
Clara berhasil mencapai pengungsian warga. Tenda-tenda biru di luar gedung olahraga tidak curahkan perasaan bahagia – terlihat suram – kekurangan senyum.
Di tempat pengungsian, masyarakat yang terkena serangan monster tinggal dalam keadaan yang tidak nyaman. Mereka harus mengungsi dari rumah-rumah mereka yang terancam oleh serangan monster, dan harus tinggal di tempat pengungsian yang terbatas ruangannya. Di sini, mereka harus berbagi ruangan dengan orang-orang lain, tidak punya akses ke fasilitas yang memadai, serta sering kali harus mengandalkan bantuan kemanusiaan. Keadaan ini tentu saja sangat menyulitkan bagi mereka, terutama bagi yang memiliki keluarga besar atau memiliki kondisi kesehatan yang tidak memadai.
Di sisi lain, tempat pengungsian juga sering menjadi sasaran serangan monster, sehingga masyarakat yang tinggal di sana selalu merasa tidak aman. Mereka harus terus-menerus waspada dan siap untuk mengungsi ke tempat yang lebih aman jika terjadi serangan monster. Keadaan ini sangat menyebabkan stres dan kecemasan bagi mereka, yang bisa berdampak buruk pada kesehatan mental mereka.
Clara hanya bisa mengelus dadanya mencoba menyembunyikan tangisnya. Karena menyamar sebagai salah satu pengungsi, Clara bisa mencari di celah-celah muka suram yang tercurah. Dia terus mencari Isma dan Zico.
“Clara?” panggil suara perempuan dengan nada lemah. Clara membalikkan badan. Tampak di seberang, dia melihat Isma berdiri dengan lusuh. Baju Isma penuh kotoran dan lumpur.
“Isma!” Clara berlari mencapai temannya. Sebuah pelukan Clara berikan disambut tangan Isma yang gemetaran.
“Kenapa kau kembali? Jakarta telah binasa,” rintih Isma masih dalam peluk Clara. “Di mana Kahar?” tanya sekali lagi Isma sebelum Clara melepaskan pelukannya.
“Dia akan segera menyusul ke sini. Di mana Zico?” tanya balik Clara, Isma menggelengkan kepalanya. "Aku tidak tahu. Aku hanya tahu Zico terluka dan dibawa ke rumah sakit. Tapi setelah itu, aku tidak tahu apa yang terjadi padanya." Clara meraih tangan Isma dan memegangnya erat. "Jangan khawatir. Pasti Zico baik-baik saja. Dia kuat, dia akan selamat," kata Clara sambil tersenyum menenangkan.
Isma menatap Clara dengan air mata yang terus mengalir di pipinya. "Aku harap begitu. Aku sangat merindukannya. Aku takut dia terluka parah dan tidak bisa pulih," ujarnya dengan suara gemetar.
Clara kembali memeluk erat-erat Isma. "Kita semua merindukannya. Tapi kita harus percaya bahwa dia akan selamat. Kita harus berdoa semoga dia segera pulih dan kembali ke sini," kata Clara sambil memberikan semangat pada Isma.
Clara dan Isma akhirnya bisa tenang. Dua orang teman itu duduk berdua di bangku panjang di depan tenda pengungsian. Mereka menyaksikan badai yang semakin mengamuk. Guntur seakan-akan menghukum mereka dengan suara yang dahsyat. Ketakutan dan tangis anak kecil terus terdengar menyahut guntur.
Ledakan kembali hadir. Kali ini bukan dari guntur. Ledakan seperti bom. “Kahar, kau baik-baik saja ‘kan?” gumam cemas Clara pada dirinya sendiri di dalam pikiran. Belum sempat Clara bisa mencari kata-kata untuk memikirkan Kahar.
__ADS_1
Suara erangan kembali datang dengan sangat kuat. Sangat keras. Erangan yang terdengar seperti dinosaurus. Clara dan Isma menutup telinga kesakitan. Semua yang ada di pengungsian mampu jelas mendengar erangan itu. Saat erangan itu berhenti, hujan sontak berhenti. Keheningan yang mencurigakan datang menjenguk di setiap sisi Jakarta.
...----------------...
Pasukan Kapten Charlie yang melihat sosok hitam di tengah kegelapan tidak tahu harus berbuat apa. Mereka telah kelelahan, kehabisan peluru, terluka, dan bisa dikatakan ketakutan. Altaica yang membaca kondisi segera melompat ke arah kanan. “Menyingkir semuanya!” perintahnya dari posisi tiarap.
Hartono dan sisa pasukan yang bisa berdiri segera melompat menghindari arah depan – di mana makhluk itu berdiri. Kini posisinya telah tepat. Laboratorium terbuka lebar di depan.
“Charlie, keluar dari sana sekarang atau tidak sama sekali,” jerit Kahar dengan posisi tangan yang telah menyiapkan serangan listrik.
Belum sempat Kahar berkedip. Kapten Charlie dengan wujud harimau melompat keluar dengan darah biru menutupi sekujur bulunya. Dengan posisi menyamping dari laboratorium, Kapten Charlie berkata, “Sekarang hancurkan!”
“Kalian tetap akan mati jika berada di sini, berlari sejauh mungkin. Kau juga Charlie!” Kahar kembali memfokuskan tenaga listrik di tangannya. Dari jari-jari Kahar memercik listrik berwarna kebiruan dengan suara berdesis.
“Apa itu atau yang benar – siapa itu, Kapten?” tanya Sondaica pada Kapten Charlie.
“Itu sahabat baru kita. Semoga.”
...****************...
Api membakar air hujan yang coba tenangkan laboratorium yang hancur. Tempat itu telah Kahar ratakan bersama amarahnya. Angin membelai jari-jari Kahar yang mengalami luka bakar. Bau tanah bercampur mesiu tercium pekat. Meski sudah berlalu, suara ledakan itu seolah bisa selalu didengar. Para pasukan Kapten Charlie mengalami gangguan pendengaran hebat.
“Aku tidak merasakan nafas manusia dari puing-puing laboratorium,” jelas Kapten Charlie yang berdiri di samping Kahar. Merasakan hal yang sama, Kahar tampak kecewa karena gagal menghabisi Profesor Setiawan. Pasukan Kapten Charlie masih terkapar di tanah dengan luka terlukis di badan mereka.
__ADS_1
“Kalian kembali ke markas. Lakukan pemakaman untuk Fransiskus Prawiro dan Ferdinand Lumbantobing. Bagi yang terluka, segera obati. Aku akan melacak di mana keberadaan Setiawan.” Kapten Charlie menatap tajam ke arah pasukannya yang kalah pada pertempuran hari ini. Ini adalah pertama kali untuknya gagal dalam misi. “waktu kita sudah habis. Militer konvensional akan segera kembali,” tuntasnya.
Dengan kepala tertunduk. Pasukan elite Kapten Charlie kembali ke truk militer. Mereka membawa tubuh Fransiskus Prawiro – Corbetti - dan Ferdinand Lumbantobing – Amonsis - yang telah kaku dan dingin. Tinggal Kapten Charlie berdiri di tengah deras hujan tanpa pelindung bersama Kahar.
“Ini adalah sebuah kode etik kami. Kami hanya menyebutkan nama saat mereka sudah mati. Jangan pernah menyebut nama, itu membawa kematian.” Kapten Charlie kembali ke wujud manusianya. “Aku hanya bisa berubah satu kali lagi,” katanya lemah.
“Simpan itu untuk nanti, Kapten.” Kahar kembali berdiri tegap, menantang langit dengan tatapan yang berbicara pada amukannya.
Tanpa memberikan aba-aba, Kahar berteriak pada cakrawala. Teriakan yang mengalahkan suara angin badai. Begitu kuat sampai Kapten Charlie tidak bisa menahannya.
“Hentikan! Apa yang kau lakukan?” tanya kesakitan Kapten Charlie sambil menutup telinga.
Kahar tak menjawab, dia teruskan teriakan itu. Tiga puluh detik. Waktu yang sebenarnya sebentar, namun terasa berjam-jam. Kahar hening sejenak.
Muka Kahar lebih pucat dari sebelumnya, tubuhnya gemetaran hebat. Separuh armor Kahar lepas. Kedua kaki Kahar seolah kehilangan daya untuk menopang diri.
“Aku menemukannya,” ucap lemah Kahar yang akhirnya roboh. Untunglah, dengan kecepatan yang dia punya, Kapten Charlie berhasil menangkap Kahar sebelum berjodoh dengan tanah.
“Aku butuh istirahat, letakan aku.” Kahar menutup mata, lalu Kapten Charlie meletakkannya perlahan di tanah berumput yang basah.
“Setiawan ada di Pulau Piyambak, aku melihatnya melalui ekolokasi,” bisik pelan Kahar. Jika saja, Kapten Charlie bukan manusia super. Dia tidak akan dapat mendengarnya.
“Piyambak? Aku tahu tempat itu. Kau istirahatlah, aku akan ke sana.” Kaki Kapten Charlie yang hendak berlalu ditahan tangan Kahar.
__ADS_1
“Tidak tanpa aku!”