
Setelah memeriksa keadaan Rina kembali, Rendi menggelengkan kepalanya pelan. Ternyata mantan adik iparnya sudah tidak bisa di selamatkan. Kemungkinan besar Rina meninggal saat dalam perjalanan.
"Inalillahi" ucap Rendi dan langsung keluar dari ruangan IGD
Rani yang melihat pintu ruangan IgD terbuka langsung berdiri dan mendekat pada Rendi. "Bagaimana keadaan Rina kak? Dia masih bisa di selamatkan kan?" Tanya Rani sambil menggoyangkan tangan Rendi
Mendengar pertanyaan Rani membuat Rendi mengambil nafas pelan. Bagaimana caranya mengatakan jika saudara kembarnya sudah tidak bisa di selamatkan lagi.
"Kak, Ayo jawab. Kenapa kak Rendi diam saja! Rina pasti selamat kan kak?" ucap Rani mengulangi pertanyaannya kembali
Akhirnya Rendi menggeleng."Dia sudah pergi Ran. Rina sudah pergi meninggalkan kita" ucap Rendi pelan
"Nggak mungkin, Kak Rendi pasti bercanda kan! Rina masih hidup kan kak!?" ucap Rina dan langsung masuk ke dalam ruangan IGD untuk memastikan apa yang baru saja Rendi katakan padanya.
Dengan langkah lebar Rani masuk ke dalam ruangan itu. Hidungnya kembang kempis. Dadanya terasa sangat sesak saat melihat saudara kembarnya terbaring lemah seperti itu.
"Rina. Bangun Rina, Ayo bangun. Aku tau kamu pasti masih bisa dengar aku kan Rin. Aku mohon bangun Rin"
"Aku udah maafin apa yang selalu kamu lakukan sama aku. Tapi aku mohon, Bangun Rin. Hikss...hiks..." ucap Rani sambil memeluk tubuh Rina yang sudah terasa dingin.
"Rani. Kakak tau ini berat. Tapi mau bagaimanapun, Kamu harus bisa berusaha mengikhlaskan Rina, Dia sudah di panggil Ran" ucap Rendi sambil memeluk Rani dan menenangkan mantan adik iparnya.
Tangis Rani pecah dalam dekapan Rendi. Sedetik kemudian, Rani teringat akan pesan terakhir yang sempat Rina ucapkan. Rina meminta untuk memberikan matanya pada kakak mereka.
"Kak. Aku baru ingat jika tadi Rina sempat mengatakan jika dia mau memberikan matanya buat kak Adel" ucap Rani dengan suara seraknya.
__ADS_1
"Benarkah? Kalau seperti itu lebih baik sekarang kita harus sesegera mungkin melakukan tindakan operasi. Kamu tunggu di sini dulu. Biar aku jemput Adelia dan juga kedua orang tua kalian. Orang tua kalian belum tau kan" ucap Rendi sambil melepaskan dekapannya.
Rendi keluar dari ruangan IGD dengan langkah lebar. ingin rasanya segera membawa Adelia ke rumah sakit ini dan menjalan kan operasi pencangkokan kornea mata.
Mobil hitam miliknya melesat cepat meninggalkan gedung rumah sakit. melaju dengan kecepatan di atas rata-rata.
*****
Bima terus menatap wajah Mala sambil menggenggam erat tangannya. Dadanya benar-benar sesak melihat wanitanya terbaring lemah seperti itu. Tidak ada senyuman yang melukis wajah cantiknya.
"Sayang. Aku mohon, Cepat sadar. Jangan seperti ini, Melihat kamu kayak gini membuat aku luka, Rasanya dunia berhenti berputar, Jantungku seperti berhenti berdetak. Semua indra yang ada di tubuhku seakan berhenti berfungsi"
"Aku seperti kehilangan indra penglihatan ku, Indra pendengaran ku, Indra perasaku. Semuanya! Aku seperti tidak bisa merasakan semua itu sayang. Sadarlah agar aku bisa kembali merasakannya." ucap Bima sangat lembut sambil mendaratkan satu kecupan singkat pada kening Mala.
Bima mengambil nafas panjang. Ingin rasanya saat ini dia terbang ke Aussie dan membalaskan apa yang sudah Andika lakukan hari ini. Namun rasa cinta Bima terlalu besar. Dia tidak bisa meninggalkan Mala yang masih setiap menutup kedu matanya.
Jika sudah bersangkutan dengan Mala, Bima memang akan merasa sangat marah. Karna mau bagaimanapun, Mala adalah dunia Bima untuk saat ini. Jadi, Jika Mala terlihat lemah, Maka Bima akan merasa jauh lebih lemah.
"Jika boleh memilih, Lebih baik aku yang ada dalam posisi kamu sayang. Lebih baik aku yang terbaring lemah seperti itu. Aku benar-benar terluka melihat keadaan kamu seperti ini" ucap Bima lagi sambil terus menggenggam tangan Mala erat.
Sejak tadi, Leon memperhatikan Bima dari ambang pintu. Pria itu tau betul bagaimana Bima. Apalagi setelah mendengar pengakuan Bima kala itu. Semenjak saat itu, Semenjak saat itu, Leon memang selalu diam-diam memperhatikan Bima. Merasa simpati dan juga salut dengan cinta yang Bima miliki.
Tidak pernah menyangka jika seorang Albima bisa memberikan rasa cintanya sebesar itu. Sangat besar, Bahkan Leon saja tidak tau seperti apa kebesaran cinta itu. Karna memang sebelumnya Leon juga tidak permah merasakan cinta.
"Bim, Are you oke?" tanya Leon sambil menepuk punggung Bima
__ADS_1
Bima cukup terkejut. Namun sedetik kemudian pria itu membalikkan tubuhnya menatap pada arah Leon.
"Leon, Kamu kesini. Bintang sama siapa?
"Bintang aman sama Sifa di atas" jawab Leon sambil menatap Bima
"Sakit ya melihat dia terbaring lemah seperti itu?" tanya Leon sambil terus menatap Bima
Bima memanggil"Iya, Leon. Aku benar-benar merasa sangat terluka saat melihat dia seperti ini. Aku akan membalaskan semua ini. Andika harus membayar mahal atas perlakuannya" ucap Bima sambil mengepalkan kedua tangannya.
Leon yang melihat ada raut kemarahan yang tersorot dari kedua mata Bima tentu saja merasa sangat penasaran"Apa maksud kamu, Bim? Apa memang yang sudah melakukan hal ini adalah Andika, Andika sanjaya kan?"
Bima mengangguk"Iya, Leon. Dia harus membayar mahal atas apa yang sudah dia lakukan. Darah akan di bayar dengan darah. Akan aku pastikan, Jika Andika akan menyesali apa yang sudah di lakukan!"
Sejenak ruangan itu menjadi hening. "Apa semua ini masih ada hubungannya dengan kejadian bunuh diri Latisa, Bim?"
Seperti yang sudah di ketahui. Andika sanjaya memang menyalahkan sosok Albima dengan kejadian yang menimpa calon istrinya, Kakak perempuan dari Reno Lee.
"Tapi apa hubungannya Leon. Bukan kah Latisa itu bunuh diri. Lalu apa hubungannya dengan Mala?"
"Memang Latisa meninggal karna bunuh diri. Tapi apakan kamu lupa jika Andika menyalahkan kamu dengan kejadian itu. Kamu ingat kan" ucap Leon lagi
"liat saja Bima. Sampai kapan pun, Gue tidak akan pernah melupakan Kejadian ini. Ingat saja, Suatu saat nanti, Gue akan membuat elo merasakan apa yang saat ini gue rasakan. Karna obsesinya terhadap lo, Latisa sampai rela meninggal. Akan vue pastikan, Elo akan merasakan hal yang lebih sakit dari pada apa yang aku rasakan saat ini!"
Tiba-tiba perkataan Andika kembali terngiang pada indra pendengarannya. Jika di pikir, Mungkin apa yang Leon katakan memang benar. Jika kejadian hari ini ada sangkut pautnya dengan masalah dendam Andika yang terpendam selama beberapa tahun ini.
__ADS_1
"Kamu benar Leon. Ini semua karna hal itu. Tapi apakah Andika tidak sadar, Jika semua ini terjadi juga karna ulahnya. Latisa memutuskan untuk bunuh diri karna kehilangan ayahnya yang terbunuh dengan cara sadis seperti itu. Dan pelakunya adalah Andika sendiri"
"Apa! Jadi maksud kamu yang membunuh Luis adalah Andika?"