Jodoh Pak ASN

Jodoh Pak ASN
Jodoh


__ADS_3

Ayla menghela nafas saat ia kembali ke kamarnya. Ia baru saja membantu Ayunda mengerjakan PR nya.


Anak kelas dua SD itu lebih banyak bicara dan bercerita daripada belajar. Ia harus membujuknya beberapa kali sebelum mereka kembali fokus dengan PR nya.


Melihat kamarnya yang sudah ia rapikan tadi, Ayla tersenyum puas. Semua barang mantannya sudah hilang, ia akan memulai perjalanan move on nya.


Ayla pergi mencuci wajah sebelum bersiap tidur, ia harap besok akan lebih baik daripada hari ini.


….


Di seberang kota Jogja, seorang pria duduk merenung di depan rumahnya. Kopi hitam yang tadi sempat ia seduh kini sudah menjadi dingin.


Pria itu -Asvi- teringat akan ucapan kakak perempuannya tadi sore.


“Ayla udah putus, buruan deketin dia gih!”


“Putus? Mbak tahu darimana?” tanyanya tak percaya.


Pasalnya, Asvi sudah menyukai Ayla sejak dulu. Ia tak berani mendekat begitu tahu gadis itu sudah mempunyai kekasih.


“Ayunda yang cerita tadi.”


“Emang omongan Ayunda bisa dipercaya?”


“Ih kamu ini nggak sat set! Mbak udah pastiin sama Ayunda,” ucap kakaknya gemas.


Kakak perempuannya itu lalu menceritakan kronologi bagaimana ia tahu Ayla sudah putus. Mulai dari boneka, sampai ucapannya yang mencari cowok serius.


“…” Asvi terdiam saat mendengarnya.


Ia sebenarnya sudah lama berhenti berharap, tapi sosoknya masih sering muncul di malam-malam sepinya.


“Gimana? Besok mau datang? PDKT dulu, gitu.”


“Dia nggak inget sama aku, Mbak,” lirih Asvi.


“Kamu udah ketemu sama Lala? Kapan?”


“Tadi, di Café.”


“Terus kamu mau nyerah gitu aja? Berapa tahun kamu udah nungguin dia?”


Asvi terdiam. Hatinya tak ingin melepaskannya. Meskipun gadis itu sudah melupakan dirinya, Asvi masih terus mengingatnya.


“Vi? Mungkin dia pangling sama kamu. Kamu kan udah banyak berubah dari dulu,” ucap kakaknya.


Asvi tersenyum mendengarnya. Ia memang sudah banyak berubah. Bukan hanya wajahnya yang semakin tirus, tapi berat badannya juga sudah turun drastis.


Kalau dipikir-pikir, wajar juga Ayla tidak mengingatnya.

__ADS_1


“Aku nggak mau terlalu berharap, Mbak.”


Terlalu berharap itu sakit, seperti janjinya saat SMP dulu…


“Yaudah, kamu besok libur kan? Sini mampir ke rumah Mbak, Ayunda juga udah lama nggak ketemu kamu.”


“Oke, Mbak,” jawabnya berniat menutup panggilan mereka.


“Sama kamu temu kangen sama Lala. Mbak mau jadi Mak Comblang kamu besok,” gumam kakaknya dari seberang telepon, Asvi langsung membeku.


“Kalau jodoh nggak akan kemana Mbak,” balas Asvi.


“Iya, kalau kamu sat set kalian pasti udah nikah. Kamu sih, kelamaan mikir. Pas lulus SMP bilangnya cuma cinta monyet, lulus SMA bilangnya kamu nggak PD sama badan kamu, lulus kuliah kamu bilang mau cari kerja mapan dulu. Giliran Lala punya pacar, kamu yang galau sendiri,” cecar kakaknya.


“Iya, iya, besok aku mampir. Ini udah maghrib, aku mau mandi dulu,” potong Asvi cepat. Ia malu mengingat masa-masa pubernya yang masih labil.


Asvi menghela nafas untuk kesekian kalinya, ia lalu beranjak dan meminum kopi yang sudah dingin itu. Pahit dan dingin, seperti kisah cintanya.


Malam ini, satu gadis tertidur dengan air mata, satu pria tidur dalam mimpi. Keduanya berharap pagi akan datang lebih cepat.


-o0o-


Ayla terbangun dari tidurnya sebelum adzan maghrib berkumandang. Ia menyentuh matanya yang lengket karna air mata.


“Hah, mimpi sialan!” umpatnya pelan.


Manusia mungkin bisa mengontrol emosinya, tapi mereka tak bisa mengontrol hatinya.


Tiga tahun bukanlah waktu yang singkat, Ayla telah meletakkan emosinya terlalu banyak dalam hubungannya dengan Rian. Karna ia yakin mereka akan bersama hingga akhir.


Ia mengambil ponselnya yang masih memasang foto Rian sebagai wallpaper dan lockscreen.


Ia pernah jatuh hati hingga menjadi budak cinta, hingga ia mengerahkan semua usahanya demi restu orangtua Rian.


“Konyol,” gumamnya saat mengingat semua angannya yang kini menjadi seperti komedi tragis.


Menghirup nafas dalam-dalam, Ayla menghapus foto mereka satu persatu. Tanpa terasa air matanya kembali menetes saat kenangan demi kenangan manis menyerang otaknya.


Setelah matahari mulai terbit, Ayla keluar untuk menganti suasana hatinya. Ia membawa plastik berisi baju dan aksesoris yang kemarin sudah ia kemas.


“Pagi Mbak Lala! Mau pergi cari sarapan?” sapa seorang wanita yang menyapu halaman.


“Mbak Sanah, pagi! Bubur depan gang buka nggak ya?” balas Ayla.


“Buka Mbak, kemarin yang punya baru pulang dari Solo. Pagi ini langsung buka.”


“Oh iya, aku punya baju nggak kepake. Mbak Sanah mau?”


“Eh udah kekecilan? Mbak Lala tambah gendut?”

__ADS_1


“Nggak mungkin, yang ada tambah kurus! Ini masih bagus, tapi nggak bisa kupakai.” Ayla menyerahkan plastik hitam sebelum melambaikan tangan dan pergi dari sana. Ia tak mau menjelaskan mengenai hubungannya yang kandas.


….


Di kedai bubur, Ayla yang hanya memesan seporsi bubur menunggu cukup lama. Ia terpaksa mendengarkan cerita pernikahan anak pemilik kedai yang baru saja menikah.


“Mbak Lala kayaknya seumuran sama Salma, kapan nyusul Mbak?” tanya Pak Iwan, Si Pemilik Kedai Bubur, dengan niat ramah.


Sayangnya Ayla yang sensitif merasa tersinggung, bibirnya berkedut ingin mengoreksi bahwa usianya dua tahun lebih muda dari putrinya. Tapi jika ia jujur, ia pasti akan terlihat lebih menyedihkan. Jadi ia hanya membalas dengan senyuman.


“Anak sekarang pada santai, Salma juga nggak niat nikah muda, tapi pacarnya datang niat ngelamar, kan berarti serius,” lanjut Pak Iwan.


Ayla hanya mengangguk, dalam hati ia kembali tersinggung. Mantannya nggak ada niat serius.


“Terus Salma resign dari kerjanya, Pak?” tanya salah satu pelanggan menyambung percakapan mereka.


Ayla hanya menghela nafas, mencoba sabar. Jika ditanggapi, Pak Iwan akan semakin panjang lebar ceritanya! Padahal ia sudah kelaparan. Semalam ia hanya makan pisang goreng pemberian Bu Kos. Ayla tak memiliki napsu makan sama sekali.


“Ya, tetep kerja. Suaminya kan masih kerja di perusahaan penyedia transportasi umum.”


“Dapet supir angkot?”


“Bukan, dia kerja di Ojek Online.”


Ayla mendengar pembicaraan keduanya dengan senyum kaku. Bukankah suami Salma adalah supir G*jek? Kenapa Pak Iwan perlu berputar-putar.


“Pak, bubur saya mana? Saya ada acara pagi ini,” sela Ayla.


Pak Iwan tersadar bahwa pelanggannya yang satu ini sudah berdiri menunggu cukup lama, ia lalu segera menyerahkan bungkusan bubur yang sudah siap sejak tadi.


“Ini uangnya pas, salam buat Salma ya Pak, semoga langgeng, pokoknya saya doakan SAMAWA,” ucap Ayla sebelum kabur dari kedai itu.


“Makasih Mbak Lala! Semoga cepat menyusul!” balas Pak Iwan berteriak pada sosok Ayla yang semakin menjauh.


“Amiin,” jawab Ayla berbisik.


Ia berjalan memasuki gerbang kos saat ia mendengar teriakan anak kecil dari rumah Bu Kos.


“Mbak Lala! Ayunda mau tepatin janji yang kemarin!”


“Hah?” tanya Ayla bingung.


Ia menengok ke samping dan melihat seorang pria di samping Ayunda tengah menatapnya.


Deg!


Ayla ingin mengumpat. Bukankah pria itu pria yang sama dengan yang memergokinya di toilet pria kemarin?


“Mampus gue,” gumam Ayla.

__ADS_1


__ADS_2