
“Mbak Lala! Buruan sini! Ayunda kenalin sama Om!” teriak Ayunda dengan semangat.
“Ah, iya. Bentar, Mbak Lala mau… mau sarap, uhuk mau sarapan dulu maksudnya. Nanti aja ya!” balas Ayla sebelum berlari ke kamar kosnya.
Gadis itu masih berdebar seolah baru bertemu dedemit. Ayla melihat ke pakaian longgar dan rambutnya yang acak-acakan. Wajahnya juga pasti kelihatan pucat tanpa make up.
“Ugh, malu banget! Dia kayaknya inget sama gue deh!”
Ayla kehilangan nafsu makannya. Ia langsung taruh bungkus bubur ayamnya sebelum bersiap mandi.
Dua puluh menit kemudian, Ayla keluar dengan baju santai dan rambut basah. Ia mengeringkan rambutnya dengan handuk sambil memikirkan alasan untuk pergi menghindar.
“Mbak Lala! Udah belum sarapannya? Katanya minta dicariin calon suami?” tanya Ibu kos dengan nada menggoda dari depan kamarnya.
“Ah! Pagi Bu, ini aku baru mandi belum sarapan.” Ayla langsung membuka pintu dan tersenyum canggung.
“Yaudah, sarapan dulu. Ditungguin Ayunda tuh di depan.”
“Uh, Bu. Itu yang sama Ayunda siapa? Ayunda nggak ngomong sembarangan sama dia kan?”
“Hahaha, namanya juga anak kecil. Dia adik Ibu, katanya kalian udah lama kenal. Masak lupa?”
Ayla berpikir keras, tapi kapasitas otaknya memang tengah lemot. Ia yakin baru bertemu sekalin itupun kronologi kejadiannya membuatnya malu.
“Nanti tanya ke dia langsung aja. Siapa tahu jadi ingat. Sana sarapan, ibu mau ke pasar dulu sama bapak. Mumpung hari Minggu. Titip Ayunda sama Asvi ya!”
“Namanya Asvi?”
“Iya, udah inget?”
Ayla menggelengkan kepala. “Ayunda kan udah sama Omnya, biar mereka berdua jagain satu sama lain.”
“Tapi kamu tuh yang mau Asvi jagain, eh! Ibu pergi dulu ya!”
Sang ibu kos langsung melenggang pergi meninggalkan Ayla yang penuh pertanyaan.
….
Setelah sarapan, Ayla menyisir rambutnya yang sudah setengah kering. Ia lalu memakai jaket dan keluar menemui Ayunda.
Bagaimanapun ibu kosnya sudah menitipkan mereka padanya. Di depan gerbang kosnya, ia sudah bisa mendengar suara dari keduanya.
“Ah! Om gimana sih! Kucirnya miring sebelah, Ayunda jadi kelihatan kayak orang gila!” teriak anak itu.
“Hush! Nggak boleh sebut mereka kayak gitu, entar kena sensor.”
“Terus apa namanya? Orang stress?!”
“Mereka manggilnya ODGJ.”
“Orang Diem Gak Jadian?”
“Uh, kamu ngejek Om ya? ODGJ itu Orang Dengan Gangguan Jiwa.”
“Tsk. Kepanjangan!”
Ayla tersenyum mendengar percakapan keduanya. Ia baru akan berbalik saat Ayunda melihatnya dan langsung berteriak, “Mbak Lala! Sini bantuin Ayunda!”
Ayla langsung membeku, ia tersenyum kaku dan mendekati keduanya.
__ADS_1
“Lihat deh! Om nggak bisa ngucir rambut, rambut Ayunda malah miring-miring begini!” protes anak itu sambil memperlihatkan kucirnya yang tinggi sebelah.
“Om nggak punya pengalaman begituan, belum pernah nyisir rambut panjang, apalagi ngucir. Kalo Om bisa, justru aneh,” ucap Asvi membela diri.
“Iya, entar dikira hombreng, tulang lunak, atau kaum melambai,” timpal Ayla. Ia menarik Ayunda duduk di depannya sebelum mengambil alih tugas menyisir rambutnya.
“Ya, nggak usah dijelasin gitu juga,” gumam pria itu.
“Om kamu pinter ngucir, tapi cuma gaya tertentu.” Ayla mengabaikan Asvi dan fokus melepas kuciran Ayunda.
“Emang ini gaya apaan?”
“Gaya rambut pas di OSPEK.”
“Cuakks!” seloroh Ayunda.
“Eh! Kamu belajar dari mana itu?” tanya Asvi dengan tatapan heran.
“Dari shot.” Ayunda tersenyum dengan wajah polos.
“Shot?”
Ayla menimpali, “Maksudnya Youtube Short, emang kamu tahu artinya?”
Anak itu menggeleng dan menjelaskan dengan suara cenprengnya, “Biasanya kalo ada yang nyindir pemerintah atau lucu, mereka bilang cuaks di akhir.”
“Kamu nonton apaan sih di Youtube? Kok tontonannya kayak gitu? Coba pinjam hpnya!” pinta Asvi.
“Ayunda pinjem ponsel Ayah, nggak ada di rumah.”
Ayla menggelengkan kepala. Anak sekarang kalau tidak diawasi bisa nonton apa aja. Padahal nggak paham konteksnya.
“Udah selesai? Coba lihat kaca!” seru anak itu dengan semangat. Ia mengambil kaca kecil dan melihat penampilannya. “Bagus! Mbak Lala pinter ngucirnya, nggak kayak Om! Wuekk!”
Ayunda menjulurkan lidahnya ke arah Asvi dengan suara meledek. Sementara Asvi tersenyum pasrah, terlalu malas untuk meladeni ponakannya yang satu ini.
“Ini masalah skill, bukan pengetahuan,” ucap Ata terkekeh.
“Oh iya, lupa! Kenalin ini Mbak Lala, yang tinggal di situ,” tunjuk Ayunda ke deretan 5 kamar kos di samping rumahnya. “Lalu ini Om Ayunda, namanya Om Asvi.”
“Iya, halo. Akhirnya ketemu lagi,” lirih Ayla sambil menunduk.
“Kamu udah ingat sama aku?” tanya Asvi.
“Ah? Yang kemaren ketemu di Kafe kan?”
“Iya, tapi sebelumnya aku udah kenal cukup lama sama kamu,” jelas Asvi sedikit kecewa.
Ayla terlihat bingung, ia ingat pria di depannya memanggil namanya kemarin. Tapi sampai sekarang ia tak ingat pernah mengenal Asvi sebelumnya.
Akhirnya mereka hanya saling menatap, yang satu dengan senyum sedih, yang lain dengan kerutan di kedua alisnya karna bingung.
“Cie, ternyata kemarin udah ketemu, jodoh tuh Mbak!” goda Ayunda yang mengganggu atmosfer antar keduanya.
“Hush! Kamu ini, masih kecil udah bicara soal jodoh!” tegur Ayla.
“Doakan aja Dek, entar Om aminin,” lontar Asvi dengan senyum.
Ayla langsung melemparkan tatapan setajam keris ke pria itu. Kenal saja baru sekarang, udah dijadiin jodoh!
__ADS_1
Ayunda yang polos-polos paham langsung mendoakan, “Semoga—”
“Ayunda! PR kamu kemarin udah selesai? Sini biar Mbak Lala lihat,” potong Ayla sebelum doa itu keluar dari lisan anak kecil.
Ada yang bilang doa orang suci itu diijabah, ia takut doa Ayunda yang belum punya dosa itu langsung terkabul.
“Ih, Mbak Lala! Hari libur kok mikirin PR, ini waktunya istirahat!” keluh anak itu, yang langsung lupa akan niatnya berdoa.
“Daripada kamu ngerjainnya entar malem, hayo. Apa mau dikerjain di sekolah kayak minggu lalu?”
“Jangan diingetin, Mbak! Ayunda malu disetrap di depan kelas gara-gara ketahuan!” protes anak itu sambil cemberut.
“Makanya, kerjain sekarang aja. Entar Mbak bantu, sana ambil bukunya!”
Sambil menggerundel, Ayunda beranjak masuk ke rumahnya. Sedangkan Ayla menghela nafas lega, seakan berhasil menyelesaikan sidang akhir.
“Kenapa kamu potong? Siapa tahu kita beneran jodoh?” tanya Asvi dengan senyum misterius.
“Tsk. Omongan anak kecil jangan dianggap serius.”
“Apa salahnya? Aku single, kamu jomblo.”
“Kamu—”
“Ya ampun! Ada Mas Asvi, udah lama nggak main kesini!”
Pekikan perempuan memotong umpatan Ayla. Ia menoleh dan melihat Mbak Sanah yang lewat di depan kos-kosan.
Mbak Sanah memang hanya membantu bersih-bersih dan mencuci di rumah Ibu Kos. Setelah pekerjaannya selesai, ia biasa langsung pulang ke rumahnya yang masih satu RT.
Begitu melihat Asvi, perempuan lulusan SMP itu langsung masuk melewati gerbang.
“Mas Asvi tambah ganteng deh, Sanah jadi pengen nyalon istri,” godanya.
Bibir Asvi berkedut. Ingin membalas tapi sudah keduluan Ayla. Gadis itu geli saat mendengar gaya genit Mbak Sanah. Ia langsung menimpali, “He’em, dia lagi nyari jodoh katanya. Mbak Sanah daftar aja dulu, siapa lolos seleksi!”
“Bukannya kamu yang minta Ayunda buat dicariin jodoh, kemarin?” tanya Asvi sambil tertawa.
“Oh iya, Mbak Lala habis putus Mas. Kaos pasangan dia sama Mas Rian aja dikasihin ke saya!” celetuk Mbak Sanah dengan semangat.
Ayla meringis menahan nyilu. Ia ingin memukul Mbak Sanah yang sangat tidak peka saat situasi genting dan memalukan.
Tepat saat itu, Ayunda yang keluar membawa tas sekolah ikut menimbrung, “Iya, boneka Doraemon yang dikasih sama Mas Rian juga kemarin dikasihin Ayunda.”
“Tahan! Ayla, lo harus sabar. Ingat, kekerasan bukan solusinya!” batin Ayla yang sudah mengepalkan kedua tangannya. Ia harus menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya beberapa kali sebelum syarafnya kembali tenang.
“Mbak Sanah mau ngapain?” tanya Ayla.
“Mau buatin minum buat Mas Ganteng, sekalian cuci mata.”
Ayla tersenyum dingin. “Biar aku aja yang siapin biar Mbak Sanah bisa cuci mata sepuasnya. Ayla, kamu minta diajarin Om kamu dulu, oke?”
Ayunda dan Asvi langsung diam. Insting mereka cukup tajam untuk bertahan hidup. Apalagi melihat tangan Ayla yang masih melebar dan menutup seolah siap memukul orang.
Hanya Mbak Sanah yang tersenyum senang dan menanggapinya, “Mbak Lala baik banget, sekalian bawa cemilan di lemari. Biar Mas Asvi betah disini.”
“Oke, Mbak,” ketus Ayla sebelum berbalik masuk ke rumah Ibu Kos.
“Maklum Mas, dia masih bad mood habis diputusin pacarnya. Jadi kita mesti jagain moodnya.”
__ADS_1
Ayla masih sempat mendengar kata-kata Mbak Sanah yang berniat menjaga perasaannya tapi justru menyakitinya. Bagaikan mengoleskan betadin diatas luka. Perih tapi tujuannya baik.