna hilangnya Langit dan Bintang. Tapi ini adalah kenyataan. Bukan mimpi apalagi halusinasi
"Sayang" Panggil Bima lembut sambil duduk di sampingnya Mala
Namun Mala tidak menghiraukan panggilan itu. Mala masih terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri. "Sayang" Panggil Bima lagi
Mendengar suara lembut itu lagi membuat Mala membuka kedua tangannya sambil menghadap ke arah Bima. Bima sudah langsung bisa melihat raut sendu dari wajah istrinya.
__ADS_1
Kemudian Mala duduk dan langsung memeluk tubuh Bima dengan kedua mata yang sudah berkaca-kaca. "My boy" Ujarnya lirih
Bima yang paham langsung membalas pelukan Mala sambil membelai lembut rambutnya. "Ada apa sayang. Kenapa kamu bersedih? Apa kamu tidak bahagia dengan kehadiran mereka berdua? Hmm?" Pungkas Bima begitu lembut
Setelah mendengar perkataan Bima, Mala langsung mengangkat wajahnya. Wanita itu mengerutkan keningnya sambil menatap Bima dengan penuh pertanyaan.
"Apa maksud kamu my boy. Kehadiran mereka? Mereka siapa?"
"Balik badan sayang. Kamu lihat mereka yang sedang asik bermain"
Mala membalikkan badannya. Wanita itu merasa begitu terkejut saat melihat dua sosok anak malaikat kecil yang sudah sangat dia rindukan. Wanita itu terdiam sejenak. Masih takut jika ini hanyalah mimpinya saja.
"Apa aku sedang bermimpi my boy? Jika iya, Biarkan aku terus ada dalam mimpi ini. Aku sudah begitu merindukan mereka berdua" Ucap Mala sambil menoleh ke arah Bima
"Ini bukan mimpi sayang. Ini adalah kenyataan. Aku sudah menepati janjiku untuk membawa mereka kembali dalam pelukan kita" Ucap Bima sambil mengangkat kedua sudut bibirnya.
Perkataan Bima langsung membuat Mala terlihat sangat bahagia. Akhirnya setelah beberapa hari doanya terijabah. Mala bisa melihat dan mendengar suara kedua anaknya lagi.
"Langit, Bintang" Ucap Mala sambil memeluk kedua anak itu
Mala mencurahkan kerinduannya yang sudah dia tahan beberapa hari ini. Karna ulah Nadia. Karna wanita itu dia harus merasakan kehilangan yang tak pernah Mala bayangkan sebelumnya.
"Sayang, Anaknya momy. Momy kangen sekali sama kelian berdua"
Tidak henti-hentinya Mala mencium kedua bocah kecil itu. Kemudian Mala kembali menoleh ke arah Bima yang sudah ikut duduk di samping tubuhnya.
"Terimakasih my boy. Terimakasih karna kamu sudah benar-benar menepati janji itu. Kamu sudah membawa mereka kembali" Ujar Mala sambil mencium pipi Bima dengan penuh cinta
Bima yang melihat wajah bahagia Mala tentu saja juga ikut merasakan kebahagiaan yang saat ini sedang Mala rasakan. Pria itu menatap Mala begitu dalam sambil menggenggam tangannya.
"Tidak perlu berterimakasih my boy. Kalau boleh tau, Dimana kamu menemukan mereka berdua?"
Bima tak langsung menjawab. Pria itu masih menatap Mala sambil mengingat kejadian beberapa jam yang lalu. Tepatnya saat Mala sudah tertidur sangat lelap.
Beberapa jam yang lalu
Setelah sambungan telpon dengan Reno terputus. Bima, Sifa dan Leon masih tetap berkumpul di ruang tengah sambil menunggu kabar terbaru dari Reno hingga 1 jam berlalu.
Di saat Bima mau masuk ke dalam kamar untuk melihat Mala, Tiba-tiba saja ada suara mesin mobil berhenti tepat di depan rumah kediaman kakek Lustama.
Mendengar suara mobil berhenti membuat mereka bertiga langsung keluar dan melihat siapa yabg datang. Ternyata yang datang adalah Reno dan kedua anak buahnya serta ada bayi di tangan mereka.
Melihat itu seketika senyum Bima merekah dan terukir jelas dari kedua sudut bibirnya. Pria itu mendekat ke arah Reno dan langsung mengambil alih Langit yang saat ini sedang tertidur lelap dalam gendongan Reno.
"Sini Ren. Biar aku yang menggendongnya" Ujar Bima sambil mengambil alih Langit
Sedangkan Sifa mengambil alih Bintang dari anak buah Bima yang lain. Tak lama kemudian. Mereka bertiga langsung kembali masuk ke dalam rumah kakek Lustama. Namun tidak dengan Reno dan yang lain.
Mereka semua sudah meminta ijin pada Bima untuk kembali ketempat mereka. Lebih tepatnya ke sebuah Apartemen yang jarang di tempati milik kakek Lustama.
"Kak. Mereka tampan sekali kak. Sangat mirip seperti kak Bima. Kalau di ibaratkan merea dan kak Bima seperti pinang yang di belah dua. Lebih tepatnya Bima versi baby" Ucap Sifa sambil terus memperhatikan Langit dan Bintang
"Iya Bim. Aku perhatiin kenapa wajah mereka sangat mirip dengan mu, Bukan kah kamu bukan ayah kandungnya?" Timpal Leon
Bima melirik ke arah Sifa dan Leon. Kemudian dia menatap Langit dengan intens. Ternyata apa yang di katakan mereka berdua memang benar adanya. Wajah Langit dan Bintang begitu mirip dengannya.
"Entahlah. Aku juga merasa heran kenapa wajah mereka sangat mirip denganku. Tapi aku bahagia. Setidaknya nanti mereka bisa membuat Mala mengobati rasa rindunya terhadapku jika seandainya aku sudah pergi nanti" Ucap Bima sendu
__ADS_1
"Kakak itu bicara apa sih kak. Kak Bima tidak akan kemana-mana. Kakak akan selamanya ada bersama kak Mala juga Langit dan Bintang"
"Tau nih Bima. Kenapa sekarang kamu lebih sering mengatakan hal itu sih. Kemana Bima yang dulu. Hah! Menyebalkan sekali. Tapi kalau nanti kamu beneran pergi, Mala buat aku ya Bim. Jadi suami pengganti" Ucap Leon sengaja
"Langkahi dulu mayatku"
"Lah, Gak perlu dong. Kan kamu sudah gak ada"
"Coba saja! Nanti aku gentayangin kamu tiap malam. Mau?" Ucap Bima sambil menatap tajam Leon
"Kalau gak mau aku ganti, Stop mengatakan tentang kepergian. Aku tidak suka itu Bima"
"Iya. Maafkan aku"
Setelah itu suasana hening Tidak ada pembicaraan lagi di antara mereka bertiga. Bima masih terus fokus menatap Langit yang ada dalam gendongannya. Sedangkan Sifa juga fokus pada Bintang yang ada dalam gendongannya.
Sedangkan Leon sudah fokus pada ponselnya. Pria itu melihat foto dari sebuah akun yang bernama."Rania"
"Wanita ini kenapa cantik sekali. Kalau di lihat dari berandanya, Sepertinya dia masih sekolah menengah atas" Ucap Leon pelan sambil terus menggeser beranda media sosialnya
"Apa aku coba kirim pesan saja ya. Siapa tau saja di balas"
[ Hai ] Send
[ Boleh kenalan tidak? ]
Leon terus menatap ponselnya. Pria itu berharap pesan yang dia kirimkan terbaca dan di balas oleh seseorang yang memiliki akun atas nama Rania.
Dtttttt Dttttt Dttttt
Mendengar ponselnya berdering membuat Leon dengan cepat membuka kembali ponselnya. Dia berharap jika pesan itu dari Rania. Tapi ternyata hanyalah pesan dari operator.
"Kenapa dia belum balas. Apa dia sudah tidur ya. Ini kan sudah jam 02:00 Pagi"
"Sudahlah. Lebih baik aku tunggu balasan nya besok" Ucap Leon sambil meletakkan kembali ponselnya.
Dttt Dttt Dtttt
Ponsel Leon kembali berdering. Namun pria itu tidak melihat siapa yang sudah mengirim pesan. Dia mengira jika pesan itu dari operator seperti beberapa saat yang lalu
"Pasti operator lagi" Ucapnya sambil iseng membuka ponselnya
Mata Leon membulat saat melihat siapa yang sudah mengirim pesan padanya. "Rania" Ucapnya sambil mengangkat kedua sudut bibirnya
[ Juga ]
[ Boleh ]
Membaca itu membuat Leon mengangkat kedua sudut bibirnya. Dengan cepat wanita itu mengirimkan balasan pada Rania.
[ Kalau boleh tau siapa nama kamu? Orang mana? ] Send
Dtttt Dtttt Dtttt
[ Aku Rania. Jakarta ]
[ Aku Leon. Apa bisa kita bertemu? Kebetulan aku sekarang ada di jakarta ] Send
__ADS_1