
Vaola diam dengan melirik Zephyr yang nampak duduk tegang di hadapan sang Ayah, ekspresi wajah Ayahnya terlihat tak begitu mengenakan untuk di lihat. Vaola terus berdoa agar kedua laki-laki di hadapannya bisa akur layaknya Ayah dan anak, tapi apakah itu mungkin?
"Vaola." Panggil Robby dengan tegas.
"Ehh, ya Ayah?" Kaget Vaola.
"Tunggu di kamar." Tegasnya yang justru malah membuat Vaola terkejut, dia melirik Zephyr yang nampak tak bergeming.
"Baik Ayah." Angguk Vaola dengan bangkit dari duduknya dan segera beranjak dari sana, sesekali Vaola juga melirik Zephyr.
Setelah kepergian Vaola, Zephyr mulai mengangkat wajahnya untuk menatap laki-laki setengah baya yang nampak menatapnya juga.
"Tuan Famiko, anda mungkin sangat membenci saya karena say..."
"Apa kau menyukai putriku?" Tanya Robby yang menyela ucapan Zephyr.
"Sangat, saya sangat menyukai putri anda. Untuk kejadian lalu, saya benar-benar minta maaf. Saya tidak bermaksud untuk...."
"Sudah berapa kali kalian melakukan hubungan suami istri?"
"Ehh, itu.... Baru satu kali, dan itu pun hanya kemarin." Tunduknya dengan begitu tak nyaman, Zephyr tidak tahu kenapa saat ini dia begitu takut. Padahal sebelumnya, dia tidak memiliki rasa takut pada siapapun meskipun mereka orang tinggi sekalipun. Tapi sekarang??
"Oke, istirahat lah. Tanyakan keberadaan kamar putriku pada pelayan, mereka akan mengantar mu kesana." Tegasnya.
"Tapi...." Kaget Zephyr dengan takut-takut.
"Kenapa? kau tidak mau lagi tidur dengan putriku?" Heran Robby yang ekspresi wajahnya langsung buruk seketika.
"T-tidak, bukan begitu maksud saya...." Gugup Zephyr.
"Yasudah, kalau begitu istirahat lah. Buat cucu yang banyak untuk penerus keluar Famiko! jangan mengecewakan saya." Tegasnya.
"B-baik, kalau begitu terimakasih tuan." Tunduk Zephyr yang nampak menundukkan kepalanya di hadapan Robby.
"Panggil aku Ayah, sama seperti Vaola memanggilku."
"Baik, Ayah." Angguk Zephyr dengan tersenyum kecil, setelah itu dia segera bergegas untuk pergi dari ruangan tersebut yang sebelumnya membuat dirinya takut.
__ADS_1
Namun sekarang? Zephyr merasa lega dan damai karena ternyata Ayah Vaola tidak sekejam yang ia bayangkan, laki-laki itu kejam hanya demi kebaikan sang putri semata wayangnya saja.
"Terimakasih." Ucap Zephyr pada pelayan yang baru saja mengantarnya ke depan pintu kamar Vaola.
"Sama-sama tuan." Tunduk mereka dengan malu-malu, karena bagaimana pun juga Zephyr begitu tampan dan sayang untuk di lewatkan.
Zephyr membuka pintu kamar dan melihat sosok Vaola yang sedang duduk di balkon kamarnya dengan ekspresi yang, entahlah. Wanita itu nampak cantik dengan dress putih selutut yang memperlihatkan pundak dan lehernya yang jenjang.
"Kau sudah kembali? apa yang di katakan Ayah padamu? apa kau baik-baik saja?" Cemas Vaola dengan memeriksa tubuh Zephyr yang langsung memeluknya itu.
"Tidak ada apa-apa, Ayahmu sangat baik. Dia hanya menginginkan cucu yang banyak untuk penerus keluarga ini, bagaimana menurutmu?" Tanya Zephyr dengan tangan yang mengelus pinggang Vaola.
"Cucu?" Gumam Vaola dengan telinga yang sudah memerah.
"Kau sangat cantik." Bisik Zephyr dengan menciumi telinga Vaola yang saat itu langsung menghindar.
"J-jangan macam-macam, ini masih sore." Ucap Vaola dengan bergegas pergi dari sana.
".... Memangnya kenapa kalau ini masih sore?" Tanya Zephyr yang menyusul Vaola.
"T-tidak apa-apa, para pelayan belum tidur dan... Dan kamarku tidak kedap suara juga." Bisik Vaola dengan suara yang begitu lirih, mendengar ucapan itu sontak membuat Zephyr tertawa terbahak-bahak.
"Baiklah, baiklah...." Ucap Zephyr dengan menatap Vaola yang nampak menatapnya dengan penuh kekaguman.
"Hmm..." Vaola tersadar, dia memilih untuk menggandeng lengan Zephyr dan membawanya untuk berkeliling di mansion nya.
Para pelayan yang melihat kedekatan mereka hanya bisa tersenyum bahkan sesekali dari mereka nampak tak sadar dengan suara mereka yang mengatakan betapa tampannya Zephyr, terlebih sikap Zephyr terhadap Vaola sangat manis.
Seperti sekarang ini, mereka berada di taman belakang yang terdapat saung kecil disana. Zephyr duduk di atas dengan Vaola yang duduk di bawah, Vaola bersandar pada paha Zephyr yang sibuk menyuapi Vaola dengan buah anggur.
"Apa ini tempat ternyaman mu?" Tanya Zephyr.
"Ya, aku pernah membayangkan bahwa ada laki-laki tampan yang akan menyuapi ku dengan anggur. Dan sekarang semua khayalanku menjadi kenyataan, senangnya....." Ucap Vaola dengan terkekeh.
"Kau ini." Zephyr tersenyum, saat Vaola mendongakkan untuk menerima suapan dari Zephyr, Zephyr justru malah mencium bibirnya dengan lembut.
Ciuman tersebut terasa lembut dan intens, Vaola yang sudah candu dengan ciuman Zephyr terus saja menempel pada Zephyr yang malah membuat Zephyr menggelengkan kepalanya saja.
__ADS_1
Mereka tidak sadar bahwa ada dua insan laki-laki yang berbeda umur tengah menyaksikan kedekatan mereka berdua, keduanya hanya bisa menggelengkan kepalanya saja.
"Bagaimana menurutmu? bukannya aku sudah bilang bahwa mereka memang dekat?"
"Ayah benar, aku tidak menyadari hal ini. Ternyata putriku sudah menemukan pria idamannya." Robby mengusap matanya yang terasa basah.
Laki-laki yang di panggil Ayah itu merupakan kakek dari Zephyr, dia datang kesana karena ingin berlibur dengan Robby yang merupakan rekan kerjanya dulu.
Meskipun mereka tidak terlalu dekat, namun karena keduanya sama-sama sendirian dan hanya punya satu anak dan cucu, akhirnya mereka merasa bahwa mereka memiliki nasib yang sama. Sebelum Zephyr datang, kakek sudah lebih dulu menjelaskan masalahnya pada Robby mengenai Zephyr dan Vaola.
•••••
"Shhh....Sakit." Vaola mengeluh sakit badan saat dirinya bangun dari tidur, dia melirik Zephyr yang masih tertidur pulas di sampingnya.
Vaola duduk bersandar pada ranjang, dia menatap Zephyr dan mengelus rambutnya dengan lembut. Hal itu membuat Zephyr membuka matanya secara perlahan, dia menatap Vaola yang tengah menatapnya juga.
"Ada apa? kau sudah bangun?" Tanya Zephyr dengan suara yang serak, dia juga ikut terbangun dan bersandar pada ranjang.
"Tidak apa-apa, kapan kita akan pulang?" Tanya Vaola yang menyandarkan kepalanya di pundak Zephyr.
"Kenapa? kau tidak nyaman berada di rumahmu sendiri?" Heran Zephyr karena ternyata, Vaola tidak terlihat senang berada disana.
"Tidak, bukannya begitu. Aku merasa bosan berada disini, kau tahu bukan apa yang aku maksudkan ini?" Tanya Vaola dengan menatap Zephyr dengan ekspresi yang begitu lucu.
"Aku mengerti, kalau begitu besok kita pulang." Senyum Zephyr.
"Beneran?" Senang Vaola dengan mata yang berbinar-binar.
"Tentu." Angguk Zephyr.
"Terimakasih, suamiku." Senang Vaola yang langsung memeluk Zephyr dan mengecup pipinya berkali-kali, hal itu membuat Zephyr terkekeh geli.
"Oh ya, ngomong-ngomong mengenai status ku. Bagaimana menurutmu?" Tanya Vaola dengan serius.
"Aku sudah mendiskusikan hal ini dengan Ayahmu, semuanya berada di tanganmu. Namun untuk status mu sebagai istri ku, aku akan segera memberitahunya pada publik." Ucap Zephyr.
"Oh begitu, baiklah. Tapi aku tidak ingin status ku di publikasikan, maksudku mengenai keluargaku. Kau cukup kenalkan aku sebagai istrimu saja oke?" Ucap Vaola dengan senyum lebarnya.
__ADS_1
"Memangnya, ada apa dengan statusmu itu?" Heran Zephyr, kenapa Vaola selalu ingin merahasiakannya?