JAWARA: INDONESIA HERO

JAWARA: INDONESIA HERO
Laborasi: Epilog


__ADS_3

Empat bulan sejak kejadian itu, keadaan di Jakarta Timur sudah mulai pulih, meski masih banyak masyarakat yang merasakan dampak dari serangan tersebut. Beberapa keluarga kehilangan tempat tinggal dan pekerjaan mereka, serta masih banyak yang mengalami trauma pasca-perang. Bantuan dari dalam dan luar negeri sangat dibutuhkan untuk memulihkan kondisi Jakarta Timur.


Pemerintah berjanji akan berusaha keras untuk menjamin keamanan masyarakat dan mencegah serangan semacam ini terjadi lagi di masa depan. Namun, masih banyak masyarakat yang merasa tidak puas dengan penjelasan pemerintah mengenai pelaku serangan. Banyak spekulasi dan rumor yang beredar di masyarakat, tetapi tidak ada yang bisa dibuktikan.


Tugu peringatan yang dibangun di depan Universitas Garuda Nusantara menjadi tempat pelarian bagi masyarakat untuk mengenang para korban dan berdoa agar bencana seperti ini tidak pernah terjadi lagi. Bulan Desember 2026 akan selalu diingat sebagai hari yang menghancurkan bagi Jakarta Timur dan seluruh masyarakat Nusantara.


"Pamanmu, pasti sudah tenang di sana," ucap Clara. Kahar terus memandangi tugu yang berisi tiga ratus empat puluh satu nama korban. Dia menyikap air mata yang perlahan jatuh.


"Aku merindukannya, Clara," ucap Kahar dengan suara bergetar. "Aku merindukan paman yang selalu ada untukku, yang selalu memberikan nasihat dan dukungan."


"Aku tahu, Bang. Aku juga merindukan pamanmu. Tapi kita harus percaya bahwa dia sekarang berada di tempat yang lebih baik," kata Clara sambil meletakkan tangannya di bahu Kahar.


"Tapi aku merasa bersalah. Aku tidak pernah cukup waktu untuk mengungkapkan rasa cinta dan terima kasih yang sebenarnya kepadanya," ucap Kahar sambil menunduk.


"Itu bukan salahmu, Bang. Pamanmu pasti tahu betapa kau mencintainya. Dia pasti bangga akan mu dan apa yang kau lakukan sekarang," jawab Clara sambil tersenyum kepada Kahar.

__ADS_1


Kahar mengangguk dan menghapus air matanya. "Kau benar, Clara. Aku harus melanjutkan perjuangan dan untuk kebenaran dan keadilan."


Kahar melangkah mendekat ke tugu peringatan. Dia melihat nama-nama yang terukir di dinding marmer putih. Nama-nama yang menjadi pengingat akan para korban yang gugur dalam serangan tersebut.


Dia menghela nafas panjang. Tugu peringatan itu seolah mengingatkannya akan kesedihan yang dialaminya saat pamannya tewas. Namun, saat angin lembut bertiup, dia merasa tenang. Seolah angin itu memberikan pesan bahwa semuanya baik-baik saja.


Sore itu keadaan mendung, tapi hujan tidak jatuh. Seperti hujan yang tertahan, seolah menunggu hari yang tepat untuk jatuh. Begitu juga dengan kesedihan Kahar, dia merasa tidak siap untuk melepaskannya. Namun dia tahu, suatu saat nanti, dia harus melepaskan kesedihan itu dan mengingat korban-korban dengan haru dan hormat.


Kahar berdiri di depan tugu peringatan, dengan angin yang masih terus bertiup, dia berjanji untuk terus berjuang dan bekerja keras agar serangan seperti ini tidak terjadi lagi, dan perjuangan para korban tidak sia-sia. Dia menutup matanya dan berdoa untuk kedamaian dan keamanan negara serta rakyatnya.


"Sudah," jawab Kahar memandang langit.


"Aku harus segera menyelesaikan novel karya Thomas Dharma." Zico tidak bisa melepaskan matanya dari novel bercover hitam.


"Aku belum pernah dengar nama itu, apa judul novelnya?" tanya Kahar.

__ADS_1


"Penulis yang Gagal." Zico menunjukkan sampul depan. Buku kecil dengan tulisan berwarna merah.


"Aku ingin membacanya nanti." Kahar mendekati Zico disusul Clara. Mereka berempat pulang dari tugu. Menuju hari baru. Lebih baru dari kata baru.


...****************...


"Kau sudah mendapatkan sesuatu?" tanya suara bernada dalam.


"Dia tidak berbicara sejak ditangkap, Pak." Peneliti berjas putih itu menjawab dengan ragu-ragu.


Pemilik suara dalam itu masuk ke dalam ruang isolasi berdinding kaca. Dia tatap dua tubuh yang sama persis. Tubuh kembar yang dikekang penjara.


"Setiawan, di mana PKI?"


Tubuh yang ditatap oleh pemilik suara dalam itu tetap diam dan tidak bergerak. "Dia tidak akan berbicara, Pak. Kami sudah mencoba segala metode," ujar peneliti berjas putih itu.

__ADS_1


Pemilik suara dalam itu menghela napas kesal. "Sudah kuduga. PKI selalu sangat tegar." Dia berbalik kepada peneliti. "Periksalah dia lagi, kali ini dengan lebih keras. Saya harus tahu di mana mereka bersembunyi."


__ADS_2