
"Halo, saya Najwa Latif dari Trans Global Tv dengan laporan terkini dari Jakarta, Indonesia. Dua hari yang lalu, kota ini terkena serangan monster yang mengerikan. Monster-monster tersebut menyerang penduduk dan membuat kerusakan yang luar biasa. Namun, militer Indonesia berhasil menghabisi semua monster tersebut.
Kita bisa melihat di belakang saya, pemandangan yang sangat mengerikan. Gedung-gedung yang dulunya merupakan ikon Jakarta telah hancur oleh kekuatan monster tersebut. Penduduk yang selamat pun terlihat sangat terpukul. Mereka telah kehilangan tempat tinggal, keluarga, dan bahkan yang paling menyedihkan, nyawa.
Namun, militer Indonesia berhasil mengalahkan monster-monster tersebut. Mereka berhasil membunuh semua monster yang ada, dan kota Jakarta pun akhirnya merasa aman kembali. Kita harus menghargai keberanian dan dedikasi militer Indonesia yang telah berjuang dengan gigih demi keamanan kita semua.
Ini adalah laporan terkini dari saya di Jakarta, Indonesia. Terima kasih."
...----------------...
"Militer telah menyatakan kemenangan mereka, Pak." Pilot helikopter dengan kode nama Alvin memberikan informasi dari radio.
"Aku tahu. Sekarang tugas kita adalah memastikan kemenangan itu adalah benar dengan menghabisi Setiawan." Kapten Charlie meraih senapan serbu. Dia tidak ingin mengulangi kesalahan dengan menyepelekan lawannya.
Helikopter yang mampu terbang jauh dari permukaan air laut memiliki kemampuan untuk berkamuflase dengan lingkungan sekitarnya, yang membuatnya sulit terdeteksi oleh lawan atau musuh. Selain itu, helikopter tersebut juga memiliki kemampuan jelajah yang luar biasa, yang memungkinkannya untuk mengelilingi area yang akan dituju dengan mudah dan cepat.
"Laborasi," panggil Kapten Charlie pada Kahar yang merenung melihat ke luar helikopter. "Ayo turun dari sini, kita harus menyelesaikan misi ini secepat mungkin." Kahar terkesiap dari lamunannya dan segera mengikuti Kapten Charlie ke pintu helikopter.
"Hidup atau mati, aku cuman tidak ingin, kau yang mati," kata Kapten Charlie sambil menatap Kahar. "Aku baru mengenal dirimu beberapa jam lalu, tapi aku rasa bisa mempercayakan semua rahasiaku padamu. Kita harus saling percaya satu sama lain jika ingin keluar dari sini dengan selamat."
Kapten Charlie bersiap di pinggir pintu helikopter. Sebuah lompatan dia lakukan bersama Kahar dari ketinggiannya. Mereka meluncur ke bawah dengan menggunakan tali pengaman yang terikat pada pinggang mereka. Setelah tiba di tanah, Kapten Charlie dan Kahar segera menyelamatkan diri ke tempat yang aman sambil mempersiapkan rencana selanjutnya. Mereka harus berhati-hati, karena musuh pasti sudah menunggu untuk menghadang mereka.
"Setiawan ada di tengah pulau. Aku melihat dia dengan jelas lewat ekolokasiku," ujar Kahar sambil bersiap dengan mode Laborasi. "Kita harus segera menangkapnya sebelum dia melarikan diri."
Kapten Charlie juga sudah bersiap dengan mode harimau untuk terakhir kali. "Baik, ayo kita cek keberadaannya dengan pasti. Jangan sampai kita kalah lagi," kata Kapten Charlie sambil mengambil senjata yang tergeletak di sampingnya.
Mereka berjalan dengan cepat menuju tengah hutan, yang merupakan tempat yang paling ditempati oleh Setiawan. Tak ada cara lain, Setiawan harus mati. Saat itu, Kahar teringat kejadiannya dengan Clara di sini. Namun, tak ada waktu untuk memikirkannya lagi. Mereka harus fokus pada misi yang sedang mereka jalani.
Tiba-tiba, Kahar dan Kapten Charlie dikejutkan oleh gerombolan monster ikan yang muncul dari arah depan. "Awas! Gerombolan ikan pemakan manusia!" teriak Kahar sambil mengeluarkan sedikit serangan listrik. Kapten Charlie juga sudah bersiap dengan senjatanya, siap untuk menghadapi ancaman tersebut. Mereka harus berhati-hati, karena monster-monster ikan tersebut sangat ganas dan tidak segan-segan untuk menyerang siapa saja yang mengganggu mereka.
Kapten Charlie terlihat begitu marah saat ia mengeluarkan tembakan membabi buta. Ia tidak peduli dengan akurasi atau efisiensi, ia hanya ingin mengalahkan monster yang sedang menyerangnya. Satu peluru terbang keluar dari senapannya untuk setiap nyawa yang ia habiskan dari monster tersebut. Tak ada kesempatan bagi monster itu untuk maju mendekati Kapten Charlie dan Kahar, senjatanya yang terkenal ampuh, selalu siap menghadang setiap gerakan monster itu.
Kapten Charlie mengambil nafas panjang saat ia melihat monster yang sudah terkapar di tanah. Senapannya yang terkenal kuat dan tak terkalahkan terlihat hancur berantakan di tangannya. Namun, ia tidak gentar. Ia adalah seorang pahlawan yang telah melindungi bumi dari berbagai macam ancaman, dan ia tahu bahwa tantangan akan terus datang.
Setelah bertempur selama beberapa saat, akhirnya monster yang menyerang Kapten Charlie dan Kahar terkalahkan. Kapten Charlie menembakkan senapannya tanpa henti hingga akhirnya senapan tersebut rusak karena terlalu sering digunakan.
"Kita lanjutkan?" tanya Kapten Charlie kepada Kahar setelah monster itu benar-benar hancur.
__ADS_1
"Mari," jawab Kahar dengan takjub. Ia terkesima dengan keberanian dan kemampuan temannya itu dalam mengalahkan monster tersebut. Mereka pun melanjutkan petualangan mereka dengan semangat baru.
Kahar dan Kapten Charlie berjalan dengan hati-hati menuju markas peninggalan Jepang. Mereka terus memperhatikan sekeliling mereka, tidak ingin terkecoh oleh ancaman yang mungkin muncul. Meskipun ekolokasi Kahar tidak mendeteksi ada ancaman, Kahar tetap waspada. Mereka tahu bahwa Profesor Setiawan ada di sana, dan Kahar sangat ingin menemukan dan membunuhnya. Kahar telah ke markas ini sebelumnya, bersama Clara. Namun, markas tersebut masih seperti yang dia ingat - kelam dan tidak berubah sedikit pun.
“Dia ada di sana.” Jari Kahar menunjuk markas peninggalan Jepang. Tempat yang tidak terlalu asing bagi Kahar. Tempat yang pernah dia datangi bersama Clara
“Aku akan masuk sendiri,” kata Kahar dengan nada tegas. Kapten Charlie menggeleng tidak setuju. Matanya menandakan ketidaksetujuan. Dia meraih Kahar dan menggenggam lehernya.
“Kau gila? Ini bukan soal masalah pribadi lagi!”
“Lepaskan aku, Kapten!” Kahar mencoba melepaskan genggaman Kapten Charlie dari lehernya. “Aku tahu apa yang kulakukan. Aku yang harus menyelesaikan masalah ini.”
Kapten Charlie tidak melepaskan genggaman. “Kau tidak bisa masuk sendirian, Laborasi. Ini terlalu berbahaya. Kita harus masuk bersama-sama dan melakukannya dengan cara yang tepat.”
Kahar menghela napas. Dia tahu bahwa Kapten Charlie hanya ingin melindunginya, tapi dia tidak bisa mengabaikan keinginannya untuk menyelesaikan masalah ini sendiri. “Kapten, aku tahu apa yang kulakukan. Aku harus menyelesaikan masalah ini sendiri. Aku yang harus menghadapi Profesor Setiawan.”
Kapten Charlie menatap Kahar dengan tatapan lelah. Dia tahu bahwa dia tidak akan bisa mengubah pikiran Kahar. “Baiklah, tapi setidaknya biarkan aku masuk bersamamu. Aku tidak akan mengganggumu, tapi setidaknya aku bisa menjadi penyangga jika terjadi sesuatu.”
Kahar mengangguk setuju. “Baiklah. Kita masuk bersama-sama.” Bersama-sama, mereka memasuki markas peninggalan Jepang, siap menghadapi apapun yang akan mereka hadapi di dalam.
Tepat di depan pintu markas peninggalan Jepang, Kahar bersiap untuk menendang pintu tersebut. Namun, tiba-tiba terdengar ledakan yang membuat Kahar dan Kapten Charlie terpental ke belakang.
“Apa yang terjadi?” tanya Kahar sambil mencoba bangkit dari posisinya.
“Sepertinya ada bom yang ditempatkan di depan pintu,” jawab Kapten Charlie sambil bangkit dari tanah.
Dari balik bayangan, muncul sebuah sosok yang diselimuti kegelapan. Ketika sosok itu mendekat, timbul rupa Profesor Setiawan di depan Kahar dan Kapten Charlie, mereka terkejut dengan apa yang mereka lihat.
Profesor Setiawan yang dulu Kahar kenal sebagai seorang ilmuwan terhormat, kini telah berubah menjadi musuh yang aneh dan mengerikan. Bau amis yang mengelilinginya membuat mereka merasa tidak nyaman, terutama Kapten Charlie, hidung Harimau terlalu sensitif. Rambut panjangnya terurai dan mata merahnya memberikan kesan bahwa dia adalah makhluk jahat yang tidak dapat dipercaya. Selain itu, sisik ikan di sekujur tubuhnya menambah kesan aneh dan mengerikan.
Tentakel di punggungnya membuat mereka – Kahar dan Kapten Charlie membekukan bahasa. Dan dia juga terlihat bergerak dengan cepat, sehingga sulit untuk menghindar darinya. Ini pasti akan menjadi pertempuran yang sangat sulit untuk dihadapi.
Kapten Charlie bangkit kembali dengan kekuatan yang tidak seharusnya dimiliki oleh manusia biasa. Matanya berkilauan dengan tekad yang kuat untuk mengalahkan musuhnya, Setiawan. Dengan gerakan cepat seperti harimau yang sedang mengejar mangsanya, dia berlari sekuat tenaga menuju Setiawan.
Cakarnya yang tajam siap menyambar musuhnya, namun sayangnya Setiawan ternyata lebih cepat dan tangkas dalam bertindak. Tentakelnya dengan sigap menangkap kaki Charlie dan menarik tubuhnya dengan kuat, melemparnya ke arah ledakan yang terjadi baru terjadi.
Kahar, yang melihat Kapten Charlie terlempar oleh Setiawan, tidak tinggal diam. Dia segera mengaktifkan kekuatan Laborasi-nya untuk mengalahkan musuh mereka. Dengan amarah yang dimilikinya, dia mampu menghasilkan arus listrik yang sangat kuat.
Serangan listrik itu ditujukan dengan tepat ke arah Setiawan, yang tampak tidak siap untuk menerima serangan tersebut. Arus listrik yang kuat itu memenuhi tubuh Setiawan, menyebabkan ledakan yang sangat besar dan mengakibatkan kerusakan yang sangat parah pada musuh mereka.
__ADS_1
Setiawan terlihat sangat parah terkena serangan listrik Kahar, dia tergeletak lemah di tanah sambil mengerang kesakitan. Namun, mereka tidak bisa meremehkan musuh itu, karena mereka tidak tahu apakah itu benar-benar mematikan atau tidak.
Kapten Charlie dan Kahar berdiri di sisi Setiawan yang tergeletak di tanah. Muka Setiawan hancur setengah, namun dia masih tersenyum licik dengan bibir yang terkoyak, seolah-olah dia tidak merasakan sakit sama sekali. Kapten Charlie dan Kahar merasa sangat khawatir, karena mereka tahu bahwa Setiawan memiliki kemampuan regenerasi yang luar biasa.
“Kalian pikir itu cukup.” Setiawan bangkit dengan muka yang terus beregenerasi.
Kahar maju ke depan dan melihat Setiawan dengan saksama. Dia mempelajari kemampuan regenerasi musuh mereka dengan penuh perhatian dan berusaha untuk menemukan celah di dalam sistem pertahanan Setiawan. Namun, dia menyadari bahwa ini akan menjadi pertarungan yang sangat sulit karena Setiawan memiliki kekuatan yang luar biasa.
“Aku ucapkan terima kasih untuk seorang mahasiswaku yang memberikan hal terakhir yang aku butuhkan,” kata Setiawan dengan tawa yang menggelikan.
“Tetap waspada, Laborasi.”
Setiawan maju dengan tentakel mencambuk-cambuk udara. Menjadi perisai hidup dan mesin perobek kulit. Sulit untuk maju menyerang. Kapten Charlie tidak bisa mendekat, sebagai petarung jarak dekat, keunggulan Setiawan tidak bisa dia imbangi. Kahar dengan tegas melangkah, dihantui oleh amarah yang membara dalam dadanya. Dia tidak mau dikalahkan oleh musuh yang sudah ditakdirkan untuk jatuh di tangannya. Dengan lompatan yang cepat dan akrobatis, dia melesat ke arah Setiawan, mencari celah di dalam pertahanan musuh itu. Namun, dia kalah cepat. Dengan sekejap mata, tentakel Setiawan menghantam tubuhnya dengan keras yang luar biasa, menghempaskannya ke tanah.
Tetapi Kapten Charlie tidak menyerah begitu saja. Dia bangkit kembali dengan semangat baru, memikirkan rencana yang pasti akan menyelamatkan mereka semua.
“Bertahanlah,” ujarnya tegas kepada Kapten Charlie, yang masih tergeletak di tanah. “Aku punya rencana.”
Kapten Charlie dengan gerak cepat menyambar radio komunikasi yang ada di dekatnya. Dengan suara yang keras dan tegas ia berteriak, “Bajingan, segera kemari! Ikuti arah sinyal ini. Hujani dengan peluru yang sangat keras!”
“Bantuan? Kau kira ada yang bisa membantumu?” tanya Setiawan dengan nada mengejek. Suara yang keras dan tidak ramah itu seolah-olah mengejek kelemahan Kahar. Namun, Kahar tidak gentar. Dia bangkit lagi dengan tekad yang kuat, tidak mau dikalahkan oleh musuh yang harus mati di tangannya.
Tangannya terkepal keras, kesal dia tidak bisa mengalahkan musuh ini dengan mudah. Kahar juga menyadari armor ikan yang melekat di tubuhnya telah kembali utuh setelah terkena serangan Setiawan. Dia tahu ini adalah kesempatan yang dia cari, kesempatan untuk balas dendam dan mengalahkan musuh yang membunuh pamannya.
Jarak antara mereka bertiga hanya sepuluh meter. Setiawan memandang Kahar dengan sinis, yakin bahwa dia akan segera memenangkan pertarungan ini. Namun, Kahar tidak menyerah begitu saja. Dia berlari dengan cepat, mengabaikan tentakel yang bisa merobek dirinya.
"Bodoh." Setiawan tertawa jahat sambil menatap Kahar dengan penuh kemenangan. Dia yakin bahwa dia akan segera mengalahkan Kahar dan mengakhiri pertempuran ini. Tentakelnya yang memanjang siap untuk menghunjam perut Kahar dengan kecepatan yang luar biasa.
Namun, Kahar ternyata lebih pintar dari yang diperkirakan oleh Setiawan. Dia dengan cepat menangkap tentakel lendir yang diarahkan kepadanya, mengejutkan Setiawan. "Apa?" tanya Setiawan dengan tak percaya.
"Tangkapan bagus, Nak." Kapten Charlie berlari cepat, mengejar jarak yang ada di antara mereka. Dia tidak akan membiarkan Kahar sendirian dalam pertempuran ini. Cakarnya berhasil menggores leher Setiawan dengan sangat cepat dan tepat, merusak aliran darah dan vitalitas musuh itu.
Jarak yang sudah tidak ada lagi membuat Kapten Charlie dengan mudah menghajar Setiawan. Gerakan silatnya yang begitu brutal, menunjukkan betapa berpengalaman dan tangguh dirinya sebagai seorang pemimpin pasukan. Setiawan seperti tidak berdaya di hadapan Kapten Charlie, membuatnya menjadi musuh yang tidak seimbang bagi dirinya.
“Jangan berikan dia nafas!” Jerit Kahar sambil maju untuk membantu Kapten Charlie. Dia tidak akan memberikan kesempatan kepada musuh untuk memulihkan diri. Bersama-sama mereka melepaskan pukulan, menyerang Setiawan dengan keras dan brutal.
Setiawan terdesak, tidak mampu untuk melawan dua musuh yang begitu kuat dan tangguh. Dia terluka parah, sakit menyebar di seluruh tubuhnya. Kahar dan Kapten Charlie tidak memberikan dia kesempatan untuk beregenerasi, terus menghajar hingga akhirnya musuh itu terkapar lemah di tanah.
"Itu tidak cukup," ucap Kahar sambil menatap Setiawan yang mencoba untuk menyembuhkan lukanya. Dia tahu bahwa musuh ini tidak boleh dibiarkan hidup sampai ia benar-benar mati. Segera, Kahar meraih kepala Setiawan dengan tangan kuatnya, bertekad untuk mengakhiri hidupnya.
__ADS_1
Dengan sekuat yang dia bisa, dia merobek tubuh Setiawan menjadi dua bagian, membuat darah biru mengalir dari bagian-bagian tubuh yang terpisah. Kahar melemparkan setengah tubuh Setiawan yang lain jauh-jauh. Namun, Kahar tidak selesai sampai di situ. Kepala Setiawan yang masih bernafas, dia angkat sejajar matanya, menatap Setiawan dengan nada penuh kebencian. "Apa yang kau lakukan pada ayahku?" tanyanya dengan suara keras.