Jodoh Pak ASN

Jodoh Pak ASN
Barang Mantan


__ADS_3

(POV Author)


Ayla balik ke kamar kosnya, ia menatap ruangan berukuran 3 x 5 meter yang udah sepi. Senyumnya langsung menghilang.


Ia terlihat tegar dan bisa bercanda saat bersama Alis, tapi setelah sahabatnya pergi Ayla kembali teringat Rian. Nyatanya move on emang nggak mudah.


Gadis itu menghela nafas dan mulai beresin semua barang yang buat dia teringat mantannya.


“Yuk, bisa yuk!” serunya ngasih semangat sama diri sendiri.


Ayla masukin boneka kucing berkantong alias Doraemon ke plastik hitam besar, Rian yang ngasih buat hadiah ulang tahun. Ia lalu ngambil kaos dan jaket couple dari lemari. Kali ini ia yang beli buat pasangan sama si mantan.


Ayla misahin antara barang yang bisa dikasih sama barang yang mesti dibakar atau dibuang. Ia ngelihat dinding kamar yang terpajang beberapa pigura.


“Gue kelihatan bahagia banget, tsk!” decaknya meraih foto terdekat.


Ada fotonya bersama Rian pas kemah bareng teman-temannya muncak di Dieng, ada foto mereka berdua waktu pergi ke pantai, ada juga fotonya bersama anak-anak BEM.


Ayla melepas semua foto yang ada sosok Rian di dalamnya, meskipun itu foto bareng-bareng. Bukan bendanya yang salah, tapi kenangannya.


Setelah melemparkan foto itu ke tempat sampah, ia menyimpan piguranya.


“Gue kasih siapa ya?” gumamnya bingung.


Barang mantan, dipakai bikin sedih, dipajang cuma bikin kamar sesak sama hati resah, tapi dibuang sayang. Mubazir.


Tok tok tok!


“Mbak Lala!”


Pintu kamarnya yang sengaja dibuka diketuk oleh seseorang. Ayla menoleh dan melihat tangan anak kecil.


Ia tersenyum dan keluar dari kamarnya. Tamu kecilnya adalah Ayunda, anak Si Pemilik Kos.


“Ayunda ngapain? Sini masuk!” ucapnya.


Anak itu memang sudah diajari sopan santun sejak kecil, jika bertamu jangan masuk atau mengintip ke dalam sebelum diijinkan.


Untung kosnya khusus cewek. Kalaupun ada tamu cowok, mereka nggak boleh masuk area kamar Kos. Ada saung dan teras di depan gang Kos. Jadi aman.


“Ini ada pisang goreng dari ibu,” ucapnya menenteng kantong kertas berisi pisang hangat.


“Hohoho, tahu aja Mbak Lala lagi laper. Bilangin ke Ibu, makasih ya.” Ayla mengelus rambut anak yang masih setinggi pahanya itu.


“Mbak Lala lagi ngapain?”


“Mbak lagi beresin mantan…, eh, maksudnya bereain kamar. Ayunda mau boneka nggak?”


“Boneka apa?”


“Boneka Doraemon, agak besar sih.”


Ayla mengambil boneka yang sebesar Ayunda dan memperlihatkannya.


“Woah, tingginya sama kayak Ayunda.”


“Iya, kalau mau buat Ayunda aja.”


“Bonekanya masih kelihatan bagus lho. Kok dikasihin?”

__ADS_1


“Kamar Mbak Lala kecil, boneka besar kayak gini malah buat ruang tambah sempit.”


“Hmm, terus kenapa Mbak Lala beli yang besar?”


Pertanyaan polos Mayunda sukses membuat Ayla terpaku. Saat memberikannya, Rian berkata, “Aku sengaja beli yang besar biar bisa dipeluk. Kamu bayangin aku ya pas tidur.”


Ayla menggelengkan kepalanya mengusir setan mantan yang masih menghantui pikirannya. “Mbak nggak beli, tapi dikasih.”


“Eh? Nggak papa buat Mayunda?” tanya anak itu sambil menatap boneka dipelukannya dengan sayang. Kelihatan banget kalau dia udah suka sama bonekanya.


Ayla gemas melihatnya. “Nggak papa, Mbak kan udah gede jadi nggak main boneka.”


“Dikasih sama Mas Rian ya?”


“Uhuk… iya, Mbak udah putus sama Mas Rian,” jawab Ayla yang tertohok pertanyaan anak kecil.


Ayunda menatap Ayla dan ingin bertanya, tapi akhirnya anak itu hanya meraih tangan Ayla.


“Mbak belum jodoh berarti, jangan sedih ya Mbak. Entar Ayunda kenalin ke temen cowok Ayunda.”


Ayla bergidik teringat anak SMA yang menggoda Alis di tengah jalan tadi.


“Iya, tapi Mbak nggak suka yang masih kecil. Mbak cari yang mau nikahin Mbak,” canda Ayla. Ia tersentuh akan kepolosan anak kecil di depannya.


Ayunda menggangguk. “Yang kayak Ayah mau?”


“Mau, tapi yang masih single ya. Kan Ayah udah punya Ibu kamu.”


“Oke, entar Ayunda cariin.”


“Iya, makasih. Kamu mau bantuin Mbak beresin yang lain?”


“Nggak, Ayunda masih harus ngerjain PR. Mbak Lala sendiri yang berantakin, kok minta Ayunda yang beresin.”


“Iya, iya… sana, entar kalau udah selesai beresin kamar, Mbak bantu ngerjainnya.”


“Oke, makasih Mbak!” Ayunda mengangkat boneka itu dengan senyum sumringah.


“Kamu bisa bawa bonekanya?”


“Bisa, Doraemonnya nggak berat kok, Mbak.”


“Ship!”


Ayla melihat Ayunda yang membawa boneka mantannya pergi dengan senyum. Ia lalu berbalik dan segera membereskan sisa-sisa bukti kenangannya dengan Rian.


Ia memutuskan akan memberikan kaos dan jaket yang masih terlihat baru itu kepada Mbak Sanah, pembantu Ibu Kos yang sering membersihkan halaman kos mereka.


Selain dirinya, ada empat penghuni kos lain yang tinggal disini. Dua diantaranya sudah bekerja, sementara dia dan yang lain masih kuliah.


Mereka nggak akan mau sama barang bekas, jadi berikan sama yang mau saja.


--o0o—


Mayunda membawa boneka Doraemon itu ke kamarnya.


“Astaghfirullah!”


Saat melewati ruang tamu, Ibunya terkejut melihat boneka Doraemon yang berjalan masuk sendiri. Setelah sadar itu putrinya, ia langsung mengelus dada.

__ADS_1


“Ayunda? Kamu dapet boneka dari mana? Ngaget-agetin Ibu aja!”


“Dikasih Mas Rian sama Mbak Lala, Bu!” jawab anak itu sambil meringis.


Ibu Kos menatapnya dengan curiga. “Dikasih apa minta?”


“Dikasih Bu, kan kata Ayah nggak boleh minta-minta sama orang lain. Kecuali sama Ibu.”


Sang Ibu mengangguk puas. “Emang Mas Rian bilang apa?”


“Mas Rian kasih ke Mbak Lala, terus Mbak Lalanya kasihin ke Ayunda. Katanya, bilang ke Ibu makasih gorengannya.”


“Mbak Lala ngasih kamu boneka karna Ibu kasih gorengan?”


“Enggak, katanya bonekanya kebesaran buat kamar Mbak Lala. Dikasihin Ayunda deh.”


“Kan itu hadiah buat Mbak Lala, Mas Riannya nggak papa?”


“Mbak Lala bilang, mereka udah putus jadi nggak papa.”


“….”


“Ayunda masuk dulu ya, Bu. Mau ngerjain PR, katanya Mbak Lala mau bantuin Ayunda.”


“Tunggu!” Ibu Kos menarik tangan Ayunda dengan lembut lalu berjongkok mensejajarkan tinggi mereka.


“Mbak Lala putus sama Mas Rian?”


Ayunda mengangguk.


“Kenapa?” tanya sang Ibu.


Anak itu menatap ibunya sambil berkedip polos. “Nggak tahu, nggak jodoh mungkin.”


Ibu Kos mencubit pipi putrinya dengan gemas. “Mbak Lala nggak cerita kenapa?”


“Enggak. Terus Ayunda bilang, kalau entar Ayunda kenalin yang sama Ayah.”


“Sama Ayah?” tanya sang Ibu. Apakah anaknya mau membuat Ayla jadi pelakor?


“Iya, yang kayak Ayah biar Mbak Lala nggak sedih. Dia mintanya yang single, kan Ayah udah punya Ibu.”


“Oh, iya. Entar kenalin sama Om Asvi aja!” seru sang Ibu dengan antusias.


“Emang Om masih single.”


“Om kamu udah single dari lahir.”


“Om mau nikahin Mbak Lala?”


“Kok kamu nanya nya kayak gitu?”


“Mbak Lala maunya yang single sama mau nikahin dia.”


“Om kamu pasti mau. Tapi masalahnya Mbak Lala mau nggak.”


“Entar kalau Om mampir, Ayunda kenalin dulu sama Mbak Lala.”


“Nice, sana kamu ngerjain PR dulu. Ibu mau kasih tahu Om Asvi dulu.”

__ADS_1


Ayunda kembali berjalan menuju kamarnya. Ia meletakkan boneka itu ke kamarnya dan siap-siap ngerjain tugas. Sementara Ibunya pergi membuat panggilan darurat ke adiknya itu.


__ADS_2