JAWARA: INDONESIA HERO

JAWARA: INDONESIA HERO
Laborasi: SELESAI II


__ADS_3

"Ayahmu? Zulkarnain Muzakar? Oh, jadi kau anaknya," ucap Setiawan dengan nada sombong, mengetahui rahasia Kahar.


"Kau 'kan yang membunuhnya? Jawab jujur aku sebelum kau merasakan rasa sakit yang tak terbayangkan." Kahar menusuk mata Setiawan. Dia kembali menghajar Setiawan.


"Aku terkejut saat melihat email yang masuk di komputer pribadiku. Pesan itu sebenarnya ditujukan untuk rekan kerjaku di laboratorium, Zulkarnain. Aku tidak percaya bahwa semua rencanaku diketahui oleh seseorang. Rencanaku dan identitasku dibocorkan melalui email itu kepada Zulkarnain. Namun, aku bersyukur karena sudah meretas komputer Zulkarnain. Segera setelah itu, aku mengambil telepon rumah pengusaha kaya itu dan menelpon Zulkarnain.


Pengusaha kaya itu marah sekali. Dia mengirim pasukan yang siap untuk menghabisi Zulkarnain. Pada saat itu, aku tidak tahu harus berbuat apa. Dia benar-benar tidak ingin melanjutkan penelitian dan aku belum mendapatkan obat penuaan yang aku inginkan.


Aku marah pada Zulkarnain karena dia hendak mengkhianati aku. Jujur saja, aku tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Kabar terakhir yang aku dapat dari pengusaha itu adalah timnya habis dan tidak ada yang selamat. Dia tidak ingin keluar uang lagi. Aku merasa frustasi dan akhirnya berakhir di universitas ini," jelas Setiawan panjang.


Kahar merasakan rasa kekecewaan dan kebingungan saat mendengar penjelasan Setiawan yang tidak memberikan informasi apapun tentang kematian ayahnya. Dia merasa seolah-olah dia telah mengejar dendam yang sia-sia dan dia tidak tahu di mana dia bisa menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang ada dalam pikirannya.


Dia merasa bahwa dendamnya belum terbayar sepenuhnya, dia ingin tahu alasan mengapa ayahnya dibunuh dan di mana dia bisa menemukan kuburan ayahnya jika dia benar-benar sudah mati. Kahar merasa kemarahannya belum terobati dan dia merasa tidak dapat sembuh dari kematian ayahnya.


Kapten Charlie terkejut ketika setengah tubuh Setiawan yang diabaikannya bangkit dan berdiri dengan dua kakinya. Seperti adegan dalam film horror, dia melihat bagian bawah tubuh itu mengeluarkan tulang ekor yang tajam. Ia berlari dan mencoba untuk menyerang kaki itu, tapi dia terlambat. Setengah tubuh Setiawan berhasil menusuk perut Kapten Charlie dengan tulang ekor yang tajam itu.


Kahar tidak percaya pada apa yang dia lihat. Kepala Setiawan yang dia genggam mulai mengeluarkan semacam tulang belakang yang menonjol keluar. Dia melihat bagaimana kepala itu mulai bergerak dan mengembangkan kaki seperti tulang kelabang. Musuh yang harus dihadapinya sekarang adalah dua makhluk mengerikan yang muncul dari apa yang dia pikir adalah mayat yang sudah mati.


Kahar berusaha untuk melepaskan kepala itu, tapi dia tidak bisa. Kepala Setiawan sudah terikat erat dengan tulang belakang yang menonjol keluar. Dia merasakan rasa sakit di tangannya karena dia terus berusaha untuk melepaskannya.


Dia melihat kembali ke Setiawan yang setengah hidup dan setengah mati, berusaha untuk mengalahkan kapten Charlie. Kahar merasa tidak berdaya melihat Kapten Charlie yang terluka dan tidak tahu harus berbuat apa.


"Abaikan luka ini, tetap bertahan atau menyerang jika ada kesempatan!" teriak Kapten Charlie.

__ADS_1


Kahar mulai panik, dia tidak tahu bagaimana cara untuk mengalahkan kedua makhluk ini. Ia berteriak pada Kapten Charlie untuk berlari dan meninggalkan tempat itu, tapi Kapten Charlie terlalu sibuk berjuang melawan setengah tubuh Setiawan yang mengerikan. Kahar harus segera menemukan cara untuk mengalahkan kedua makhluk ini atau mereka akan mati semua di sini.


Kahar terus berusaha dengan segala kekuatannya untuk memukul kepala Setiawan yang mengerikan itu. Namun, dia merasa tidak ada efek yang berarti dari tindakannya. Dia merasa tidak berdaya dan tidak tahu harus berbuat apa lagi.


Sementara itu, Kapten Charlie terlihat sempoyongan. Dia terluka parah dan darah terus mengalir dari luka di perutnya. Dia tidak dapat berdiri lagi dan hampir tidak bisa bergerak. Dia berusaha untuk bangkit dan melanjutkan pertempuran, tapi dia tidak memiliki kekuatan yang cukup.


Kahar berbalik dan berlari ke arah Kapten Charlie yang terluka. Dia melihat bahwa kedua makhluk itu tidak secepat pada awalnya, dan ini memberi dia kesempatan untuk menyelamatkan rekan. Kahar menendang setengah badan Setiawan yang menghalangi jalannya. Dia meraih Kapten Charlie yang terletak lemah dan mengangkatnya di atas bahunya.


Kapten Charlie merasa sakit, tapi dia merasa lega karena Kahar datang menyelamatkannya. "Kau baik-baik saja?" tanya Kapten Charlie dengan suara lemah.


"Aku baik-baik saja, tapi kita harus segera pergi dari sini," jawab Kahar. "Aku akan mencarikan bantuan segera."


Kapten Charlie merasakan aliran darah kembali ke wajahnya ketika dia mendengar suara helikopter. "Bantuan sudah datang," katanya.


Helikopter itu terlihat mendarat di dekat mereka. Petugas medis segera keluar dari helikopter dan mulai membantu kedua pria itu.


Kapten Charlie menunduk, "Maaf, aku tidak bisa membahayakan pasukan ku lagi. Terlebih, amunisinya sudah kosong. Perlu pulang dan mengisi terlebih dahulu."


Kahar memahami, namun tetap merasa kecewa, tapi dia tau pasti bahwa Kapten Charlie sudah melakukan yang terbaik, dia sudah kehilangan dua anggotanya.


Helikopter itu menghujani kedua makhluk itu dengan peluru sampai mereka benar-benar hancur dan tak berdaya. Hartono keluar dari helikopter dan dengan cepat mengeluarkan sebuah kandang khusus bersama beberapa orang lain untuk menangkap Setiawan.


Hartono dan timnya bergerak dengan kecepatan yang tak terbayangkan, seolah-olah mereka dikejar oleh waktu yang tidak mau memberikan kesempatan kepada Setiawan untuk melarikan diri. Mereka mengepung Setiawan yang masih berusaha untuk berdiri, meski ia tampak lelah dan tidak berdaya, namun ia masih berusaha melepaskan diri dari jerat mereka.

__ADS_1


"Jangan berikan peluang!" Kahar untuk sekali lagi bangkit dan mengeluarkan serangan listrik. Setiawan makin tersudut. Hartono mengerti, dia dengan senapan berat, melepaskan badai peluru.


Setiawan terlihat seperti burung yang terkepung dalam jaring, yang berusaha melepaskan diri dari kungkungannya, tetapi setiap gerakannya terasa lemah dan sia-sia. Hartono dan timnya bisa merasakan ketegangan yang menyelimuti Setiawan, seolah-olah ia sedang berjuang dengan segala kekuatan yang dimilikinya untuk tidak terjebak.


"Kalian hanya manusia, kekuatan dari Dia akan datang menghukum kalian semua! Akulah juru hancur!" teriak Setiawan dengan suara yang keras dan penuh dengan kemarahan. Matanya menyala dengan kegilaan yang dalam, seolah-olah ia dikuasai oleh sesuatu yang jauh lebih kuat dari dirinya sendiri.


"Kalian tidak akan pernah menang! Dia akan datang dan menghancurkan kalian semua!" teriaknya lagi sambil berusaha melepaskan diri dari jerat yang mengepungnya. Namun, Hartono dan timnya berhasil memasukan dua bagian tubuhnya ke dalam kandang yang khusus.


Setiawan terus berteriak dan berteriak, bak ia memanggil sesuatu yang jauh lebih kuat dari dirinya sendiri. Hartono dan timnya berusaha untuk menenangkan diri dan mengontrol situasi yang semakin panas. Mereka merasa khawatir dengan apa yang akan terjadi selanjutnya, karena Setiawan terus mengklaim bahwa ia adalah juru hancur yang dikirim oleh sesuatu yang jauh lebih kuat.


"Kandang ini dirancang kedap suara, tetapi teriakannya terlalu kuat," ucap Hartono dengan nada cemas. Dia merasa takut dengan situasi yang semakin tidak terkendali. Dia bertanya-tanya apa yang akan terjadi selanjutnya, dan bagaimana dia akan mengatasinya.


"Kita harus segera membawanya ke markas," Kapten Charlie sudah mampu berdiri dan mendekati Hartono. Dia menatap Hartono dengan mata yang penuh rasa terima kasih, menyatakan bahwa ia sangat berterima kasih atas bantuan Hartono dan timnya.


"Laborasi, kau harus iku-t...," ucap Kapten Charlie pada Kahar yang terpotong karena Kahar berjalan perlahan ke arah pantai. Kapten Charlie bingung dengan tindakan Kahar, ia mencoba mengejar Kahar dan bertanya: "Kau mau ke mana?"


"Tugasku selesai, Kapten." Kahar tidak menatap Kapten Charlie. Dia terus berjalan menuju pantai, dia ingin meninggalkan semua yang terjadi di belakangnya.


Kapten Charlie memahami perasaan Kahar, dia merasakan rasa lelah yang sama setelah menyelesaikan tugas yang menyakitkan. Namun dia tak bisa melepaskan dari kasus ini begitu saja. "Aku Hasanuddin Mudzakir. Panggil aku Hasan atau Zakir," ucapnya berbagi identitas asli. "Tidak ada yang memanggilku lagi dengan sebutan itu setelah bergabung dengan detasemen ini." Kapten Charlie berjalan berdampingan menuju pantai, menyampingkan semua perasaan dan masa lalunya yang telah meninggalkan.


"Aku tidak bisa membagikan identitasku, Kapten." Kahar menatap muka lelah Kapten Charlie. Dia merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan dirinya, sesuatu yang dia sendiri tidak bisa menjelaskan. Dia merasa terikat dengan sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri.


"Kapten, ada apa?" tanya Hartono dari kejauhan dengan suara yang keras. Kapten Charlie mengangkat tangannya, memberi isyarat semuanya baik-baik saja. Hartono mengerti dan segera kembali ke tugasnya.

__ADS_1


"Kau tahu, Laborasi. Aku dulu punya kehidupan biasa saja. Sampai suatu hari, aku menyadari takdir yang tak terelakkan. Aku rasa kau juga terikat pada takdir." Kapten Charlie terus memandangi Kahar. Dia merasa ada sesuatu yang sama antara dirinya dan Kahar. Mereka berdua terikat oleh takdir yang sama, yang mengikat mereka pada tugas yang sulit dan penuh risiko.


"Takdir? Aku berharap tidak ingin takdir itu terjadi." Mereka sampai di bibir pantai. Kahar berjalan ke depan. Kapten Charlie terdiam, membeku dalam rasa. Kahar memutar badannya, dia melihat kapten Charlie dalam mode manusianya. Kahar berjalan mundur, tanpa suara. Mata Kahar dan Kapten Charlie terus saling berhadapan. Kahar sudah berada di dalam laut, setengah badannya sudah ditelan air. "Panggil aku, Kahar."


__ADS_2