
Di tempat yang sama saat ini Vino sedang mengejar Devan yang terlihat begitu menyedihkan, Bagaimana tidak menyedihkan jika rambut dan pakaiannya begitu berantakan. Seperti tidak punya tujuan hidup.
" Devan tunggu " Suara Vino berhasil menghentikan langkahnya. Pria itu membalikkan tubuhnya dan mengangkat wajahnya yang dari tadi hanya menunduk saja. " Hmm ada apa?" balasnya.
" Elo kenapa terlihat begitu menyedihkan sih Van, Kasian gue liatnya"
" Gue gak papa, udah sana lanjutin pacarannya. tidak perlu urusin hidup gue"
" Eh Van, gini-gini gue itu sahabat yang baik, Ayolah cerita, kali aja bisa ngurangin beban pikiran lo kan" pekik Vino serta menepuk pelan bahu sahabatnya.
Mendengar ucapan dari Vino membuat Devan mengambil nafas berat, sangat sulit untuk di ungkapkan dengan kata-kata perasaan yang di rasakan oleh devan saat ini. " Elo pasti ngerti apa yang menyebabkan gue seperti ini Vin" lirihnya sendu.
" Emang gue dukun bisa ngerti apa penyebab elo kayak ini, Ya kali Van, cerita yang bener, mumpung gue bisa jadi pendengar yang baik"
" Ini tentang Mala" ucap Devan dengan nada yang teramat sedih.
Ucapan Devan membuat Vino mengangkat sebelah alisnya, tentang mala? Sebenarnya apa yang di maksud oleh Devan. "Tentang Mala,? emangnya elo udah ketemu sama dia?"
" Entahlah Vin, aku juga belum tau dimana dia sekarang. Tapi ada seorang wanita yang parasnya begitu mirip dengannya "
" Ada wanita yang mirip Mala, Maksud elo Mala punya saudara kembar gitu?"
" Gue gak ngomong Mala punya kembaran, tapi yang pasti, ada orang yang wajahnya mirip banget sama Mala, walaupun rambutnya berbeda,"
" Siapa dia?"
" Istri sepupu gue sendiri"
" What, yang bener lo Van,?"
" Udahlah Vin, gue mau pulang, tidak ada gunanya menyaksikan kemesraan mereka"
Setelah mengatakan hal itu, Devan berlalu meninggal Vino yang masih menyimpan begitu banyak pertanyaan dalam benaknya, " Mereka, memangnya dia disini?" ucap Vino pada dirinya sendiri. pria itu membalikkan tubuhnya dan berjalan ke arah kursi yang dia tunjuk beberapa benit yang lalu,
__ADS_1
Namun matanya memicing karna tidak ada Mega di sana, Tapi Vino bisa mendengar suara orang mengobrol yang tidak jauh dari tempatnya saat ini, Mata Vino membulat saat melihat jika Mega sedang bersama pasangan suami istri yang tak lain adalah Mala dan Bima.
" Astaga, ternyata yang Devan bilang mereka adalah Mala sama suami barunya, tapi kenapa mereka di sini, bukankah Mala ada di aussie. tunggu-tunggu, Apa yang devan maksud sepupunya adalah suaminya Mala. ya ampun, kenapa dunia ini sempit sekali. " Vino bermonolog dalam batinnya.
Tak lama kemudian pria itu memutuskan untuk menghampiri Mega yang saat ini sedang asyik mengobrol dengan sahabatnya, " Ehem" Vino berdehem dan membuat tiga orang itu langsung menoleh ke arahnya.
" P...pak Vino!" ucap Mala tanpa sadar karan melihat keberadaan Vino di sana
" Hai Mala," pungkas Vino sambil tersenyum seperti biasa
" Maaf pak, saya bukan Mala tapi Delisa"
Mendengar ucapan Mala entah kenapa membuat Vino mengulum bibir menahan tawa, " Tidak perlu berbohong sama saya, saya sudah tau semuanya Mala. bahkan saya juga sudah tau kalau kamu sudah menikah lagi"
" Maksud pak Vino apa?"
" Iya, saya sudah tau semuanya dari Sindy, kamu kan sudah tau jika Sindy adalah adik saya, waktu itu tidak sengaja saya mendengar obrolan kalian lewat telfon saat saya sedang menginap dirumah, tepat satu bulan setelah acara pernikahan kalian"
" Jangan pernah memberitahu siapapun soal ini ya pak" Ucap mala memohon
Namun sebelum pergi Vino masih mengatakan sesuatu yang membuat mala terdiam, beruntung saat ini Bima sedang pergi ke kamar mandi. " Perlu kamu tau, sepertinya kamu sudah salah paham terhadap Devan Mala" ucapnya dan langsung berlalu meninggalkan mala yang masih mencoba mencerna perkataan yang keluar dari mulut Vino.
" Salah paham. Apa maksudnya?" gumam Mala penasaran.
Ternyata Bima mendengar semua yang di bicarakan mereka. karna sebenarnya Bima tidak benar-benar ke kamar mandi, pria itu hanya ingin mendengar apa yang di bicarakan mereka setelah melihat kedatangan Vino ke tempat itu.
" Apa laki-laki yang kamu cintai adalah devan sepupuku Mala, Jika memang itu benar, Apa artinya aku harus bersaing dengan sepupuku sendiri. tapi bukankah kak devan juga sudah menikah" Bima bermonolog dala. batinnya.
" Sayang temen kamu kemana?" Tanya Bima lembut. Pria itu sudah bertekad untuk pura-pura tidak tau tentang apa yang sudah di dengar,
" Mereka sudah pergi my Boy"
Bima dan Mala memutuskan untuk segera pulang, karna cuaca sudah semakin gelap. suara petir pun sudah mulai terdengar, Hingga tak lama kemudian hujan turun membasahi taman kota yang masih ramai dengan pengunjung.
__ADS_1
" Astaga hujan" ucap Mala sambil menutup kepalanya dengan kedua tangannya.
" Ayo kita pulang sekarang sayang"
•
•
•
•
" Ayah, dokter bilang hari ini ayah sudah boleh pulang" ucap Wilson pada atmaja
" Benarkah, Ayah juga sudah sangat lelah terus-terusan berbaring di tempat ini Nak,"
" Tapi biarpun ayah sudah boleh pulang, Ayah masih belum Wilson ijinkan untuk Beraktifitas yang berlebihan." ucap Wilson pada ayahnya.
" Terimakasih Wil kamu sudah sangat perhatian sama Ayah"
" Tidak perlu berterimakasih Ayah, Sudah tugas Wilson sebagai anak untuk memberikan perhatian pada Ayah. Apalagi hanya ayah yang Wilson miliki saat ini" Pekik Wilson sambil memeluk erat sang ayah.
Meninggalkan obrolan Wilson dan Ayahnya, saat ini Devan sudah tiba di kediaman kakek Lustama, pria itu pulang dengan membawa rasa sakit yang teramat dalam, " Dari mana saja kamu Van?" tanya Yasmine yang melihat kepulangan Anaknya,
" Devan habis cari angin ma," Balas Devan dingin dan langsung berlalu begitu saja.
Yasmine yang melihat itu mengambil nafas berat, Hatinya juga merasakan sakit seperti yang di rasakan oleh anaknya saat ini,
Melihat kedatangan Devan, Adelia mengikuti langkah suaminya dan mengekor di belakangnya. " Dari mana saja kamu mas?" tanya Adelia setelah mereka tiba di dalam kamarnya.
" Itu bukan urusan kamu Adelia, dan ingat. Jangan pernah ikut campur urusanku, karna kamu hanya orang asing dalam hidupku, orang asing yang sudah merusak kebahagiaanku, Aku sangat membencimu Adelia"
Lagi dan Lagi, perkataan yang keluar dari mulut Devan selalu mampu membuat hati Adelia terasa begitu sakit. Sudah berapa kali ucapan itu keluar dari mulut suaminya, seperti ribuan jarum yang menusuk tepat di ulu hatinya.
__ADS_1
" Kenapa kamu begitu membenciku Van" lirih Adelia pilu
" Aku memang sangat sangat membencimu Adelia brengsek" ucap Devan dengan nada dinginnya serta membanting pintu kamar mandi dengan sangat kasar