
Lagu berjudul Sial yang dinyanyikan Mahalini terdengar dari speaker Cafe.
"Dek, maafin aku ya," ucapnya dengan wajah datar.
Aku cuma bisa menatap kosong undangan di atas meja. Otakku langsung macet.
Kata maaf dari Rian terus-terusan muter kayak kaset rusak.
Srekk!
Tanpa menunggu tanggapanku, Rian udah berdiri dari kursi dan ninggalin aku sendiri.
Krincing!
Suara lonceng diatas pintu Cafe yang tertutup membuat aku tersadar dan mengangkat kepala. Dari pintu kaca, aku bisa lihat Rian yang udah pergi naik mobilnya.
Pria yang sudah tiga tahun menjalin hubungan denganku itu pergi hanya dengan kata maaf dan selembar undangan.
Ya, undangan pernikahannya dengan gadis lain. Katanya sih dia dijodohin sama keluarganya.
Aku nggak bisa nahan air mata begitu mobilnya melaju sampai di ujung jalan.
"Nyatanya selama ini aku cuma jagain jodoh orang. Sial nggak, sih?" gumamku ngetawain kisah kami yang udah berakhir.
Dari awal kenal, dia yang terus ngejar-ngejar aku sampek bikin aku baper, terus kami jadian. Aku kira kami bakal langgeng sampek nikah, ternyata ortu dia nggak setuju sama aku yang nggak punya orang tua.
Apa kata ibunya? Dia bilang aku nggak jelas bibit bobot bebetnya. Hidupku juga terlalu sederhana. Kasarnya cuma hidup pas-pasan.
Padahal anaknya pernah ngaku, "Aku suka kamu soalnya kamu tuh sederhana, nggak neko-neko."
Hasilnya? Ortu Rian jodohin dia sama anak kenalannya. Anak tentara katanya, udah cantik, baik pula budipekertinya.
Aku cuma bisa ketawa. Perempuan baik-baik nggak bakal ngerebut pacar orang. Eh, si ibu belain dia.
"Kalian kan cuma pacaran, belum ada akad. Menikah itu beda sama pacaran. Nggak cinta-cintaan melulu."
Tsk.
Aku berdecak menahan emosi. Saat itu, Rian cuma diam tanpa niat membelaku sama sekali.
Akhirnya, dia mutusin jadi anak berbakti yang mengikuti perintah ibunya. Dia pergi ngelupain semua perjuangannya pas pdkt, lupa sama aku yang udah nemenin dia selama kuliyah, bantuin dia ngerjain tugas, dst.
Drrt
Getaran panggilan telpon melepaskanku dari kenangan kami. Siapa?
Si Alis memanggil...
Tak lama kemudian panggilan terputus.
Si pemanggil nama aslinya Alicia, tapi tapi aku panggil suka panggil dia Alis. Lagian dia hobi banget bentuk-bentuk alisnya.
Aku mengusap pipi yang udah basah dengan lengan bajuku. Pelayan Café yang ngelihat aku dari tadi langsung datang ngasih tisu.
“Sabar ya, Mbak.”
“Makasih, Mas. Aku strong kok,” jawabku dengan senyum terpaksa.
__ADS_1
Pelayan Café itu tersenyun lalu pergi meninggalkan mejaku untuk kembali kerja.
Drrt!
Kali ini aku langsung angkat panggilan dari Si Alis, sobat bestiku yang udah tahu masalahku sama Rian.
“Alis!” bIsikku pelan.
“Gimana? Lu udah pulang belom?”
“Gue masih di Café, lu mau jemput?”
Alis langsung terdiam, mungkin dia sadar aku habis nangis dari suara serakku.
“Lis?” tanyaku tak mendengar jawabannya.
“Gue otw kesitu, tunggu bentar!”
Panggilan langsung dimatiin sama Alis.
"Fyuuhhh," aku mendesah lega Alis mau jemput.
Jujur aja, aku masih lemes gegara sakit hati. Nggak yakin bakal bisa pulang dengan selamat.
Beberapa menit kemudian, Alis datang tergopoh-gopoh. Aku kasih dia es jeruk yang belum kusentuh sambil senyum samar.
“Ngapain buru-buru? Minum dulu, gih!”
“Tsk. Lu kira gara-gara siapa gue kesini?”
Alis duduk di kursi depanku dan minum sambil perhatiin wajahku. Dia juga ngelihat undangan warna biru dengan nama RIAN&SYAFINA tercetak tebal diatas meja.
Begitu Alis paham, dia langsung pindah duduk disebelahku. Air mata yang tadi udah berhenti langsung kembali membanjiri pipiku.
“Dia udah pergi, Lis. Kita putus,” tangisku sambil memeluknya.
“Udah, nggak usah pikirin Si Brengsek. Anggep aja dia mati di laut,” hibur Alis. Dia tepuk-tepuk punggungku sampai aku berhenti nangis.
“Terus gue gimana? Tiga tahun, gue temenin dia tiga tahun, Lis!”
“Untung baru pacaran. Seumur hidup itu terlalu lama buat lo habisin sama cowok yang salah. Diluar sana masih banyak kok cowok yang lebih baik dari dia.”
“Gue sakitnya tuh, dia nggak ada niat buat pertahanin hubungan kita. Dia cuma minta maaf ke gue terus pergi gitu aja.”
“Apa-apaan? Kalo maaf aja cukup, nggak bakal ada polisi sama penjara.”
“Gue nyesel, Lis. Lo tahu sendiri gimana dia pdkt dulu. Kalau endingnya bakal begini, gue nggak bakal terima dia,” tangisku.
Alis langsung peluk aku terus ngasih tisu. “Udah, nggak papa. Anggep aja lo lagi sial, nih usap tuh ingus lo. Nggak malu udah gede masih ingusan?”
“Sialan lo!” umpatku sambil ngambil tisu.
Setelah tenang, tenggorokkanku sedikit sakit gara-gara nangis. Kulihat gelas kosong di depan Alis.
“Lo haus? Gue pesenin es jeruk lagi mau?” tanya Alis.
“Jangan es jeruk, coklat oreo aja,” jawabku menatapnya sambil memelas.
__ADS_1
“Tsk. Pinter lo, giliran gue yang beli lo pesen yang paling mahal. Sedihnya udahan?”
“Masih sedih gue, makanya pengen minum yang manis-manis.”
Alis menggelengkan kepala sebelum mengalah dan pergi menuju kasir.
Kubuka undangan Rian diatas meja, tanggal pernikahannya masih sebulan lagi. Kulihat juga foto prewedding mereka yang dicetak dengan jelas.
Calon Rian namanya Syafina, dia kelihatan cantik dan anggum dengan balutan jilbab putih. Aku langsung melirik pakaian dan rambutku.
“Beda banget sama gue,” gumamku.
“Beda apaan?” tanya Alis yang udah duduk bawa segelas coklat orea sama roti bakar.
“Nih,” ucapku sambil memperlihatkan undangan itu. “Calonnya cantik, pantesan dia minta putus sama gue.”
“Gila! Mereka udah foto prewed? Lo bilang baru putus tadi.”
Aku hanya mengangkat bahu. Artinya sudah jelas, Rian yang beberapa hari ini susah dihubungi ternyata disibukkan persiapan nikah.
“Tapi nggak ah, masih cakepan lo. Cuma dia lebih tertutup aja,” ucap Alis membandingkan wajahku dengan foto di undangan.
“Nggak usah ngehibur gue, gue sadar diri kok.”
Aku cuma tersenyum miring. Kuambil minumku dan mencomot roti bakar diatas meja.
“Gue serius, ini mah cantik habis diedit. Lo tahu sendiri kakak gue kerja di studio foto, gue yakin ini putih editan. Lihat aja, Si Brengsek kan agak item… eh disini dia jadi putih kayak oppa-oppa Korea.”
Mendengar ucapan Alis, aku langsung lihat undangan itu lagi. Bener juga, Rian terlihat putih bersih disini.
“Tapi bapaknya tentara, gue masih kalah saing.”
“Apaan sih? Kalau cowok serius sama lo, dia nggak bakal mandang keluarga lo.” Alis mendengus.
“Berarti kita emang nggak jodoh. Gue jadi males…”
“Lo tinggal cari yang serius,” potong Alis.
Aku tertawa mendengarnya, “Hahaha, Rian juga awalnya bilang ke gue kalau dia serius.”
“Seius nikah, tapi bukan sama kamu.," cibir Alis. Dia memakan roti bakar dan menatapku yang diam saja. "Yaudah, langsung nikah aja sono… nggak usah pacaran lagi!”
Kuaduk minuman di gelasku dengan senyum sedih. “Entar nikah kalau ternyata nggak cocok gimana?”
“Namanya rumah tangga, ya lo kudu usaha. Turunin ego masing-masing.”
“Nggak, gue masih belum kepikiran.” Aku menggelengkan kepala.
“Terserah lo, deh. Kecewa tuh obatnya ke cowok.”
“Obat rasanya pahit, Lis.”
Alis menatapku kesal. “Orang sakit ya minum obat kalau nggak minum entar mati.”
“Lo nyumpahin gue mati?”
“Ayla Yuda Pratiwi, makan gih. Lo resek kalau lagi laper.” Alis menyodorkan sisa roti panggang ke arahku.
__ADS_1
Aku tersenyum dan menerimanya, lumayan dapet treaktiran.